Share

Bab 6

Penulis: Soda Pop
Saat tim penyelamat berhasil mengeluarkannya dari dalam mobil, mereka mengikuti prosedur dan bertanya, "Apa perlu kami menghubungi keluarga Anda?"

Dessy terdiam sesaat, lalu menggeleng pelan.

"Nggak perlu. Aku nggak punya keluarga."

Suami dan anak yang rela mengabaikan hidup dan matinya tidak pantas disebut keluarga.

Sambil menahan rasa pusing yang hebat akibat benturan, dia pergi ke rumah sakit seorang diri.

Syukurlah, setelah diperiksa, kondisinya tidak terlalu serius. Dia hanya perlu minum obat dan beristirahat beberapa hari.

Setelah mengambil obat, tanpa sengaja dia melewati ruang perawatan luka.

Dokter sedang membersihkan luka Yanne.

Hanya luka gores tipis, bahkan cuma mengeluarkan sedikit darah, tetapi itu sudah cukup membuat ayah dan anak itu panik setengah mati.

Yuan menatap kain kasa di tangan dokter tanpa berkedip, wajah kecilnya penuh kekhawatiran.

"Dokter, nanti bakal ada bekas luka nggak di telapak tangan Mama?"

Sean juga tidak bisa menahan diri untuk ikut mengingatkan, "Tangannya dipakai main piano, jadi tolong ditangani hati-hati."

Mendengar itu, dokter tersenyum sambil bercanda, "Jarang lho ada suami dan anak yang begitu perhatian kayak kalian. Tenang aja, luka sekecil ini nggak akan ninggalin bekas."

Di luar pintu, Dessy berdiri sambil menundukkan wajahnya, berusaha menyembunyikan tatapan sinis di matanya.

Ya, mereka memang "suami" dan "anak" yang sangat baik.

Dia mengalihkan pandangannya dan berbalik hendak pergi.

"Dessy?!"

"Bi … Bibi Dessy?!"

Dua suara yang penuh rasa kaget terdengar dari belakang.

"Dessy, kenapa kamu ke rumah sakit? Sudah diperiksa? Kamu nggak apa-apa?"

Sean yang pertama bereaksi. Dia langsung bertanya dengan nada khawatir, sementara jauh di matanya tersembunyi sedikit rasa bersalah.

"Terima kasih buat perhatiannya Pak Sean. Aku baik-baik aja."

Sapaan "Pak Sean" membuat tubuh Sean langsung membeku.

Meskipun dia tahu sekarang identitas Dessy hanyalah sebagai pengasuh di Keluarga Jonanta, saat benar-benar mendengar wanita itu memanggilnya dengan begitu berjarak, hatinya terasa sesak.

Dia ingin mengatakan sesuatu, tetapi melihat ekspresi Dessy yang tenang tanpa emosi, tenggorokannya seperti tersumbat kapas basah hingga tak sepatah kata pun keluar.

Tiba-tiba, telepon berdering.

Ada urusan mendadak di perusahaan, sehingga Sean terpaksa pergi lebih dulu dan membiarkan mereka pulang sendiri.

Setelah kembali ke vila, Yuan langsung menarik Yanne naik ke lantai atas untuk beristirahat.

Dessy hanya bisa melihat Yanne masuk ke kamar utama yang dulu merupakan kamarnya sendiri.

Setelah mengantar Yanne masuk, Yuan kembali menuruni tangga dengan langkah cepat, lalu menunjuk kamar pembantu di lantai satu kepada Dessy.

"Bibi Dessy, ini kamarmu."

Dessy menatapnya tenang.

"Baik, Dik Yuan."

Entah kenapa, wajah Yuan tiba-tiba berubah. Matanya melotot kesal kepada Dessy sebelum akhirnya berlari pergi.

Dessy tidak memedulikannya dan langsung membuka pintu kamar pembantu itu.

Padahal dia baru tiga hari tidak pulang, tetapi semua pakaian dan barang pribadinya sudah dipindahkan dari kamar utama ke sana.

Ternyata mereka benar-benar totalitas dalam bermain sandiwara.

Beberapa hari berikutnya, Dessy menjalankan perannya sebagai pengasuh dengan sangat baik.

Malam ketika Yuan demam tinggi karena makan es krim, dia hanya memberi tahu Yanne cara menurunkan demam anak, tidak lagi berjaga semalaman seperti dulu.

Saat Sean pulang larut malam setelah jamuan bisnis, dia hanya menuangkan segelas air hangat untuknya, tidak lagi repot membuat sup penghilang mabuk seperti sebelumnya.

….

Hingga tiba hari ulang tahun Yuan. Selama beberapa tahun terakhir, selalu Dessy yang menggandeng tangan putranya menyambut para tamu di depan pintu.

Namun tahun ini, sejak pagi Yuan sudah tidak sabar menarik Yanne menuju pintu masuk.

Saat melewati Dessy, dia sengaja berhenti dan berkata dengan wajah serius, "Bibi Dessy, aku dan Mama mau nyambut teman-temanku. Kamu bantu masak di dapur aja, nggak usah ke ruang tamu."

Mendengar itu, Dessy tersenyum sinis.

Dia tahu Yuan takut teman-temannya melihat dirinya lalu bertanya kenapa ibunya tiba-tiba berganti orang. Kalau begitu, kebohongan dirinya dan Sean pasti akan terbongkar.

Anaknya itu benar-benar berusaha keras agar selama tujuh hari ini Yanne bisa sepenuhnya menjadi ibunya.

Namun sebentar lagi, dia memang benar-benar bukan ibu anak itu lagi.

Dessy menundukkan pandangannya dan menjawab pelan, "Baik."

Sorot kemenangan sempat terpancar di mata Yanne, tetapi mulutnya pura-pura berkata dengan serba salah, "Yuan, bagaimanapun juga dia 'kan ibu .… "

Melihat kepanikan di mata Yuan, dia tersenyum tipis lalu mengubah ucapannya di tengah jalan.

"Bagaimanapun juga Bibi Dessy udah merawat kamu selama lima tahun. Apa nggak terlalu kejam kalau dia nggak boleh ikut pesta ulang tahunmu?"

Yuan terdiam sesaat. Wajah kecilnya tampak ragu.

Sebelum dia sempat bicara, Dessy berkata tenang, "Nggak akan. Tenang aja, aku nggak akan keluar ke ruang tamu."

Anak yang tidak mencintainya tidak layak membuatnya sedih.

Setelah mengatakan itu, tanpa menatap Yuan lagi dia langsung berjalan masuk ke dapur.

Tidak lama kemudian, suara piano yang indah terdengar dari ruang tamu.

Setelah lagu selesai, terdengar tepuk tangan meriah anak-anak disertai teriakan gembira Yuan, "Terima kasih, Mama! Ini hadiah ulang tahun terbaik yang pernah aku terima!"

Selama itu, para pelayan lain di dapur beberapa kali diam-diam memandang Dessy dengan tatapan iba.

Namun, dia sama sekali tidak peduli. Dia berpura-pura tidak mendengar apa pun dan tetap membantu menyiapkan makanan dengan tenang.

Namun pada detik berikutnya, suara jeritan dan tangisan tiba-tiba terdengar dari ruang tamu.

Sebelum Dessy sempat memahami apa yang terjadi, sosok kecil melesat masuk ke dapur seperti peluru dan menabraknya hingga hampir terjatuh.

Yuan tampak seperti singa kecil yang marah. Matanya merah sambil menatap Dessy penuh kemarahan.

"Kenapa kamu campurin jus mangga ke minuman Mama?!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Cinta Itu Habis   Bab 16

    Melihat tindakannya, Sean yang sejak tadi diam akhirnya tak tahan lagi. Dia menatap Dessy dengan wajah memelas."Dessy, kamu bohongi kami, 'kan? Kamu cuma nggak mau aku dan Yuan terus ganggu kamu, jadi sengaja melakukan ini, 'kan?"Sejak awal Sean sudah memperhatikan pria di samping Dessy, hanya saja dia terus berkata pada dirinya sendiri bahwa itu tidak mungkin. Dessy tidak mungkin bersama pria lain.Sampai sekarang, meski melihat mereka bergandengan tangan dengan matanya sendiri, dia tetap ingin menyangkal.Dia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa istrinya yang dia tunggu selama enam tahun ternyata sudah bersama pria lain.Dessy mengeluarkan akta nikah dari tasnya lalu menunjukkannya di depan mereka."Maaf, aku dan Jamie memang udah nikah. Aku nggak bohong."Melihat cap merah terang di atasnya, Sean akhirnya tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri.Dessy benar-benar sudah bersama pria lain, bahkan ... mereka sudah menikah."Dessy, tapi ... tapi kita belum bercerai. Akta nikah in

  • Ketika Cinta Itu Habis   Bab 15

    Jamie mengenali siapa ayah dan anak itu, lalu menatap Dessy di sampingnya dengan penuh kekhawatiran.Dia melangkah maju, berniat melindungi Dessy di belakang tubuhnya.Pada hari mereka resmi menjalin hubungan, Dessy sudah menceritakan pernikahan yang penuh luka itu kepadanya.Dia juga tahu seberapa besar luka yang ditinggalkan ayah dan anak itu bagi Dessy.Saat meninggalkan lembaga penelitian dan kembali ke Kota Jindara, dia sudah tahu hari seperti ini pasti akan datang, hanya saja dia tidak menyangka akan datang secepat ini.Dessy hanya menggeleng pelan padanya, memberi isyarat bahwa dia bisa menyelesaikan ini sendiri.Jamie percaya pada Dessy, jadi dia tidak memaksa lagi dan hanya mundur selangkah untuk tetap menjaga wanita itu dari belakang.Setelah enam tahun berlalu, saat kembali bertemu Sean dan Yuan, hati Dessy hanya dipenuhi ketenangan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Tatapannya kepada mereka tak berbeda dengan tatapan kepada orang asing."Kenapa kalian datang ke sini?

  • Ketika Cinta Itu Habis   Bab 14

    Enam tahun kemudian, Kota Jindara.Konferensi peluncuran obat baru di institut penelitian.Dessy sedang diwawancara sebagai penanggung jawab proyek.Dia berdiri di atas panggung. Tubuhnya tampak lebih kurus dibanding enam tahun lalu, tetapi sorot matanya begitu terang, membuat seluruh dirinya memancarkan semangat dan percaya diri.Dalam enam tahun terakhir, mereka berhasil mengembangkan obat baru yang mampu menekan sel kanker secara efektif. Itu berarti tingkat kesembuhan pasien kanker akan meningkat drastis.Dalam waktu singkat setengah jam, semua kerja keras dan pengorbanan selama enam tahun itu jelas tak mungkin bisa dijelaskan sepenuhnya.Begitu kata terakhirnya selesai diucapkan, tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan.Setelah konferensi berakhir, Dessy membungkuk dalam-dalam.Kemudian dia turun dari panggung, dan matanya langsung mencari sosok yang dikenalnya.Saat itu, tubuhnya mendadak terasa hangat.Dia menoleh dan baru sadar ternyata entah sejak kapan, Jamie sudah berdiri d

  • Ketika Cinta Itu Habis   Bab 13

    Mobil khusus itu perlahan meninggalkan pusat kota menuju bandara.Di bawah pengaturan staf, Dessy naik ke pesawat khusus.Setelah dua jam penerbangan, akhirnya mereka tiba di tujuan, Institut Riset Nasional.Setelah turun dari pesawat, dari kejauhan Dessy melihat seseorang berdiri menunggunya.Sosok itu terasa agak familier baginya.Setelah mendekat, barulah dia sadar bahwa pria itu adalah seniornya dulu, Jamie Yudira.Setelah tujuh tahun tidak bertemu, untuk sesaat Dessy tidak tahu harus berkata apa.Jamie seolah menyadari kecanggungannya, lalu berinisiatif mengambil koper darinya sambil membuka percakapan."Dessy, akhirnya kamu mutusin untuk datang ke Institut Riset."Sambil berjalan, Jamie memperkenalkan berbagai laboratorium di institut tersebut kepadanya.Mungkin karena dulu mereka pernah bekerja bersama di laboratorium yang sama selama beberapa tahun semasa kuliah, rasa canggung itu cepat menghilang dan tanpa sadar mereka sudah kembali akrab.Tidak terasa, mereka pun tiba di depa

  • Ketika Cinta Itu Habis   Bab 12

    Yanne tidak menyangka ayah dan anak itu tiba-tiba kembali. Wajahnya langsung pucat pasi ketakutan. Dia buru-buru menutup telepon, menyelipkan ponsel ke bawah bantal, lalu memaksakan senyum kaku seolah tidak terjadi apa-apa."Sean, Yuan, aku ….""Cukup!" Sean memotong ucapannya dengan suara keras. Saat ini dia sudah tidak berminat untuk mendengarkan kebohongannya lagi."Yanne, aku nggak pernah nyangka ternyata kamu wanita yang penuh tipu muslihat kayak gini!"Kata-kata Sean yang sambil menahan emosi itu langsung membuat semua pembelaan Yanne tertahan di tenggorokan.Dia segera memasang ekspresi memelas, mulai terisak dan menangis memohon kepada mereka."Sean, tadi memang aku asal bicara karena emosi. Tapi semua itu karena aku teringat kalau hari ini aku alergi gara-gara Dessy, makanya aku bilang begitu!"Sean tidak menyangka Yanne masih saja berkilah, bahkan mencoba melempar semua kesalahan kepada Dessy."Kamu masih berbohong juga!"Dia melempar tablet yang memutar rekaman kamera pengaw

  • Ketika Cinta Itu Habis   Bab 11

    Memikirkan kemungkinan itu, Sean merasa tenggorokannya seperti dicekik oleh sebuah tangan besar hingga sulit bernapas.Kalau Dessy benar-benar tidak hilang ingatan, maka ... bukankah semua yang dia dan Yuan lakukan selama tujuh hari ini benar-benar telah menghancurkan hati wanita itu?Melihat Sean yang tampak kehilangan arah seperti itu, sang pelayan hanya bisa menghela napas.Dia datang ke rumah itu tidak lama setelah Yuan lahir dan bertanggung jawab atas tiga kali makan Keluarga Jonanta setiap hari.Karena itu, bisa dibilang dia melihat Yuan tumbuh besar dan juga pernah menyaksikan kebahagiaan keluarga kecil mereka.Namun tujuh hari lalu, Sean tiba-tiba mengumpulkan semua pelayan dan mengumumkan bahwa selama tujuh hari, wanita lainlah yang menjadi nyonya rumah Keluarga Jonanta, sementara istri aslinya malah dijadikan pengurus rumah tangga.Di usianya yang sudah lebih dari lima puluh tahun, mana mungkin dia tak bisa melihat kelicikan di mata wanita itu dan kekecewaan di mata sang nyon

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status