Share

Bab 3

Author: Shelby
Meski sejak awal sudah tahu hari seperti ini akan datang, pada saat itu dia tetap akan memilih menerima lamaran Virgoun.

Althea dirawat di rumah sakit selama satu minggu. Setiap malam setelah efek bius menghilang, lukanya terasa begitu nyeri hingga dia sulit terlelap. Keringat dingin membasahi baju pasiennya.

Lilian entah sudah berapa kali menelepon Virgoun, tetapi yang didapat hanya nada sibuk.

[ Kita cerai saja. ]

Althea hanya mengirim satu pesan itu padanya.

Dua hari, tiga hari berlalu.

Pesan itu menghilang tanpa balasan sama sekali.

Padahal di dalam hatinya, Althea memang sudah tahu orang seperti apa Virgoun itu. Namun ketika benar-benar berhadapan dengan sikap acuh tak acuh yang sedemikian mutlak, sisa harapan yang bahkan enggan diakuinya sendiri pun hancur tak bersisa.

Althea tersenyum getir. Ternyata batu yang dingin memang tidak akan pernah bisa dihangatkan.

Saat dia keluar dari rumah sakit, Lilian sedang pergi dinas ke luar kota. Virgoun tidak datang menemuinya, malah Shifa yang melangkah masuk ke kamar rawat.

Shifa membawa sekeranjang buah dengan kemasan indah, lalu tersenyum polos tanpa cela. "Kak Althea, maaf ya. Ini salahku, beberapa hari ini emosiku kurang baik. Kakak terus menemani aku di rumah, jadi nggak sempat menjengukmu."

Althea menatapnya dengan tenang. Dia tidak mengulurkan tangan untuk menerima, juga tidak berkata apa-apa. Senyum di wajah Shifa tidak berubah. Dia melangkah maju satu langkah, sorot matanya menjadi gelap dan suaranya direndahkan.

"Kenapa, kenapa kamu bisa hidup sebaik ini? Kenapa kamu harus merebut semua yang seharusnya jadi milikku?"

Althea tidak mengerti dari mana datangnya kebencian di matanya. Dia hanya mundur setengah langkah dengan waspada. "Aku nggak mengerti apa yang kamu bicarakan. Apa maksudmu aku merebut segalanya darimu?"

Shifa tidak menjawab. Tanpa penjelasan apa pun, dia langsung menyodorkan keranjang buah itu ke pelukan Althea, lalu kembali memasang ekspresi polos.

"Kak Althea, rawat lukamu baik-baik ya. Aku pergi dulu."

Keranjang buah itu terasa cukup berat. Althea hendak meletakkannya ke samping, ketika tiba-tiba pergelangan tangannya diserang rasa sakit yang tajam. Dia menunduk dan melihat seekor ular berwarna mencolok entah sejak kapan menyelinap keluar dari celah keranjang. Taringnya tertancap kuat di lengannya.

"Aaaaahhhhh!"

Rasa sakit yang hebat dan ketakutan mencengkeramnya dalam sekejap.

Shifa berdiri di ambang pintu, menatap Althea yang terjatuh ke belakang dengan ekspresi puas. Senyum yang dia arahkan padanya tampak polos tetapi kejam.

"Mati saja."

Dua kata yang santai itu terlontar dari mulutnya, lalu pintu ditutup. Althea yang tergeletak di lantai pun benar-benar kehilangan kesadaran.

Saat kesadarannya kembali, itu sudah tiga hari kemudian.

Althea membuka mata dengan susah payah. Yang terlihat adalah langit-langit rumah sakit yang menyilaukan. Tubuhnya dipenuhi berbagai selang dan alat, suara mesin berdetak teratur di sekelilingnya. Dia sedikit memalingkan kepala dan melihat Virgoun duduk di kursi di samping ranjang.

Melihatnya terbangun, wajah Virgoun sama sekali tidak menunjukkan gelombang emosi. Dia masih tetap tenang dan dingin seperti biasa. "Kamu sudah sadar."

Suaranya terhenti sejenak, lalu untuk pertama kalinya terdengar jejak rasa bersalah yang nyaris tak terlihat.

"Maaf. Aku nggak mengawasi Shifa dengan baik. Sejak bercerai, dia selalu merasa tidak aman, selalu takut aku akan meninggalkannya karena kamu. Karena itu dia memakai ular untuk menakutimu. Jangan perpanjang masalah ini dengannya. Itu hanya lelucon."

"Dokter bilang nyawamu sudah nggak terancam. Setelah observasi di ICU beberapa waktu, kamu bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa."

Lelucon?

Althea terbaring di ranjang, seluruh tubuhnya terasa sedingin es. Bahkan ujung jarinya pun tak mampu digerakkan. Hatinya mencelos bagaikan terjatung ke jurang tanpa dasar.

Ular berbisa yang hampir merenggut nyawanya, di mata Virgoun hanyalah lelucon adik yang emosinya sedang tidak stabil. Semua pengorbanan, kesabaran, bahkan nyawa yang hampir melayang selama bertahun-tahun ini, untuk apa sebenarnya semua itu?

Althea membuka mulut. Suaranya serak dan nyaris tak terdengar, "Lalu kamu mau menangani masalah ini gimana? Lapor polisi? Atau menyelesaikannya dengan aturan keluarga?"

Alis Virgoun berkerut tipis, nadanya menjadi lebih berat. "Untuk apa lapor polis? Shifa sudah tahu dia salah. Kita ini keluarga. Kenapa harus terlalu perhitungan. Lagi pula kamu juga nggak apa-apa, 'kan?"

Althea menatapnya dengan tak percaya. Di mata dingin Virgoun bahkan terselip sedikit ketidaksabaran. Nyawanya yang hampir melayang saat terbaring di ICU, bagi Virgoun, dia hanya dianggap terlalu perhitungan.

Air mata tiba-tiba mengalir deras mengaburkan pandangannya.

Althea ingin mengatakan sesuatu, tetapi dadanya mendadak dilanda batuk hebat. Tenggorokannya terasa amis. Dia memuntahkan seteguk darah berwarna merah gelap yang memercik ke seprai putih, tampak begitu mencolok dan mengerikan.

Ekspresi Virgoun akhirnya menunjukkan secercah kepanikan. Dia bangkit dengan kasar dan menekan bel panggilan. "Dokter!"

Sekelompok tenaga medis berjas putih bergegas masuk, mengelilingi Althea.

Proses penyelamatan berlangsung lebih dari tiga jam sebelum dokter penanggung jawab keluar dengan wajah lelah dan berkata kepada Virgoun yang menunggu di luar.

"Pak Virgoun, racun ular di tubuh istri Anda belum sepenuhnya bersih. Kondisi emosinya sama sekali tidak boleh terguncang. Kalau tidak, racun bisa menyebar dan berakibat fatal."

Virgoun kembali berjaga di kamar selama dua hari.

Saat Althea perlahan membuka mata lagi, hal pertama yang dia lihat adalah Virgoun yang duduk di sisi ranjang. Begitu melihat dia sadar, Virgoun segera mencondongkan tubuh dan menggenggam tangan Althea yang tidak dipasangi infus. Telapak tangannya hangat, gerakannya bahkan bisa disebut lembut.

"Maaf," ucapnya dengan suara rendah. "Kali ini aku lalai. Kamu rawat dirimu baik-baik. Aku akan menggantinya."

Althea tidak berani lagi tersulut emosi. Bahkan napasnya dia atur menjadi sangat pelan. Namun, di sudut matanya tetap meluncur setetes air mata yang menyerap ke rambut di pelipisnya.

Dia benar-benar tidak menyangka.

Harus menunggu sampai nyawanya hampir direnggut oleh adik perempuannya dan terbaring sekarat di sini, barulah Virgoun berkenan menemaninya sejenak, seolah sebuah belas kasihan.

Kebersamaan ini ... ada seberapa banyak yang benar-benar ditujukan untuk menghiburnya? Atau jangan-jangan, Virgoun hanya takut jika Althea sampai lepas dari pengawasannya, dia akan tanpa ragu melapor ke polisi dan mengirim Shifa ke penjara.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 17

    Dia berdiri lama di depan toko bunga yang tertutup rapat, hingga matahari terbenam menarik bayangannya menjadi sangat panjang. Akhirnya, sampai hari toko bunga itu kembali buka, lonceng angin pun kembali berbunyi.Namun, Virgoun tidak berani masuk. Dia bersembunyi di bayangan gang seberang jalan, seperti seorang pengintip yang tak berani tersentuh cahaya.Dia melihat Althea dan Wesley turun dari sebuah mobil. Keduanya mengenakan pakaian kasual yang sederhana tetapi nyaman.Althea sedang mendongak, mengatakan sesuatu kepada Wesley. Matanya melengkung seperti bulan sabit. Senyumannya begitu cerah sampai menyilaukan.Itu adalah senyuman yang belum pernah Virgoun lihat sebelumnya, senyuman tanpa bayangan kelam sedikit pun.Angin mengacak rambutnya. Dia mengangkat tangan untuk merapikannya, tetapi Wesley secara alami mengulurkan tangan lebih dulu. Dia menyelipkan sehelai rambut halus ke belakang telinga, lalu mengambil topi jerami bertepi lebar dari tangannya.Gerakannya begitu terbiasa dan

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 16

    Wesley entah sejak kapan sudah berdiri, berjalan ke sisi Althea, lalu mengulurkan tangan untuk menghalangi tangan Virgoun yang hendak mendekat lagi. Dia melindungi Althea di belakangnya. Wajahnya tenang, tetapi tatapannya dingin, jelas menunjukkan kepemilikan."Istrimu?" Virgoun seolah-olah tidak memahami kata itu. Pandangannya berpindah ke wajah Wesley, lalu perlahan turun ke tangan Althea yang mengenakan cincin berlian. Pupil matanya mendadak menyempit.Saat Wesley hendak berbicara, Althea justru menepuk ringan lengannya, memberi isyarat agar dia mundur.Dia maju setengah langkah ke depan, menjaga jarak aman dengan Virgoun. Tatapannya tenang dan suaranya dingin. Setiap kata menghantam tepat ke jantung Virgoun."Pak Virgoun, silakan pergi. Hari ini aku anggap kita nggak pernah bertemu. Ke depannya, aku juga berharap kita nggak akan pernah bertemu lagi.""Kalau memang kamu masih ada sedikit rasa suka atau penyesalan terhadapku, seperti yang kamu katakan di berita atau seperti yang baru

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 15

    "Althea, kurasa kamu seharusnya bisa merasakan isi hatiku." Dia membuka mulut perlahan. Suaranya tidak keras, tetapi penuh ketulusan."Sebenarnya dulu ketika aku baru menerima bantuan dari ibumu, aku benar-benar seorang remaja bermasalah. Orang tuaku sudah lama meninggal, nggak ada yang mengurusku. Aku seperti hidup di tepi jurang.""Supaya nggak ditindas, aku hanya bisa bertarung mati-matian dengan orang lain. Aku merasa masa depan sepenuhnya gelap, sama sekali nggak berminat belajar, dan nggak melihat harapan apa pun."Dia berhenti sejenak. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mengejek diri sendiri. "Surat-surat yang rutin dikirim ibumu, juga uang kiriman yang bagi diriku saat itu bisa dibilang jumlah yang besar, sedikit demi sedikit menarikku keluar dari kekacauan.""Di dalam surat-surat itu, beliau menyemangatiku, mengatakan bahwa masa depan memiliki banyak kemungkinan, mengajariku membedakan benar dan salah. Bahkan, beliau juga sering bercerita tentangmu."Althea sedikit te

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 14

    Tatapan Wesley beralih dari layar dan kembali ke wajah Althea, lalu dia bertanya pelan, "Kamu ingin kembali?"Althea menggeleng pelan. Suaranya agak serak saat menyahut, "Belum siap."Namun, Wesley memperhatikan ujung jari tangannya yang sedikit mengencang, menekan ke telapak tangan.Dia berdiri, melangkah ke hadapannya, lalu setengah berlutut hingga pandangan mereka sejajar. Tangannya terulur secara alami. Ujung jarinya dengan lembut menyeka sedikit kelembapan yang entah sejak kapan merembes di sudut matanya. Tatapannya begitu lembut, seolah-olah mampu menampung seluruh luka yang dia rasakan."Nggak apa-apa. Kapan pun kamu siap, itu nggak masalah." Suaranya rendah dan tenang, membawa kekuatan yang menenangkan. "Selama kamu mau, aku bisa menemanimu kembali kapan saja atau kita bisa pergi ke mana pun yang kamu inginkan."Althea menatap bayangannya yang jelas terpantul di mata Wesley, lalu mengangguk pelan. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke layar televisi. Di sana, Virgoun sedang m

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 13

    Di layar, Virgoun tampak letih dan kusut, menghadap kamera sambil menceritakan betapa pentingnya sang istri baginya, memohon kepada publik agar memberinya petunjuk. Kata-katanya tulus dan penuh perasaan.Althea duduk di sofa empuk, matanya terpaku pada wajah yang terasa familier sekaligus asing di layar. Untuk waktu yang lama, dia tidak berkata apa pun. Ucapan-ucapan penuh kasih itu, saat masuk ke telinganya, hanya terasa sangat menyindir, membuat perutnya mual.Saat itu, sebuah selimut yang lebih tebal dan hangat perlahan diletakkan di pundaknya. Dia menoleh dan bertemu dengan sepasang mata Wesley yang tenang dan lembut.Dia tersenyum tipis ke arahnya, lalu duduk di kursi sofa tunggal di sampingnya. Sikapnya santai, tidak banyak bicara, hanya menemani dengan diam.Pikiran Althea tanpa sadar melayang kembali ke satu bulan sebelumnya. Saat itu, dia berjuang melarikan diri dari vila. Pakaiannya compang-camping, tubuhnya penuh luka dan noda. Dia mencegat mobil di jalan raya.Sebuah sedan

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 12

    "Shifa! Dasar perempuan murahan nggak tahu malu!" Karina gemetar hebat karena marah, menunjuknya sambil memaki dengan suara tajam."Kamu ini janda! Berani-beraninya merayu kakakmu sendiri! Masih ada yang mau sama perempuan sepertimu saja sudah syukur, masih berani mengincar Virgoun!""Aku bilang padamu, besok juga aku akan carikan orang untuk kamu nikahi, supaya kamu nggak lagi mencelakai keluarga kita!"Shifa ditampar sampai linglung. Air matanya langsung bercucuran deras. Dia menoleh dan meminta pertolongan pada Virgoun dengan suara bergetar karena tangis. "Kak ... Kakak ...."Namun, Virgoun memejamkan mata, bersandar di sofa, seolah-olah sama sekali tidak mendengar apa yang terjadi.Melihat Virgoun yang dingin dan Karina yang murka, Shifa tiba-tiba menangis keras. "Aku baru saja cerai, nggak ada yang membantuku. Aku hanya ingin bisa berdiri kokoh di Grup Kinandar, apa salahnya? Sekarang bahkan Kakak pun nggak mendukungku. Lebih baik aku mati saja!""Nggak ada yang peduli padaku, ngg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status