Share

Bab 28. Kisah Kelam Nina

Author: Magnolia Lily
last update publish date: 2026-09-14 13:58:13

"Romi? Istrinya kenapa? Mau melahirkan?"

"Nggak. Kandungan istrinya lemah jadi sering bolak-balik ke rumah sakit."

Entah kenapa akhir-akhir ini Bima sering direpotkan oleh urusan Romi dan istrinya. Raline tidak berniat mencurigai suaminya, tapi entah kenapa hatinya benar-benar tidak nyaman.

"Mas kayanya peduli banget yah sama Romi."

"A-ah ya... Namanya juga temenan dari lama." Suaranya terdengar gugup.

"Lalu Mas di rumah sakit ngapain aja?"

"Ya nemenin Romi. Kasihan dia nggak punya siapa-siapa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 68. Tempat Untuk Kembali

    Ketika terbangun, ternyata hampir tengah hari. Matthias sudah mandi dan berpakaian rapi sedangkan aku masih sibuk meregangkan tubuhku yang pegal-pegal. "Sudah bangun?" Matthias menghampiriku dan menaruh makanan yang sudah dihangatkan di meja dekat jendela besar kamarnya. "Ayo makan dulu." Aku mengangguk singkat lalu pelan-pelan turun dari kasur. "Aku mau mandi dulu." Tak butuh waktu lama, aku pun keluar dengan memakai baju Matthias, lagi. Tanpa permisi aku duduk di kursi berhadapan dengannya. Di tempat dudukku, pemandangan kota Jakarta yang sibuk terbentang di balik jendela besar. "Beberapa hari lagi aku akan masuk kantor," ucapku sambil menyantap makananku. Matthias yang semula menatap dokumen akhirnya menatapku. "Kamu serius?" "Ya. Tubuhku sudah tidak apa-apa. Lagipula... Rasanya sulit jika harus terkurung seharian di rumah itu lebih lama lagi. Aku butuh waktu." Pria itu mengangguk singkat, meminum kopinya. "Baiklah. Bastian juga sepertinya tidak bisa menangani semua urusa

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 67. Sebab-akibat Hubungan Kami

    "Raline. Kenapa kamu selalu meragukan dirimu sendiri? Apa yang terjadi padamu saat ini bukanlah karena kesalahanmu. Ada banyak hal buruk terjadi karena kesalahan orang lain."Aku menghapus sudut mataku yang hampir meneteskan air mata. Lalu menjawab Matthias. "Tapi alasan kami belum memiliki anak memang karena ketidakmampuanku. Dokter bilang ada masalah di rahimku. Aku sudah menjalani pengobatan selama bertahun-tahun ini tapi tetap saja tidak berhasil. Jika bukan kesalahanku lantas salah siapa lagi?"Memang tak seharusnya aku melampiaskan kemarahan ini pada Matthias. Pria itu hanya diam, tapi wajahnya semakin terbenam ke dalam leherku. Hembusan napasnya hangat, sehangat pelukannya. "Meskipun begitu, itu tak jadi pembenaran atas segala kejahatan yang suamimu lakukan. Dia tetap salah. Jangan jadikan kekuranganmu sebagai alasan yang menahanmu untuk tidak menyalahkannya."Aku terpaku mendengar ucapannya. 'Benarkah aku begitu?' pikirku dalam. Namun, tetap saja banyak yang mengganjal di dal

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 66. Nyanyian Bahagia Na Willa

    Aku akhirnya terbangun ketika cahaya matahari yang menyusup melalui celah tirai menerpa wajahku. Menatap langit-langit kamar yang asing, aku tahu ini adalah kamar Matthias. Aku menarik selimut sampai wajahku tertutup. Ingatan malam panas bersamanya berkelebat begitu saja. Pipiku memanas, rasanya ingin berteriak. Astaga... Aku tak tahu bagaimana caraku menghadapi pria itu nantinya. Karena tak menemukan pakaianku, aku keluar sambil menyeret selimut yang membungkus tubuhku. Matthias mematikan panggilannya ketika melihatku."Ada apa, Raline?" Suara Matthias terdengar lembut, membuatku sangat gugup. "Aku mencari pakaianku." Aku berdiri kaku di depannya sambil memainkan menggeser-geser kedua kakiku dengan gugup. "Ah, aku mencucinya."Mataku terbelalak. "Kenapa malah mencucinya?" Dia menghampiriku setelah menatapku cukup lama. Kakiku mundur secara spontan saat dia mendekat, tetapi dia malah menarik pinggangku. "Aku takut kamu kabur." Matthias berkata jujur. "Kamu tidak akan berpisah

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 65. Rutinitas Berbeda

    Pagi itu, Matthias bangun lebih telat daripada biasanya. Setelah kesadarannya pulih, dia meregangkan ototnya yang terasa kaku. Di sampingnya, tubuh Raline masih terlelap dengan posisi tengkurap membelakangi dirinya. Matthias tersenyum tipis. Melihat punggungnya yang dipenuhi bercak kemerahan, memberikan kepuasan tak terhingga. Pria itu lantas menyentuh pundak Raline sambil berbisik. "Raline.""Hmmm..." Raline hanya bergumam tidak jelas. Merasa kesal karena tidurnya terganggu. "Selamat pagi.""Hmmm..." Raline malah menarik selimut, tubuhnya terbungkus sampai hanya menyisakan pucuk kepalanya saja. Matthias sontak tertawa, menghadiahkan kecupan kecil dan tak mengusik tidurnya lagi. Dengan hanya memakai celana pendek, pria itu keluar dari kamar. Rambutnya berantakan, wajahnya kusut, tetapi sorot matanya berbinar cerah. Bu Dinda—asisten di rumah itu—memandang aneh pada majikannya. Biasanya ketika Matthias keluar dari kamar, dia sudah siap mengenakan pakaian jogging. Namun kali ini,

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 64. Jangan Memprovokasinya

    Setelah mengatakan kalimat penuh keberanian itu, aku tiba-tiba bingung sendiri. 'Selanjutnya apa?'Aku meneguk ludahku. Di bawah sana panas dan basah sekali. Tubuh Matthias ikut basah karenaku. "Kenapa, Raline? Tiba-tiba takut, hm?" ejeknya. "Lepaskan ikatanku. Biar aku yang melakukannya. Kalau menunggumu, bisa-bisa tubuhku basah kuyup karena dirimu."Wajahku memanas. Pria itu merasakannya. Aku segera mengambil pakaian dalamku lantas menyumpal mulutnya. Matanya terbelalak. Dia sedikit memberontak tapi aku menahannya. "Kamu harus membayar karena selama ini selalu menyulitkanku. Biarkan aku bersenang-senang, Matthias."Terbesit dalam pikiranku mungkin sekarang aku sedang mabuk, kalau tidak mabuk, mana mungkin sekarang aku berani membuka mulutku sendiri dan memasukkan miliknya tanpa ragu. Penuh. Panas. Basah. Kedua mata Matthias terpejam dan terbuka berkali-kali. Melihat reaksinya sungguh menyenangkan. Aku tak mau berhenti. Persetan dengan mabuk atau tidak, ini sungguh menyenangka

  • Ketika Atasan Suamiku Menginginkanku   Bab 63. Hangat Tubuh Kami

    Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirku seperti orang gila. Mata biru Matthias tidak bergerak. Terpaku pada wajahku."Kamu yakin? Aku tidak mau dimarahi olehmu lagi dan jadi satu-satunya pihak yang disalahkan.""Tidak, Matthias. Tidak akan."Aku menangkup wajahnya. Merasakan bulu halus yang tumbuh di pipinya. Pria itu terpejam sesaat, menikmati sentuhanku. Dia sangat tampan. Aku terkadang berpikir mungkin dia melakukan operasi plastik di suatu tempat karena visualnya sangat tidak nyataJantungku berdebar kencang sampai rasanya mustahil menyembunyikan kegugupanku. Matthias menyentuh rambutku hati-hati. "Hanya kamu yang berani menjadikanku pelampiasan semata, Raline.""Kamu keberatan?""Jika aku keberatan, apa kamu akan mencari pria lain dan menyentuh wajahnya seperti ini?"Bibirku cemberut tidak suka. "Kamu tahu aku tidak akan melakukannya, Matthias. Aku tidak segila itu."Pria itu malah tertawa senang. Dia mulai mencium pipiku tanpa permisi lagi. "Jangan menyesal, oke?"Kali

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status