เข้าสู่ระบบSudut Pandang Betty:Aku segera menutupi seluruh tubuhku dengan selimut tebal karena menyadari bahwa Joseph tidak jadi pergi, melainkan berjalan kembali ke arahku."A ... apa yang kamu lakukan? Bukannya tadi kamu mau pergi?" tanyaku dengan nada kesal untuk menutupi rasa maluku.Dia pasti menyadari bahwa aku tadi memandangi tubuhnya. Mungkin dia salah paham dan itulah sebabnya dia tidak jadi pergi.Aku terus memperhatikannya saat dia berjalan kembali ke arahku. Aku terkejut ketika dia duduk di sampingku dan mengulurkan tangan."Berikan tanganmu," perintahnya.Aku berpura-pura tidak mendengarnya dan mengubah posisi dudukku."Betty, kubilang berikan tanganmu. Bangunlah. Bukannya tadi sudah kubilang jangan tidur? Aku akan menyuruh orang menyiapkan makanan untukmu," katanya dengan kesal.Aku ingin mengabaikannya. Kalau bisa, aku sama sekali tidak ingin menyentuh tangannya. Tangannya kotor karena sudah menyentuh Margaret.Aku benar-benar tak mengerti sifatnya. Sikapnya terhadapku berubah beg
Sudut Pandang Betty:"Aku masih kenyang. Nanti kalau sudah lapar, aku akan turun," jawabku sambil tersenyum.Jovi sempat tertegun sebelum menggeleng."Saya ingat Nyonya belum makan apa-apa siang tadi. Apa Nyonya ingin saya bawakan makanan ke sini agar Nyonya bisa makan? Nyonya bisa jatuh sakit kalau nggak makan," katanya dengan lembut.Aku memaksakan senyum meski hatiku terasa hancur. Aku ingin lari dari situasi ini, tetapi aku tidak tahu bagaimana caranya."Aku nggak apa-apa. Aku cuma perlu menyelesaikan sesuatu, setelah itu aku akan turun untuk makan," jawabku.Aku segera berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.Jovi masih mengatakan sesuatu, tetapi aku mengabaikannya. Aku sudah masuk ke kamar mandi dan meratapi nasibku di sana selama hampir satu jam.Aku baru keluar ketika mulai mengantuk. Kemudian, aku berbaring di kasur untuk tidur. Seandainya aku bisa tidur selamanya, aku pasti akan melakukannya. Aku benar-benar ingin melarikan diri dari rasa sakit yang kurasakan di dalam hati..
Sudut Pandang Betty:"Apa katamu? Perjanjian sialan? Jadi, sekarang kamu menganggap perjanjian yang kamu buat sendiri sebagai beban?" tanyaku sambil menangis tersedu-sedu.Joseph tertegun, lalu menoleh ke arah wanita di belakangnya."Masuklah ke kamar dulu. Aku akan menyusul setelah selesai bicara dengannya," katanya lembut kepada Margaret.Air mataku terus mengalir tanpa henti.Aku tak pernah menyangka akan jatuh hati kepadanya. Bahkan, aku sendiri tidak menyadari bahwa aku sudah telanjur mencintainya."Oke, Sayang. Jangan lama-lama ya. Aku mau mandi sambil menunggumu," kata Margaret sambil tersenyum. Dia bahkan mengedipkan mata kepada Joseph.Aku menahan diri agar tidak menerjang wanita itu dan menginjak wajahnya di lantai.Namun, kalau sampai kulakukan, berarti aku benar-benar seorang wanita yang tidak tahu malu. Toh aku tidak punya hak untuk bertindak seperti itu. Seperti yang dikatakan Joseph, aku berada di rumahnya hanya karena perjanjian kami."Masuk. Kita perlu bicara," ujar Jo
Hari-hari berlalu dengan cepat dan setidaknya kondisiku sudah membaik. Bagian intimku tidak lagi terasa sakit ketika buang air, jadi aku tahu bahwa aku sudah pulih. Padahal, aku sempat mengira pemulihannya akan memakan waktu lebih lama karena Matilda mengatakan butuh dua bulan.Aku perlahan turun dari ranjang dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Sejak malam itu bersama Joseph, dia tidak pernah lagi masuk ke kamarku. Seorang asisten rumah tangga bernama Jovi selalu mengantarkan makanan ketika aku kesulitan turun dari ranjang.Aku tidak tahu apa yang sedang dilakukan Joseph belakangan ini. Kami sudah hampir dua minggu tidak bertemu. Setiap kali aku bangun pada pagi hari, dia sudah meninggalkan rumah.Jovi selalu mengatakan bahwa Joseph pergi bekerja dan sangat sibuk selama beberapa hari terakhir. Bahkan, terkadang dia sama sekali tidak pulang.Aku tahu bahwa aku sangat merindukannya. Joseph bukan hanya telah memiliki tubuhku, tetapi juga hatiku.Namun, aku menyadari bahwa setelah mal
"Serius? Dua bulan? Kamu bercanda? Sekarang kamu malah melarangku, padahal aku sudah memutuskan untuk setia pada satu wanita?" protes Joseph kepada dokter yang dipanggilnya untuk memeriksaku.Dokter itu adalah Dokter Matilda yang cantik dan usianya kurang lebih sebaya dengan Joseph. Dia cantik, seksi, dan terlihat kaya. Namun, kalau keluarganya tidak berada, mana mungkin dia bisa menjadi dokter, bukan?Aku hanya membiarkan dia dan Joseph berbicara. Aku merasa malu karena dokter itu benar-benar memeriksa vaginaku untuk memastikan kondisinya. Ternyata vaginaku membengkak dan terluka, sehingga dia melarang Joseph menyentuhku selama dua bulan.Namun, sepertinya Joseph tidak bisa menerima larangan itu."Kamu nggak punya pilihan. Bagian intim pacarmu sedang dalam kondisi buruk. Kalau kamu terus melampiaskan nafsumu padanya, bisa-bisa dia nggak bisa berjalan lagi," kata Matilda.Aku spontan meringis mendengarnya."Ralat. Istri. Dia istriku dan apa yang kami lakukan itu normal. Berhubungan sek
Joseph tidak melanjutkannya, jadi setelah mengobrol beberapa saat, aku tertidur dalam pelukannya.Ya, dalam pelukannya. Apa yang bisa kulakukan? Dia tidak mau melepaskanku.Dia bilang suka memelukku, jadi aku harus membiarkannya menikmati hal itu. Katanya, ini pertama kalinya dia memeluk seorang wanita setelah berhubungan intim.Keesokan paginya, aku terbangun sendirian di atas ranjang. Kepala dan tubuhku terasa sakit, sementara tenggorokanku begitu kering. Ketika mencoba turun dari ranjang, aku merasakan nyeri yang cukup hebat di bagian intimku.Dia benar-benar sudah membuat tubuhku babak belur. Seluruh tubuhku tertutup selimut tebal. Aku bersyukur karena sepertinya Joseph sudah memakaikan pakaian kepadaku saat aku tidur.Aku sedang berusaha turun dari ranjang perlahan-lahan ketika pintu tiba-tiba terbuka, memperlihatkan Joseph yang bermandikan keringat. Sepertinya dia masih sempat berolahraga. Sementara itu, aku justru harus menanggung akibat dari perbuatannya semalam.Aku mengamatin







