مشاركة

Bab 11. Persimpangan Jalan

مؤلف: Magnolia Lily
last update تاريخ النشر: 2026-08-19 21:44:50

"Lain kali, kau harus rajin berolahraga, Raline."

Sang direktur bergurau tatkala melihat Raline sudah hampir kehabisan nafas padahal baru berjalan lima belas menit.

"Saya olahraga, kok."

"Kapan?"

Wanita itu termenung sekejap. "Sebulan lalu?"

Matthias mendengus merasa lucu.

"Pantas saja."

Keputusan sepihak Matthias untuk berjalan kaki sejauh satu setengah kilo tak mampu Raline tolak. Semua barang ditinggalkan di mobil, mereka hanya membawa ransel berisi barang-barang penting dan
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 12. Terjebak Dalam Pelukannya

    "Jangan mengatakan hal menakutkan, Tuan. Saya yakin hujan pasti reda." Tepat setelah mengatakan itu, petir menyambar pohon di depan mereka. Sontak wanita itu menjerit dan merapatkan tubuhnya ke sang atasan. Jantungnya berdegup kencang. "Apa saya salah?" Di sini, hanya Raline yang ketakutan. Nyatanya, pria itu tampak tenang seolah petir tadi bukanlah apa-apa. "Sepertinya langit mendukung keinginanku." Perkataan itu langsung mengundang tatapan tajam, tapi Matthias sama sekali tidak terpengaruh. Dia menyelipkan tangannya ke belakang punggung Raline, menyentuh pundaknya, lalu menariknya mendekat. "Kau bisa kedinginan." Kali ini Raline setuju. Dia membiarkan tubuh mereka yang basah kuyup saling menempel satu sama lain. Keheningan melanda. Keduanya sibuk menatap langit hitam sambil berusaha mencari kehangatan. "Setelah malam itu, apa Bima bertanya sesuatu?" "Kenapa anda membahasnya lagi? Saya sudah bilang, saya tidak mau membahas apapun tentang malam itu." "Jangan mara

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 11. Persimpangan Jalan

    "Lain kali, kau harus rajin berolahraga, Raline." Sang direktur bergurau tatkala melihat Raline sudah hampir kehabisan nafas padahal baru berjalan lima belas menit. "Saya olahraga, kok." "Kapan?" Wanita itu termenung sekejap. "Sebulan lalu?" Matthias mendengus merasa lucu. "Pantas saja." Keputusan sepihak Matthias untuk berjalan kaki sejauh satu setengah kilo tak mampu Raline tolak. Semua barang ditinggalkan di mobil, mereka hanya membawa ransel berisi barang-barang penting dan minuman. Raline tak mengharapkan perjalanan mereka mulus. Bebatuan yang tercampur lumpur telah mengotori seluruh sepatunya bahkan celananya. Kanan kiri masih dikelilingi oleh perkebunan dan dari kejauhan mereka bisa mendengar suara deburan ombak bercampur gemuruh kecil pertanda hujan akan datang. "Jika langkahmu selambat ini, kita akan basah kuyup saat sampai di villa. Cepatlah!" "Anda bisa bilang begitu karena kaki anda panjang. Ini sudah secepat yang saya bisa, " jawab Raline kesal.

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 10. Trip Sumba

    "Kau terlambat lima menit, Raline." Ketika sang asisten datang, atasannya sedang duduk menunggu di lobby sambil membaca majalah dengan tampilan kasual dan kaca mata hitam. Di sampingnya ada satu koper berukuran kecil. "Maaf, Tuan Reinhardt. Ada penutupan jalan karena karnaval." Karnaval memang ada, tapi alasannya dirinya telat adalah tidak bisa tidur. Semalam Romi menelepon lagi dan seperti tempo hari, Bima buru-buru pergi bahkan tak pulang sampai pagi hari. Suaminya memberikan alasan yang terlihat meyakinkan, tapi justru itulah yang perasaan Raline tak enak. Saat wajah cantik Raline menunduk, Matthias ternyata memperhatikannya. Ekspresi wanita itu tidak bagus. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, meski samar tapi Raline tak pernah seperti ini. "Baiklah. Ayo kita pergi." Dari Jakarta, butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai di Tambolaka-Sumba. Dan untuk sampai ke lokasi proyek, masih butuh waktu dua jam lagi menggunkan mobil. Awalnya, perjalanan sangat mulus. Sumba

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 9. Apa Yang Suamiku Sembunyikan?

    Selama dua jam, rapat konsorsium berjalan sangat panas lebih dari yang diperkirakan Matthias. Beberapa investor mengungkapkan kekecewaan mereka dengan gamblang bahkan ada yang menuntut pengembalian dana. Hal yang mustahil dilakukan. Vendor MEP bahkan tidak bisa mengangkat wajah karena masalah keterlambatan yang mereka timbulkan. Untungnya Matthias mampu mengendalikan situasi sebelum akhirnya mereka semua bertikai. Wajah mereka jadi jauh lebih lelah dibanding saat masuk dan rapat pun berakhir ketika langit Jakarta berubah warna. Raline menutup laptop setelah menyelesaikan semua laporan. Tarikan nafasnya lebih berat disertai leher yang kaku dan mata berkunang-kunang. Pekerjaannya tidak main-main. "Akhirnya selesai juga," gumamnya lega. Ia mulai membereskan barang miliknya, bersiap untuk pulang. Namun, saat dirinya melihat Matthias yang masih fokus mengerjakan sesuatu di laptopnya, dia kembali duduk di kursinya—menunggu Matthias selesai. Karena bosan, Raline ja

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 8. Indah Dan Sulit Ditaklukkan

    "Raline!" Mendengar namanya dipanggil, wanita itu lantas menoleh ke belakang. Bima tengah berlari kecil menghampirinya sambil tersenyum. "Rapatnya udah beres semua, kan? Ayo makan siang bareng." Tepat pukul dua belas, rapat dengan divisi arsitektur berakhir. Sang direktur sudah berjalan duluan bersama karyawan lainnya membicarakan sesuatu. "Ayo! Aku bilang dulu sama Pak Matthias." Mereka pun bersama-sama menghampiri pria itu. Perhatian Matthias langsung teralihkan. "Saya mau makan siang di luar, apa ada yang anda butuhkan sebelum saya pergi?" Matthias terdiam sejenak. Ekspresinya dingin. "Tidak. Kembalilah sebelum rapat dengan divisi keuangan dimulai." "Baik." Tanpa menunggu lagi, Raline dan Bima pergi meninggalkan sang direktur yang menatap mereka dengan ekspresi sulit dijelaskan. "Tuan Reinhardt, ada apa?" tanya orang di sampingnya. Pria itu tersadar dan segera mengendalikan ekspresinya. "Tidak ada. Ayo lanjutkan." Hal umum sepasang suami-istri makan b

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 7. Kick-off Meeting

    Kick-off meeting di mulai tepat pukul sembilan. Semua orang sudah berkumpul sebelum Matthias datang. Dan tak lama kemudian, sang direktur datang diikuti asistennya dari belakang. Ia duduk di ujung meja, menatap dengan tenang wajah tegang semua orang. "Aku sudah memberi kalian waktu sebulan sebelum rapat ini dilaksanakan. Jadi jangan mengecewakanku." Ruangan semakin dingin di bawah tatapan Matthias. "Mari kita mulai." Semua orang membuka laptop. Bersiap dengan bagiannya masing-masing dan yang memulai duluan adalah Sebastian. "Bagaimana keberlangsungan projek per hari ini?" Sebastian berdiri. "Per hari ini progresnya sudah mencapai lima puluh dua persen." "Lima puluh delapan? Menyedihkan." Matthias hampir tertawa. "Pembangunan resort itu sudah hampir tiga tahun dan baru sampai sana?" Semua orang menunduk. Matthias memijit pelipisnya. "Kenapa bisa begitu?" "Itu karena sejak awal kami kesulitan melakukan pembebasan lahan. Baru tahun kemarin seluruh pemilik t

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status