LOGINUntungnya, Mika berhasil diselamatkan.Sayangnya, pada tahun itu nilai ambang penerimaan Universitas Kahyangan tiba-tiba meningkat.Pada akhirnya, dia tetap gagal diterima karena selisih dua poin.Mika pun melanjutkan kuliahnya di salah satu universitas ternama di wilayah selatan.…Tahun ketiga kuliah, aku pulang ke rumah bersama pacarku.Saat itu, Mika sedang bersiap pindah rumah.Tatapannya jatuh pada tangan kami yang saling menggenggam.Dia terdiam beberapa saat.Lalu bertanya dengan tenang.“Pacarmu, Rafael?”Aku mengangguk.Tak ada keinginan sedikit pun untuk berbincang lebih lama dengannya.Saat aku mengajak Lisa melihat dinding kamarku yang dipenuhi foto-foto masa kecil, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sebuah keranjang gantung kecil yang tergantung di luar jendela.“Oh… jadi kamu bisa berkomunikasi pakai ini sama tetangga atasmu? Menarik juga.”Aku membuka jendela.Barulah kusadari, di dalam keranjang itu terdapat tujuh belas lembar foto.Semua foto dicetak rangkap dua.Nam
Aku bertemu Mika lagi saat liburan musim panas setelah tahun pertama kuliahku.Hari itu, aku sedang mengangkat semangka dan menaiki tangga menuju apartemen.Kebetulan, dia turun untuk membuang sampah.Mungkin karena setahun menjalani kehidupan sebagai siswa yang mengulang ujian benar-benar menguras tenaga dan pikirannya, wajahnya tampak jauh lebih kuyu dibandingkan sebelumnya.Namun, sorot matanya justru terlihat begitu hidup.“Raf…”Aku langsung mengernyit dan memotong ucapannya.“Jangan sok akrab memanggilku begitu. Nanti orang-orang bisa salah paham.”Dia menggigit bibirnya, lalu segera mengoreksi sapaannya.“Rafael.”“Mentorku bilang kemungkinan besar aku akan diterima di Universitas Kahyangan. Di hari pertama kuliah nanti... kamu bisa jemput aku di gerbang kampus?”“Di sana, cuma kamu satu-satunya orang yang kukenal.”“Selain itu... aku juga mau foto bersamamu untuk terakhir kalinya.”Aku terdiam sejenak.Sejak kecil kami tinggal bertetangga.Hubungan kami juga selalu akrab.Karen
“Rafael… teman SMA-mu datang mencarimu.”Universitas Kahyangan adalah kampus yang paling akhir memulai perkuliahan.Selain beberapa siswa yang memilih mengulang ujian masuk perguruan tinggi, hampir semua teman sekelasku sudah berangkat ke kampus masing-masing.Siapa lagi yang datang mencariku di saat seperti ini?Dengan heran, aku membuka pintu.Begitu pintu terbuka, pandanganku langsung bertemu dengan Adam.Dia meraih lengan bajuku, lalu berlutut di hadapanku.“Raf… kumohon, bantu aku!”“Aku sudah gagal di ujian masuk perguruan tinggi. Ayah sama ibuku sudah nggak mau kasih biaya untuk mengulang ujian tahun depan.”“Aku mohon, pinjami aku sedikit uang. Kamu tahu kemampuanku sebenarnya, ‘kan?”“Kalau aku diberi kesempatan ikut ujian sekali lagi, aku pasti bisa masuk universitas!”Rupanya…Dia masih belum tahu kalau pena yang digunakannya adalah pena bertinta menghilang.Dia masih mengira kegagalannya murni karena hasil ujiannya yang buruk.Aku mundur beberapa langkah.Wajahku tetap data
Mendengar keributan itu, ayah dan ibu segera menghampiriku.Mereka langsung mengajakku pergi sambil melindungiku.“Ma… mulai sekarang kita nggak usah berhubungan lagi sama keluarga Mika.”“Kita sudah tulus memperlakukan orang dengan baik. Siapa sangka suatu hari mereka justru akan berbalik menggigit kita.”“Terus satu lagi… mantan sahabatku, Adam. Kalau nanti Mama lihat dia datang ke rumah, usir saja pakai sapu.”Ibu tahu aku sedang berselisih dengan mereka.…Undangan pesta syukuran masuk universitas dibagikan ke mana-mana.Bahkan sekuriti di gerbang kompleks pun kami undang.Hanya Mika dan Adam yang tidak.Semua temanku yang datang juga tahu mereka berdua hanya memperoleh nilai dua ratus sekian pada ujian masuk perguruan tinggi.Mereka cukup tahu diri untuk tak menyebut nama keduanya di hadapanku.Namun, setelah pesta syukuran usai dan semua tamu sudah kuantar pulang...Mika, yang seharusnya sedang mengikuti kelas persiapan ujian, tiba-tiba datang.Di pelukannya tergenggam setangkai
Kabarnya, Mika sudah mendatangi panitia di pusat ujian untuk mengajukan pemeriksaan ulang hasil ujiannya.Nilainya dipastikan tak bermasalah, dan lembar jawabannya juga tak pernah tertukar.Pada akhirnya, Mika memutuskan mengulang ujian tahun depan.Dia bahkan tak mengisi formulir pilihan universitas.Sebenarnya, aku ingin menyapa Om Juna dan Tante Mona.Namun aku khawatir mereka akan mengira aku sengaja datang untuk pamer.Karena itu, aku hanya mempercepat langkahku dengan canggung.Saat melewati Mika, tiba-tiba dia meraih pergelangan tanganku.“Raf… aku mau bicara.”Karena kedua orang tua kami ada di sana, aku tak ingin mempermalukannya.Mika menarikku ke bawah pohon beringin di area kompleks apartemen.Ayah dan ibu berdiri tak jauh dari sana sambil melambaikan tangan.“Rafel, kami tunggu di sini, ya.”Mika menatapku dengan sorot mata yang rumit.“Adam juga cuma dapat nilai dua ratus sekian di ujian masuk perguruan tinggi.”“Oh ya? Berarti nilai kalian berdua cukup serasi.”“Kalian b
“Apa?”Mika mundur beberapa langkah, dia pun terkejut.“Nggak mungkin!”Aku terkekeh sinis.“Loh, kok nggak mungkin? Coba jelasin. Nggak mungkinnya di mana?”Sejak hari pertama masuk SMA, aku selalu mempertahankan peringkat pertama antar sekolah.Bahkan para guru pernah berkata, selama performaku di ujian masuk perguruan tinggi tetap stabil, aku pasti bisa diterima di Universitas Kahyangan.“Atau... kamu kecewa karena Adam gagal jadi juara satu tingkat kota?”Wajah Mika seketika memucat.Dia buru-buru menggeleng.“Bukan itu maksudku, Raf.”“Aku nggak peduli apa maksudmu. Cepat minggir! Kamu menghalangi jalanku. Aku mau buang sampah.”Aku menepis tangannya lalu berbalik menuruni tangga.Mungkin karena terlalu ingin segera pulang untuk mengecek hasil ujian masuk perguruan tinggi, Mika tak lagi mengejarku ataupun mencoba menggangguku.Malam harinya, grup kelas mulai ramai.[Rafael, aku lihat kamu masuk berita!][Selamat, ya! Juara satu tingkat kota!][Nanti aku bisa bilang kalau dulu pern






