เข้าสู่ระบบAku setengah berlari meninggalkan ruang makan. Punggungku masih terasa panas, seolah jejak tubuh Arjuna masih menempel di sana. Kakiku gemetar hebat saat menapaki lantai marmer dingin menuju kamar.
Begitu sampai di dalam, aku langsung membanting pintu.
Tanganku dengan cepat memutar kunci grendel di bawah gagang pintu.
Klik. Terkunci.
Aku menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke daun pintu yang kokoh itu. Setidaknya di sini aku aman. Setidaknya di sini aku punya privasi.
Tak.
Suara mekanisme logam yang bergeser membuat jantungku melompat ke tenggorokan.
Aku berbalik cepat. Tuas kunci yang baru saja kuputar, kini kembali ke posisi vertikal. Posisi terbuka.
Dengan tangan gemetar, aku memutarnya lagi. Klik.
Satu detik. Dua detik.
Tak.
Kunci itu berputar sendiri, kembali terbuka dengan suara mengejek yang nyaring.
Darahku berdesir dingin. Ini bukan rusak. Ini didesain seperti ini. Pintu ini dikendalikan oleh sistem otomatis yang tidak mengizinkanku untuk mengunci diri.
Kata-kata Arjuna tadi terngiang di kepalaku seperti mantra kutukan. Pintu itu tidak pernah dikunci.
Aku mundur perlahan, menjauhi pintu seolah kayu mahal itu bisa menggigitku. Mataku menyapu sekeliling ruangan yang luas dan steril ini.
Perasaan aneh mulai merayap di tengkukku. Perasaan yang sama seperti saat kau berjalan sendirian di gang gelap dan tahu ada mata yang mengawasi dari kegelapan.
Aku mendongak.
Mataku menelusuri setiap sudut plafon yang tinggi, sela-sela ventilasi AC sentral, hingga ke detektor asap di atas tempat tidur.
Di sana.
Di sudut ruangan yang menghadap langsung ke ranjang dan pintu kamar mandi, ada titik hitam kecil yang nyaris tak terlihat di antara ornamen lampu. Jika aku tidak mencarinya dengan teliti, aku tidak akan pernah menyadarinya.
Lensa.
Ada kilatan merah redup yang berkedip sekali setiap lima detik.
Aku membekap mulutku sendiri. Kakiku lemas. Aku mundur sampai betisku menabrak tepi ranjang.
Dia melihatku. Dia bisa melihatku sekarang.
Apa dia sedang duduk di ruang kerjanya, menatap layar monitor yang menampilkan wajah pucatku? Apa dia menikmati ketakutan yang terpancar jelas dari mataku?
Rasa mual menyodok perutku. Aku merasa telanjang meski masih berpakaian lengkap.
Aku harus sembunyi.
Aku berlari menuju lemari pakaian built-in yang besar. Tanganku menyambar asal tumpukan baju yang tergantung rapi. Aku tidak peduli baju apa itu, aku hanya butuh sesuatu untuk menutupi tubuhku setelah mandi.
Kamar mandi. Ya, kamar mandi pasti aman. Tidak mungkin ada orang gila yang memasang kamera di kamar mandi, kan?
Aku berlari masuk ke kamar mandi dan langsung menutup pintunya. Kali ini, kuncinya manual. Klik. Dan kuncinya tetap diam.
Aku merosot di lantai keramik yang dingin, memeluk lutut. Napasku memburu, tersengal-sengal seperti orang habis tenggelam.
Butuh sepuluh menit bagiku untuk mengumpulkan keberanian berdiri di bawah shower.
Aku mandi dengan cepat, gerakan tanganku kasar saat menyabuni tubuh. Aku terus-menerus melirik ke arah cermin, ke arah ventilasi, ke arah celah-celah ubin. Paranoia itu sudah tertanam. Setiap bayangan terasa seperti mata yang mengintip.
Aku mematikan air, lalu mengeringkan tubuh dengan handuk tebal yang tersedia.
Aku mengambil baju yang tadi kusamabar dari lemari. Sebuah gaun tidur sutra tipis dengan tali spaghetti dan belahan dada rendah. Warnanya merah marun.
Aku melempar gaun itu ke lantai dengan jijik. Aku tidak akan memakai itu. Tidak di depan kamera sialan itu.
Aku mengaduk-aduk tas ranselku yang basah dan kotor—satu-satunya barang bawaanku dari kontrakan. Di bagian paling bawah, yang untungnya masih agak kering, aku menemukan kaos oversized bergambar band rock tua yang sudah pudar.
Kaos itu gombrong, jelek, dan menutupi tubuhku dari leher sampai lutut.
Sempurna.
Aku memakai kaos itu, lalu bercermin. Bentuk tubuhku hilang sepenuhnya di balik kain katun murahan ini. Aku terlihat seperti gelandangan, tapi aku merasa sedikit lebih aman. Ini adalah bentuk perlawananku. Protes bisuku.
Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membuka kunci kamar mandi.
Aku melangkah keluar kembali ke kamar tidur yang hening.
Tidak ada suara. Lampu indikator di kamera di sudut plafon itu masih berkedip pelan. Seolah mengejek usahaku bersembunyi.
Aku berjalan menuju sisi tempat tidur yang jauh dari jangkauan lensa itu, lalu duduk di tepinya.
Ponselku yang tergeletak di atas meja nakas tiba-tiba bergetar panjang. Layarnya menyala, menampilkan satu notifikasi pesan masuk di tengah ruangan yang remang-remang.
Nomor tidak dikenal. Tapi aku tahu siapa itu.
Tanganku gemetar saat meraih ponsel itu. Cahaya layarnya menusuk mata.
From: 0811-XXXX-XXX Ganti. Pakai gaun sutra biru di lemari. Saya menunggu visual yang lebih baik.
Ponsel itu terlepas dari tanganku, jatuh ke karpet tebal dengan bunyi buk yang tumpul.
Daraku membeku.
Dia menonton. Dia benar-benar menontonku saat ini juga. Dan dia tidak suka aku menyembunyikan miliknya di balik kaos jelek ini.
Dentingan sendok perak yang beradu dengan mangkuk keramik memecah keheningan ruang makan.Aroma pekat kaldu ayam, lada hitam, dan seledri menguap di udara, bertabrakan dengan dinginnya pendingin ruangan sentral. Di ujung meja pualam Italia ini, sebuah kekacauan domestik yang sangat familiar sedang terjadi.Potongan wortel rebus melayang di udara.Sayuran oranye itu mendarat dengan bunyi plop pelan di atas karpet Persia seharga ratusan juta rupiah. Pelakunya duduk tegap di kursi tinggi balita, menatap hasil karyanya dengan tingkat kepuasan absolut.Elang baru berusia satu setengah tahun. Tapi insting merusaknya sudah terkalibrasi dengan sempurna.Aku menatap putraku sejenak, lalu beralih pada pria yang duduk tepat di sisiku.Arjuna tidak merespons lemparan wortel itu. Suamiku justru sibuk memotong daging steak di piringnya. Gerakan pisau di tangannya terlalu presisi. Terlalu metodis. Otot-otot di lengannya menegang kaku di balik kemeja yang lengannya sudah digulung hingga siku.Pikiran
Lantai dua puluh delapan menguras habis sisa energiku hari ini.Rapat maraton evaluasi aset berdurasi tiga jam baru saja dibubarkan. Udara di ruang konferensi tadi terasa pengap oleh bau kopi dingin dan argumen defensif dari para manajer divisi.Aku melangkah keluar menyusuri lorong yang sepi. Otot bahuku menegang kaku di balik blazer. Tengkukku terasa berat.Aku berdiri sendirian di depan deretan lift eksekutif. Menatap pantulan wajahku yang kelelahan di permukaan pintu logam yang mengilap.Tangan kananku memeluk tablet dan sebuah buku bersampul kulit tebal di dada. Tangan kiriku memegang ponsel yang layarnya gelap.Suara denting mekanis memecah kesunyian lorong.Angka digital di atas pintu menyala merah. Berhenti tepat di angkaku.Pintu baja itu bergeser terbuka dengan suara desisan pelan.Perubahan tekanan udara langsung menabrak wajahku. Ada sensasi dingin yang mendadak terasa janggal menembus pori-pori kulit.Raka Wiratama berdiri tepat di tengah kabin lift.Langkahku terhenti se
Mesin pencetak di sudut ruang kerja berdengung pelan sebelum akhirnya benar-benar mati.Kertas-kertas yang baru dimuntahkannya masih menyimpan hawa panas. Aroma tinta laser yang khas menguar tipis. Menginvasi udara dingin ruangan yang sengaja diatur pada suhu dua puluh derajat.Di balik meja kayu eboni raksasanya, Arjuna duduk seperti patung pualam.Kemeja putihnya sudah kehilangan dasi sejak dua jam lalu. Dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, mengekspos garis lehernya yang kokoh.Matanya memindai draf proposal joint venture dari Raka Wiratama.Satu halaman. Dua halaman. Tiga halaman.Ini adalah putaran ketiga. Dia mengulangi bacaannya dengan tingkat ketelitian yang hampir menakutkan.Aku berdiri dalam diam di ambang pintu yang setengah terbuka. Memperhatikan pria yang memegang kendali atasku—dan atas Diwangsa Corp—ini sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri.Arjuna bukan pria yang membuang waktu membaca dokumen yang sama berulang kali. Kecuali, ada sesuatu yang memicu insting p
Suara gerusan mesin espresso memecah keheningan pantri lantai tiga puluh dua.Aroma pekat biji kopi robusta mengudara, menyengat indra penciumanku dengan cara yang familiar. Aku berdiri menyandar pada meja marmer hitam, memperhatikan tetes demi tetes cairan gelap itu memenuhi cangkir porselen.Setelan blazer Dior yang kukenakan hari ini seharga mobil bekas. Ruangan tempatku berdiri sekarang adalah teritori kekuasaan Diwangsa Corp. Statusku sudah berubah menjadi Co-CEO.Tapi ritual kecil ini menolak pergi.Membuat kopi sendiri di tengah jadwal yang membunuh adalah jangkarku. Pengingat bahwa di balik semua kekuasaan ini, aku masih mengendalikan hal-hal terkecil dalam hidupku.Langkah kaki terdengar dari lorong. Berat, terukur, absolut.Aku bahkan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.Arjuna melangkah masuk ke pantri. Jasnya terbuka, satu tangan terselip di saku celana, dan sebuah earpiece menempel di telinga kirinya. Dia sedang mendengarkan laporan dari seseorang di ujung te
Matahari pagi terbit perlahan di ufuk timur, menyapukan warna emas keemasan di atas hutan beton Jakarta.Aku berdiri sendirian di balkon Penthouse lantai 40, tempat yang dulu sering menjadi saksi bisu air mataku, ketakutanku, dan keputusasaanku. Angin pagi yang segar menerpa wajahku, memainkan ujung gaun tidur sutra putihku yang berkibar lembut.Di bawah sana, kota ini sudah mulai menggeliat.Jalanan yang macet, gedung-gedung pencakar langit yang menjulang, dan jutaan manusia yang sedang berjuang mengejar mimpi—atau sekadar bertahan hidup.Dulu, aku adalah salah satu dari semut-semut kecil di bawah sana.Aku teringat hari itu. Hari di mana hujan turun deras, dan aku berlari dari kejaran debt collector dengan uang receh di tangan. Hari di mana aku berpikir hidupku sudah berakhir, dan satu-satunya jalan keluar adalah masuk ke dalam mobil Maybach hitam milik ayah sahabatku.Aku teringat rasa takut saat pertama kali menginjakkan kaki di lantai marmer dingin ini. Aku teringat bagaimana aku
Pintu kamar utama tertutup rapat, mengunci kami dari dunia luar, dari bisnis, dan dari peran kami sebagai orang tua yang sibuk.Di dalam sini, di bawah cahaya lampu tidur yang temaram dan hangat, kami kembali menjadi Alea dan Arjuna. Laki-laki dan perempuan yang terikat oleh sejarah panjang yang rumit, namun indah.Aku berdiri di depan cermin meja rias, merapikan tali lingerie sutra berwarna biru safir yang membalut tubuhku.Biru.Warna favorit Arjuna. Warna gaun tidur pertama yang dia perintahkan untuk kupakai di awal hubungan kami yang penuh paksaan dulu.Namun malam ini, aku memakainya bukan karena perintah. Aku memakainya karena aku ingin. Aku ingin melihat binar matanya saat melihatku."Kamu cantik," suara bariton itu menyapa dari arah belakang.Aku melihat pantulannya di cermin.Arjuna berdiri di sana, sudah mengenakan celana piyama santai, bertelanjang dada. Otot-ototnya masih kencang meski usianya bertambah, dihiasi beberapa bekas luka samar—tanda dari kehidupan yang keras yan
"JANGAN!"Aku terbangun dengan napas tersentak, paruku terasa seperti diremas tangan tak kasat mata.Gelap.Kamar ini gelap gulita. Hening.Hanya suara napasku yang memburu, memecah kesunyian yang mencekam. Keringat dingin membasahi punggung dan keningku, membuat piyama satin tipis yang kupakai men
"Al, tunggu! Kita perlu bicara, tapi nggak di sini."Rian menarik pergelangan tanganku, membawaku menjauh dari keramaian kantin fakultas yang bising. Langkahnya cepat dan bertekad, menyeretku menuju koridor Gedung D yang jarang dilewati mahasiswa jam segini.Koridor ini sunyi. Hanya ada deretan lok
Arjuna meletakkan nampan bubur itu ke atas meja nakas dengan bunyi tak yang tajam.Dia tidak duduk. Dia berdiri menjulang di samping ranjang, tubuhnya yang besar menghalangi cahaya lampu dari lorong, menciptakan bayangan yang menelanku."Makan," perintahnya lagi. Satu kata. Datar. Tanpa negosiasi.
Kepalaku rasanya mau pecah.Dunia berputar hebat setiap kali aku mencoba membuka mata. Tubuhku menggigil kedinginan di bawah selimut tebal, padahal aku tahu suhu tubuhku sedang mendidih. Tulang-tulangku ngilu, seolah baru saja dipukuli.Stres. Kelelahan. Tekanan batin. Semuanya menumpuk menjadi sat







