ログインAku tak kuasa tersenyum ketika dua pelayan menghampiri Mindy yang tergeletak di lantai dan menahan kedua bahunya agar dia tidak bisa bergerak.Mindy yang murka terus meronta, tetapi tenaganya tidak sebanding dengan dua wanita itu. Dugaanku benar, kesetiaan mereka ada padaku dan majikan mereka.Dalam hati, aku berjanji akan memberikan bonus yang besar kepada mereka berdua. Rekeningku masih dipenuhi uang saku yang terus dikirim Mama dan Papa bahkan setelah aku menikah dengan Dante. Jadi, aku bukan hanya berencana menyenangkan diriku sendiri, tetapi juga akan memastikan kedua pelayan ini mendapatkan imbalan yang pantas."Pegangi dia yang benar. Aku cuma mau ambil gunting," kataku sambil tersenyum lalu berjalan menuju dapur.Aku menemukan gunting dapur dan segera kembali ke ruang makan.Gunting ini bahkan bisa dengan mudah memotong sirip ikan. Rambut Mindy tentu bukan masalah.Ketika kembali ke ruang makan, aku mendengar Mindy berteriak dengan marah sambil mengancam kedua pelayan yang mena
"Juli, apa Dante sudah pergi?" tanyaku saat turun ke lantai bawah.Sudah tepat satu jam sejak pertengkaranku dengan Dante di kamar. Aku perlu makan sesuatu, jadi aku menuju dapur."Dia sudah pergi dari tadi, Nyonya. Dia bahkan nggak makan siang. Sepertinya dia memang membawa makanan itu hanya untuk Nyonya," katanya.Aku mengangguk lalu berjalan menuju ruang makan untuk melihat apa yang dibawa Dante. Meja makan dipenuhi semua makanan kesukaanku.Namun, aku sama sekali tidak berniat memakannya. Kalau mau, aku bisa keluar dan memesan makanan yang sama sendiri."Juli, apa ada makanan siap santap di kulkas?" tanyaku sambil memaksakan senyum.Dia melirik makanan di atas meja yang sama sekali belum tersentuh, tampak jelas kebingungan."Nyonya nggak suka makanan yang dibawa Tuan, Nyonya? Dia bilang semua ini makanan kesukaan Nyonya," katanya.Aku kembali melihat hidangan di atas meja lalu menggelengkan kepala."Nggak. Aku lebih suka makan yang lain. Mi instan juga nggak masalah. Pokoknya janga
Setiap hari berlalu, Dante selalu ada di sisiku. Aku tidak tahu kenapa sikapnya terhadapku kembali berubah. Aku sudah tidak pernah mendengar kata-kata kasar keluar dari mulutnya.Selama masa pemulihanku, aku juga sama sekali tidak melihat Mindy di dalam rumah."Aku beliin beberapa makanan kesukaanmu. Kamu lapar?"Aku sedang berbaring di tempat tidur sambil sibuk memainkan ponsel ketika Dante tiba-tiba datang. Saat itu hari kerja, tepat pukul 12 siang. Ini pertama kalinya dia pulang dari kantor hanya untuk membelikanku makanan.Sebenarnya, dia tidak perlu melakukan semua ini untukku. Dia sudah meminta para pelayan kembali bekerja di rumah, dan aku bisa meminta mereka menyiapkan makanan apa pun yang kuinginkan.Namun selama beberapa hari terakhir, aku sama sekali tidak berselera makan. Aku tidak tahu kenapa. Aku hanya merasa tidak bahagia dengan kehidupan yang sedang kujalani.Aku kembali hidup seperti seorang putri. Sepanjang hari aku tidak melakukan apa pun selain berbaring dan dilayan
Dante duduk di atas tempat tidur sambil menatapku.Aku mengabaikannya dan memejamkan mata. Aku tidak sanggup menatapnya setelah semua yang terjadi di antara kami."Gimana perasaanmu sekarang?" tanyanya.Aku membuka mata dan menatapnya dengan lesu.Aku tidak peduli kalau dia menjadi semakin marah kepadaku. Selama kami masih bersama, aku sudah menerima apa pun nasib yang mungkin kuterima di tangannya."Seharusnya kamu membiarkanku mati saja. Bukankah ini yang kamu inginkan? Melihatku menderita?" kataku.Dia tidak menjawab. Aku melihat ekspresinya melunak, tetapi aku mengabaikannya. Aku sudah tidak punya waktu untuk memikirkan orang seperti apa dia sebenarnya."Aku tahu selama ini aku sudah bersikap buruk padamu. Aku sudah memperlakukanmu dengan nggak adil. Apa yang kulakukan kepadamu nggak bisa dimaafkan, Trinity, jadi wajar kalau kamu marah sama aku. Jangan khawatir, mulai sekarang aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi orang yang lebih baik dan menebus semua kesalahanku padamu,
Sudut Pandang Trinity:"Jangan! Jangan!" teriakku pada Dante sambil menangis ketika dia melepaskan pakaianku satu per satu.Aku sudah tidak mengenalnya lagi. Dia sudah berubah."Kamu nggak mau? Kenapa? Karena kamu sudah punya orang lain? Begitu?" katanya dengan marah.Aku langsung menggelengkan kepala sambil perlahan turun dari sofa. Aku sudah tidak sanggup lagi!Lagi pula, aku tidak melakukan kesalahan apa pun. Dia tidak seharusnya menyakitiku seperti ini. Aku mengalami keguguran karena perbuatannya, jadi tidak sepantasnya dia menyalahkanku atas semua yang terjadi."Dan, aku sudah nggak sanggup lagi! Kalau kamu benar-benar sudah nggak punya cinta ataupun rasa hormat padaku, lebih baik kita bercerai," kataku sambil mengusap air mata dan menatapnya.Dia tertegun sesaat sambil menatap mataku lekat-lekat."Bukan hanya aku yang bersalah karena kehilangan anak kita. Aku juga merasa sakit karena nggak bisa melindungi anak kita. Kalau memang sudah nggak ada lagi kedamaian di antara kita, kamu
Sudut Pandang Trinity:Setelah menjalani berbagai macam pemeriksaan, yang sebagian besar terasa asing bagiku, aku langsung meminta Carlos mengantarkanku pulang.Aku merasa pusing. Kepalaku berdenyut. Aku juga merasa tidak nyaman berada di rumah sakit, terutama setelah melihat begitu banyak orang sakit di sekitarku."Hasil pemeriksaanmu seharusnya sudah keluar dalam dua atau tiga minggu. Kamu mau aku temani saat kembali ke rumah sakit nanti?" tanya Carlos ketika kami melaju di tengah lalu lintas.Kalau bukan karena Carlos yang terus mendesakku, mungkin aku tidak akan menjalani semua pemeriksaan itu. Dia terus mengatakan bahwa apa yang kualami bukanlah hal yang normal dan aku membutuhkan pemeriksaan medis yang tepat.Dokter juga memberiku beberapa vitamin. Katanya aku kurang darah, jadi aku perlu banyak beristirahat sambil menunggu hasil MRI."Aku pergi sendiri saja. Aku sudah terlalu banyak mengambil waktumu. Aku bisa urus diriku sendiri, Carlos," kataku dengan senyum yang dipaksakan.D







