LOGINSaat taksi menurunkanku di depan rumah, aku terdiam dalam waktu lama sambil memandang rumah itu dengan tatapan sedih. Pemandangan rumahnya masih sama, hanya saja hatiku yang sudah berbeda. Untuk pertama kalinya, aku merasa takut masuk ke sana. Tapi situasi ini tak terhindarkan lagi, aku harus segera masuk meski tidak tahu harus melakukan apa setelahnya. "Non Raline. Akhirnya Non pulang." Bi Kasih menyambutku dengan penuh kelegaan. Aku membalasnya dengan senyuman kecil. "Non udah makan, Bibi udah masak."Bi Kasih pasti cemas dan bingung. Raut wajahnya membuatku iba. "Aku sudah makan, Bi. Ngomong-ngomong di mana Ibu?"Rumah ini terlalu sepi dan kosong. Biasanya jam segini Ibu sedang duduk menonton televisi atau menelepon seseorang. "Nyonya sejak semalam nggak keluar dari kamar. Untuk sarapan pun saya antarkan karena Nyonya sama sekali nggak mau keluar."Aku termenung sejenak. Tidak bisa menebak apa yang dipikirkan Ibu. "Lalu gimana sama Mas Bima? Jam berapa dia pulang?"Bi Kasih tam
Ketika terbangun, ternyata hampir tengah hari. Matthias sudah mandi dan berpakaian rapi sedangkan aku masih sibuk meregangkan tubuhku yang pegal-pegal. "Sudah bangun?" Matthias menghampiriku dan menaruh makanan yang sudah dihangatkan di meja dekat jendela besar kamarnya. "Ayo makan dulu." Aku mengangguk singkat lalu pelan-pelan turun dari kasur. "Aku mau mandi dulu." Tak butuh waktu lama, aku pun keluar dengan memakai baju Matthias, lagi. Tanpa permisi aku duduk di kursi berhadapan dengannya. Di tempat dudukku, pemandangan kota Jakarta yang sibuk terbentang di balik jendela besar. "Beberapa hari lagi aku akan masuk kantor," ucapku sambil menyantap makananku. Matthias yang semula menatap dokumen akhirnya menatapku. "Kamu serius?" "Ya. Tubuhku sudah tidak apa-apa. Lagipula... Rasanya sulit jika harus terkurung seharian di rumah itu lebih lama lagi. Aku butuh waktu." Pria itu mengangguk singkat, meminum kopinya. "Baiklah. Bastian juga sepertinya tidak bisa menangani semua urusa
"Raline. Kenapa kamu selalu meragukan dirimu sendiri? Apa yang terjadi padamu saat ini bukanlah karena kesalahanmu. Ada banyak hal buruk terjadi karena kesalahan orang lain."Aku menghapus sudut mataku yang hampir meneteskan air mata. Lalu menjawab Matthias. "Tapi alasan kami belum memiliki anak memang karena ketidakmampuanku. Dokter bilang ada masalah di rahimku. Aku sudah menjalani pengobatan selama bertahun-tahun ini tapi tetap saja tidak berhasil. Jika bukan kesalahanku lantas salah siapa lagi?"Memang tak seharusnya aku melampiaskan kemarahan ini pada Matthias. Pria itu hanya diam, tapi wajahnya semakin terbenam ke dalam leherku. Hembusan napasnya hangat, sehangat pelukannya. "Meskipun begitu, itu tak jadi pembenaran atas segala kejahatan yang suamimu lakukan. Dia tetap salah. Jangan jadikan kekuranganmu sebagai alasan yang menahanmu untuk tidak menyalahkannya."Aku terpaku mendengar ucapannya. 'Benarkah aku begitu?' pikirku dalam. Namun, tetap saja banyak yang mengganjal di dal
Aku akhirnya terbangun ketika cahaya matahari yang menyusup melalui celah tirai menerpa wajahku. Menatap langit-langit kamar yang asing, aku tahu ini adalah kamar Matthias. Aku menarik selimut sampai wajahku tertutup. Ingatan malam panas bersamanya berkelebat begitu saja. Pipiku memanas, rasanya ingin berteriak. Astaga... Aku tak tahu bagaimana caraku menghadapi pria itu nantinya. Karena tak menemukan pakaianku, aku keluar sambil menyeret selimut yang membungkus tubuhku. Matthias mematikan panggilannya ketika melihatku."Ada apa, Raline?" Suara Matthias terdengar lembut, membuatku sangat gugup. "Aku mencari pakaianku." Aku berdiri kaku di depannya sambil memainkan menggeser-geser kedua kakiku dengan gugup. "Ah, aku mencucinya."Mataku terbelalak. "Kenapa malah mencucinya?" Dia menghampiriku setelah menatapku cukup lama. Kakiku mundur secara spontan saat dia mendekat, tetapi dia malah menarik pinggangku. "Aku takut kamu kabur." Matthias berkata jujur. "Kamu tidak akan berpisah
Pagi itu, Matthias bangun lebih telat daripada biasanya. Setelah kesadarannya pulih, dia meregangkan ototnya yang terasa kaku. Di sampingnya, tubuh Raline masih terlelap dengan posisi tengkurap membelakangi dirinya. Matthias tersenyum tipis. Melihat punggungnya yang dipenuhi bercak kemerahan, memberikan kepuasan tak terhingga. Pria itu lantas menyentuh pundak Raline sambil berbisik. "Raline.""Hmmm..." Raline hanya bergumam tidak jelas. Merasa kesal karena tidurnya terganggu. "Selamat pagi.""Hmmm..." Raline malah menarik selimut, tubuhnya terbungkus sampai hanya menyisakan pucuk kepalanya saja. Matthias sontak tertawa, menghadiahkan kecupan kecil dan tak mengusik tidurnya lagi. Dengan hanya memakai celana pendek, pria itu keluar dari kamar. Rambutnya berantakan, wajahnya kusut, tetapi sorot matanya berbinar cerah. Bu Dinda—asisten di rumah itu—memandang aneh pada majikannya. Biasanya ketika Matthias keluar dari kamar, dia sudah siap mengenakan pakaian jogging. Namun kali ini,
Setelah mengatakan kalimat penuh keberanian itu, aku tiba-tiba bingung sendiri. 'Selanjutnya apa?'Aku meneguk ludahku. Di bawah sana panas dan basah sekali. Tubuh Matthias ikut basah karenaku. "Kenapa, Raline? Tiba-tiba takut, hm?" ejeknya. "Lepaskan ikatanku. Biar aku yang melakukannya. Kalau menunggumu, bisa-bisa tubuhku basah kuyup karena dirimu."Wajahku memanas. Pria itu merasakannya. Aku segera mengambil pakaian dalamku lantas menyumpal mulutnya. Matanya terbelalak. Dia sedikit memberontak tapi aku menahannya. "Kamu harus membayar karena selama ini selalu menyulitkanku. Biarkan aku bersenang-senang, Matthias."Terbesit dalam pikiranku mungkin sekarang aku sedang mabuk, kalau tidak mabuk, mana mungkin sekarang aku berani membuka mulutku sendiri dan memasukkan miliknya tanpa ragu. Penuh. Panas. Basah. Kedua mata Matthias terpejam dan terbuka berkali-kali. Melihat reaksinya sungguh menyenangkan. Aku tak mau berhenti. Persetan dengan mabuk atau tidak, ini sungguh menyenangka







