MasukSehari sebelum ujian masuk perguruan tinggi, aku sengaja merekam sebuah video. Isinya adalah percakapan antara diriku sepuluh tahun lalu dengan diriku sepuluh tahun kemudian. Siapa sangka… Video itu benar-benar terhubung dengan diriku di masa depan. “Apa aku berhasil masuk program sarjana-magister terpadu di Universitas Kahyangan?” “Adam Lewis masih jadi sahabat terbaikku, ‘kan? Meski sifatnya menyebalkan, selain aku, memangnya ada orang lain yang mau memperlakukannya setulus ini?” “Kalau semuanya berjalan lancar, sekarang aku pasti sudah lulus S2.” “Aku juga pasti sudah menjalani kisah cinta dari bangku kuliah sampai ke pelaminan bersama Mika Damyong, ‘kan?” “Mungkin saja… kami bahkan sudah punya anak yang lucu.” “Aku sudah menyiapkan namanya sejak lama.” Aku membayangkan masa depan dengan penuh semangat. Namun, saat diriku sepuluh tahun kemudian mendengar nama Mika, emosiku langsung meledak. “Mika sengaja menyiapkan pena bertinta menghilang untukmu supaya Adam jadi juara umum tingkat kota!” “Kamu gagal masuk Universitas Kahyangan dan terpaksa mengulang ujian setahun kemudian!” “Di depanmu, Mika berpura-pura sedih.” “Dia bahkan setuju menjalani hubungan jarak jauh denganmu.” “Tapi begitu di kampus, dia justru terang-terangan berpacaran dengan Adam” “Mereka menjadi pasangan serasi yang membuat semua orang iri.” “Rafael Mananta…” “Kamu benar-benar bodoh!” “Kamu sudah diselingkuhi…” “Masih saja berterima kasih sama Adam karena sudah menjaga pacarmu!”
Lihat lebih banyakUntungnya, Mika berhasil diselamatkan.Sayangnya, pada tahun itu nilai ambang penerimaan Universitas Kahyangan tiba-tiba meningkat.Pada akhirnya, dia tetap gagal diterima karena selisih dua poin.Mika pun melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas ternama di wilayah selatan.…Tahun ketiga kuliah, aku pulang ke rumah bersama pacarku.Saat itu, Mika sedang bersiap pindah rumah.Tatapannya jatuh pada tangan kami yang saling menggenggam.Dia terdiam beberapa saat.Lalu bertanya dengan tenang.“Pacarmu, Rafael?”Aku mengangguk.Tak ada keinginan sedikit pun untuk berbincang lebih lama dengannya.Saat aku mengajak Lisa melihat dinding kamarku yang dipenuhi foto-foto masa kecil, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sebuah keranjang gantung kecil yang tergantung di luar jendela.“Oh… jadi kamu bisa berkomunikasi pakai ini sama tetangga atasmu? Menarik juga.”Aku membuka jendela.Barulah kusadari, di dalam keranjang itu terdapat tujuh belas lembar foto.Semua foto dicetak rangkap dua.Nam
Aku bertemu Mika lagi saat liburan musim panas setelah tahun pertama kuliahku.Hari itu, aku sedang mengangkat semangka dan menaiki tangga menuju apartemen.Kebetulan, dia turun untuk membuang sampah.Mungkin karena setahun menjalani kehidupan sebagai siswa yang mengulang ujian benar-benar menguras tenaga dan pikirannya, wajahnya tampak jauh lebih kuyu dibandingkan sebelumnya.Namun, sorot matanya justru terlihat begitu hidup.“Raf…”Aku langsung mengernyit dan memotong ucapannya.“Jangan sok akrab memanggilku begitu. Nanti orang-orang bisa salah paham.”Dia menggigit bibirnya, lalu segera mengoreksi sapaannya.“Rafael.”“Mentorku bilang kemungkinan besar aku akan diterima di Universitas Kahyangan. Di hari pertama kuliah nanti... kamu bisa jemput aku di gerbang kampus?”“Di sana, cuma kamu satu-satunya orang yang kukenal.”“Selain itu... aku juga mau foto bersamamu untuk terakhir kalinya.”Aku terdiam sejenak.Sejak kecil kami tinggal bertetangga.Hubungan kami juga selalu akrab.Karen
“Rafael… teman SMA-mu datang mencarimu.”Universitas Kahyangan adalah kampus yang paling akhir memulai perkuliahan.Selain beberapa siswa yang memilih mengulang ujian masuk perguruan tinggi, hampir semua teman sekelasku sudah berangkat ke kampus masing-masing.Siapa lagi yang datang mencariku di saat seperti ini?Dengan heran, aku membuka pintu.Begitu pintu terbuka, pandanganku langsung bertemu dengan Adam.Dia meraih lengan bajuku, lalu berlutut di hadapanku.“Raf… kumohon, bantu aku!”“Aku sudah gagal di ujian masuk perguruan tinggi. Ayah sama ibuku sudah nggak mau kasih biaya untuk mengulang ujian tahun depan.”“Aku mohon, pinjami aku sedikit uang. Kamu tahu kemampuanku sebenarnya, ‘kan?”“Kalau aku diberi kesempatan ikut ujian sekali lagi, aku pasti bisa masuk universitas!”Rupanya…Dia masih belum tahu kalau pena yang digunakannya adalah pena bertinta menghilang.Dia masih mengira kegagalannya murni karena hasil ujiannya yang buruk.Aku mundur beberapa langkah.Wajahku tetap data
Mendengar keributan itu, ayah dan ibu segera menghampiriku.Mereka langsung mengajakku pergi sambil melindungiku.“Ma… mulai sekarang kita nggak usah berhubungan lagi sama keluarga Mika.”“Kita sudah tulus memperlakukan orang dengan baik. Siapa sangka suatu hari mereka justru akan berbalik menggigit kita.”“Terus satu lagi… mantan sahabatku, Adam. Kalau nanti Mama lihat dia datang ke rumah, usir saja pakai sapu.”Ibu tahu aku sedang berselisih dengan mereka.…Undangan pesta syukuran masuk universitas dibagikan ke mana-mana.Bahkan sekuriti di gerbang kompleks pun kami undang.Hanya Mika dan Adam yang tidak.Semua temanku yang datang juga tahu mereka berdua hanya memperoleh nilai dua ratus sekian pada ujian masuk perguruan tinggi.Mereka cukup tahu diri untuk tak menyebut nama keduanya di hadapanku.Namun, setelah pesta syukuran usai dan semua tamu sudah kuantar pulang...Mika, yang seharusnya sedang mengikuti kelas persiapan ujian, tiba-tiba datang.Di pelukannya tergenggam setangkai






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.