LOGINDentingan sendok perak yang beradu dengan mangkuk keramik memecah keheningan ruang makan.Aroma pekat kaldu ayam, lada hitam, dan seledri menguap di udara, bertabrakan dengan dinginnya pendingin ruangan sentral. Di ujung meja pualam Italia ini, sebuah kekacauan domestik yang sangat familiar sedang terjadi.Potongan wortel rebus melayang di udara.Sayuran oranye itu mendarat dengan bunyi plop pelan di atas karpet Persia seharga ratusan juta rupiah. Pelakunya duduk tegap di kursi tinggi balita, menatap hasil karyanya dengan tingkat kepuasan absolut.Elang baru berusia satu setengah tahun. Tapi insting merusaknya sudah terkalibrasi dengan sempurna.Aku menatap putraku sejenak, lalu beralih pada pria yang duduk tepat di sisiku.Arjuna tidak merespons lemparan wortel itu. Suamiku justru sibuk memotong daging steak di piringnya. Gerakan pisau di tangannya terlalu presisi. Terlalu metodis. Otot-otot di lengannya menegang kaku di balik kemeja yang lengannya sudah digulung hingga siku.Pikiran
Lantai dua puluh delapan menguras habis sisa energiku hari ini.Rapat maraton evaluasi aset berdurasi tiga jam baru saja dibubarkan. Udara di ruang konferensi tadi terasa pengap oleh bau kopi dingin dan argumen defensif dari para manajer divisi.Aku melangkah keluar menyusuri lorong yang sepi. Otot bahuku menegang kaku di balik blazer. Tengkukku terasa berat.Aku berdiri sendirian di depan deretan lift eksekutif. Menatap pantulan wajahku yang kelelahan di permukaan pintu logam yang mengilap.Tangan kananku memeluk tablet dan sebuah buku bersampul kulit tebal di dada. Tangan kiriku memegang ponsel yang layarnya gelap.Suara denting mekanis memecah kesunyian lorong.Angka digital di atas pintu menyala merah. Berhenti tepat di angkaku.Pintu baja itu bergeser terbuka dengan suara desisan pelan.Perubahan tekanan udara langsung menabrak wajahku. Ada sensasi dingin yang mendadak terasa janggal menembus pori-pori kulit.Raka Wiratama berdiri tepat di tengah kabin lift.Langkahku terhenti se
Mesin pencetak di sudut ruang kerja berdengung pelan sebelum akhirnya benar-benar mati.Kertas-kertas yang baru dimuntahkannya masih menyimpan hawa panas. Aroma tinta laser yang khas menguar tipis. Menginvasi udara dingin ruangan yang sengaja diatur pada suhu dua puluh derajat.Di balik meja kayu eboni raksasanya, Arjuna duduk seperti patung pualam.Kemeja putihnya sudah kehilangan dasi sejak dua jam lalu. Dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, mengekspos garis lehernya yang kokoh.Matanya memindai draf proposal joint venture dari Raka Wiratama.Satu halaman. Dua halaman. Tiga halaman.Ini adalah putaran ketiga. Dia mengulangi bacaannya dengan tingkat ketelitian yang hampir menakutkan.Aku berdiri dalam diam di ambang pintu yang setengah terbuka. Memperhatikan pria yang memegang kendali atasku—dan atas Diwangsa Corp—ini sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.Arjuna bukan pria yang membuang waktu membaca dokumen yang sama berulang kali. Kecuali, ada sesuatu yang memicu insting p
Suara gerusan mesin espresso memecah keheningan pantri lantai tiga puluh dua.Aroma pekat biji kopi robusta mengudara, menyengat indra penciumanku dengan cara yang familiar. Aku berdiri menyandar pada meja marmer hitam, memperhatikan tetes demi tetes cairan gelap itu memenuhi cangkir porselen.Setelan blazer Dior yang kukenakan hari ini seharga mobil bekas. Ruangan tempatku berdiri sekarang adalah teritori kekuasaan Diwangsa Corp. Statusku sudah berubah menjadi Co-CEO.Tapi ritual kecil ini menolak pergi.Membuat kopi sendiri di tengah jadwal yang membunuh adalah jangkarku. Pengingat bahwa di balik semua kekuasaan ini, aku masih mengendalikan hal-hal terkecil dalam hidupku.Langkah kaki terdengar dari lorong. Berat, terukur, absolut.Aku bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.Arjuna melangkah masuk ke pantri. Jasnya terbuka, satu tangan terselip di saku celana, dan sebuah earpiece menempel di telinga kirinya. Dia sedang mendengarkan laporan dari seseorang di ujung te
Matahari pagi terbit perlahan di ufuk timur, menyapukan warna emas keemasan di atas hutan beton Jakarta.Aku berdiri sendirian di balkon Penthouse lantai 40, tempat yang dulu sering menjadi saksi bisu air mataku, ketakutanku, dan keputusasaanku. Angin pagi yang segar menerpa wajahku, memainkan ujung gaun tidur sutra putihku yang berkibar lembut.Di bawah sana, kota ini sudah mulai menggeliat.Jalanan yang macet, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, dan jutaan manusia yang sedang berjuang mengejar mimpi—atau sekadar bertahan hidup.Dulu, aku adalah salah satu dari semut-semut kecil di bawah sana.Aku teringat hari itu. Hari di mana hujan turun deras, dan aku berlari dari kejaran debt collector dengan uang receh di tangan. Hari di mana aku berpikir hidupku sudah berakhir, dan satu-satunya jalan keluar adalah masuk ke dalam mobil Maybach hitam milik ayah sahabatku.Aku teringat rasa takut saat pertama kali menginjakkan kaki di lantai marmer dingin ini. Aku teringat bagaimana aku
Pintu kamar utama tertutup rapat, mengunci kami dari dunia luar, dari bisnis, dan dari peran kami sebagai orang tua yang sibuk.Di dalam sini, di bawah cahaya lampu tidur yang temaram dan hangat, kami kembali menjadi Alea dan Arjuna. Laki-laki dan perempuan yang terikat oleh sejarah panjang yang rumit, namun indah.Aku berdiri di depan cermin meja rias, merapikan tali lingerie sutra berwarna biru safir yang membalut tubuhku.Biru.Warna favorit Arjuna. Warna gaun tidur pertama yang dia perintahkan untuk kupakai di awal hubungan kami yang penuh paksaan dulu.Namun malam ini, aku memakainya bukan karena perintah. Aku memakainya karena aku ingin. Aku ingin melihat binar matanya saat melihatku."Kamu cantik," suara bariton itu menyapa dari arah belakang.Aku melihat pantulannya di cermin.Arjuna berdiri di sana, sudah mengenakan celana piyama santai, bertelanjang dada. Otot-ototnya masih kencang meski usianya bertambah, dihiasi beberapa bekas luka samar—tanda dari kehidupan yang keras yan
Duar!Suara petir menggelegar di luar dinding kaca, membuatku terlonjak di kursi. Lampu-lampu Jakarta di bawah sana terlihat buram, tertutup tirai hujan yang turun semakin gila malam ini.Jam dinding digital di sudut meja kerjaku menunjukkan pukul 22.15.Kantor Diwangsa Corp sudah mati suri. Lorong
Plaza Indonesia terasa asing siang ini. Dulu, aku hanya berani masuk ke sini untuk numpang lewat ke halte busway atau sekadar window shopping sambil menahan napas melihat label harga.Hari ini, aku masuk dengan misi yang berbeda. Misi yang diperintahkan oleh tuanku.Langkahku ragu saat berhenti di
Restoran fine dining di kawasan Senopati ini memiliki pencahayaan temaram yang seharusnya romantis. Namun, bagiku malam ini, suasana remang-remang ini justru terasa mencekam.Aku duduk kaku di kursi beludru merah, mengenakan dress satin hijau zamrud yang baru kubeli tadi siang. Kain mahalnya memelu
Cahaya matahari pagi menerobos masuk lewat celah tirai yang tidak tertutup rapat. Menusuk mataku yang bengkak dan perih.Aku mengerjapkan mata, berharap saat aku membuka mata sepenuhnya, aku akan bangun di atas kasur tipis kontrakanku yang apek. Berharap kejadian semalam hanyalah mimpi buruk akibat







