Share

Bab 2

Author: Shelby
Di bawah cahaya terang pusat perbelanjaan, Shifa sedang memegang sepotong pakaian dan menempelkannya di depan tubuhnya. Dia mendongak sambil mengatakan sesuatu pada pria di sampingnya.

Sementara itu, Virgoun yang selalu tampil dingin, kini malah memegang dua gaun lain di tangannya dengan sedikit menunduk. Wajahnya menampakkan ketekunan dan kelembutan yang belum pernah Althea lihat sebelumnya sambil membandingkan mana yang paling cocok untuk orang di hadapannya dengan serius.

Althea teringat, betapa dia menginginkan Virgoun menemaninya belanja dulu. Bahkan jika hanya 10 menit sekalipun tidak masalah.

Namun, Virgoun selalu menolak dengan datar. Entah itu alasannya hendak bermeditasi atau menyendiri di ruang kerja menyalin kitab suci. Dia mengatakan berbelanja itu hanya membuang waktu, hiburan duniawi yang tak ada artinya.

Ternyata bukan karena dia tidak suka menemani orang berbelanja, melainkan karena dia tidak suka menemani Althea.

Virgoun seakan merasakan tatapan itu lalu mengangkat pandangannya.

Terpisah oleh dinding kaca, pandangannya berhenti sejenak di wajah Althea. Lalu melirik Lilian yang berdiri di sampingnya, ekspresinya tetap datar tanpa gelombang emosi. Entah dari mana datangnya keberanian itu, Althea menarik Lilian dan melangkah keluar.

"Virgoun," sapanya dengan suara yang terdengar agak serak.

Virgoun meliriknya sekilas bersama Lilian dan mengernyit tipis, tetapi tidak berkata apa-apa.

Hati Althea langsung terasa dingin. Dia tahu Virgoun tidak senang melihatnya bersama Lilian.

Sejak dulu, Virgoun selalu meremehkan sifat Lilian yang blak-blakan dan penuh semangat. Dia sering menyuruh Althea agar lebih banyak belajar dari Shifa untuk menjadi tenang dan anggun. Namun dia tidak tahu, Lilian pernah menjadi satu-satunya tempat Althea mencurahkan isi hati.

Di masa-masa Althea hampir mengasingkan diri dari dunia setelah orang tuanya meninggal, hanya Lilian yang memberinya kehangatan dan menemaninya keluar dari hari-hari kelam itu.

Saat itu, Shifa tiba-tiba melangkah maju dengan senyum manis, lalu mengulurkan tangan ke arah Lilian. "Kamu pasti teman Kak Althea, Lilian, ya. Namamu sudah sering kudengar."

Seketika, Virgoun mengangkat tangannya dan menarik kembali tangan Shifa, lalu berkata dengan suara rendah, "Shifa, jangan asal berjabat tangan sama orang."

Tangan Lilian tertarik kembali dengan canggung. Althea menatapnya dengan perasaan bersalah. Ternyata ketika seseorang tidak menyukai orang lain, bahkan orang-orang di sekitarnya pun ikut tidak dipedulikan.

Hati Althea diliputi rasa bersalah, lalu perlahan berubah menjadi rasa nyeri yang halus.

Shifa mendongak menatapnya dengan wajah tak percaya. "Kak ... aku kira ... kamu sudah nggak mau mengurusku lagi."

Suara Virgoun terdengar rendah, pandangannya melekat pada tangan mereka yang saling menggenggam. "Kakak sudah menikah dan kamu juga sudah dewasa. Nggak mungkin lagi mengurusmu dalam segala hal seperti dulu ...."

Shifa sama sekali tidak menunggu dia menyelesaikan ucapannya. Dengan mata berkaca-kaca, dia menatap Virgoun. "Tapi Kak, mantan suamiku selalu melakukan kekerasan mental padaku, bahkan mengurungku di rumah. Aku hampir gila. Apa kamu benar-benar nggak mau peduli padaku lagi ...."

Virgoun tertegun. "Kenapa kamu nggak pernah menceritakan semua ini padaku?"

Shifa semakin emosional dan menangis tersedu-sedu. "Menceritakannya padamu? Kamu sudah menikah. Semua orang menyuruhku menjaga jarak darimu. Apa aku berani bercerita? Kalau aku bilang, apa yang akan dipikirkan Kak Althea? Apa dia akan senang?"

Mendengar tuduhan yang memutarbalikkan fakta itu, Althea tak bisa menahan diri untuk berbicara, "Shifa, aku nggak pernah bilang ...."

"Diam!" sela Virgoun sambil menoleh menatapnya dengan dingin.

"Shifa adalah adikku. Aku sudah bilang, sejak kamu menikah denganku, kamu harus menyayanginya seperti adikmu sendiri. Kenapa kamu bisa secemburu ini!"

Althea terdiam dan terpaku oleh tudingan yang datang begitu saja.

Shifa menarik lengan baju Virgoun sambil menangis tersedu-sedu, wajahnya basah oleh air mata. "Kak, jangan salahkan Kak Althea. Dia nggak pernah bilang apa pun padaku. Ini salahku, semua salahku. Jangan bertengkar karena aku."

Sambil terisak, dia berbalik dan tampak seolah tak sengaja mendekat ke arah Althea.

"Maaf, Kak Althea ...."

Langkah Shifa tiba-tiba "terhuyung". Tubuhnya menghantam Althea dengan keras.

"Aah!"

Althea sama sekali tak siap. Dia terdorong ke belakang dan punggungnya membentur dinding sambil mengerang.

Namun, itu belum berakhir.

Dalam keadaan "panik", ujung hak tinggi sepatu Shifa menginjak perut bawah Althea dengan keras, tanpa ampun.

"Aah!"

Rasa sakit yang menusuk meledak seketika. Althea meringkuk kesakitan dan wajahnya pucat pasi.

Namun, Shifa seolah tidak melihat apa pun. Kakinya bahkan menekan lagi, menggeser dan menginjak dua kali, barulah dia tampak terkejut dan buru-buru menarik kakinya mundur.

Air mata masih menggenang di wajah Shifa, tetapi suaranya berubah tajam dan menusuk telinga. "Semua ini gara-gara kamu. Kalau bukan karena kamu, Kakak pasti sudah lama tahu kalau hidupku menderita, pasti sudah membawaku pulang. Semua karena kamu. Mati saja!"

Peristiwa itu mengundang perhatian orang-orang di sekitar. Banyak yang menoleh dan berhenti untuk melihat.

Virgoun segera mengulurkan tangan dan memeluk Shifa yang menangis tak terkendali, menenangkan dengan wajah penuh kecemasan dan rasa sayang. "Shifa, sudah nggak apa-apa. Kakak di sini."

Suaranya menyiratkan kelembutan yang belum pernah Althea dengar sebelumnya. Dia menunduk melirik Althea yang meringkuk kesakitan di lantai. Keningnya berkerut, sorot matanya menampakkan emosi yang rumit.

Rasa sakit di perut Althea semakin lama semakin parah. Namun, yang lebih dingin dari rasa sakit itu adalah hatinya, yang akhirnya benar-benar mati rasa.

Dalam pandangan yang kabur, Althea melihat Lilian berlari menghampiri dan menopangnya. Sementara itu Virgoun terus memeluk Shifa dan menenangkannya tanpa henti. Saat Althea membuka mata lagi, dia sudah berada di rumah sakit.

"Masih sakit?"

Lilian menempelkan handuk basah dengan lembut di dahi Althea. Matanya memerah. Althea terbaring di ranjang rumah sakit, wajahnya pucat pasi. Dia menggeleng lemah. "Nggak apa-apa."

"Keluarga Kinandar benar-benar keterlaluan. Kamu pingsan semalaman, tapi nggak ada satu pun dari mereka datang menjenguk." Suara Lilian bergetar karena marah.

Umpatan kejam Shifa dan suara lembut Virgoun yang menenangkannya seolah masih terngiang di telinga Althea. Dia mengira hatinya sudah lama mati, ternyata masih bisa terasa sakit.

Althea menatap langit-langit dengan pandangan kosong. "Sudahlah. Lagi pula aku memang akan pergi."

Althea mencoba duduk, tetapi rasa nyeri yang tajam dari perut bawah membuat pandangannya menggelap. Tubuhnya kembali terjatuh ke bantal, keringat dingin seketika membasahi pelipisnya.

Lilian tak mampu menahan diri lagi. Dia memeluk bahu Althea yang kurus dan air matanya mengalir deras.

"Althea, kalau aku tahu kamu akan hidup seperti ini, dulu aku nggak akan pernah menyetujui pernikahanmu dengannya. Apa pun yang terjadi, aku pasti akan membawamu pergi."

Althea mengangkat tangan dengan lemah dan menepuk punggung Lilian pelan. Dia berkata dengan suara lirih, "Sebentar lagi semuanya akan berlalu."

Setetes air mata mengalir turun dari pipinya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 17

    Dia berdiri lama di depan toko bunga yang tertutup rapat, hingga matahari terbenam menarik bayangannya menjadi sangat panjang. Akhirnya, sampai hari toko bunga itu kembali buka, lonceng angin pun kembali berbunyi.Namun, Virgoun tidak berani masuk. Dia bersembunyi di bayangan gang seberang jalan, seperti seorang pengintip yang tak berani tersentuh cahaya.Dia melihat Althea dan Wesley turun dari sebuah mobil. Keduanya mengenakan pakaian kasual yang sederhana tetapi nyaman.Althea sedang mendongak, mengatakan sesuatu kepada Wesley. Matanya melengkung seperti bulan sabit. Senyumannya begitu cerah sampai menyilaukan.Itu adalah senyuman yang belum pernah Virgoun lihat sebelumnya, senyuman tanpa bayangan kelam sedikit pun.Angin mengacak rambutnya. Dia mengangkat tangan untuk merapikannya, tetapi Wesley secara alami mengulurkan tangan lebih dulu. Dia menyelipkan sehelai rambut halus ke belakang telinga, lalu mengambil topi jerami bertepi lebar dari tangannya.Gerakannya begitu terbiasa dan

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 16

    Wesley entah sejak kapan sudah berdiri, berjalan ke sisi Althea, lalu mengulurkan tangan untuk menghalangi tangan Virgoun yang hendak mendekat lagi. Dia melindungi Althea di belakangnya. Wajahnya tenang, tetapi tatapannya dingin, jelas menunjukkan kepemilikan."Istrimu?" Virgoun seolah-olah tidak memahami kata itu. Pandangannya berpindah ke wajah Wesley, lalu perlahan turun ke tangan Althea yang mengenakan cincin berlian. Pupil matanya mendadak menyempit.Saat Wesley hendak berbicara, Althea justru menepuk ringan lengannya, memberi isyarat agar dia mundur.Dia maju setengah langkah ke depan, menjaga jarak aman dengan Virgoun. Tatapannya tenang dan suaranya dingin. Setiap kata menghantam tepat ke jantung Virgoun."Pak Virgoun, silakan pergi. Hari ini aku anggap kita nggak pernah bertemu. Ke depannya, aku juga berharap kita nggak akan pernah bertemu lagi.""Kalau memang kamu masih ada sedikit rasa suka atau penyesalan terhadapku, seperti yang kamu katakan di berita atau seperti yang baru

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 15

    "Althea, kurasa kamu seharusnya bisa merasakan isi hatiku." Dia membuka mulut perlahan. Suaranya tidak keras, tetapi penuh ketulusan."Sebenarnya dulu ketika aku baru menerima bantuan dari ibumu, aku benar-benar seorang remaja bermasalah. Orang tuaku sudah lama meninggal, nggak ada yang mengurusku. Aku seperti hidup di tepi jurang.""Supaya nggak ditindas, aku hanya bisa bertarung mati-matian dengan orang lain. Aku merasa masa depan sepenuhnya gelap, sama sekali nggak berminat belajar, dan nggak melihat harapan apa pun."Dia berhenti sejenak. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mengejek diri sendiri. "Surat-surat yang rutin dikirim ibumu, juga uang kiriman yang bagi diriku saat itu bisa dibilang jumlah yang besar, sedikit demi sedikit menarikku keluar dari kekacauan.""Di dalam surat-surat itu, beliau menyemangatiku, mengatakan bahwa masa depan memiliki banyak kemungkinan, mengajariku membedakan benar dan salah. Bahkan, beliau juga sering bercerita tentangmu."Althea sedikit te

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 14

    Tatapan Wesley beralih dari layar dan kembali ke wajah Althea, lalu dia bertanya pelan, "Kamu ingin kembali?"Althea menggeleng pelan. Suaranya agak serak saat menyahut, "Belum siap."Namun, Wesley memperhatikan ujung jari tangannya yang sedikit mengencang, menekan ke telapak tangan.Dia berdiri, melangkah ke hadapannya, lalu setengah berlutut hingga pandangan mereka sejajar. Tangannya terulur secara alami. Ujung jarinya dengan lembut menyeka sedikit kelembapan yang entah sejak kapan merembes di sudut matanya. Tatapannya begitu lembut, seolah-olah mampu menampung seluruh luka yang dia rasakan."Nggak apa-apa. Kapan pun kamu siap, itu nggak masalah." Suaranya rendah dan tenang, membawa kekuatan yang menenangkan. "Selama kamu mau, aku bisa menemanimu kembali kapan saja atau kita bisa pergi ke mana pun yang kamu inginkan."Althea menatap bayangannya yang jelas terpantul di mata Wesley, lalu mengangguk pelan. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke layar televisi. Di sana, Virgoun sedang m

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 13

    Di layar, Virgoun tampak letih dan kusut, menghadap kamera sambil menceritakan betapa pentingnya sang istri baginya, memohon kepada publik agar memberinya petunjuk. Kata-katanya tulus dan penuh perasaan.Althea duduk di sofa empuk, matanya terpaku pada wajah yang terasa familier sekaligus asing di layar. Untuk waktu yang lama, dia tidak berkata apa pun. Ucapan-ucapan penuh kasih itu, saat masuk ke telinganya, hanya terasa sangat menyindir, membuat perutnya mual.Saat itu, sebuah selimut yang lebih tebal dan hangat perlahan diletakkan di pundaknya. Dia menoleh dan bertemu dengan sepasang mata Wesley yang tenang dan lembut.Dia tersenyum tipis ke arahnya, lalu duduk di kursi sofa tunggal di sampingnya. Sikapnya santai, tidak banyak bicara, hanya menemani dengan diam.Pikiran Althea tanpa sadar melayang kembali ke satu bulan sebelumnya. Saat itu, dia berjuang melarikan diri dari vila. Pakaiannya compang-camping, tubuhnya penuh luka dan noda. Dia mencegat mobil di jalan raya.Sebuah sedan

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 12

    "Shifa! Dasar perempuan murahan nggak tahu malu!" Karina gemetar hebat karena marah, menunjuknya sambil memaki dengan suara tajam."Kamu ini janda! Berani-beraninya merayu kakakmu sendiri! Masih ada yang mau sama perempuan sepertimu saja sudah syukur, masih berani mengincar Virgoun!""Aku bilang padamu, besok juga aku akan carikan orang untuk kamu nikahi, supaya kamu nggak lagi mencelakai keluarga kita!"Shifa ditampar sampai linglung. Air matanya langsung bercucuran deras. Dia menoleh dan meminta pertolongan pada Virgoun dengan suara bergetar karena tangis. "Kak ... Kakak ...."Namun, Virgoun memejamkan mata, bersandar di sofa, seolah-olah sama sekali tidak mendengar apa yang terjadi.Melihat Virgoun yang dingin dan Karina yang murka, Shifa tiba-tiba menangis keras. "Aku baru saja cerai, nggak ada yang membantuku. Aku hanya ingin bisa berdiri kokoh di Grup Kinandar, apa salahnya? Sekarang bahkan Kakak pun nggak mendukungku. Lebih baik aku mati saja!""Nggak ada yang peduli padaku, ngg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status