LOGINSuara statis pelan dari baby monitor di atas meja kaca memecah keheningan.Satu detik kemudian, terdengar dengusan napas bayi yang ritmis dan teratur. Elang sudah terlelap sepenuhnya di kamar sebelah.Ruang keluarga raksasa ini hanya diterangi oleh satu lampu sudut bersinar kuning redup. Sisa ruangan dibiarkan tenggelam dalam bayangan.Tidak ada pendaran cahaya dari layar televisi. Tablet, laptop, dan kedua ponsel kami telah dimatikan secara paksa. Benda-benda pembawa racun korporat itu sudah kukunci di laci meja kerja sejak jam delapan malam.Aku duduk menyamping di atas sofa kulit yang luas. Menekuk lutut ke dada.Mataku memperhatikan pria yang sedang berdiri di dekat konter bar mini.Malam ini, Arjuna tidak membuka botol Château Margaux atau menuang wiski murni ke dalam gelas kristal. Tangannya yang besar dan kapalan justru sibuk menuang air panas ke dalam teko keramik kecil.Aroma pekat teh chamomile dan sedikit seduhan lavender menguar di udara.Pilihan yang sangat tidak biasa un
Suara dengung bernada tinggi membelah keheningan ruang kerja utama Arjuna.Bunyi itu hanya berlangsung dua detik, tapi efeknya absolut. Itu adalah alarm dari sistem keamanan prioritas satu. Sesuatu yang hanya menyala jika ada intrusi level merah di jaringan privat Diwangsa Corp.Layar monitor raksasa di dinding ruangan berkedip. Menampilkan garis merah solid di sepanjang tepi layar.Aku sedang duduk di sofa kulit seberang meja kerja Arjuna, membaca ulang draf final kontrak joint venture Raka Wiratama. Konsentrasiku hancur seketika.Pintu ganda mahoni terbuka tanpa ketukan.Hendra melangkah masuk. Kepala intelijen korporat kami itu biasanya bergerak seperti bayangan. Tapi kali ini, langkah kakinya terdengar berat dan memburu. Ada aroma udara jalanan yang kotor dan sisa nikotin pekat yang menguar dari jas hitamnya.Dia tidak membawa tablet. Dia tidak membawa ponsel.Hanya sebuah map abu-abu kusam berisi tumpukan kertas fisik.Dalam dunia kami, informasi yang dicetak di atas kertas adala
Aroma mentega panggang dari croissant yang baru diangkat dari oven menguar di udara.Wangi itu bercampur dengan kepulan uap panas dari cangkir porselen berisi teh Earl Grey di depanku. Aku duduk sendirian di sudut VIP restoran lantai empat puluh.Kaca jendela raksasa di sisiku menampilkan lanskap Jakarta yang dibungkus polusi pagi. Kemacetan merayap lambat bak urat nadi yang tersumbat.Seharusnya ini adalah pagi yang tenang.Arjuna sedang memimpin rapat tertutup dengan dewan komisaris di gedung Sudirman sejak jam tujuh tadi. Aku sengaja mengambil waktu satu jam di luar kantor untuk membedah laporan audit kuartalan tanpa gangguan.Tapi ketenangan itu hanyalah ilusi.Otot bahuku masih tegang. Sisa-sisa mimpi buruk semalam—bayangan wajah pemuda itu di cermin yang menggantikan suamiku—masih menempel lengket di sudut pikiranku. Sialan.Aku menekan tombol Enter di laptopku. Mencoba memfokuskan pandangan pada deretan angka margin profit.Lalu, perubahan tekanan udara itu terjadi.Sistem sara
Rintik hujan menampar kaca jendela kamar utama dengan ritme yang brutal.Cuaca Jakarta malam ini memburuk drastis. Udara dingin menyusup lewat celah ventilasi, bertabrakan dengan suhu hangat dari mesin pendingin yang sudah kunaikkan beberapa derajat.Aku duduk bersandar di kepala ranjang. Cahaya lampu tidur di atas nakas berpendar redup, melempar bayangan panjang ke dinding.Tubuhku hanya berbalut gaun tidur sutra berwarna hitam. Tali tipisnya bertengger longgar di bahuku.Ketegangan sisa perdebatan di dapur subuh tadi belum sepenuhnya menguap. Otot leherku masih terasa kaku. Otakku menolak untuk mati, terus memutar ulang deretan angka dan klausul jebakan dari Raka Wiratama.Pintu kayu mahoni terbuka tanpa suara ketukan.Arjuna melangkah masuk. Dia masih mengenakan kemeja kerja putihnya, tapi dasinya sudah lenyap. Lengan kemejanya digulung asal hingga siku.Di kedua tangannya, dia membawa dua gelas kristal berisi anggur merah pekat.Langkah beratnya menembus karpet tebal. Dia berhenti
Cairan hitam di dalam cangkir porselen itu sudah kehilangan suhu panasnya sejak dua jam lalu.Permukaannya kini diluruskan oleh lapisan minyak tipis yang pekat. Aku berdiri menyandar pada meja pulau berbahan marmer di tengah dapur bersih. Suhu pendingin ruangan di jam lima pagi menusuk langsung ke pori-pori kulitku.Pakaianku masih sama dengan semalam. Blus sutra yang kini terasa kusut dan kaku.Otot leherku menegang hebat. Rasa perih membakar sudut mataku setelah semalaman dipaksa membedah ribuan baris teks legal. Rasa lelah ini bukan sekadar fisik. Ini kelelahan mental yang menggerogoti hingga ke dasar tulang.Langkah kaki tanpa alas terdengar mendekat dari arah lorong utama.Berat, stabil, dan tidak terburu-buru.Arjuna melangkah masuk ke area dapur. Pria itu hanya mengenakan celana tidur berbahan katun gelap, bertelanjang dada. Rambutnya berantakan, bayangan rahangnya ditumbuhi sisa rambut halus sisa semalam.Langkahnya terhenti tiga meter dariku.Insting predatornya bekerja bahka
Aroma tajam tinta printer berpadu dengan wangi kertas legal yang masih panas.Kombinasi bau itu menyengat indra penciumanku. Aku baru saja melangkah masuk ke ruang depan direksi utama saat penciumanku menangkap kejanggalan itu. Suhu pendingin ruangan menembus tipisnya blus sutra yang kukenakan, mendinginkan keringat di punggungku.Sebuah tumpukan dokumen tebal bersampul biru tua tergeletak di atas meja mahoni. Meja kerja milik asisten pribadi Arjuna.Sang asisten pria menunduk kaku. Jakunnya bergerak naik turun saat dia melihatku berhenti mendadak di depan mejanya.Aku menyentuh permukaan map itu tanpa meminta izin. Kertasnya masih hangat. Baru beberapa menit lalu dicetak.Ini adalah proposal revisi dari Raka Wiratama.Dokumen sakral ini berhasil mendarat di lantai lima puluh dua. Menembus lapis demi lapis birokrasi perusahaan yang kejam. Dan itu terjadi bahkan sebelum aku—Co-CEO Diwangsa Corp—mendapat notifikasi apa pun di tabletku.Seseorang di perusahaan ini memberikan akses jalur
Debur ombak Samudra Hindia terdengar berirama di kejauhan, menghantam tebing karang di bawah villa privat kami di Nusa Dua.Langit Bali malam ini cerah. Bulan purnama menggantung rendah, memancarkan cahaya perak yang memantul di permukaan air kolam renang infinity yang gelap dan tenang. Ujung kolam
Pagi ini, Arjuna berangkat kerja lebih awal. Dia mencium keningku sekilas sebelum pergi, ciuman dingin yang terasa seperti stempel absensi."Jangan lupa minum vitaminmu," pesannya datar, lalu menghilang di balik pintu lift pribadi.Begitu pintu lift tertutup, aku tidak minum vitamin. Aku tidak bers
Tiga hari berlalu sejak demamku turun.Aku sudah kembali ke rutinitas "normal" di dalam sangkar emas ini. Duduk di sofa ruang tengah yang menghadap dinding kaca, dengan selimut bulu menutupi kaki dan secangkir teh chamomile hangat di tangan.Arjuna sedang di ruang kerjanya, mengurus tumpukan pekerj
Aku membanting pintu toilet VIP yang berat itu hingga tertutup dengan suara BLAM yang menggelegar. Untungnya, musik dari ballroom cukup keras untuk meredam kegilaanku ini.Tanganku gemetar hebat saat mengunci pintu.Aku bersandar pada daun pintu yang dingin, napasku terengah-engah seperti orang yan







