로그인Sudut Pandang Felicia:"Kamu memanggilku?" tanyaku begitu sampai di hadapan Dante. Dia hanya melirikku sekilas sebelum menjawab."Sepertinya kamu nggak terlalu menikmati waktumu di sini. Aku akan menyuruh mereka mengantarmu kembali," jawabnya.Aku tak kuasa merasa lega. Itu jelas lebih baik. Aku memang sedang tidak ingin pergi ke mana-mana. Aku lebih memilih tetap di dalam sambil menunggu hasil tes DNA.Hari-hari berlalu dengan cepat. Aku mulai terbiasa dengan lingkungan baruku. Setelah Dante membawaku ke mal, aku tidak pernah melihatnya lagi. Dia sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya, bahkan tidak kembali ke istana ini.Ya, aku menolak menyebut tempat ini sebagai rumah, apalagi vila. Tempat ini begitu luas sampai-sampai mungkin butuh waktu lama untuk menjelajahi seluruh bagiannya.Ukurannya hampir tiga kali lebih besar daripada vila Keluarga Baskoro. Aku merasa nyaman tinggal di sini karena semua orang memperlakukanku dengan sangat hormat.Meski begitu, orang-orang yang berad
Sudut Pandang Felicia:"Mama, jangan bersikap nggak adil kepada Felicia. Dia punya alasan sendiri untuk pergi. Biarkan dia sendiri untuk sekarang. Lagi pula, keadaan hanya akan semakin rumit kalau kita memaksanya kembali ke vila," kata Trinity.Dari wajahnya, aku bisa melihat bahwa dia menentang keinginan Mama. Entah kenapa, hal itu sedikit melegakanku. Kalau semuanya terserah padaku, aku tidak ingin kembali kepada mereka.Aku tidak sanggup. Aku takut hanya akan semakin terjerumus ke dalam dosa. Aku sangat takut kalau bertemu Orson lagi, aku tidak akan mampu menahan diri dan akhirnya justru menjadi orang yang menghancurkan pernikahan Orson dan Marceline.Setidaknya aku masih memiliki sedikit harga diri. Setidaknya, aku masih bisa mempertahankannya."Maaf, Mama. Tapi aku nggak bisa kembali," kataku pelan kepada Mama sambil menunduk. Aku tidak pernah menyangka kami akan berakhir dalam situasi seperti ini."Orson mencarimu. Sebentar saja," jawabnya.Aku perlahan mengangkat kepala dan mena
Sudut Pandang Felicia:"Kamu pergi tanpa membawa apa pun. Bahkan ponselmu juga kamu tinggalkan. Sekarang kamu tinggal di mana? Kamu pergi bersama siapa semalam?" tanya Trinity dengan serius.Aku menghapus air mata di pipiku."Jangan khawatirkan aku. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Tolong beri tahu semuanya, aku minta maaf. Terutama Mama," jawabku sambil menggeleng dan menatapnya.Dia membuka tasnya, lalu mengeluarkan sesuatu."Ini ponselmu. Uang yang selama ini kukumpulkan, sekarang semuanya untukmu. Kamu lebih butuh ini daripada aku," katanya dengan lembut sambil menyerahkan ponsel dan sebuah amplop kepadaku.Aku mengambil ponsel itu, tetapi mendorong kembali amplop itu ke arahnya."Terima kasih, Trinity. Simpan saja uang itu untukmu. Kamu nggak perlu melakukan ini. Aku sudah senang kita bisa bertemu hari ini. Aku hanya berharap Mama dan Papa bisa memaafkanku atas apa yang telah kulakukan," jawabku."Kamu benar-benar sudah bulat dengan keputusan ini? Kamu nggak mau kembali ke vila? S
Sudut Pandang Felicia:Meskipun aku merasa canggung berhadapan langsung dengan Trinity, aku tidak punya pilihan selain menghadapinya dengan baik. Aku berutang begitu banyak kepada orang tuanya, jadi setidaknya sekarang aku harus berbicara dengannya secara terbuka."Kamu pergi sama siapa? Kamu tahu Orson berusaha mengejarmu tadi malam? Kamu tahu Marcie dipermalukan gara-gara ulahmu?" kata Trinity.Aku bisa melihat kekecewaan terpancar jelas dari wajahnya. Perkataannya membuatku merasa sangat bersalah."Maaf. Aku benar-benar minta maaf," jawabku karena aku tidak tahu harus berkata apa lagi.Trinity menatapku lekat-lekat sebelum kembali berbicara."Kamu nggak perlu menyembunyikan alasanmu lagi, alasan kenapa kamu tiba-tiba kabur dari rumah. Aku tahu apa yang terjadi antara kamu dan Orson," katanya.Aku terkejut, lalu menatapnya dengan gugup. Dia tahu tentang itu? Bagaimana mungkin? Sesakit apa pun itu, aku sudah berusaha keras menyembunyikan semuanya dari mereka. Aku berusaha sebisa mungk
"Mal ini milik Keluarga Sandiaga. Aku membawamu ke sini supaya kamu nggak bosan di rumah," jawab Dante sambil mulai berjalan masuk. Aku segera mengikutinya dari belakang."Aku lagi nggak ingin jalan-jalan. Kamu juga tahu aku kabur dari rumah. Mal ini adalah tempat yang selalu didatangi Keluarga Baskoro. Mereka mungkin ada di sini dan bisa saja melihatku," jawabku.Dia berhenti berjalan, lalu berbalik menghadapku."Memangnya kenapa? Kamu sudah cukup dewasa untuk menentukan sendiri apa yang ingin kamu lakukan, 'kan?" jawabnya sebelum merogoh saku jasnya. Dia menyerahkan sesuatu kepadaku. Aku menatapnya dengan bingung."Gunakan ini. Kata sandinya adalah tanggal ulang tahunmu. Kamu bisa beli apa saja yang kamu mau dengan kartu ini. Aku harus urus sesuatu di kantor, tapi aku akan segera kembali," katanya sebelum berbalik dan pergi. Para pengawalnya langsung mengikuti dari belakang.Pria itu benar-benar aneh. Dia memberiku kartu begitu saja, lalu pergi. Aku harus pergi ke mana? Aku sebenarny
Sudut Pandang Felicia:Aku tidak bisa menahan rasa cemas memikirkan ke mana Dante membawaku hari itu. Dia hanya mengatakan bahwa kami akan pergi ke suatu tempat, tetapi tidak memberitahuku ke mana."Aku boleh tanya sesuatu?" Aku memecah keheningan di antara kami. Dia melirikku sebelum mengangguk."Kenapa kamu begitu baik kepadaku? Maksudku, kamu 'kan orang yang dulu membeli Trinity. Cerita yang kudengar tentang apa yang kamu lakukan kepadanya benar-benar berbeda dengan caramu memperlakukanku sekarang.""Dulu, kamu hampir membuatnya terbunuh. Sekarang, kamu malah merawatku. Kenapa? Kami sama-sama perempuan, 'kan? Mereka bilang kamu menyukai perempuan," tanyaku dengan berani.Aku melihat keningnya berkerut. Seketika, aku langsung merasa gugup. Dia mungkin akan marah dan tiba-tiba mengusirku dari mobil. Namun, aku berusaha untuk tidak menunjukkannya. Aku tidak ingin dia tahu bahwa aku takut padanya.Aku mendengar dia mengembuskan napas panjang sebelum menjawab, "Karena kamu berbeda dariny







