Share

Bab 5

Penulis: Soda Pop
Saat langit perlahan mulai gelap, ketiganya akhirnya keluar dari taman hiburan.

Setelah bermain seharian, Yuan sudah berkeringat banyak sekali dan dia berlari lebih dulu masuk ke ruang tunggu.

Ketika melihat ada penjual es krim, matanya langsung berbinar. Dia menunjuk ke arah penjual itu sambil memerintah Dessy.

"Bibi Dessy, aku mau es krim. Cepat beliin."

Setelah berkata begitu, dia bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Sekarang 'kan kamu cuma pengasuh, bukan mamaku lagi. Jadi nggak bisa ngatur aku terus."

Saat Yuan lahir, proses persalinannya sangat sulit sehingga sejak kecil tubuh anak itu lebih lemah dibanding anak-anak lain. Dokter bahkan secara khusus berpesan agar kesehatannya dijaga baik-baik dan sebisa mungkin jangan sampai sakit.

Selama lima tahun merawatnya, bisa dibilang Dessy telah mencurahkan seluruh tenaga dan perhatiannya.

Setiap malam dia bangun empat kali untuk memastikan anak itu tidak menendang selimutnya. Dessy belajar memasak makanan bergizi sesuai resep nutrisi, serta rutin mengajak Yuan berolahraga ringan demi meningkatkan daya tahan tubuh.

Dan saat tubuhnya sangat berkeringat seperti sekarang, makan es krim sangat mudah membuat Yuan masuk angin dan jatuh sakit.

Kalau dulu, Dessy pasti akan menolak tegas sambil membujuk lembut dan memberinya segelas air hangat.

Namun kali ini, dia hanya memandang sekilas keringat di dahi anak itu kemudian menjawab dengan tenang, "Baiklah."

Yuan langsung membelalakkan mata tak percaya.

Apa hilang ingatan benar-benar bisa membuat seseorang berubah total seperti ini?

Dia sampai tak tahan untuk bertanya lagi, "Serius?"

Dessy membeli satu es krim lalu menyerahkannya pada Yuan. Tindakannya menjadi jawaban paling jelas.

"Mulai sekarang, apa pun yang kamu mau, aku nggak akan larang lagi."

Termasuk kalau kamu ingin Yanne menjadi ibumu.

Melihat es krim di tangan putranya, Sean yang baru mendekat, langsung mengernyit dan dengan refleks menatap Dessy.

"Kenapa kamu biarin dia makan es krim?"

Dessy menjawab datar, "Dia sendiri yang mau."

Sean tampak tidak puas dengan jawaban itu. Dia menatap wanita di depannya yang begitu tenang dengan sorot mata dalam.

Dia ingat betul, dulu Dessy tidak pernah mengizinkan putra mereka makan es krim saat tubuhnya masih penuh keringat.

Meskipun kehilangan ingatan … anak itu tetap anak yang dikandungnya selama sembilan bulan. Apa mungkin naluri seorang ibu pun hilang sepenuhnya?

Melihat suasana itu, mata Yanne bergerak sedikit. Dia mengusap keringat di dahi Yuan lalu berkata lembut, "Sean, ayo kita pulang aja. Yuan juga pasti udah capek setelah main seharian."

Yuan pun ikut merengek ingin segera pulang.

Mungkin karena terlalu lelah, begitu naik mobil Yuan langsung tertidur dalam pelukan Yanne.

Dessy memandang pantulan "ibu dan anak" yang saling berpelukan itu melalui kaca spion, lalu tersenyum tipis sebelum mengalihkan pandangan ke luar jendela.

Tiba-tiba, sebuah truk besar yang hilang kendali melaju kencang ke arah mereka!

Sopir spontan memutar setir dengan keras untuk menghindar.

Brak!

Mobil menghantam tiang listrik di pinggir jalan dengan keras hingga bagian depannya ringsek parah.

"Mama, Mama nggak apa-apa?!"

Dessy yang duduk di kursi penumpang depan terkena hantaman airbag. Kepalanya terasa pening dan kacau. Mendengar teriakan panik Yuan, dia langsung berusaha mencari sosok anak itu.

Namun ketika dengan susah payah dia menoleh ke belakang, yang dilihatnya justru Yuan sedang menggenggam tangan Yanne sambil menatap cemas luka gores akibat pecahan kaca di telapak tangan wanita itu.

Yuan panik sampai terus menarik lengan baju Sean.

"Papa, tangan Mama terluka dan berdarah! Kita harus cepat bawa Mama ke rumah sakit!"

Yanne sendiri tampak ketakutan hingga seluruh tubuhnya gemetar dan matanya memerah.

Sean menatap Dessy yang masih duduk di depan. Sedikit keraguan melintas di matanya.

"Tapi .… "

"Bibi Dessy 'kan dilindungi airbag, dia pasti nggak akan apa-apa!" Sebelum Sean selesai bicara, Yuan sudah buru-buru memotong sambil menarik ayahnya dan Yanne turun dari mobil. "Tangan Mama masih harus dipakai main piano. Luka sedikit aja pun nggak boleh!"

"Sean, tanganku …."

Suara tercekat Yanne akhirnya membuat Sean mengambil keputusan.

"Dessy, kamu tunggu tim penyelamat datang."

Setelah mengatakan itu, dia langsung membawa Yanne dan Yuan menghentikan taksi lalu pergi begitu saja.

Dessy terjebak di kursi depan dan sama sekali tidak bisa bergerak. Dia hanya bisa menatap punggung tiga orang itu yang makin menjauh.

Ayah dan anak itu melindungi Yanne di tengah-tengah mereka, tanpa sekali pun menoleh kembali padanya.

Padahal saat kecelakaan terjadi, dia rela mempertaruhkan nyawa demi mendorong Yuan menjauh.

Namun sekarang, keduanya bahkan tidak mau menariknya keluar dari mobil.

Dessy tersenyum getir.

Harapan terakhirnya terhadap ayah dan anak itu pun akhirnya musnah sepenuhnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Cinta Itu Habis   Bab 16

    Melihat tindakannya, Sean yang sejak tadi diam akhirnya tak tahan lagi. Dia menatap Dessy dengan wajah memelas."Dessy, kamu bohongi kami, 'kan? Kamu cuma nggak mau aku dan Yuan terus ganggu kamu, jadi sengaja melakukan ini, 'kan?"Sejak awal Sean sudah memperhatikan pria di samping Dessy, hanya saja dia terus berkata pada dirinya sendiri bahwa itu tidak mungkin. Dessy tidak mungkin bersama pria lain.Sampai sekarang, meski melihat mereka bergandengan tangan dengan matanya sendiri, dia tetap ingin menyangkal.Dia tidak sanggup menerima kenyataan bahwa istrinya yang dia tunggu selama enam tahun ternyata sudah bersama pria lain.Dessy mengeluarkan akta nikah dari tasnya lalu menunjukkannya di depan mereka."Maaf, aku dan Jamie memang udah nikah. Aku nggak bohong."Melihat cap merah terang di atasnya, Sean akhirnya tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri.Dessy benar-benar sudah bersama pria lain, bahkan ... mereka sudah menikah."Dessy, tapi ... tapi kita belum bercerai. Akta nikah in

  • Ketika Cinta Itu Habis   Bab 15

    Jamie mengenali siapa ayah dan anak itu, lalu menatap Dessy di sampingnya dengan penuh kekhawatiran.Dia melangkah maju, berniat melindungi Dessy di belakang tubuhnya.Pada hari mereka resmi menjalin hubungan, Dessy sudah menceritakan pernikahan yang penuh luka itu kepadanya.Dia juga tahu seberapa besar luka yang ditinggalkan ayah dan anak itu bagi Dessy.Saat meninggalkan lembaga penelitian dan kembali ke Kota Jindara, dia sudah tahu hari seperti ini pasti akan datang, hanya saja dia tidak menyangka akan datang secepat ini.Dessy hanya menggeleng pelan padanya, memberi isyarat bahwa dia bisa menyelesaikan ini sendiri.Jamie percaya pada Dessy, jadi dia tidak memaksa lagi dan hanya mundur selangkah untuk tetap menjaga wanita itu dari belakang.Setelah enam tahun berlalu, saat kembali bertemu Sean dan Yuan, hati Dessy hanya dipenuhi ketenangan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Tatapannya kepada mereka tak berbeda dengan tatapan kepada orang asing."Kenapa kalian datang ke sini?

  • Ketika Cinta Itu Habis   Bab 14

    Enam tahun kemudian, Kota Jindara.Konferensi peluncuran obat baru di institut penelitian.Dessy sedang diwawancara sebagai penanggung jawab proyek.Dia berdiri di atas panggung. Tubuhnya tampak lebih kurus dibanding enam tahun lalu, tetapi sorot matanya begitu terang, membuat seluruh dirinya memancarkan semangat dan percaya diri.Dalam enam tahun terakhir, mereka berhasil mengembangkan obat baru yang mampu menekan sel kanker secara efektif. Itu berarti tingkat kesembuhan pasien kanker akan meningkat drastis.Dalam waktu singkat setengah jam, semua kerja keras dan pengorbanan selama enam tahun itu jelas tak mungkin bisa dijelaskan sepenuhnya.Begitu kata terakhirnya selesai diucapkan, tepuk tangan bergemuruh memenuhi ruangan.Setelah konferensi berakhir, Dessy membungkuk dalam-dalam.Kemudian dia turun dari panggung, dan matanya langsung mencari sosok yang dikenalnya.Saat itu, tubuhnya mendadak terasa hangat.Dia menoleh dan baru sadar ternyata entah sejak kapan, Jamie sudah berdiri d

  • Ketika Cinta Itu Habis   Bab 13

    Mobil khusus itu perlahan meninggalkan pusat kota menuju bandara.Di bawah pengaturan staf, Dessy naik ke pesawat khusus.Setelah dua jam penerbangan, akhirnya mereka tiba di tujuan, Institut Riset Nasional.Setelah turun dari pesawat, dari kejauhan Dessy melihat seseorang berdiri menunggunya.Sosok itu terasa agak familier baginya.Setelah mendekat, barulah dia sadar bahwa pria itu adalah seniornya dulu, Jamie Yudira.Setelah tujuh tahun tidak bertemu, untuk sesaat Dessy tidak tahu harus berkata apa.Jamie seolah menyadari kecanggungannya, lalu berinisiatif mengambil koper darinya sambil membuka percakapan."Dessy, akhirnya kamu mutusin untuk datang ke Institut Riset."Sambil berjalan, Jamie memperkenalkan berbagai laboratorium di institut tersebut kepadanya.Mungkin karena dulu mereka pernah bekerja bersama di laboratorium yang sama selama beberapa tahun semasa kuliah, rasa canggung itu cepat menghilang dan tanpa sadar mereka sudah kembali akrab.Tidak terasa, mereka pun tiba di depa

  • Ketika Cinta Itu Habis   Bab 12

    Yanne tidak menyangka ayah dan anak itu tiba-tiba kembali. Wajahnya langsung pucat pasi ketakutan. Dia buru-buru menutup telepon, menyelipkan ponsel ke bawah bantal, lalu memaksakan senyum kaku seolah tidak terjadi apa-apa."Sean, Yuan, aku ….""Cukup!" Sean memotong ucapannya dengan suara keras. Saat ini dia sudah tidak berminat untuk mendengarkan kebohongannya lagi."Yanne, aku nggak pernah nyangka ternyata kamu wanita yang penuh tipu muslihat kayak gini!"Kata-kata Sean yang sambil menahan emosi itu langsung membuat semua pembelaan Yanne tertahan di tenggorokan.Dia segera memasang ekspresi memelas, mulai terisak dan menangis memohon kepada mereka."Sean, tadi memang aku asal bicara karena emosi. Tapi semua itu karena aku teringat kalau hari ini aku alergi gara-gara Dessy, makanya aku bilang begitu!"Sean tidak menyangka Yanne masih saja berkilah, bahkan mencoba melempar semua kesalahan kepada Dessy."Kamu masih berbohong juga!"Dia melempar tablet yang memutar rekaman kamera pengaw

  • Ketika Cinta Itu Habis   Bab 11

    Memikirkan kemungkinan itu, Sean merasa tenggorokannya seperti dicekik oleh sebuah tangan besar hingga sulit bernapas.Kalau Dessy benar-benar tidak hilang ingatan, maka ... bukankah semua yang dia dan Yuan lakukan selama tujuh hari ini benar-benar telah menghancurkan hati wanita itu?Melihat Sean yang tampak kehilangan arah seperti itu, sang pelayan hanya bisa menghela napas.Dia datang ke rumah itu tidak lama setelah Yuan lahir dan bertanggung jawab atas tiga kali makan Keluarga Jonanta setiap hari.Karena itu, bisa dibilang dia melihat Yuan tumbuh besar dan juga pernah menyaksikan kebahagiaan keluarga kecil mereka.Namun tujuh hari lalu, Sean tiba-tiba mengumpulkan semua pelayan dan mengumumkan bahwa selama tujuh hari, wanita lainlah yang menjadi nyonya rumah Keluarga Jonanta, sementara istri aslinya malah dijadikan pengurus rumah tangga.Di usianya yang sudah lebih dari lima puluh tahun, mana mungkin dia tak bisa melihat kelicikan di mata wanita itu dan kekecewaan di mata sang nyon

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status