แชร์

Ketika Kebohongan Menjadi Takdir
Ketika Kebohongan Menjadi Takdir
ผู้แต่ง: Fani

Bab 1

ผู้เขียน: Fani
“Aku memutuskan untuk mencabut status kependudukan Putri.”

“Nggak mau lanjut mencarinya lagi?” tanya temanku di balik telepon dengan ragu.

Aku mengangkat kepala, menatap Putri yang sedang bersandar di pelukan Kevin. Mataku terasa perih, suaraku agak tercekat, “Nggak akan ditemukan lagi.”

Seseorang yang memang ingin bersembunyi, apa gunanya kalaupun ditemukan?

Setelah menutup telepon, aku berbalik dan kembali ke ruang VIP.

Randy yang sejak kecil tumbuh bersamaku, melihat wajahku yang muram, dia menyelipkan segelas alkohol ke tanganku.

“Hans, Putri sudah hilang tiga bulan, hampir nggak ada kemungkinan dia masih hidup. Kamu harus bisa melangkah maju!”

Aku menunduk menatap alkohol berkadar tinggi di gelasku, lalu meneguknya.

Rasa pedasnya langsung memaksa air mataku keluar. Sambil menahan sakit di hati, aku bertanya pada Randy, “Menurutmu, ada orang yang pura-pura menghilang untuk menipu suaminya?”

Randy menatapku dengan kesal dan menjawab langsung, “Apa yang kamu bicarakan? Hanya bajingan yang bisa melakukan itu, lebih baik mati saja!”

Aku menyeka air mata, lalu mengambil jaket di atas sofa.

“Kamu benar, aku harus melepaskan Putri.”

Setelah mengatakan itu, aku berbalik dan pulang ke rumah.

Rumah itu sama sunyinya seperti biasa. Selama tiga bulan ini, aku sangat takut dengan kesunyian seperti ini. Setiap pulang, aku selalu menyalakan semua lampu, menyeduh secangkir kopi kesukaan Putri, menyiapkan buah-buahan yang dia suka, seolah-olah dia masih tinggal di rumah ini.

Aku tak mengerti.

Jika dia memang tidak ingin hidup bersamaku lagi, dia bisa saja langsung meminta cerai. Kok harus berpura-pura kecelakaan saat bermain ski dan menghilang?

Aku duduk di sofa dan mengambil boneka kecil berbentuk wajah kami yang ada di atas meja.

Waktu itu, Putri bersandar di sampingku, menunjuk kedua boneka kecil itu sambil tersenyum dan berkata, “Kalau suatu hari aku nggak ada di rumah, biarkan mereka berdua yang menggantikanku menemanimu.”

Kata-kata di masa lalu itu bertumpuk dengan suara kesalnya yang kudengar di bar hari ini.

“Dulu masih mending, tapi setelah menikah, entah kenapa Hans jadi suka mengatur. Dia melarangku minum alkohol, melarangku makan yang dingin, ini nggak boleh, itu nggak boleh. Menyebalkan sekali. Aku pura-pura mati kali ini, bisa sekalian memberi dia pelajaran, biar dia nggak banyak mengaturku lagi ke depannya.”

Kevin yang berada di sampingnya menuangkan segelas alkohol untuknya, “Masih lebih baik aku, ‘kan? Kita sudah jadi sahabat bertahun-tahun, aku nggak pernah begitu padamu!”

“Iya… kamu sahabatku yang terbaik.”

Mereka berbincang dengan kedok sebagai sahabat dekat, tapi kaki mereka malah saling bersilangan di bawah meja.

Mengingat pemandangan itu, rasa mual langsung menyerang hatiku.

Aku melemparkan boneka itu ke tempat sampah, lalu mengambil ponsel dan mengirim pesan ke grup.

[Putri meninggal dalam kecelakaan tiga bulan lalu, acara perpisahan akan diadakan satu minggu lagi.]

Tak lama kemudian, sahabat-sahabat Putri langsung mengirim rentetan pesan mempertanyakan.

[Orangnya saja belum ditemukan, kok kamu malah mengadakan pemakamannya?]

[Hans, kamu sudah gila? Bagaimana kalau Putri belum mati?!”

[Kalau Putri kembali dan melihat pemakamannya sendiri, dia pasti akan marah besar! Hans, pikirkan baik-baik, kamu berani membuat Putri marah?]

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Ketika Kebohongan Menjadi Takdir   Bab 11

    “Pacar apaan? Hans itu suamiku! Tante! Kamu itu tanteku!”Dara menatapnya dari atas dengan dingin, lalu mencibir, “Sepertinya kamu lupa? Kamu itu hanya anak angkat Keluarga Salim yang sudah diusir dari rumah.”Putri langsung berdiri dan mengayunkan tinjunya, menyerang ke arah kami. Aku segera membuka kedua tangan dan berdiri di depan Dara untuk melindunginya. Wajah Dara sampai pucat karena kaget.Untungnya tinju Putri berhenti tepat waktu.“Hans! Siapa yang menyuruhmu menghadang di depanku?! Kamu sudah gila?”Saat melihat wajah Dara yang penuh amarah, aku menunjukkan ekspresi menjilat, “Nanti saja baru marahi aku. Aku selesaikan urusan dengan Putri dulu.”Dara memaksa dirinya untuk menahan amarahnya.Aku menoleh ke arah sudut ruangan, “Keluarlah.”Kevin keluar dengan wajah penuh air mata. Dia menatap Putri, tapi di matanya sudah tidak ada lagi cinta seperti dulu.Aku berkata dengan suara dingin, “Putri, mempermainkan orang-orang yang peduli denganmu berkali-kali, kamu nggak bosan?”“M

  • Ketika Kebohongan Menjadi Takdir   Bab 10

    Aku mengangguk, lalu dengan inisiatif menggenggam tangannya, “Masa percobaan tiga bulan, bisa lanjut jadi pacar sungguhan atau nggak, itu tergantung performamu.”Dara langsung mengangguk berkali-kali.“Kebetulan pekerjaan hari ini juga sudah selesai. Kita pergi makan hotpot lagi?”Mungkin karena sudah empat tahun tidak makan hotpot, aku jadi ketagihan.Setiap dua atau tiga hari sekali pasti harus makan. Kalau tidak, rasanya menderita.Dara sudah cukup lama menemaniku makan, tapi dia tidak bosan sama sekali. Setiap kali dia selalu mencari restoran hotpot yang berbeda untuk mengajakku mencoba rasa baru.Begitu juga dengan hari ini.“Kebetulan aku baru menemukan satu restoran yang cukup enak. Ayo kita pergi.”Namun, baru saja kami keluar dari gerbang kantor, tiba-tiba seseorang berlari dan berlutut tepat di depanku.“Hans! Kumohon carikan Putri! Dia sudah menghilang tiga hari! Aku nggak bisa menemukannya!”Kevin dengan mata merah terus bersujud memohon agar aku mau membantu mencari Putri.

  • Ketika Kebohongan Menjadi Takdir   Bab 9

    Namun, tiba-tiba dia menarikku kuat ke dalam pelukannya.“Hans, aku benar-benar sudah tahu salah! Aku dan Kevin benar-benar nggak ada apa-apa!”“Aku akan menjauh darinya. Kumohon, beri aku satu kesempatan lagi!”Dia memelukku sangat erat. Tidak peduli bagaimana aku berusaha melepaskan diri, tetap tak bisa melepaskannya.Hingga akhirnya sebuah kekuatan besar menarikku ke pelukan lain. Saat mendongak, aku melihat garis rahang Dara yang tegas,Suaranya terdengar dari atas kepalaku.“Putri, sudah kubilang padamu. Kalau kamu masih terus mengganggu Hans, Keluarga Salim juga nggak akan peduli lagi padamu!”Tangan Putri yang menggenggam tanganku langsung terlepas.“Tante, ini urusan antara kami berdua sebagai suami istri.”Mendengar itu, aku malah tertawa sinis.“Urusan kita berdua?”“Putri, siapa yang memberimu ide untuk pura-pura menghilang?”“Jangan bilang itu ide dari kepalamu sendiri. Emangnya kamu punya otak untuk memikirkan hal seperti itu?”“Kamu hanya dipermainkan oleh Kevin saja!”“S

  • Ketika Kebohongan Menjadi Takdir   Bab 8

    Bagaimanapun juga kami sudah akan bekerja sama, jadi tidak ada alasan untuk menolak.Dara memarkir mobil di depan sebuah restoran hotpot.Saat melihat nama restorannya, aku sempat terdiam.Dara berdiri di belakangku dan bertanya, “Kok melamun? Bukannya kamu suka makan hotpot?”“Aku sudah empat tahun nggak makan….”Selama empat tahun bersama Putri, karena dia tak bisa makan pedas, aku tak pernah lagi masuk ke restoran hotpot.Dara menarik lenganku sambil tersenyum ringan dan berkata, “Kalau begitu, hari ini kita rayakan perceraianmu dengan makan hotpot yang sudah lama nggak kamu makan.”Aku ikut tertawa, lalu tanpa ragu memesan satu meja penuh makanan.Selama makan, kami juga membicarakan rencana kerja sama ke depan. Suasananya cukup menyenangkan.Selesai makan, hari juga sudah gelap.Dara bersikeras mengantarku pulang.Namun, begitu sampai di rumah, langsung terlihat seorang tamu tak diundang di depan pintu.Putri sedang berjongkok di depan gerbang vila, menggigil kedinginan. Saat meli

  • Ketika Kebohongan Menjadi Takdir   Bab 7

    Kevin tidak mau pergi dan bersikeras tetap berada di sisi Putri.Aku juga tidak peduli, langsung naik ke mobil Dara dan pergi ke kantor administrasi kependudukan.Petugas di sana tertawa saat melihatku, “Kok datang lagi hari ini?”“Putri sudah ditemukan. Aku datang untuk memulihkan status kependudukannya.”“Sudah kubilang pasti bisa ditemukan, selamat ya!”Aku mengangguk dan tak mengatakan apa-apa lagi.Saat keluar dari kantor dukcapil, Putri memanggilku.“Hans, aku benar-benar mencintaimu.”“Hari itu di rumah Kevin… itu karena aku mabuk. Aku mengira dia itu kamu….”Aku menoleh dan menjawab dengan nada dingin, “Jangan membuatku jijik dengan kata-kata seperti itu.”Setelah menerima akta cerai, aku berjalan ke pinggir jalan untuk menghentikan taksi.Mobil Dara berhenti di depanku, dia bertanya, “Mau ke mana? Biar kuantar.”Aku menatapnya dengan maksud tersirat, “Bu Dara, aku sudah cerai dengan Putri.”“Lalu kenapa?”“Artinya kita sudah nggak ada hubungan apapun. Nggak perlu tiba-tiba jad

  • Ketika Kebohongan Menjadi Takdir   Bab 6

    “Kalau kamu mau memulihkan status kependudukanmu, tetap harus melalui aku. Putri, aku kasih kamu dua pilihan.”Ujarku sambil menyerahkan surat cerai padanya.“Tanda tangan ini dan kamu bisa hidup kembali. Kalau nggak, silakan saja hidup sebagai orang tanpa identitas.”Putri begitu marah sampai dadanya bergerak naik turun. Dia merebut surat cerai itu dari tanganku, melihat ke bagian pembagian harta, lalu langsung melemparkannya ke lantai.“Kok harus aku yang keluar tanpa mendapat sepeserpun?”Wajah Putri memerah, matanya dipenuhi urat merah, ekspresinya tampak menakutkan.Dulu, aku sangat takut melihat dia marah. Tapi sekarang, melihat wajahnya seperti itu, hanya ada satu kata yang terlintas di kepalaku.Gertak kosong.Jelas-jelas tidak ada pilihan apapun di tangannya, tapi dia masih mencoba mengambil keuntungan dariku.Aku mencibir dingin, “Karena sekarang kamu nggak punya status kependudukan dan karena kamu berselingkuh.”Dia menatapku dengan tatapan tajam, lalu tiba-tiba tertawa, “Ma

  • Ketika Kebohongan Menjadi Takdir   Bab 5

    Putri berjalan cepat ke arahku, lalu memelukku erat sambil memanggil namaku dengan suara bergetar.“Hans, kamu nggak tahu betapa aku merindukanmu.”“Hari itu aku jatuh saat bermain ski. Beberapa bagian tubuhku patah tulang. Untung ada orang baik yang membawaku ke rumah sakit. Aku harus memulihkan di

  • Ketika Kebohongan Menjadi Takdir   Bab 4

    “Mampus! Aku benar-benar nggak paham, kok ada wanita sekejam itu di dunia ini!”Semakin memakinya, Rendy semakin terbawa emosi. Aku buru-buru menghentikannya, “Sudahlah, jangan dimarahi lagi. Hari ini pemakaman istriku, aku harus terlihat sedih.”Sambil berbicara, aku pergi ke kamar mandi dan bercer

  • Ketika Kebohongan Menjadi Takdir   Bab 3

    Padahal, dulu setiap kali dia marah padaku, aku selalu harus merenung semalaman sendiri, lalu pergi meminta maaf padanya, barulah dia terpaksa memaafkanku.Aku memejamkan mata yang terasa perih, lalu menyimpan kedua video itu.Baru saja hendak mematikan ponsel, telepon dari Kevin masuk.Aku mengangk

  • Ketika Kebohongan Menjadi Takdir   Bab 2

    Aku tidak membalas sama sekali beberapa pesan pertama. Aku hanya membalas pesan yang terakhir.[Orangnya saja sudah mati, masih mau marah apa lagi?]Setelah itu, aku melempar ponselku, lalu pergi membereskan barang-barang Putri yang masih tertinggal di rumah.Selama tiga bulan ini, aku hampir selalu

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status