Share

8

Author: Harucchi
last update publish date: 2026-10-24 16:51:34
Elsa tersentak. “Perjanjian? Seratus hari?” Elsa mengangkat wajahnya menatap Julian. “Kak … apa maksudnya ini?”

Di tempatnya, tubuh Julian menegang. Amarah bergemuruh di dadanya. Ia sungguh yakin kalau saat ini Alana sedang memasang wajah penuh kemenangan karena berhasil menjeratnya hingga bersedia menjauhi Elsa.

Pria itu menoleh menatap Alana. Namun, tatapan wanita itu datar. Tak ada rona kepuasan seperti yang ia duga.

Perlahan, Julian mendorong bahu Elsa menjauh, tanpa menatap ke arahnya ka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Aku Pergi Nanti   37

    “Sayangnya, waktuku sudah tidak lagi banyak untuk bisa menemaninya melihat anak-anak di panti ini tumbuh dewasa.”Nyonya Betty menoleh dengan kening berkerut, tidak menangkap maksud tersirat dari ucapan Alana.“Waktu? Ah, Nyoya Alana dan Tuan Julian pasti sangat sibuk dengan urusan perusahaan ya. Tidak apa-apa, bisa berkunjung sesekali saja anak-anak sudah sangat senang.”Alana hanya membalas dengan senyum tipis, memilih membiarkan kesalahpahaman itu tetap di sana.Tepat pada detik itu, suara sorakan riuh terdengar dari arah lapangan.“Terbang! Ayah Julian hebat! Layangan Noel paling tinggi!”Alana mengangkat wajahnya. Di tengah langit sore yang bersemburat jingga, layang-layang dengan tulisan tangan ‘NOEL’ itu akhirnya mengudara dengan gagah. Julian berdiri di tengah lapangan, tangannya menarik-ulur benang dengan mahir untuk menahan tarikan angin.Napas pria itu terengah-engah, rambutnya berantakan, keringat membasahi keningnya. Namun di wajah Julian Ashford, tercetak sebuah senyum

  • Ketika Aku Pergi Nanti   36

    Tiba-tiba, suara mesin mobil terdengar menggemuruh nyaring di luar. Dua unit truk tampak hendak masuk ke pelataran panti.Semua orang menatap panik ke luar jendela. Tidak mengerti apa yang terjadi. Kecuali Julian Ashford.“Oh, itu hadiah dariku.”Alana menoleh cepat. “Hadiah?”“Aku tidak tahu hadiah ulang tahun untuk anak usia tujuh tahun. Jadi aku memborong dua truk mainan, buku anak-anak dan makanan ringan.” Julian menjawab enteng. “Julian … itu terlalu banyak ….” Alana berbisik tak percaya.Namun Julian hanya mengangkat bahunya dengan ekspresi datar. Sedangkan anak-anak berteriak kegirangan. Mereka menghambur ke arah pintu dan jendela dengan energi yang seolah terisi kembali oleh kata ‘mainan’.***Sepanjang siang hari, Noel sibuk bermain dengan mainan-mainan baru dan menolak tidur siang. Bahkan ketika tubuhnya sudah tampak kelelahan pun ia tetap merengek meminta Julian menemaninya bermain layang-layang di halaman belakang.Alana melangkah ke teras belakang bangunan panti didampin

  • Ketika Aku Pergi Nanti   35

    “Nyonya Alana?” Sebuah suara di sudut ruangan membuat suara tawa Alana terhenti. Wanita itu menoleh, bibirnya mengulas senyum tipis saat menemukan sosok yang berdiri di ambang pintu.Seorang wanita paruh baya tampak menunduk singkat sambil tersenyum pada Alana dan Julian dengan wajah hangat. Alana bangkit perlahan dan menghampiri wanita yang ia kenal akrab dengan panggilan Nyonya Betty itu. Ia memeluknya singkat. Nyonya Betty kemudian mengajak Alana berkeliling dan memberi kabar tentang perkembangan panti.Setelah berkeliling, seorang pengurus panti memanggil Nyonya Betty karena membutuhkan bantuan. Nyonya Betty pun pamit dan berkata bahwa ia akan segera kembali.Alana akhirnya kembali ke aula dan menemukan Julian sedang menggambar di sebuah kertas. Sebuah pemandangan langka yang membuat Alana tersenyum tipis. Wanita itu akhirnya memilih berdiri bersandar di dinding, mengamati mereka dari belakang.Jari pria yang terbiasa menandatangani kontrak bernilai triliunan itu kini menggores

  • Ketika Aku Pergi Nanti   34

    “Ayah!” Tiba-tiba, Noel berlari kecil melewati Alana dan langsung memeluk kedua kaki Julian erat-erat.Tubuh Julian tersentak. Ia mematung, menatap anak kecil asing yang kini membuat kakinya sulit digerakkan. “K-kau panggil aku apa?”Noel mendongak menatap Julian, senyumnya mengembang lebar hingga sebagian giginya yang ompong kini terlihat. “Ibu benar! Ayah sangat tampan seperti di foto! Ibu bilang, Ayah tidak pernah ikut ke sini karena Ayah sibuk bekerja mencari uang untuk Noel dan teman-teman. Tapi sekarang Ayah datang!” Noel kembali memeluk kaki Julian erat.Jantung Julian seolah berhenti berdetak. Ia tidak terbiasa dengan anak kecil. Bahkan seumur hidupnya, interaksinya dengan anak kecil hampir bisa dihitung jari.Pria itu menatap canggung puncak kepala Noel yang benar-benar mulus seperti bohlam. Lalu beralih menatap Alana yang kini menatap Noel sambil tersenyum lembut. Ekspresinya sendu, seperti seorang Ibu yang akhirnya mempertemukan anaknya dengan sang Ayah yang lama tidak pu

  • Ketika Aku Pergi Nanti   33

    ‘35. Berkunjung ke panti dan menjadi orang tua Noel dalam sehari.’Julian menatap kalimat itu dengan rahang mengeras. Tatapannya kini berubah tajam. “Panti? Orang tua Noel?” Pria itu mendongak, menatap Alana dengan kilatan tidak suka yang tidak disembunyikan. “Sejak kapan kau mengurusi anak-anak panti di belakangku?”Kalimat tajam itu meluncur lancar. Sebagai suami, Julian membenci fakta bahwa ada bagian dari kehidupan Alana, bahkan seorang anak kecil bernama Noel, yang sama sekali tidak ia ketahui.Sementara itu, Alana menelan ludah, menahan perih di dadanya dan bersiap mengubur harapan untuk menyenangkan hati Noel yang sedang sakit.“Itu panti asuhan kecil yang kudanai selama dua tahun terakhir. Aku mendirikannya menggunakan nama pribadiku, tanpa embel-embel Sinclair maupun Ashford.”“Untuk apa? Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?”Alana menunduk, menyembunyikan tatapannya yang rapuh karena mengingat Noel. “Dulu, di awal pernikahan kita, aku punya satu impian bodoh,” ucap Alana

  • Ketika Aku Pergi Nanti   32

    “Alana, bangunlah. Kita sudah sampai rumah.” Suara Julian yang terdengar dari sebelah Alana bergetar. Alana membuka kelopak matanya yang terasa sangat lengket. Wanita itu menatap sekitar, menyadari bahwa mereka ternyata sudah sampai di pelataran mansion.Suara lenguhan Elsa yang sedang meregangkan otot-ototnya dari kursi depan terdengar panjang. Wanita itu sengaja mengeraskan suaranya, berharap Julian membukakan pintu depan untuknya dan menuntunnya turun dari mobil hanya karena ia masih mengantuk setelah tertidur dalam perjalanan, seperti biasanya.Namun saat Elsa mengintip dari kelopak matanya, tidak. Julian justru baru saja membantu Alana turun dari mobil dengan raut penuh perhatian.Melihat pemandangan itu, dada Elsa terasa begitu panas. Tatapan matanya tak lagi mengilatkan sandiwara. Melainkan sebuah sorot tajam yang penuh gelegak amarah.Sementara itu, Alana yang baru saja turun dari mobil merasakan ponselnya bergetar di dalam tas. Wanita itu mengambilnya dan menemukan panggilan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status