MasukSring.
Suara denting pisau perak yang beradu dengan piring porselen terdengar nyaring, memecah keheningan yang menyesakkan. Itu satu-satunya suara di ruang makan yang terlalu luas ini.
Aku menatap potongan daging steak di piringku dengan nanar. Daging itu terlihat sempurna, dimasak medium rare dengan juice kemerahan yang menggugah selera.
Tapi selera makanku sudah hilang sejak aku duduk di kursi ini sepuluh menit yang lalu.
Di ujung meja panjang yang terbuat dari marmer hitam, Arjuna duduk dengan postur tegak sempurna. Dia memotong dagingnya dengan gerakan yang presisi dan elegan, seolah sedang melakukan operasi bedah.
Dia tidak menatapku. Tapi aku tahu, dia mengawasi setiap gerakanku.
"Aturan pertama," suaranya membelah udara dingin ruangan, membuatku tersentak kaget.
Dia memasukkan potongan daging ke mulutnya, mengunyah pelan, lalu menelan sebelum melanjutkan.
"Jam malam kamu pukul sembilan. Tidak ada negosiasi. Jika kamu ada kuliah malam atau kegiatan kampus, izin harus diajukan minimal tiga jam sebelumnya."
Aku mengangguk kaku, meski dia tidak melihat. "Baik, Om."
"Kedua." Dia menaruh pisaunya, mengulurkan tangan terbuka ke arahku. "Ponselmu."
Aku menyerahkannya dengan ragu. Dalam waktu kurang dari dua menit — jari-jarinya bergerak di layar dengan kefasihan seseorang yang biasa mengakses milik orang lain — dia mengembalikannya.
"Aplikasi pelacak. Aktif 24 jam." Matanya melirik ke arahku, tajam. "Jika sinyal mati atau sengaja dimatikan, tim keamanan saya tiba dalam lima belas menit. Di mana pun kamu berada."
Jantungku berdegup lebih kencang. Itu bukan perlindungan. Itu penjara.
"Ketiga," Arjuna meletakkan pisaunya sejenak. "Tidak ada tamu laki-laki. Teman, pacar, atau sekadar kenalan. Penthouse ini steril dari laki-laki lain selain saya."
Kata 'pacar' diucapkannya dengan nada yang sulit diartikan. Ada sedikit penekanan, seolah ide aku memiliki pacar adalah hal yang konyol baginya.
Aku mencoba memotong daging di piringku untuk menyembunyikan kegugupanku. Tapi tanganku gemetar. Pisau itu tergelincir di atas permukaan daging yang licin, menimbulkan bunyi berdecit yang ngilu.
Sreeet.
Arjuna berhenti mengunyah.
Aku membeku. Keringat dingin mulai merembes di punggungku. "Ma... maaf, Om. Pisau... pisaunya agak licin."
Dia tidak menjawab. Perlahan, dia meletakkan serbetnya di atas meja. Kursinya bergeser mundur dengan suara berat di atas lantai marmer.
Dia berdiri.
Mataku membulat panik saat melihat dia berjalan memutari meja panjang itu. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru, tapi setiap langkahnya seolah menghitung detik menuju eksekusiku.
Apa dia akan marah? Apa dia akan mengusirku karena aku bahkan tidak becus makan dengan benar?
Aku menundukkan kepala, memandangi piringku, tidak berani menatap wajahnya.
Langkah kaki itu berhenti tepat di belakang kursiku.
Aku menahan napas. Wangi Oud Wood dan musk yang familiar itu menyergap indra penciumanku, kali ini jauh lebih kuat. Jauh lebih dekat.
"Bukan pisaunya yang licin, Alea," bisiknya. Suaranya tidak datang dari depan, tapi tepat di atas kepalaku.
Tiba-tiba, aku merasakan hawa panas tubuhnya menempel di punggungku.
Arjuna mencondongkan tubuhnya ke depan. Dadanya yang bidang menekan bahu dan punggungku. Dia tidak memberiku ruang untuk menghindar. Aku terkurung di antara meja makan dan tubuh besarnya yang menjulang.
Dia tidak menyentuh kulitku secara langsung, tapi kedekatan ini membakar.
Tangan kanannya terulur, meraih tangan kananku yang masih memegang pisau dengan kaku. Jari-jarinya yang besar dan hangat membungkus punggung tanganku sepenuhnya. Kulitnya yang sedikit kasar bergesekan dengan kulitku yang halus dan dingin.
"Genggamanmu salah," gumamnya. Napasnya yang hangat menerpa sisi leherku, membuat bulu kudukku meremang seketika. "Kamu memegangnya seperti memegang parang. Ini steak Wagyu, bukan kayu bakar."
Dia membimbing tanganku, mengatur posisi jari telunjukku agar menekan punggung pisau dengan benar. Ibu jarinya menekan lembut di nadi pergelangan tanganku, seolah dia bisa merasakan detak jantungku yang menggila di sana.
"Rileks, Alea," bisiknya lagi. Bibirnya kini begitu dekat dengan telingaku, sampai aku bisa merasakan getaran suaranya merambat ke tulang selangkaku. "Dagingnya tidak akan lari."
Di bawah kendalinya, pisau itu meluncur mulus membelah daging. Tanpa tenaga. Tanpa suara berdecit.
Gerakannya begitu intim. Seolah kami sedang melakukan dansa lambat yang hanya dipahami oleh tubuh kami.
Otakku kosong. Aku tidak bisa berpikir jernih. Yang bisa kurasakan hanyalah panas tubuhnya yang menyelimutiku, wangi maskulinnya yang memabukkan, dan dominasi mutlaknya atas gerakan tanganku.
Arjuna menahan posisi itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Dia tidak langsung menarik diri setelah daging terpotong. Dia diam di sana, menghirup napas di dekat rambutku.
Lalu, secepat dia datang, dia menarik diri.
Hawa dingin AC kembali menerpa punggungku, menggantikan kehangatan yang memabukkan itu.
Arjuna berjalan kembali ke kursinya tanpa menoleh lagi. Dia duduk, mengambil kembali pisau dan garpunya dengan tenang, seolah adegan barusan hanyalah hal rutin yang biasa terjadi.
Wajahku terasa panas. Aku masih mematung, menatap potongan daging yang kini terbelah sempurna di piringku.
Arjuna mengangkat gelas wine-nya, menyesap cairan merah itu sambil menatapku lurus.
"Makan yang benar, Alea," katanya datar, namun matanya berkilat tajam. "Saya tidak suka barang rusak."
Pukul satu dini hari.Perpustakaan kecil ini steril dari segala bentuk gangguan eksternal. Tidak ada deru mesin kendaraan. Tidak ada dering telepon. Suasana sunyi dan kedap udara.Hanya ada bunyi ketukan mekanis dari papan ketik laptopku."Ketukanmu melambat," komentar Arjuna memecah kesunyian.Pria itu duduk di sofa sudut. Layar tablet di tangannya memancarkan pendar kebiruan. Dia tidak beranjak dari posisi itu sejak dua jam lalu."Aku sedang menyelaraskan paragraf terakhir," jawabku tanpa memutus pandangan dari layar."Draf kasarnya selesai malam ini?""Kerangka utamanya tuntas seratus persen."Arjuna meletakkan tabletnya ke atas meja kaca. Bunyi benturan pelan terdengar tajam. Pria itu menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa."Kita tidak memesan sampanye untuk merayakannya?" tanya Arjuna datar."Ini bukan kemenangan perang, Juna." Aku menolak ide itu mentah-mentah. "Ini sekadar rutinitas penulisan.""Bagi orang normal, merampungkan sebuah kerangka buku adalah pencapaian besar.""
Matahari memanggang aspal kompleks perumahan tanpa ampun.Pagar besi depan rumah didorong terbuka. Engselnya berderit pelan memecah kesunyian.Elang berjalan melintasi pelataran batu. Langkah sepatunya menghantam konblok dengan irama berat tapi sangat pasti. Anak sembilan tahun itu mengenakan seragam putih merah yang sudah berantakan. Keringat membasahi kerah kemejanya.Dia menaiki anak tangga teras. Ransel sekolah berwarna hitam dilemparkannya ke atas kursi rotan. Bunyi debum kain tebal beradu dengan anyaman rotan terdengar keras.Aku berdiri diam di ambang pintu utama. Tanganku bersilang di depan dada. Aku tidak menyambutnya dengan pelukan atau sapaan melengking.Elang tidak langsung berbicara. Dia meraih botol air minum transparan berukuran satu liter dari atas meja teras. Tutupnya diputar cepat.Anak itu menenggak air putih tersebut. Cairan dingin mengalir turun ke kerongkongannya. Setengah liter air tandas dalam hitungan detik.Botol plastik itu diturunkannya dengan satu entakan
Aroma roti panggang mendominasi ruang dapur pagi ini. Mesin pembuat kopi berdengung konstan di sudut konter marmer.Elang membuka lemari kabinet atas dengan cepat. Anak sembilan tahun itu mengeluarkan tiga piring keramik datar. Gerakannya sangat efisien dan presisi.Di sebelahnya, Arjuna berdiri menghadap mesin kopi. Suamiku sudah mengenakan kemeja kerja abu-abu gelap yang disetrika licin.Pagi ini berjalan sangat fungsional. Tidak ada kepanikan mencari dokumen yang hilang. Tidak ada teriakan anak kecil yang menolak menu sarapan.Aku menarik kursi bar dan duduk. Mataku merekam dinamika dua laki-laki di depanku secara saksama."Roti gandum atau putih?" tanya Elang tanpa menoleh padaku."Gandum," jawabku singkat."Satu lembar atau dua lembar?""Satu.""Mentega atau selai kacang?""Polos."Elang meletakkan satu lembar roti gandum panggang yang masih berasap di atas piringku.Aku menatap lurus ke wajah putraku. Dia bukan lagi balita bingung yang selalu menangis saat mendengar suara keras
Jam digital di sudut meja menunjukkan pukul satu dini hari.Lampu meja menyala sangat terang. Fokus cahayanya menyorot langsung ke atas permukaan kertas putih. Aku duduk tegak di kursi kerja perpustakaan kecil ini. Ujung penaku bergerak liar namun terstruktur di atas buku catatan baru."Kau belum tidur."Suara bariton itu memotong kesunyian absolut ruangan.Arjuna berdiri di ambang pintu. Pria itu bertelanjang dada. Dia hanya mengenakan celana tidur panjang berbahan katun gelap. Rambutnya sedikit berantakan akibat gesekan bantal."Aku sedang bekerja," jawabku tanpa menghentikan gerakan pena."Ini jam satu pagi, Alea.""Waktu tidak relevan saat otakku sedang merangkai struktur," balasku lugas.Arjuna melangkah masuk. Telapak kakinya menapak lantai kayu tanpa suara. Pria itu menarik kursi tamu dan duduk tepat berhadapan denganku. Meja kerja ini menjadi satu-satunya pembatas fisik di antara kami."Apa yang sedang kau bedah?" tuntut Arjuna. Matanya yang gelap memindai kertas di depanku."
Jam dinding digital di ruang keluarga menunjukkan pukul dua belas malam.Lantai dua sudah sepenuhnya senyap. Suara pintu kamar Elang ditutup telah terdengar sejak satu jam lalu. Anak berusia sembilan tahun itu tertidur lelap setelah kelelahan membedah tugas sekolahnya.Hanya ada satu lampu lantai menyala temaram di sudut ruangan ini.Arjuna melangkah keluar dari arah dapur. Pria itu berjalan mendekati sofa tempatku bersandar. Dia menyodorkan sebuah gelas kaca berisi air putih dingin tepat ke depan wajahku."Minum," perintah Arjuna singkat.Aku menerima gelas itu tanpa penolakan. Suhu dingin dari permukaan kaca langsung meresap ke dalam kulit telapak tanganku.Aku menenggak air putih itu hingga tandas separuh. Cairan dingin membasuh kerongkonganku, menurunkan suhu tubuhku secara instan. Aku meletakkan gelas tersebut ke atas meja dengan bunyi dentingan pelan.Otakku tiba-tiba mencatat sebuah fakta internal yang sangat spesifik malam ini.Sepuluh tahun lalu, memilih pria di depanku ini m
Lampu meja memancarkan cahaya kuning tajam di dalam perpustakaan kecil. Aku duduk berhadapan dengan meja kayu solid.Buku catatan bersampul kulit hitam tergeletak terbuka di depanku. Ujung halamannya melengkung dan usang. Buku ini telah menjadi saksi bisu dari ratusan jam kerja dan analisis tanpa filter.Hanya tersisa satu halaman kosong. Lembar terakhir dari sebuah era.Pintu perpustakaan berderit pelan.Arjuna melangkah masuk. Pria itu membawa secangkir teh panas dan meletakkannya tepat di dekat sikuku. Asap tipis mengepul dari permukaan cairan berwarna kecokelatan tersebut."Buku itu sudah penuh," komentar Arjuna datar. Pria itu bersandar pada tepi meja kerjaku."Sisa satu halaman," jawabku tanpa menoleh. "Aku akan menyelesaikannya malam ini.""Kau sudah memakai buku itu sejak sebelum draf buku pertamamu lahir ke dunia."Aku menyentuh permukaan kertas bergaris itu. Teksturnya terasa kasar di ujung jari."Iya. Ini adalah rekam jejak yang tidak pernah masuk dalam jadwal kerja kita."







