LOGINKetukan stiletto setinggi sembilan sentimeter menghantam lantai marmer.Gema tajam itu memantul di lobi utama Diwangsa Corp. Aku melipat tangan di depan dada. Berdiri menanti di dekat area resepsionis khusus tamu VVIP.Aroma freesia dan daun mint segar memotong pekatnya udara pendingin ruangan.Wangi itu murni. Ringan. Sangat kontras dengan bau parfum korporat kaku dan artifisial yang biasanya mendominasi gedung ini. Sistem sarafku mencatat perbedaan itu seketika.Seorang wanita melangkah mendekat dari arah pintu kaca putar.Pakaiannya kasual tapi berkelas. Blazer terracotta dipadu celana kain berpotongan lurus. Rambut sebahunya dibiarkan tergerai natural."Alea?" sapanya duluan.Raina Pratama tidak menunggu diantar oleh petugas keamanan. Senyumnya terbentuk natural. Sama sekali tidak ada basa-basi menjilat yang biasa kuterima dari calon konsultan atau vendor perusahaan.Tangan kanannya terulur tanpa ragu."Raina," ucapnya singkat. Suaranya bervolume pas.Aku menyambut jabat tangan it
Suara statis pelan dari baby monitor di atas meja kaca memecah keheningan.Satu detik kemudian, terdengar dengusan napas bayi yang ritmis dan teratur. Elang sudah terlelap sepenuhnya di kamar sebelah.Ruang keluarga raksasa ini hanya diterangi oleh satu lampu sudut bersinar kuning redup. Sisa ruangan dibiarkan tenggelam dalam bayangan.Tidak ada pendaran cahaya dari layar televisi. Tablet, laptop, dan kedua ponsel kami telah dimatikan secara paksa. Benda-benda pembawa racun korporat itu sudah kukunci di laci meja kerja sejak jam delapan malam.Aku duduk menyamping di atas sofa kulit yang luas. Menekuk lutut ke dada.Mataku memperhatikan pria yang sedang berdiri di dekat konter bar mini.Malam ini, Arjuna tidak membuka botol Château Margaux atau menuang wiski murni ke dalam gelas kristal. Tangannya yang besar dan kapalan justru sibuk menuang air panas ke dalam teko keramik kecil.Aroma pekat teh chamomile dan sedikit seduhan lavender menguar di udara.Pilihan yang sangat tidak biasa un
Suara dengung bernada tinggi membelah keheningan ruang kerja utama Arjuna.Bunyi itu hanya berlangsung dua detik, tapi efeknya absolut. Itu adalah alarm dari sistem keamanan prioritas satu. Sesuatu yang hanya menyala jika ada intrusi level merah di jaringan privat Diwangsa Corp.Layar monitor raksasa di dinding ruangan berkedip. Menampilkan garis merah solid di sepanjang tepi layar.Aku sedang duduk di sofa kulit seberang meja kerja Arjuna, membaca ulang draf final kontrak joint venture Raka Wiratama. Konsentrasiku hancur seketika.Pintu ganda mahoni terbuka tanpa ketukan.Hendra melangkah masuk. Kepala intelijen korporat kami itu biasanya bergerak seperti bayangan. Tapi kali ini, langkah kakinya terdengar berat dan memburu. Ada aroma udara jalanan yang kotor dan sisa nikotin pekat yang menguar dari jas hitamnya.Dia tidak membawa tablet. Dia tidak membawa ponsel.Hanya sebuah map abu-abu kusam berisi tumpukan kertas fisik.Dalam dunia kami, informasi yang dicetak di atas kertas adala
Aroma mentega panggang dari croissant yang baru diangkat dari oven menguar di udara.Wangi itu bercampur dengan kepulan uap panas dari cangkir porselen berisi teh Earl Grey di depanku. Aku duduk sendirian di sudut VIP restoran lantai empat puluh.Kaca jendela raksasa di sisiku menampilkan lanskap Jakarta yang dibungkus polusi pagi. Kemacetan merayap lambat bak urat nadi yang tersumbat.Seharusnya ini adalah pagi yang tenang.Arjuna sedang memimpin rapat tertutup dengan dewan komisaris di gedung Sudirman sejak jam tujuh tadi. Aku sengaja mengambil waktu satu jam di luar kantor untuk membedah laporan audit kuartalan tanpa gangguan.Tapi ketenangan itu hanyalah ilusi.Otot bahuku masih tegang. Sisa-sisa mimpi buruk semalam—bayangan wajah pemuda itu di cermin yang menggantikan suamiku—masih menempel lengket di sudut pikiranku. Sialan.Aku menekan tombol Enter di laptopku. Mencoba memfokuskan pandangan pada deretan angka margin profit.Lalu, perubahan tekanan udara itu terjadi.Sistem sara
Rintik hujan menampar kaca jendela kamar utama dengan ritme yang brutal.Cuaca Jakarta malam ini memburuk drastis. Udara dingin menyusup lewat celah ventilasi, bertabrakan dengan suhu hangat dari mesin pendingin yang sudah kunaikkan beberapa derajat.Aku duduk bersandar di kepala ranjang. Cahaya lampu tidur di atas nakas berpendar redup, melempar bayangan panjang ke dinding.Tubuhku hanya berbalut gaun tidur sutra berwarna hitam. Tali tipisnya bertengger longgar di bahuku.Ketegangan sisa perdebatan di dapur subuh tadi belum sepenuhnya menguap. Otot leherku masih terasa kaku. Otakku menolak untuk mati, terus memutar ulang deretan angka dan klausul jebakan dari Raka Wiratama.Pintu kayu mahoni terbuka tanpa suara ketukan.Arjuna melangkah masuk. Dia masih mengenakan kemeja kerja putihnya, tapi dasinya sudah lenyap. Lengan kemejanya digulung asal hingga siku.Di kedua tangannya, dia membawa dua gelas kristal berisi anggur merah pekat.Langkah beratnya menembus karpet tebal. Dia berhenti
Cairan hitam di dalam cangkir porselen itu sudah kehilangan suhu panasnya sejak dua jam lalu.Permukaannya kini diluruskan oleh lapisan minyak tipis yang pekat. Aku berdiri menyandar pada meja pulau berbahan marmer di tengah dapur bersih. Suhu pendingin ruangan di jam lima pagi menusuk langsung ke pori-pori kulitku.Pakaianku masih sama dengan semalam. Blus sutra yang kini terasa kusut dan kaku.Otot leherku menegang hebat. Rasa perih membakar sudut mataku setelah semalaman dipaksa membedah ribuan baris teks legal. Rasa lelah ini bukan sekadar fisik. Ini kelelahan mental yang menggerogoti hingga ke dasar tulang.Langkah kaki tanpa alas terdengar mendekat dari arah lorong utama.Berat, stabil, dan tidak terburu-buru.Arjuna melangkah masuk ke area dapur. Pria itu hanya mengenakan celana tidur berbahan katun gelap, bertelanjang dada. Rambutnya berantakan, bayangan rahangnya ditumbuhi sisa rambut halus sisa semalam.Langkahnya terhenti tiga meter dariku.Insting predatornya bekerja bahka
Cahaya matahari pagi yang terik menembus jendela ventilasi kamar mandi tamu, menyinari wajahku yang pucat di depan cermin.Jam baru menunjukkan pukul tujuh pagi. Luna masih tidur pulas di kamar sebelah—sepertinya kelelahan akibat jetlag dan antusiasmenya semalam. Aku memanfaatkan waktu ini untuk me
"Silakan, Pak Arjuna, Nona Alea. Kami akan lepas landas dalam lima menit."Pramugari cantik berseragam merah marun itu meletakkan dua gelas flute berisi champagne dingin di meja samping kursi, lalu membungkuk sopan dan mundur ke arah kokpit.Sreet.Dia menutup tirai tebal berwarna beige yang memisa
Air dingin mengalir deras dari keran wastafel pantri, membasuh punggung tanganku yang masih terasa panas.Kulitku melepuh, berwarna merah menyala dengan beberapa titik yang mulai membengkak. Perihnya menusuk, tapi aku tidak berani mengeluh. Rasa perih ini tidak sebanding dengan rasa malu dan cemas
Jarum jam di dinding kamar tamu—yang kini dipenuhi koper dan barang-barang mewah Luna—menunjukkan pukul satu lewat lima belas menit dini hari.Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya redup dari lampu tidur di nakas. Di sampingku, di ranjang Queen Size yang empuk, Luna tidur dengan pulas. Napasnya







