Compartir

Bab 3

Autor: Anonima
Saat Rafael mendorong pintu dan masuk, Regina sedang menatap kosong pada lembaran laporan hasil USG di tangannya. Tatapan mata mereka pun bersirobok.

"Apa yang sedang kamu lihat?"

Regina segera melipat laporan tersebut dan berusaha bersikap tenang.

"Bukan apa-apa. Aku cuma sedang memikirkan beberapa menu masakan baru."

Lembaran kertas tipis itu melintas sekilas di depan mata Rafael. Rafael merasa tidak asing dengan lembar itu, seakan baru saja melihat benda serupa di suatu tempat belakangan ini.

Namun, begitu mendengar Regina mengatakan sedang meracik menu baru, perhatian Rafael langsung teralih ke hal lain.

"Akhir-akhir ini nafsu makan Sherly sedang nggak baik. Cobalah membuat lebih banyak variasi. Jangan sampai mengabaikan anak dalam kandungannya."

Sebelum Regina bisa menjawab, wajah mungil Sherly yang pucat mengintip dari balik pintu.

"Kak Rafael, Kak Regina, aku sudah menyiapkan makan siang untuk kalian."

Rafael pun menarik tangan Regina dan berjalan keluar dengan penuh semangat.

Saat melewati Sherly, Rafael melepaskan tangan Regina begitu saja dan langsung merangkul pinggang Sherly.

"Sherly, kamu sedang mengandung. Ada Regina di sini. Kamu nggak perlu repot-repot menyiapkan makan siang."

Sherly menangkupkan kedua tangannya di depan perut, sorot matanya tampak begitu lembut.

"Kak Regina sudah sibuk semalaman. Aku cuma ingin berterima kasih padanya."

Regina melangkah ke meja makan dan melihat dua tangkup roti lapis yang sudah tersaji di atas piring serta dua gelas jus jeruk.

Tanpa perlu mencicipinya, Regina sudah tahu jika itu adalah roti lapis dan jus buah campur miliknya yang sengaja dia simpan di lemari es untuk sarapan.

Sherly menyuruh Rafael pergi makan, sementara dia sendiri menarik tangan Regina untuk duduk di sofa.

"Kak, kejadian kemarin itu murni kesalahanku. Tapi, aku benar-benar nggak sengaja. Biarkan aku mengobati lukamu."

Regina mengulurkan tangan untuk menghentikannya. "Nggak perlu."

Akan tetapi, Sherly justru mencengkeram tangan Regina yang terluka dan enggan melepaskannya. Sementara itu, matanya juga mulai berkaca-kaca.

"Kak, apa Kakak masih menyalahkanku? Aku cuma ingin mengobati lukamu saja."

Rafael yang merasa khawatir jika Regina akan melukai perut Sherly jika mereka terus tarik-menarik seperti itu, segera menahan gerakan Regina.

"Regina, biarkan Sherly mengobati lukamu."

Regina tidak mampu melawan kekuatan pria itu, sehingga dia hanya bisa memejamkan mata dengan pasrah.

Sherly mengoleskan lapisan salep yang sangat tebal pada luka Regina. Barulah setelah itu, dia merasa puas.

Regina merasa salep kali ini tidak memberikan sensasi sejuk dan meredakan nyeri seperti kemarin. Setelah dioleskan, lukanya justru samar-samar terasa nyeri.

Rafael seakan tidak menyadari rasa tidak senang Regina dan menariknya untuk duduk di meja makan.

"Ini semua buatan Sherly. Jangan sampai kita menyia-nyiakan niat baiknya."

Regina tidak memiliki nafsu makan. Baru saja dia hendak menolak, tiba-tiba bel pintu berbunyi.

Pembantu membukakan pintu, mempersilakan seorang wanita yang berpenampilan anggun dan berwibawa untuk masuk ke rumah.

"Ibu, kenapa Ibu datang ke sini?" Rafael berdiri dengan perasaan terkejut sekaligus senang.

Tatapan angkuh Bu Linda beralih dari Regina yang sedang menunduk, kepada Sherly yang berada di belakangnya. Seketika itu juga, ekspresi wajahnya yang merendahkan berubah menjadi gembira luar biasa.

Dia menyikut Regina hingga minggir ke samping, lalu mengelus perut Sherly dengan lembut.

"Sudah berapa bulan kandungannya?"

Sherly menundukkan kepalanya dengan malu-malu. "Tiga bulan lagi melahirkan."

"Bagus, bagus sekali!" seru Bu Linda berkali-kali. "Rafael, urusan sebesar ini, kenapa kamu nggak mengatakannya pada Ibu?"

Mata Rafael memancarkan kebanggaan, tetapi kata-katanya terdengar merendah.

"Sherly masih muda. Ini pertama kalinya dia mengalami hal seperti ini, jadi dia agak takut. Lagi pula, sebelumnya usia kandungannya masih muda. Jadi, kami belum memberitahukannya pada siapa pun."

Bu Linda tampak gemas sekaligus kecewa.

"Ini kabar gembira yang luar biasa. Bagaimana mungkin nggak kasih tahu Ibu? Ini akan jadi cucu pertama Ibu."

Bu Linda menggenggam tangan Sherly dengan wajah puas sambil tak lupa memberikan tatapan tajam yang menghina kepada Regina.

"Kamu benar-benar membawa keberuntungan. Nggak kayak wanita mandul."

Bu Linda memang sejak dahulu tidak menyukai Regina.

Dia berharap pendamping hidup putranya adalah seorang putri keluarga terpandang, bukannya seorang koki yang tiap hari berurusan dengan bumbu dapur dan minyak goreng.

Dahulu, Rafael bersikeras untuk hidup bersama Regina. Lantaran tidak bisa menentang keras putra tunggalnya dan tidak ingin memutus hubungan, Bu Linda pun berencana baru akan menyetujui pernikahan mereka setelah Regina melahirkan seorang anak laki-laki. Itu pun dengan sikap yang masih setengah terpaksa.

Siapa sangka, setelah tujuh sampai delapan tahun berlalu, dia belum melihat kehadiran seorang cucu.

Meski latar belakang keluarga Sherly juga biasa-biasa saja, Sherly memiliki kelebihan karena baru lulus dan masa depannya masih bisa diatur. Setelah bayinya lahir, Bu LInda berencana mengirimnya kuliah ke luar negeri untuk menaikkan status sosialnya.

Bu Linda membimbing Sherly yang tampak malu-malu itu untuk duduk. Tatapannya tampak penuh perhatian.

"Kamu dan Rafael sekarang tinggal di kamar utama di lantai dua? Bagus, bagus sekali. Kamar itu pencahayaannya bagus dan ruangannya juga luas."

"Apa kamu merasa tanaman hias di sana memenuhi ruangan? Nggak masalah, nanti aku akan suruh orang untuk membuang semuanya."

Semua tanaman hias di lantai dua itu adalah hasil jerih payah Regina sendiri, termasuk tanaman kemangi dan rosmarin yang dia tanam di sana.

Regina ingin menghentikan mereka, tetapi suaranya tenggelam dalam riuhnya percakapan penuh kegembiraan dari ketiga orang itu.

Tangannya terasa begitu sakit. Namun, organ dalam tubuhnya seakan sedang disayat berulang kali oleh pisau hingga bersimbah darah.

Ternyata, selama ini Rafael tidak benar-benar menganggapnya sebagai satu-satunya orang yang tidak tergantikan. Keluarga Davanka juga bukannya tidak bisa menerima wanita biasa untuk masuk ke dalam keluarga mereka.

Itu karena, jika dibandingkan dari segi rupa, latar belakang pendidikan, hingga pencapaian, Sherly sama sekali tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Regina.

Sherly hanya sedikit lebih beruntung dari Regina.

Bu Linda berseru, "Apa? Anjing di rumah ini mengganggu tidurmu? Itu nggak bisa dibiarkan. Aku akan segera membawanya pergi sebentar lagi."

Tangan Regina terasa begitu sakit hingga dia menarik napas pelan, menahan rasa sakit.

Mengingat betapa besarnya kebencian Bu Linda terhadap dirinya, Regina bisa membayangkan siksaan seperti apa yang akan dialami anjingnya jika sampai dibawa pergi.

Sambil menahan rasa sakit, Regina pun angkat bicara, "Nggak boleh. Itu anjingku, Anda nggak bisa membawanya pergi."

Bu Linda mendengus sinis.

"Apa maksudmu dengan anjingmu? Ini vila keluargaku. Segala sesuatu di dalamnya adalah milik kami. Bahkan, dirimu juga milik putraku."

Sebelum Regina bisa memprotes lebih lanjut, tiba-tiba tatapan Rafael tertuju pada tangan Regina. Seketika itu juga, tatapan mata Rafael langsung menjadi tajam.

"Regina, tanganmu kenapa?"
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 21

    Sekembalinya ke tanah air, Rafael tidak menjalani kehidupan yang tenang, seperti yang dibayangkan Bu Linda.Demi menyelamatkan dirinya dan ibunya saat itu, sebagian besar aset keluarga sudah dijual. Bahkan, vila tempat Rafael tinggal bersama Regina juga ikut dilelang.Akibatnya, Rafael terpaksa pindah ke sebuah apartemen kecil bersama ibunya.Pemegang saham hotel lainnya yang mengetahui jika Rafael sedang mengalami kesulitan arus kas, mulai mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka sengaja membeli saham miliknya dengan harga rendah dan mengucilkannya dari jajaran manajemen.Tanpa kehadiran Regina yang memegang kendali, para koki utama di hotel tersebut mulai berkhianat. Perintah yang dikeluarkan Rafael juga sering kali berakhir hanya sebagai tumpukan kertas tanpa arti.Kehidupan dan pekerjaan benar-benar membuat Rafael kewalahan.Rafael menjadi pemarah, menderita insomnia, bahkan mulai kecanduan alkohol.Bu Linda sama sekali tidak bisa membantu. Setiap hari, yang dia lakukan hanyal

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 20

    Seminggu kemudian, Bu Linda menempuh perjalanan ribuan kilometer demi mencapai negara tersebut. Dengan bantuan pengacara, Bu Linda akhirnya berhasil menemui putranya yang kini tampak berjanggut dan kurus kering hingga pipinya cekung itu.Setelah memahami duduk perkaranya, Bu Linda pun mengamuk di kantor polisi."Regina itu benar-benar pembawa sial! Bertahun-tahun dia nggak bisa memberimu anak laki-laki, malah membuatmu berurusan dengan perempuan jalang seperti Sherly! Dasar wanita mandul, beraninya sekarang dia pilih-pilih padamu. Benar-benar nggak tahu diri!"Rafael membenamkan kepalanya di antara kedua lengannya. Matanya dipenuhi penyesalan dan duka yang tidak bisa dilihat oleh orang lain."Bu, berhentilah bicara."Bu Linda dan pengacara sibuk berdiskusi sendiri, seakan tidak mendengar perkataan putranya."Pak Pengacara, kalau kita minta Regina mengeluarkan surat pernyataan pengampunan untuk Rafael, apa dia bisa bebas dari masalah ini?"Pengacara itu mengangguk. "Itu juga tergantung

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 19

    "Sherly memang bodoh, dungu dan gila hormat. Tapi, kalau kamu nggak membiarkannya, apa mungkin dia bisa menyakitiku berkali-kali?""Sosok yang aku benci selama ini bukanlah dia, melainkan dirimu.""Kamu sendiri yang mengubur hubungan kita selama delapan tahun. Kamu bahkan begitu mudah memercayai orang lain hingga mengirim anak tunggal kita ke liang lahat."Regina tidak sanggup membiarkan dirinya dan anaknya menanggung noda kehinaan seperti itu. Dia juga tidak bisa memaafkan Rafael."Kamu membenciku?"Rafael berdiri mematung di tempatnya, merasa linglung dan kehilangan arah.Menyadari emosi Regina yang makin meluap, Dylan pun dengan tenang mengusap punggung Regina dengan lembut.Regina tampak seperti baru tersadar, lalu merendahkan suaranya, "Lama-kelamaan, tiap kali memikirkanmu, aku merasa mual, sampai-sampai aku merasa terlalu malas untuk kembali membencimu."Kata-kata Regina bagaikan anak panah tajam yang terus-menerus menghujam jantung Rafael."Regina, jangan seperti ini. Aku tahu

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 18

    Pria muda itu sangatlah peka. Tak lama kemudian, dia menyadari keberadaan Rafael.Dylan pun menarik kembali pandangannya, lalu berkata dengan lembut, "Ada toko teh susu lokal yang baru buka di sebelah. Kamu mau? Biar aku belikan untukmu."Regina yang sedang asyik menyantap daging panggang, mengangguk dengan gembira."Boleh, aku mau taro boba."Dylan tersenyum sambil bangkit berdiri. Sebelum pergi, dia tak lupa mengacak pelan rambut Regina yang halus dengan penuh kasih sayang.Setelah keluar, Dylan terlihat seperti tidak sengaja berjalan melewati Rafael."Mari bicara di sana."Rafael sebenarnya ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui Regina. Namun, melihat gadis itu sedang makan dengan lahap, dia pun akhirnya tidak tega untuk mengganggu Regina.Kedua pria itu berdiri diam di sudut jalan.Rafael lalu bertanya dengan suara rendah, "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"Dylan mengedikkan bahu. "Kamu pernah menemani Bu Sherly untuk periksa di rumah sakit. Waktu itu, aku adalah dokter

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 17

    Setelah menerima dua tamparan dari Bu Linda, Sherly akhirnya kembali ke sikapnya yang penurut seperti sebelumnya.Tepat di saat Sherly mengira sikap mengalahnya akan membawanya ke kehidupan tenang yang sudah lama dia nantikan, telepon dari asisten Rafael menghancurkan harapan terakhir Sherly tersebut."Pak Rafael, kami sudah menemukan keberadaan Nyonya."Asisten itu mengirimkan sebuah artikel ulasan kuliner kepada Rafael, yang ditulis atas nama Regina."Artikel ini mengulas sebuah restoran di Kota Zoram. Nyonya harusnya sekarang berada di Negara Solano."Hati Rafael diliputi secercah rasa sukacita yang sudah lama tidak dia rasakan."Pesan tiket pesawat, aku akan segera pergi ke Negara Solano."Dia berutang permintaan maaf pada Regina, juga berutang seluruh sisa hidupnya kepada wanita itu.Saat Rafael hendak melangkah keluar sambil membawa kopernya, dia melihat ibunya masuk dengan penuh amarah."Sherly, keluar kamu sekarang!"Rafael memijat pangkal hidungnya karena sakit kepala."Ibu, a

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 16

    Bu Linda merasa Regina sejak awal memang tidak cocok dengan putranya.Regina sudah bertahun-tahun berada di sisi Rafael, tetapi tetap tidak bisa melahirkan anak, hingga memaksa putranya untuk mencari wanita dari keluarga biasa untuk mengandung anaknya.Sekarang, Regina sudah pergi begitu saja dan Rafael sudah memiliki seorang putra. Wanita dari keluarga terpandang mana yang mau menikah dengan pria seperti itu?Setelah dipikir-pikir, daripada mencari orang lain, lebih baik membiarkan Regina kembali untuk menjadi ibu tiri bagi anak tersebut. Setidaknya, karena dia sendiri tidak bisa melahirkan, Regina hanya perlu mengurus anak yang ada di depan matanya itu.Namun, Bu Linda tidak menyangka jika semua perkataannya itu terdengar jelas oleh Sherly yang kebetulan mengikuti hingga ke depan pintu ruang kerja.Sherly dengan penuh amarah menerjang maju untuk merebut kembali anaknya dari Bu Linda."Kalian benar-benar komplotan orang jahat, kembalikan anakku!"Bu Linda memaki-maki dan menyuruh pemb

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status