Share

Ketika Jasa Dibalas Penghinaan
Ketika Jasa Dibalas Penghinaan
Author: Shelby

Bab 1

Author: Shelby
Althea berlutut di hadapan batu nisan yang dingin, dahinya perlahan menempel pada permukaan batu yang kasar. "Ayah, Ibu, dulu aku seharusnya mendengarkan kalian, nggak memaksakan diri bersama Virgoun."

Suaranya sangat pelan, terbawa oleh embusan angin. "Aku benar-benar menyesal." Air matanya menetes dan meresap ke dalam tanah di bawah nisan.

Waktu kembali ke tiga hari sebelumnya.

Adik angkat Virgoun, Shifa, pulang ke rumah setelah bercerai.

Althea memang sudah lama mendengar betapa Virgoun menyayangi adik angkatnya itu. Namun, dulu dia hanya menganggapnya sekadar adik. Lagi pula Shifa sudah menikah, apa mungkin ada masalah?

Baru sekarang dia menyadari betapa bodohnya dirinya.

Keluarga Kinandar mengadakan jamuan penyambutan yang besar-besaran untuk Shifa. Althea bergegas pulang, tetapi mobilnya mogok di jalan tol.

Dia berulang kali menelepon Virgoun dengan cemas, tetapi telepon itu tidak pernah tersambung. Saat keesokan harinya dia tiba di rumah Keluarga Kinandar dengan tubuh letih dan berdebu, yang menyambutnya adalah rentetan tudingan yang dingin.

Ibu mertuanya mengerutkan kening. "Sebagai kakak ipar, kamu malah nggak menghargai jamuan kepulangan Shifa kemarin. Kamu keluyuran ke mana saja?"

Althea berusaha menjelaskan, "Mobilku rusak. Aku nggak bisa menghubungi Virgoun, lalu ponselku kehabisan baterai."

Virgoun duduk di sofa utama. Dia mengenakan pakaian polos berwarna terang, pergelangan tangannya dililit tasbih. Wajahnya dingin dan tenang, seperti patung tanpa emosi. Dia melirik Althea sekilas dan berkata dengan suara datar, "Jamuan dimulai jam delapan. Ponselku disenyapkan, jadi nggak lihat."

Dengan satu kalimat yang santai itu, seluruh kecemasan dan kepanikan Althea semalaman lenyap begitu saja. Dan itu baru permulaan.

Shifa mengatakan dia menyukai cahaya matahari di kamar utama, jadi Virgoun menyuruh Althea pindah ke kamar pembantu di sudut rumah. Produk perawatan kulit Althea sering kali "tidak sengaja" dijatuhkan dan pecah dibuat Shifa. Beberapa gaun yang paling dia sayangi di ruang ganti tiba-tiba menghilang.

Saat ditanya, Shifa hanya menjawab polos, "Hah? Aku nggak tahu. Mungkin pelayannya salah beres-beres."

Virgoun selalu hanya memandang datar tanpa berkata apa-apa, seolah semua kekacauan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.

Althea merasakan kelelahan yang mendalam, dan mulai meninjau kembali hubungan yang selama ini hanya dia perjuangkan seorang diri. Dia teringat masa lalu, ketika sahabatnya pernah menggenggam tangannya dan menasihati, "Virgoun itu orangnya dingin dan nggak berperasaan. Jangan bodoh."

Namun, Althea malah terbuai oleh sosok Virgoun yang tampak dingin dan suci, lalu menolak percaya pada peringatan siapa pun. Dia malah merasa, dirinyalah orang yang mampu menarik Virgoun turun dari singgasananya yang suci.

Althea mulai mendekatinya dengan segala cara.

Mendengar bahwa Virgoun menyukai ketenangan, dia pun menyingkirkan sikap cerianya. Mengetahui lambung Virgoun lemah, Althea yang bahkan tak pernah masuk dapur, memaksa dirinya belajar memasak dan meracik sup penyehat lambung sedikit demi sedikit.

Virgoun bertekad menapaki jalan agama, tasbih tak pernah lepas dari pergelangan tangannya. Jadi, Althea membaca kitab-kitab yang sulit dipahami, hanya berharap bisa berbincang lebih lama dengannya. Dia mempersembahkan seluruh dirinya seperti seorang pemuja yang taat.

Namun, dia tidak menyadari bahwa tatapan Virgoun sering kali menembus dirinya dan mengarah ke belakang. Di sana, biasanya berdiri Shifa yang pendiam dan patuh.

Althea juga pernah merasa putus asa dan ingin menyerah karena merasa bahwa hati seorang dewa memang tak bisa dihangatkan. Namun saat dia ingin berbalik dan pergi, Virgoun malah melamarnya.

Di pesta pernikahan politik Shifa, dia melangkah ke hadapan Althea dan berlutut dengan satu kaki di depan umum, lalu berkata, "Maukah kamu menikah denganku?"

Semua teman yang mengetahui cerita di balik layar mengucapkan selamat padanya. Akhirnya, dewa suci itu berhasil ditarik turun dari singgasananya. Saat itu, Althea merasa seluruh pengorbanannya terbayar lunas.

Tanpa ragu, dia mengulurkan tangan dan mengenakan cincin yang ukurannya bahkan tidak pas untuknya.

Meski setelah menikah Virgoun tak pernah menyentuhnya dan bahkan jarang tersenyum padanya, Althea selalu menenangkan diri. Dia sudah mau menikah denganku. Tinggal menunggu kapan hatinya akan tersentuh.

Oleh karena itu, Althea berkorban lebih banyak lagi dan menunggu dengan penuh kesabaran. Dia selalu percaya, selama diberi perhatian yang cukup, pria itu pasti akan tersentuh.

Sampai ketika ... Shifa pulang ke rumah setelah bercerai.

Untuk pertama kalinya, Althea melihat suaminya yang selalu datar itu memperlihatkan senyum yang nyata. Meski sangat tipis, senyum itu terasa seperti duri yang menusuk matanya.

Althea menghibur diri, menganggap itu hanya kebahagiaan seorang kakak karena adiknya akhirnya keluar dari penderitaan. Namun, Althea tidak menyangka bahwa dia akan tanpa sengaja memergoki seluruh hasrat kelam yang tersembunyi selama ini.

Saat Althea mengantarkan susu hangat untuk Virgoun di larut malam, pintu kamar tidak tertutup rapat. Cahaya yang menyelinap dari celah pintu memantulkan bayangan seseorang di lantai.

Di bawah lampu kuning yang hangat, Virgoun terengah pelan. Satu tangannya memutar tasbih, sementara tangan lainnya menggerakkan pakaian dalam renda milik Shifa yang dijemur di balkon. Seiring dengan erangan lirih, dia menyebut nama "Shifa" penuh perasaan, ruangan itu kembali tenggelam dalam keheningan.

Semua hal akhirnya mendapat penjelasan.

Ternyata, hati Virgoun memang sudah lama terbuka, tetapi tak seorang pun menyadarinya. Mana ada sosok suci yang dingin dan tak tersentuh itu? Tasbih di tangannya hanyalah alat untuk menekan hasrat yang tak bisa dia ungkapkan.

Althea tidak mampu lagi menipu dirinya sendiri, hingga benar-benar menjadi lelucon yang menyedihkan.

Di hadapan makam orang tuanya, Althea bersujud dan membenturkan dahinya tiga kali dengan keras. Saat dia mengangkat kepala kembali, jejak air mata di wajahnya telah mengering, yang tersisa hanya ketegasan di matanya.

"Ayah, Ibu, aku akan bercerai dengan Virgoun."

"Aku berencana pergi ke selatan. Mungkin aku nggak akan sering datang menjenguk kalian, tapi tenanglah, mulai sekarang aku akan hidup dengan baik." Dia berdiri dan menatap sekali lagi foto orang tuanya yang tersenyum lembut di batu nisan, lalu berbalik pergi.

"Hidup untuk diriku sendiri."

Althea membeli beberapa oleh-oleh khas daerah setempat. Dia berpikir, kepergian kali ini mungkin akan menjadi yang terakhir. Setidaknya harus ada sesuatu untuk dikenang.

Tiket pesawatnya dijadwalkan seminggu kemudian. Waktu itu cukup baginya untuk berpamitan dengan banyak orang lama. Dia mengajak sahabat terbaiknya dulu, Lilian, untuk bertemu.

Di dalam kafe, Lilian memeluknya erat dan suaranya bergetar. "Althea, aku kira kita nggak akan pernah bertemu lagi."

"Dulu kamu seperti kerasukan waktu jatuh cinta sama Virgoun. Aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana kamu mengorbankan dirimu demi dia."

Hidung Althea terasa perih dan dia tiba-tiba tersadar. Ternyata di mata orang lain, pendekatan yang dulu dia anggap penuh gairah itu hanyalah sebuah pengorbanan yang membuatnya kehilangan jati diri. Dia pernah dengan polosnya mengira bahwa Virgoun pada akhirnya tetap memperlakukannya berbeda. Karena itu, dia rela melepaskan lingkaran pertemanan, hobi, bahkan kepribadiannya sendiri demi pria itu.

Kini jika dipikirkan kembali, semua itu terasa kekanak-kanakan dan menggelikan.

"Aku akan pergi ke selatan," kata Althea pelan.

Lilian tertegun. "Liburan?"

"Bukan."

Althea menggeleng dan tersenyum tipis. "Mungkin setelah ini aku nggak akan kembali lagi."

Lilian hendak bertanya lebih jauh, tetapi pandangannya tiba-tiba terpaku ke luar dinding kaca kafe yang transparan. Dia mendadak menarik lengan Althea, suaranya direndahkan tetapi tetap tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.

"Althea, lihat ke sana. Bukankah itu Shifa? Orang di sampingnya itu Virgoun, bukan?"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 17

    Dia berdiri lama di depan toko bunga yang tertutup rapat, hingga matahari terbenam menarik bayangannya menjadi sangat panjang. Akhirnya, sampai hari toko bunga itu kembali buka, lonceng angin pun kembali berbunyi.Namun, Virgoun tidak berani masuk. Dia bersembunyi di bayangan gang seberang jalan, seperti seorang pengintip yang tak berani tersentuh cahaya.Dia melihat Althea dan Wesley turun dari sebuah mobil. Keduanya mengenakan pakaian kasual yang sederhana tetapi nyaman.Althea sedang mendongak, mengatakan sesuatu kepada Wesley. Matanya melengkung seperti bulan sabit. Senyumannya begitu cerah sampai menyilaukan.Itu adalah senyuman yang belum pernah Virgoun lihat sebelumnya, senyuman tanpa bayangan kelam sedikit pun.Angin mengacak rambutnya. Dia mengangkat tangan untuk merapikannya, tetapi Wesley secara alami mengulurkan tangan lebih dulu. Dia menyelipkan sehelai rambut halus ke belakang telinga, lalu mengambil topi jerami bertepi lebar dari tangannya.Gerakannya begitu terbiasa dan

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 16

    Wesley entah sejak kapan sudah berdiri, berjalan ke sisi Althea, lalu mengulurkan tangan untuk menghalangi tangan Virgoun yang hendak mendekat lagi. Dia melindungi Althea di belakangnya. Wajahnya tenang, tetapi tatapannya dingin, jelas menunjukkan kepemilikan."Istrimu?" Virgoun seolah-olah tidak memahami kata itu. Pandangannya berpindah ke wajah Wesley, lalu perlahan turun ke tangan Althea yang mengenakan cincin berlian. Pupil matanya mendadak menyempit.Saat Wesley hendak berbicara, Althea justru menepuk ringan lengannya, memberi isyarat agar dia mundur.Dia maju setengah langkah ke depan, menjaga jarak aman dengan Virgoun. Tatapannya tenang dan suaranya dingin. Setiap kata menghantam tepat ke jantung Virgoun."Pak Virgoun, silakan pergi. Hari ini aku anggap kita nggak pernah bertemu. Ke depannya, aku juga berharap kita nggak akan pernah bertemu lagi.""Kalau memang kamu masih ada sedikit rasa suka atau penyesalan terhadapku, seperti yang kamu katakan di berita atau seperti yang baru

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 15

    "Althea, kurasa kamu seharusnya bisa merasakan isi hatiku." Dia membuka mulut perlahan. Suaranya tidak keras, tetapi penuh ketulusan."Sebenarnya dulu ketika aku baru menerima bantuan dari ibumu, aku benar-benar seorang remaja bermasalah. Orang tuaku sudah lama meninggal, nggak ada yang mengurusku. Aku seperti hidup di tepi jurang.""Supaya nggak ditindas, aku hanya bisa bertarung mati-matian dengan orang lain. Aku merasa masa depan sepenuhnya gelap, sama sekali nggak berminat belajar, dan nggak melihat harapan apa pun."Dia berhenti sejenak. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman mengejek diri sendiri. "Surat-surat yang rutin dikirim ibumu, juga uang kiriman yang bagi diriku saat itu bisa dibilang jumlah yang besar, sedikit demi sedikit menarikku keluar dari kekacauan.""Di dalam surat-surat itu, beliau menyemangatiku, mengatakan bahwa masa depan memiliki banyak kemungkinan, mengajariku membedakan benar dan salah. Bahkan, beliau juga sering bercerita tentangmu."Althea sedikit te

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 14

    Tatapan Wesley beralih dari layar dan kembali ke wajah Althea, lalu dia bertanya pelan, "Kamu ingin kembali?"Althea menggeleng pelan. Suaranya agak serak saat menyahut, "Belum siap."Namun, Wesley memperhatikan ujung jari tangannya yang sedikit mengencang, menekan ke telapak tangan.Dia berdiri, melangkah ke hadapannya, lalu setengah berlutut hingga pandangan mereka sejajar. Tangannya terulur secara alami. Ujung jarinya dengan lembut menyeka sedikit kelembapan yang entah sejak kapan merembes di sudut matanya. Tatapannya begitu lembut, seolah-olah mampu menampung seluruh luka yang dia rasakan."Nggak apa-apa. Kapan pun kamu siap, itu nggak masalah." Suaranya rendah dan tenang, membawa kekuatan yang menenangkan. "Selama kamu mau, aku bisa menemanimu kembali kapan saja atau kita bisa pergi ke mana pun yang kamu inginkan."Althea menatap bayangannya yang jelas terpantul di mata Wesley, lalu mengangguk pelan. Dia kembali mengalihkan pandangannya ke layar televisi. Di sana, Virgoun sedang m

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 13

    Di layar, Virgoun tampak letih dan kusut, menghadap kamera sambil menceritakan betapa pentingnya sang istri baginya, memohon kepada publik agar memberinya petunjuk. Kata-katanya tulus dan penuh perasaan.Althea duduk di sofa empuk, matanya terpaku pada wajah yang terasa familier sekaligus asing di layar. Untuk waktu yang lama, dia tidak berkata apa pun. Ucapan-ucapan penuh kasih itu, saat masuk ke telinganya, hanya terasa sangat menyindir, membuat perutnya mual.Saat itu, sebuah selimut yang lebih tebal dan hangat perlahan diletakkan di pundaknya. Dia menoleh dan bertemu dengan sepasang mata Wesley yang tenang dan lembut.Dia tersenyum tipis ke arahnya, lalu duduk di kursi sofa tunggal di sampingnya. Sikapnya santai, tidak banyak bicara, hanya menemani dengan diam.Pikiran Althea tanpa sadar melayang kembali ke satu bulan sebelumnya. Saat itu, dia berjuang melarikan diri dari vila. Pakaiannya compang-camping, tubuhnya penuh luka dan noda. Dia mencegat mobil di jalan raya.Sebuah sedan

  • Ketika Jasa Dibalas Penghinaan   Bab 12

    "Shifa! Dasar perempuan murahan nggak tahu malu!" Karina gemetar hebat karena marah, menunjuknya sambil memaki dengan suara tajam."Kamu ini janda! Berani-beraninya merayu kakakmu sendiri! Masih ada yang mau sama perempuan sepertimu saja sudah syukur, masih berani mengincar Virgoun!""Aku bilang padamu, besok juga aku akan carikan orang untuk kamu nikahi, supaya kamu nggak lagi mencelakai keluarga kita!"Shifa ditampar sampai linglung. Air matanya langsung bercucuran deras. Dia menoleh dan meminta pertolongan pada Virgoun dengan suara bergetar karena tangis. "Kak ... Kakak ...."Namun, Virgoun memejamkan mata, bersandar di sofa, seolah-olah sama sekali tidak mendengar apa yang terjadi.Melihat Virgoun yang dingin dan Karina yang murka, Shifa tiba-tiba menangis keras. "Aku baru saja cerai, nggak ada yang membantuku. Aku hanya ingin bisa berdiri kokoh di Grup Kinandar, apa salahnya? Sekarang bahkan Kakak pun nggak mendukungku. Lebih baik aku mati saja!""Nggak ada yang peduli padaku, ngg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status