Share

BAB 6

Author: Avelynne
last update publish date: 2026-01-05 14:46:07

Aku setengah berlari meninggalkan ruang makan. Punggungku masih terasa panas, seolah jejak tubuh Arjuna masih menempel di sana. Kakiku gemetar hebat saat menapaki lantai marmer dingin menuju kamar.

Begitu sampai di dalam, aku langsung membanting pintu.

Tanganku dengan cepat memutar kunci grendel di bawah gagang pintu.

Klik. Terkunci.

Aku menghela napas panjang, menyandarkan punggung ke daun pintu yang kokoh itu. Setidaknya di sini aku aman. Setidaknya di sini aku punya privasi.

Tak.

Suara mekanisme logam yang bergeser membuat jantungku melompat ke tenggorokan.

Aku berbalik cepat. Tuas kunci yang baru saja kuputar, kini kembali ke posisi vertikal. Posisi terbuka.

Dengan tangan gemetar, aku memutarnya lagi. Klik.

Satu detik. Dua detik.

Tak.

Kunci itu berputar sendiri, kembali terbuka dengan suara mengejek yang nyaring.

Darahku berdesir dingin. Ini bukan rusak. Ini didesain seperti ini. Pintu ini dikendalikan oleh sistem otomatis yang tidak mengizinkanku untuk mengunci diri.

Kata-kata Arjuna tadi terngiang di kepalaku seperti mantra kutukan. Pintu itu tidak pernah dikunci.

Aku mundur perlahan, menjauhi pintu seolah kayu mahal itu bisa menggigitku. Mataku menyapu sekeliling ruangan yang luas dan steril ini.

Perasaan aneh mulai merayap di tengkukku. Perasaan yang sama seperti saat kau berjalan sendirian di gang gelap dan tahu ada mata yang mengawasi dari kegelapan.

Aku mendongak.

Mataku menelusuri setiap sudut plafon yang tinggi, sela-sela ventilasi AC sentral, hingga ke detektor asap di atas tempat tidur.

Di sana.

Di sudut ruangan — tepat menghadap ranjang dan pintu kamar mandi — ada titik hitam yang nyaris tidak ada. Didesain untuk tidak terlihat.

Lensa.

Merah redup. Berkedip setiap lima detik. Teratur. Sabar.

Tanganku turun dari mulut. Aku tidak berteriak. Tidak ada suara yang keluar.

Lensa.

Ada kilatan merah redup yang berkedip sekali setiap lima detik.

Aku membekap mulutku sendiri. Kakiku lemas. Aku mundur sampai betisku menabrak tepi ranjang.

Dia melihatku. Dia bisa melihatku sekarang.

Apa dia sedang duduk di ruang kerjanya, menatap layar monitor yang menampilkan wajah pucatku? Apa dia menikmati ketakutan yang terpancar jelas dari mataku?

Rasa mual menyodok perutku. Aku merasa telanjang meski masih berpakaian lengkap.

Aku harus sembunyi.

Aku berlari menuju lemari pakaian built-in yang besar. Tanganku menyambar asal tumpukan baju yang tergantung rapi. Aku tidak peduli baju apa itu, aku hanya butuh sesuatu untuk menutupi tubuhku setelah mandi.

Kamar mandi. Ya, kamar mandi pasti aman. Tidak mungkin ada orang gila yang memasang kamera di kamar mandi, kan?

Aku berlari masuk ke kamar mandi dan langsung menutup pintunya. Kali ini, kuncinya manual. Klik. Dan kuncinya tetap diam.

Aku merosot di lantai keramik yang dingin, memeluk lutut. Napasku memburu, tersengal-sengal seperti orang habis tenggelam.

Butuh sepuluh menit bagiku untuk mengumpulkan keberanian berdiri di bawah shower.

Aku mandi dengan cepat, gerakan tanganku kasar saat menyabuni tubuh. Aku terus-menerus melirik ke arah cermin, ke arah ventilasi, ke arah celah-celah ubin. Paranoia itu sudah tertanam. Setiap bayangan terasa seperti mata yang mengintip.

Aku mematikan air, lalu mengeringkan tubuh dengan handuk tebal yang tersedia.

Aku mengambil baju yang tadi kusamabar dari lemari. Sebuah gaun tidur sutra tipis dengan tali spaghetti dan belahan dada rendah. Warnanya merah marun.

Aku melempar gaun itu ke lantai dengan jijik. Aku tidak akan memakai itu. Tidak di depan kamera sialan itu.

Aku mengaduk-aduk tas ranselku yang basah dan kotor—satu-satunya barang bawaanku dari kontrakan. Di bagian paling bawah, yang untungnya masih agak kering, aku menemukan kaos oversized bergambar band rock tua yang sudah pudar.

Kaos itu gombrong, jelek, dan menutupi tubuhku dari leher sampai lutut.

Sempurna.

Aku memakai kaos itu, lalu bercermin. Bentuk tubuhku hilang sepenuhnya di balik kain katun murahan ini. Aku terlihat seperti gelandangan, tapi aku merasa sedikit lebih aman. Ini adalah bentuk perlawananku. Protes bisuku.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membuka kunci kamar mandi.

Aku melangkah keluar kembali ke kamar tidur yang hening.

Tidak ada suara. Lampu indikator di kamera di sudut plafon itu masih berkedip pelan. Seolah mengejek usahaku bersembunyi.

Aku berjalan menuju sisi tempat tidur yang jauh dari jangkauan lensa itu, lalu duduk di tepinya.

Ponselku yang tergeletak di atas meja nakas tiba-tiba bergetar panjang. Layarnya menyala, menampilkan satu notifikasi pesan masuk di tengah ruangan yang remang-remang.

Nomor tidak dikenal. Tapi aku tahu siapa itu.

Tanganku gemetar saat meraih ponsel itu. Cahaya layarnya menusuk mata.

From: 0811-XXXX-XXX

Ganti. Gaun biru di lemari. Bukan yang katun itu.

Ponsel itu terlepas dari tanganku, jatuh ke karpet tebal dengan bunyi buk yang tumpul.

Daraku membeku.

Dia menonton. Bukan hanya kamera — dia. Saat ini juga, di belakang satu atau beberapa layar, Arjuna Diwangsa sedang menatap gadis berkaos jelek di kamar yang dia bayar, menunggu gadis itu patuh.

Dan aku tahu apa yang akan kulakukan selanjutnya.

Yang membuatku merasa lebih seperti boneka dari persetujuanku tadi malam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 600

    Pukul satu dini hari.Perpustakaan kecil ini steril dari segala bentuk gangguan eksternal. Tidak ada deru mesin kendaraan. Tidak ada dering telepon. Suasana sunyi dan kedap udara.Hanya ada bunyi ketukan mekanis dari papan ketik laptopku."Ketukanmu melambat," komentar Arjuna memecah kesunyian.Pria itu duduk di sofa sudut. Layar tablet di tangannya memancarkan pendar kebiruan. Dia tidak beranjak dari posisi itu sejak dua jam lalu."Aku sedang menyelaraskan paragraf terakhir," jawabku tanpa memutus pandangan dari layar."Draf kasarnya selesai malam ini?""Kerangka utamanya tuntas seratus persen."Arjuna meletakkan tabletnya ke atas meja kaca. Bunyi benturan pelan terdengar tajam. Pria itu menyandarkan punggungnya ke bantalan sofa."Kita tidak memesan sampanye untuk merayakannya?" tanya Arjuna datar."Ini bukan kemenangan perang, Juna." Aku menolak ide itu mentah-mentah. "Ini sekadar rutinitas penulisan.""Bagi orang normal, merampungkan sebuah kerangka buku adalah pencapaian besar.""

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 599

    Matahari memanggang aspal kompleks perumahan tanpa ampun.Pagar besi depan rumah didorong terbuka. Engselnya berderit pelan memecah kesunyian.Elang berjalan melintasi pelataran batu. Langkah sepatunya menghantam konblok dengan irama berat tapi sangat pasti. Anak sembilan tahun itu mengenakan seragam putih merah yang sudah berantakan. Keringat membasahi kerah kemejanya.Dia menaiki anak tangga teras. Ransel sekolah berwarna hitam dilemparkannya ke atas kursi rotan. Bunyi debum kain tebal beradu dengan anyaman rotan terdengar keras.Aku berdiri diam di ambang pintu utama. Tanganku bersilang di depan dada. Aku tidak menyambutnya dengan pelukan atau sapaan melengking.Elang tidak langsung berbicara. Dia meraih botol air minum transparan berukuran satu liter dari atas meja teras. Tutupnya diputar cepat.Anak itu menenggak air putih tersebut. Cairan dingin mengalir turun ke kerongkongannya. Setengah liter air tandas dalam hitungan detik.Botol plastik itu diturunkannya dengan satu entakan

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 598

    Aroma roti panggang mendominasi ruang dapur pagi ini. Mesin pembuat kopi berdengung konstan di sudut konter marmer.Elang membuka lemari kabinet atas dengan cepat. Anak sembilan tahun itu mengeluarkan tiga piring keramik datar. Gerakannya sangat efisien dan presisi.Di sebelahnya, Arjuna berdiri menghadap mesin kopi. Suamiku sudah mengenakan kemeja kerja abu-abu gelap yang disetrika licin.Pagi ini berjalan sangat fungsional. Tidak ada kepanikan mencari dokumen yang hilang. Tidak ada teriakan anak kecil yang menolak menu sarapan.Aku menarik kursi bar dan duduk. Mataku merekam dinamika dua laki-laki di depanku secara saksama."Roti gandum atau putih?" tanya Elang tanpa menoleh padaku."Gandum," jawabku singkat."Satu lembar atau dua lembar?""Satu.""Mentega atau selai kacang?""Polos."Elang meletakkan satu lembar roti gandum panggang yang masih berasap di atas piringku.Aku menatap lurus ke wajah putraku. Dia bukan lagi balita bingung yang selalu menangis saat mendengar suara keras

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 597

    Jam digital di sudut meja menunjukkan pukul satu dini hari.Lampu meja menyala sangat terang. Fokus cahayanya menyorot langsung ke atas permukaan kertas putih. Aku duduk tegak di kursi kerja perpustakaan kecil ini. Ujung penaku bergerak liar namun terstruktur di atas buku catatan baru."Kau belum tidur."Suara bariton itu memotong kesunyian absolut ruangan.Arjuna berdiri di ambang pintu. Pria itu bertelanjang dada. Dia hanya mengenakan celana tidur panjang berbahan katun gelap. Rambutnya sedikit berantakan akibat gesekan bantal."Aku sedang bekerja," jawabku tanpa menghentikan gerakan pena."Ini jam satu pagi, Alea.""Waktu tidak relevan saat otakku sedang merangkai struktur," balasku lugas.Arjuna melangkah masuk. Telapak kakinya menapak lantai kayu tanpa suara. Pria itu menarik kursi tamu dan duduk tepat berhadapan denganku. Meja kerja ini menjadi satu-satunya pembatas fisik di antara kami."Apa yang sedang kau bedah?" tuntut Arjuna. Matanya yang gelap memindai kertas di depanku."

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 596

    Jam dinding digital di ruang keluarga menunjukkan pukul dua belas malam.Lantai dua sudah sepenuhnya senyap. Suara pintu kamar Elang ditutup telah terdengar sejak satu jam lalu. Anak berusia sembilan tahun itu tertidur lelap setelah kelelahan membedah tugas sekolahnya.Hanya ada satu lampu lantai menyala temaram di sudut ruangan ini.Arjuna melangkah keluar dari arah dapur. Pria itu berjalan mendekati sofa tempatku bersandar. Dia menyodorkan sebuah gelas kaca berisi air putih dingin tepat ke depan wajahku."Minum," perintah Arjuna singkat.Aku menerima gelas itu tanpa penolakan. Suhu dingin dari permukaan kaca langsung meresap ke dalam kulit telapak tanganku.Aku menenggak air putih itu hingga tandas separuh. Cairan dingin membasuh kerongkonganku, menurunkan suhu tubuhku secara instan. Aku meletakkan gelas tersebut ke atas meja dengan bunyi dentingan pelan.Otakku tiba-tiba mencatat sebuah fakta internal yang sangat spesifik malam ini.Sepuluh tahun lalu, memilih pria di depanku ini m

  • Ketika Aku Menginginkan Ayah Sahabatku   BAB 595

    Lampu meja memancarkan cahaya kuning tajam di dalam perpustakaan kecil. Aku duduk berhadapan dengan meja kayu solid.Buku catatan bersampul kulit hitam tergeletak terbuka di depanku. Ujung halamannya melengkung dan usang. Buku ini telah menjadi saksi bisu dari ratusan jam kerja dan analisis tanpa filter.Hanya tersisa satu halaman kosong. Lembar terakhir dari sebuah era.Pintu perpustakaan berderit pelan.Arjuna melangkah masuk. Pria itu membawa secangkir teh panas dan meletakkannya tepat di dekat sikuku. Asap tipis mengepul dari permukaan cairan berwarna kecokelatan tersebut."Buku itu sudah penuh," komentar Arjuna datar. Pria itu bersandar pada tepi meja kerjaku."Sisa satu halaman," jawabku tanpa menoleh. "Aku akan menyelesaikannya malam ini.""Kau sudah memakai buku itu sejak sebelum draf buku pertamamu lahir ke dunia."Aku menyentuh permukaan kertas bergaris itu. Teksturnya terasa kasar di ujung jari."Iya. Ini adalah rekam jejak yang tidak pernah masuk dalam jadwal kerja kita."

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status