Share

Kesetiaan yang Kadaluwarsa
Kesetiaan yang Kadaluwarsa
Author: Anonima

Bab 1

Author: Anonima
Gadis itu baru saja lulus kuliah. Dia begitu polos hingga nyaris terlihat naif dan merupakan karyawan magang di bagian makanan dan minuman di hotel milik Rafael.

"Regina, dia sangat mirip denganmu waktu baru lulus dulu. Karena itulah, aku nggak tahan melihatnya ditindas orang lain."

Itulah yang dikatakan Rafael.

Rafael melindungi gadis itu sepenuhnya.

Awalnya, Regina mencoba membohongi dirinya sendiri. Namun, semuanya berubah saat dia melihat Rafael menjadi makin gila pada gadis itu.

Rafael merayakan ulang tahun gadis itu dan mengganti 23 kado ulang tahun yang terlambat, mulai dari mobil mewah hingga vila. Hanya demi semua itu, Rafael melupakan hari jadi hubungannya dengan Regina begitu saja.

Rafael juga menyiapkan upacara kelulusan yang megah untuk gadis itu, dengan drone dan kembang api menghiasi langit malam untuk membentuk kata-kata yang romantis dan menggoda. Akan tetapi, Rafael tidak mau datang ke rumah sakit meski hanya sebentar untuk menjenguk Regina, yang sedang mengalami demam tinggi akibat suntikan hormon demi mempersiapkan kehamilan.

Saat gadis itu menyinggung perasaan pelanggan sewaktu bekerja, Rafael membujuk gadis itu dengan suara lembut agar dia berhenti menangis. Namun, di saat yang sama, Rafael justru berbalik dan menyuruh Regina, yang merupakan seorang koki bintang yang sangat terkenal di industri kuliner, untuk menyajikan minuman demi memohon maaf kepada pelanggan tersebut.

Sekarang, gadis itu sudah mengandung ….

Sesampainya di vila, Regina mendapati bunga tulip merah muda dan bunga matahari favoritnya yang biasa menghiasi ruang tamu, sudah diganti dengan bunga mawar berwarna merah menyala serta bunga krisan berwarna ungu tua. Di atas sofa, sekarang juga dipenuhi dengan banyak boneka dengan bentuk yang kekanak-kanakan.

Seorang pembantu menghampiri Regina dan menjelaskan, "Semua ini diganti atas perintah Pak Rafel."

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Regina berjalan naik ke lantai atas. Di dalam kamar utama yang luas dan terang itu, dia melihat Rafael sedang memberikan arahan pada pembantu untuk menggantung lukisan pemandangan di dinding.

Sementara itu, foto kenangan Regina dan Rafael saat berlibur di pesisir pantai Negara Zaira teronggok di sudut ruangan setelah diturunkan dari dinding.

Melihat wajah Regina yang dingin, Rafael pun merangkul pundak Regina dan menjelaskan sambil tersenyum.

"Regina, belakangan ini mual dan muntah karena kehamilan yang diderita Sherly begitu parah. Aku nggak tenang membiarkannya terus tinggal di kontrakan bersama orang lain. Jadi, aku ingin membawanya ke vila kita untuk merawat kandungannya."

"Tenang saja. Setelah dia melahirkan anak itu, aku akan menyuruhnya pergi."

Regina menatap Rafael dengan senyum yang sulit diartikan.

"Jadi, kamu menyuruhnya tinggal di kamar tidur kita berdua? Tidur bertiga dalam satu ranjang, apa kamu nggak merasa terlalu sempit?"

Rafael menangkap sindiran dalam perkataan Regina. Senyuman yang tersungging di bibir Rafael pun perlahan memudar.

"Regina, kamu tahu sendiri kalau aku begitu tulus padamu. Bahkan, meski ibuku nggak menyukaimu, nggak pernah terpikir olehku untuk menikahi wanita lain."

"Aku berharap Ibu mau merestui pernikahan kita demi anak ini. Tapi, perutmu nggak kunjung menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Nanti setelah anak Sherly lahir, kita akan beritahukan pada semua orang kalau itu anak kita."

"Dengan begitu, kamu nggak perlu menderita karena proses melahirkan dan kita berdua juga bisa menikah dengan semestinya. Apa salahnya dengan semua itu?"

Regina akhirnya tertawa.

Hanya saja, matanya tampak berkaca-kaca dan tawanya juga menyiratkan rasa getir.

Logika yang benar-benar konyol. Dia malah diminta menggunakan anak orang lain demi membangun sebuah keluarga bersama Rafael.

Di sudut ruangan, dua orang dalam foto itu tersenyum manis. Namun, kaca yang menutupi foto tersebut, entah sejak kapan sudah menjadi retak. Benar-benar begitu mirip dengan kondisi hubungan Regina dengan Rafael saat ini.

Dahulu, Rafael begitu memuja Regina dan begitu menyayangi, melindungi, juga memperlakukan Regina dengan penuh perhatian.

Hanya karena Regina mengatakan bahwa dia tidak menyukainya, dekorasi bergaya Negara Zaira di vila senilai puluhan miliar itu langsung diganti saat itu juga. Rafael juga menemani Regina belajar dan mengikuti kompetisi di luar negeri, bahkan sampai memutuskan hubungan dengan keluarganya sendiri demi Regina.

Sekarang, wanita lain sudah menyusup dalam hidup Regina seperti air pasang yang tak berbekas. Sebanyak apa pun resep masakan baru yang diciptakan Regina, atau setinggi apa pun pencapaian yang diraihnya, Regina tidak lagi mendapatkan perhatian dari Rafael.

Bahkan, anak mereka berdua juga tidak akan lahir dari rahim Regina sendiri.

Regina memalingkan wajah, lalu melangkah keluar dengan perasaan lelah.

"Terserah kamu. Aku mau kembali ke hotel."

Dapur belakang hotel bintang lima itu juga merupakan tempat.

Belum sempat Regina masuk ke ruang ganti, dia sudah mendengar suara kasak-kusuk dari dalam.

"Sherly sudah kembali bekerja. Waktu dia nggak kelihatan selama beberapa hari kemarin, kupikir Bu Regina dan Pak Rafael bertengkar hebat sampai Pak Rafael mengalah dan mengusirnya. Siapa sangka, ternyata Sherly cuma cuti untuk periksa kandungan."

"Kamu sudah lihat media sosial Sherly belum? Dia mulai memamerkan hasil pemeriksaan kandungannya. Itu pasti sengaja diperlihatkan untuk Regina, 'kan?"

"Awalnya, kupikir hubungan antara kepala koki dan CEO itu aneh. Tapi, siapa sangka sekarang malah pelayan yang jadian sama CEO!"

"Pergi periksa kandungan saja sampai naik Maysun-nya Pak Rafael. Kali ini Pak Rafael benar-benar jatuh hati. Demi anak itu, dia nggak akan membiarkan Sherly menderita. Regina pasti bakal pusing tujuh keliling."

Suara kasak-kusuk itu terdengar bersahut-sahutan. Begitu Regina mendorong pintu dan masuk, mereka semua langsung bubar seperti sekawanan burung yang terkejut.

Regina mengganti pakaiannya dengan cekatan, lalu menuju dapur untuk menyiapkan gastronomi molekuler yang menjadi keahliannya.

Saat sedang memasak, manajer berlari menghampiri Regina.

"Kak Regina, Pak Martin datang. Waktu Sherly menyajikan hidangan, dia nggak bisa menjelaskan detail makanannya. Pak Martin menjadi naik pitam dan nggak membiarkan Sherly pergi. Mereka sedang bertengkar di sana."

Regina adalah calon istri CEO. Selama ini, manajer selalu menganggap bahwa setelah Pak Rafael, Regina-lah pemegang kekuasaan tertinggi. Jika ada masalah, bertanya kepada Regina adalah langkah yang paling tepat.

Sudah hamil bukannya beristirahat dengan tenang di rumah untuk menjaga kandungan, malah sengaja berkeliaran di hotel. Regina tahu persis apa yang ada di pikiran Sherly. Akan tetapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa.

"Aku akan pergi melihatnya."

Saat Regina keluar, dia mendapati Pak Martin yang sudah terlihat begitu tidak sabar.

"Bagaimanapun, tugasmu itu menyajikan makanan. Memangnya sesulit itu menjelaskan hidangan ini kepada kami?"

Sambil terisak, Sherly pun berkata, "Meski kalian kaya, aku punya harga diri! Harga diriku bukan untuk kalian injak-injak sesuka hati."

"Kamu ini bicara apa sih? Siapa yang menginjak-injak siapa?"

Teman Pak Martin yang naik pitam mengulurkan tangan untuk menarik Sherly. Namun, Regina bergegas maju untuk melerainya.

"Aaah!"

Di tengah kekacauan itu, Sherly yang panik menyambar pisau di atas meja dan mengayunkannya sembarangan. Sialnya, ayunan pisaunya tanpa sengaja mengenai tangan Regina hingga melukainya.

Darah pun mengucur deras.

Rafael yang datang terlambat segera mengusir rombongan Pak Martin, lalu menopang tubuh Sherly yang jatuh pingsan.

Regina menahan rasa sakitnya dan menarik ujung pakaian Rafael.

"Rafael, tanganku banyak sekali mengeluarkan darah."

Dia adalah seorang kepala koki, bagaimana mungkin tangannya terluka!

Rafael bahkan tidak sempat untuk melirik Regina sedikit pun.

"Sherly takut melihat darah. Dia juga sedang mengandung anak di perutnya. Aku harus membawanya ke rumah sakit sekarang."

Melihat punggung Rafael yang pergi menjauh, Regina merasakan dingin di hatinya, yang kemudian berubah menjadi kesepian yang tidak berujung.

Mungkin lebih baik jika Rafael tidak tahu tentang keberadaan anak di dalam kandungannya.

Masih ada dua minggu lagi dan setelah itu, Regina bisa pergi tanpa meninggalkan beban apa pun.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 21

    Sekembalinya ke tanah air, Rafael tidak menjalani kehidupan yang tenang, seperti yang dibayangkan Bu Linda.Demi menyelamatkan dirinya dan ibunya saat itu, sebagian besar aset keluarga sudah dijual. Bahkan, vila tempat Rafael tinggal bersama Regina juga ikut dilelang.Akibatnya, Rafael terpaksa pindah ke sebuah apartemen kecil bersama ibunya.Pemegang saham hotel lainnya yang mengetahui jika Rafael sedang mengalami kesulitan arus kas, mulai mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka sengaja membeli saham miliknya dengan harga rendah dan mengucilkannya dari jajaran manajemen.Tanpa kehadiran Regina yang memegang kendali, para koki utama di hotel tersebut mulai berkhianat. Perintah yang dikeluarkan Rafael juga sering kali berakhir hanya sebagai tumpukan kertas tanpa arti.Kehidupan dan pekerjaan benar-benar membuat Rafael kewalahan.Rafael menjadi pemarah, menderita insomnia, bahkan mulai kecanduan alkohol.Bu Linda sama sekali tidak bisa membantu. Setiap hari, yang dia lakukan hanyal

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 20

    Seminggu kemudian, Bu Linda menempuh perjalanan ribuan kilometer demi mencapai negara tersebut. Dengan bantuan pengacara, Bu Linda akhirnya berhasil menemui putranya yang kini tampak berjanggut dan kurus kering hingga pipinya cekung itu.Setelah memahami duduk perkaranya, Bu Linda pun mengamuk di kantor polisi."Regina itu benar-benar pembawa sial! Bertahun-tahun dia nggak bisa memberimu anak laki-laki, malah membuatmu berurusan dengan perempuan jalang seperti Sherly! Dasar wanita mandul, beraninya sekarang dia pilih-pilih padamu. Benar-benar nggak tahu diri!"Rafael membenamkan kepalanya di antara kedua lengannya. Matanya dipenuhi penyesalan dan duka yang tidak bisa dilihat oleh orang lain."Bu, berhentilah bicara."Bu Linda dan pengacara sibuk berdiskusi sendiri, seakan tidak mendengar perkataan putranya."Pak Pengacara, kalau kita minta Regina mengeluarkan surat pernyataan pengampunan untuk Rafael, apa dia bisa bebas dari masalah ini?"Pengacara itu mengangguk. "Itu juga tergantung

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 19

    "Sherly memang bodoh, dungu dan gila hormat. Tapi, kalau kamu nggak membiarkannya, apa mungkin dia bisa menyakitiku berkali-kali?""Sosok yang aku benci selama ini bukanlah dia, melainkan dirimu.""Kamu sendiri yang mengubur hubungan kita selama delapan tahun. Kamu bahkan begitu mudah memercayai orang lain hingga mengirim anak tunggal kita ke liang lahat."Regina tidak sanggup membiarkan dirinya dan anaknya menanggung noda kehinaan seperti itu. Dia juga tidak bisa memaafkan Rafael."Kamu membenciku?"Rafael berdiri mematung di tempatnya, merasa linglung dan kehilangan arah.Menyadari emosi Regina yang makin meluap, Dylan pun dengan tenang mengusap punggung Regina dengan lembut.Regina tampak seperti baru tersadar, lalu merendahkan suaranya, "Lama-kelamaan, tiap kali memikirkanmu, aku merasa mual, sampai-sampai aku merasa terlalu malas untuk kembali membencimu."Kata-kata Regina bagaikan anak panah tajam yang terus-menerus menghujam jantung Rafael."Regina, jangan seperti ini. Aku tahu

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 18

    Pria muda itu sangatlah peka. Tak lama kemudian, dia menyadari keberadaan Rafael.Dylan pun menarik kembali pandangannya, lalu berkata dengan lembut, "Ada toko teh susu lokal yang baru buka di sebelah. Kamu mau? Biar aku belikan untukmu."Regina yang sedang asyik menyantap daging panggang, mengangguk dengan gembira."Boleh, aku mau taro boba."Dylan tersenyum sambil bangkit berdiri. Sebelum pergi, dia tak lupa mengacak pelan rambut Regina yang halus dengan penuh kasih sayang.Setelah keluar, Dylan terlihat seperti tidak sengaja berjalan melewati Rafael."Mari bicara di sana."Rafael sebenarnya ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui Regina. Namun, melihat gadis itu sedang makan dengan lahap, dia pun akhirnya tidak tega untuk mengganggu Regina.Kedua pria itu berdiri diam di sudut jalan.Rafael lalu bertanya dengan suara rendah, "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"Dylan mengedikkan bahu. "Kamu pernah menemani Bu Sherly untuk periksa di rumah sakit. Waktu itu, aku adalah dokter

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 17

    Setelah menerima dua tamparan dari Bu Linda, Sherly akhirnya kembali ke sikapnya yang penurut seperti sebelumnya.Tepat di saat Sherly mengira sikap mengalahnya akan membawanya ke kehidupan tenang yang sudah lama dia nantikan, telepon dari asisten Rafael menghancurkan harapan terakhir Sherly tersebut."Pak Rafael, kami sudah menemukan keberadaan Nyonya."Asisten itu mengirimkan sebuah artikel ulasan kuliner kepada Rafael, yang ditulis atas nama Regina."Artikel ini mengulas sebuah restoran di Kota Zoram. Nyonya harusnya sekarang berada di Negara Solano."Hati Rafael diliputi secercah rasa sukacita yang sudah lama tidak dia rasakan."Pesan tiket pesawat, aku akan segera pergi ke Negara Solano."Dia berutang permintaan maaf pada Regina, juga berutang seluruh sisa hidupnya kepada wanita itu.Saat Rafael hendak melangkah keluar sambil membawa kopernya, dia melihat ibunya masuk dengan penuh amarah."Sherly, keluar kamu sekarang!"Rafael memijat pangkal hidungnya karena sakit kepala."Ibu, a

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 16

    Bu Linda merasa Regina sejak awal memang tidak cocok dengan putranya.Regina sudah bertahun-tahun berada di sisi Rafael, tetapi tetap tidak bisa melahirkan anak, hingga memaksa putranya untuk mencari wanita dari keluarga biasa untuk mengandung anaknya.Sekarang, Regina sudah pergi begitu saja dan Rafael sudah memiliki seorang putra. Wanita dari keluarga terpandang mana yang mau menikah dengan pria seperti itu?Setelah dipikir-pikir, daripada mencari orang lain, lebih baik membiarkan Regina kembali untuk menjadi ibu tiri bagi anak tersebut. Setidaknya, karena dia sendiri tidak bisa melahirkan, Regina hanya perlu mengurus anak yang ada di depan matanya itu.Namun, Bu Linda tidak menyangka jika semua perkataannya itu terdengar jelas oleh Sherly yang kebetulan mengikuti hingga ke depan pintu ruang kerja.Sherly dengan penuh amarah menerjang maju untuk merebut kembali anaknya dari Bu Linda."Kalian benar-benar komplotan orang jahat, kembalikan anakku!"Bu Linda memaki-maki dan menyuruh pemb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status