Share

BAB 225

Author: Avelynne
last update publish date: 2026-03-17 01:20:22

Lampu meja di ruang kerja Arjuna menyala terang, menyoroti tumpukan dokumen yang sedang diperiksanya. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, waktu di mana dunia biasanya tidur, namun keputusan-keputusan besar di rumah ini sering kali dibuat.

Aku masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk.

Langkahku tidak lagi ragu seperti dulu. Karpet tebal meredam suara langkahku, tapi kehadiranku langsung disadari oleh Arjuna.

Dia mendongak, melepas kacamata bacanya, dan menyandarkan punggung ke kursi kulitn
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 236

    Cairan hitam di dalam cangkir porselen itu sudah kehilangan suhu panasnya sejak dua jam lalu.Permukaannya kini diluruskan oleh lapisan minyak tipis yang pekat. Aku berdiri menyandar pada meja pulau berbahan marmer di tengah dapur bersih. Suhu pendingin ruangan di jam lima pagi menusuk langsung ke pori-pori kulitku.Pakaianku masih sama dengan semalam. Blus sutra yang kini terasa kusut dan kaku.Otot leherku menegang hebat. Rasa perih membakar sudut mataku setelah semalaman dipaksa membedah ribuan baris teks legal. Rasa lelah ini bukan sekadar fisik. Ini kelelahan mental yang menggerogoti hingga ke dasar tulang.Langkah kaki tanpa alas terdengar mendekat dari arah lorong utama.Berat, stabil, dan tidak terburu-buru.Arjuna melangkah masuk ke area dapur. Pria itu hanya mengenakan celana tidur berbahan katun gelap, bertelanjang dada. Rambutnya berantakan, bayangan rahangnya ditumbuhi sisa rambut halus sisa semalam.Langkahnya terhenti tiga meter dariku.Insting predatornya bekerja bahka

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 235

    Aroma tajam tinta printer berpadu dengan wangi kertas legal yang masih panas.Kombinasi bau itu menyengat indra penciumanku. Aku baru saja melangkah masuk ke ruang depan direksi utama saat penciumanku menangkap kejanggalan itu. Suhu pendingin ruangan menembus tipisnya blus sutra yang kukenakan, mendinginkan keringat di punggungku.Sebuah tumpukan dokumen tebal bersampul biru tua tergeletak di atas meja mahoni. Meja kerja milik asisten pribadi Arjuna.Sang asisten pria menunduk kaku. Jakunnya bergerak naik turun saat dia melihatku berhenti mendadak di depan mejanya.Aku menyentuh permukaan map itu tanpa meminta izin. Kertasnya masih hangat. Baru beberapa menit lalu dicetak.Ini adalah proposal revisi dari Raka Wiratama.Dokumen sakral ini berhasil mendarat di lantai lima puluh dua. Menembus lapis demi lapis birokrasi perusahaan yang kejam. Dan itu terjadi bahkan sebelum aku—Co-CEO Diwangsa Corp—mendapat notifikasi apa pun di tabletku.Seseorang di perusahaan ini memberikan akses jalur

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 234

    Dentingan sendok perak yang beradu dengan mangkuk keramik memecah keheningan ruang makan.Aroma pekat kaldu ayam, lada hitam, dan seledri menguap di udara, bertabrakan dengan dinginnya pendingin ruangan sentral. Di ujung meja pualam Italia ini, sebuah kekacauan domestik yang sangat familiar sedang terjadi.Potongan wortel rebus melayang di udara.Sayuran oranye itu mendarat dengan bunyi plop pelan di atas karpet Persia seharga ratusan juta rupiah. Pelakunya duduk tegap di kursi tinggi balita, menatap hasil karyanya dengan tingkat kepuasan absolut.Elang baru berusia satu setengah tahun. Tapi insting merusaknya sudah terkalibrasi dengan sempurna.Aku menatap putraku sejenak, lalu beralih pada pria yang duduk tepat di sisiku.Arjuna tidak merespons lemparan wortel itu. Suamiku justru sibuk memotong daging steak di piringnya. Gerakan pisau di tangannya terlalu presisi. Terlalu metodis. Otot-otot di lengannya menegang kaku di balik kemeja yang lengannya sudah digulung hingga siku.Pikiran

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 233

    Lantai dua puluh delapan menguras habis sisa energiku hari ini.Rapat maraton evaluasi aset berdurasi tiga jam baru saja dibubarkan. Udara di ruang konferensi tadi terasa pengap oleh bau kopi dingin dan argumen defensif dari para manajer divisi.Aku melangkah keluar menyusuri lorong yang sepi. Otot bahuku menegang kaku di balik blazer. Tengkukku terasa berat.Aku berdiri sendirian di depan deretan lift eksekutif. Menatap pantulan wajahku yang kelelahan di permukaan pintu logam yang mengilap.Tangan kananku memeluk tablet dan sebuah buku bersampul kulit tebal di dada. Tangan kiriku memegang ponsel yang layarnya gelap.Suara denting mekanis memecah kesunyian lorong.Angka digital di atas pintu menyala merah. Berhenti tepat di angkaku.Pintu baja itu bergeser terbuka dengan suara desisan pelan.Perubahan tekanan udara langsung menabrak wajahku. Ada sensasi dingin yang mendadak terasa janggal menembus pori-pori kulit.Raka Wiratama berdiri tepat di tengah kabin lift.Langkahku terhenti se

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 232

    Mesin pencetak di sudut ruang kerja berdengung pelan sebelum akhirnya benar-benar mati.Kertas-kertas yang baru dimuntahkannya masih menyimpan hawa panas. Aroma tinta laser yang khas menguar tipis. Menginvasi udara dingin ruangan yang sengaja diatur pada suhu dua puluh derajat.Di balik meja kayu eboni raksasanya, Arjuna duduk seperti patung pualam.Kemeja putihnya sudah kehilangan dasi sejak dua jam lalu. Dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, mengekspos garis lehernya yang kokoh.Matanya memindai draf proposal joint venture dari Raka Wiratama.Satu halaman. Dua halaman. Tiga halaman.Ini adalah putaran ketiga. Dia mengulangi bacaannya dengan tingkat ketelitian yang hampir menakutkan.Aku berdiri dalam diam di ambang pintu yang setengah terbuka. Memperhatikan pria yang memegang kendali atasku—dan atas Diwangsa Corp—ini sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.Arjuna bukan pria yang membuang waktu membaca dokumen yang sama berulang kali. Kecuali, ada sesuatu yang memicu insting p

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 231

    Suara gerusan mesin espresso memecah keheningan pantri lantai tiga puluh dua.Aroma pekat biji kopi robusta mengudara, menyengat indra penciumanku dengan cara yang familiar. Aku berdiri menyandar pada meja marmer hitam, memperhatikan tetes demi tetes cairan gelap itu memenuhi cangkir porselen.Setelan blazer Dior yang kukenakan hari ini seharga mobil bekas. Ruangan tempatku berdiri sekarang adalah teritori kekuasaan Diwangsa Corp. Statusku sudah berubah menjadi Co-CEO.Tapi ritual kecil ini menolak pergi.Membuat kopi sendiri di tengah jadwal yang membunuh adalah jangkarku. Pengingat bahwa di balik semua kekuasaan ini, aku masih mengendalikan hal-hal terkecil dalam hidupku.Langkah kaki terdengar dari lorong. Berat, terukur, absolut.Aku bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.Arjuna melangkah masuk ke pantri. Jasnya terbuka, satu tangan terselip di saku celana, dan sebuah earpiece menempel di telinga kirinya. Dia sedang mendengarkan laporan dari seseorang di ujung te

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 20

    Kepalaku rasanya mau pecah.Dunia berputar hebat setiap kali aku mencoba membuka mata. Tubuhku menggigil kedinginan di bawah selimut tebal, padahal aku tahu suhu tubuhku sedang mendidih. Tulang-tulangku ngilu, seolah baru saja dipukuli.Stres. Kelelahan. Tekanan batin. Semuanya menumpuk menjadi sat

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 21

    "JANGAN!"Aku terbangun dengan napas tersentak, paruku terasa seperti diremas tangan tak kasat mata.Gelap.Kamar ini gelap gulita. Hening.Hanya suara napasku yang memburu, memecah kesunyian yang mencekam. Keringat dingin membasahi punggung dan keningku, membuat piyama satin tipis yang kupakai men

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 22

    "Al, tunggu! Kita perlu bicara, tapi nggak di sini."Rian menarik pergelangan tanganku, membawaku menjauh dari keramaian kantin fakultas yang bising. Langkahnya cepat dan bertekad, menyeretku menuju koridor Gedung D yang jarang dilewati mahasiswa jam segini.Koridor ini sunyi. Hanya ada deretan lok

    last updateLast Updated : 2026-03-18
  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 25

    Arjuna meletakkan nampan bubur itu ke atas meja nakas dengan bunyi tak yang tajam.Dia tidak duduk. Dia berdiri menjulang di samping ranjang, tubuhnya yang besar menghalangi cahaya lampu dari lorong, menciptakan bayangan yang menelanku."Makan," perintahnya lagi. Satu kata. Datar. Tanpa negosiasi.

    last updateLast Updated : 2026-03-18
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status