Share

11. Matanya Menatap Seluruh Tubuhku

Penulis: Callista_ Ivan
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-01 21:09:57

William langsung menoleh cepat. Dadanya berdebar kencang ketika mendapati seorang wanita muncul dari sisi rumah. Wajahnya langsung dikenali.

“Gina?” panggil William dengan nada tak percaya.

Gina mengangguk kecil, melangkah mendekat. Tatapannya lembut, tapi juga penuh rasa heran. “Tuan William, anda ngapain di sini? Lagi cari Kinara, ya?”

“Iya,” jawab William cepat, matanya memancarkan harapan. “Tolong, Gina. Kamu tahu kan dia di mana sekarang? Aku harus ketemu Kinara. Aku ... aku harus minta maaf sama dia. Aku harus menebus kesalahan itu.”

Nada suaranya terdengar putus asa. Jemarinya mengepal, wajahnya kusut seolah menahan sesuatu yang berat.

Gina menghela napas, menatap William dengan tatapan ragu.

“Maaf, Tuan. Aku nggak tahu mereka sekarang di mana. Kinara pergi beberapa hari lalu. Dia bawa Karina juga, adiknya. Dari yang aku dengar, Karina lagi sakit parah.”

Deg! Jantung William serasa berhenti berdetak. “Sakit... parah?” gumamnya dengan wajah pucat.

Gina mengangguk. “Iya. Aku ngga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Satu Malam di Atas Ranjang Panas Tuan Billionaire    13. Awal yang Menjadi Akhir

    Untungnya kondisi Karina masih bisa diselamatkan pasca komplikasi itu. Operasi pun kembali dilanjutkan.Suasana di depan ruang operasi masih terasa mencekam. Kinara berdiri mematung, telapak tangannya dingin, sementara dadanya terasa sesak seperti ditindih beban berat. Hanna berdiri di sampingnya, menggenggam tangan Kinara erat, seolah menjadi satu-satunya penyangga agar Kinara tidak runtuh.Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang menyiksa.Lalu, pintu ruang operasi terbuka.Seorang dokter keluar, melepas masker dari wajahnya. Kinara refleks melangkah maju, jantungnya berdegup liar.“Dok, bagaimana adik saya?” suaranya nyaris tak terdengar.Dokter itu tersenyum kecil. “Operasinya berjalan lancar.”Kalimat itu seperti cahaya yang menembus kegelapan. Kinara tertegun sesaat, seolah otaknya butuh waktu untuk mencerna.“L-lancar?”“Iya,” lanjut dokter. “Radang usus buntunya berhasil kami tangani. Sekarang pasien masih harus dirawat intensif untuk pemulihan, tapi kondisinya stabil.”Ka

  • Satu Malam di Atas Ranjang Panas Tuan Billionaire    12. Operasi Karina

    Kinara berusaha menepis perasaan tak nyaman yang sejak tadi menggerogoti dadanya. Ia menunduk, mengatur napas, lalu coba merilekskan dirinya sendiri.“Mungkin aku cuma terlalu sensitif,” batinnya sambil mencoba menenangkan diri sendiri.“Aku ke dapur dulu, ambilin minum sama cemilan ya,” ujar Kinara akhirnya, memecah keheningan.Hanna mengangguk ceria.“Oke! Jangan lupa ambilin Karina susu hangat juga.”Kinara tersenyum tipis, lalu melangkah ke dapur. Jantungnya masih berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya, tapi ia berusaha mengabaikannya.Di dapur, Kinara membuka lemari, mengambil beberapa gelas, lalu menuangkan air dingin. Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya melayang.Tatapan Dean tadi … entah kenapa terus terbayang. Bukan tatapan ramah. Bukan juga sekadar penasaran. Lebih seperti sedang menilai dan mengamatinya.Kinara menggeleng pelan, mencoba fokus. Ia mengambil beberapa camilan ringan, menyusunnya di atas nampan. Saat ia hendak berbalik, tiba-tiba saja ….“Eh?”Kina

  • Satu Malam di Atas Ranjang Panas Tuan Billionaire    11. Matanya Menatap Seluruh Tubuhku

    William langsung menoleh cepat. Dadanya berdebar kencang ketika mendapati seorang wanita muncul dari sisi rumah. Wajahnya langsung dikenali.“Gina?” panggil William dengan nada tak percaya.Gina mengangguk kecil, melangkah mendekat. Tatapannya lembut, tapi juga penuh rasa heran. “Tuan William, anda ngapain di sini? Lagi cari Kinara, ya?”“Iya,” jawab William cepat, matanya memancarkan harapan. “Tolong, Gina. Kamu tahu kan dia di mana sekarang? Aku harus ketemu Kinara. Aku ... aku harus minta maaf sama dia. Aku harus menebus kesalahan itu.”Nada suaranya terdengar putus asa. Jemarinya mengepal, wajahnya kusut seolah menahan sesuatu yang berat.Gina menghela napas, menatap William dengan tatapan ragu.“Maaf, Tuan. Aku nggak tahu mereka sekarang di mana. Kinara pergi beberapa hari lalu. Dia bawa Karina juga, adiknya. Dari yang aku dengar, Karina lagi sakit parah.”Deg! Jantung William serasa berhenti berdetak. “Sakit... parah?” gumamnya dengan wajah pucat.Gina mengangguk. “Iya. Aku ngga

  • Satu Malam di Atas Ranjang Panas Tuan Billionaire    Bab 10. Dimana Kamu, Kinara?

    10"Kinara? Apa ini benar-benar kamu?" tanya gadis bernama Hanna itu. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut tapi juga senang."Iya, Hanna. Ini aku, dan ini adikku, Karina." Kinara mengangguk.Hanna mendekat dengan langkah cepat, memandang Karina yang sedang terkulai lemah dengan ekspresi penuh rasa khawatir.“Iya, Kinara. Aku ingat dia. Dulu dia sering bermain sama aku saat aku berkunjung ke rumahmu. Apa yang terjadi dengan Karina?” Hanna bertanya, nada suaranya mengandung rasa penasaran yang dalam.Kinara menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata."Karina sedang sakit parah, Hanna. Kami harus pergi dari rumah karena ada masalah di rumah, dan sekarang kami tidak tahu harus pergi ke mana." Kinara mengatakan semua permasalahannya kepada Hanna.Hanya saja, dia sengaja tak mengatakan tentang masalah apa yang sudah menimpanya. Kinara tak ingin mengingat itu lagi, karena saat ini yang terpenting adalah ia dan Karina bisa pergi sejauh mungkin

  • Satu Malam di Atas Ranjang Panas Tuan Billionaire    Bab 9. Karina Kesakitan

    Hiruk pikuk kendaraan seakan menyambut dua kakak beradik yang kini sedang melangkah pergi semakin jauh dari rumah mereka.Kinara mengajak Karina menuju ke halte bis dan menunggu di sana. Cukup lama mereka menunggu, bahkan Karina sudah terlihat sangat kelelahan."Karina, kamu capek?" tanya Kinara khawatir pada keadaan sang adik."Iya, Kak. Perut aku sakit," rintih Karina sembari memegangi perutnya yang kian terasa sakit.Air mata Kinara mulai menitik, menatap penuh kasihan pada adiknya itu. Kinara segera mendekap tubuh Karina dengan sangat erat, lalu mendaratkan kecupan di puncak kepala sang adik. Gadis itu tak hentinya menitikkan air matanya."Maafkan kakak, Karina. Kamu harus jadi seperti ini karena kakak," sesal Kinara dalam hatinya, sambil tetap memeluk Karina.Cukup lama mereka menunggu dengan saling berpelukan. Hingga selang beberapa menit kemudian, bis pun berhenti di halte tersebut.Wajah Kinara nampak riang saat melihat kedatangan bis tersebut."Karina, bisnya datang. Ayo kita

  • Satu Malam di Atas Ranjang Panas Tuan Billionaire    Bab 8. Memutuskan Pergi

    Kinara sama sekali tak bisa menyembunyikan keterkejutannya, ketika Gina tak sengaja mengingatkannya pada kejadian tadi malam. Kejadian yang sudah menghancurkan hidupnya dan mungkin seumur hidup tak akan pernah bisa dia lupakan.Begitu mendengar tentang nomor 2305 itu, membuat tangan Kinara tiba-tiba gemetar. Sendok besar yang tadi digunakan untuk mengaduk sayur tiba-tiba terjatuh di lantai begitu saja. Bahkan sebagian kuah sayur yang panas itu tumpah dan mengenai kakinya.Trangg!"Aaaa." Kinara menjerit kecil, ketika dia merasakan kakinya begitu panas terkena cipratan kuah sayurnya."Kinara, kamu kenapa?" Gina bertanya dengan paniknya.Gadis itu pun juga merasa terkejut ketika sendok besar jatuh dari tangan Kinara. Lebih terkejut lagi ketika dia melihat Kinara yang merintih kesakitan sambil memegangi kakinya."Kinara, kaki kamu melepuh?" pekik Gina seraya membungkam mulutnya sendiri.Baik Gina maupun Kinara sama-sama terkejut dan refleks menoleh ke arah kaki Kinara, di mana kaki gadis

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status