Partager

Bab 3

Auteur: Fani
Padahal, dulu setiap kali dia marah padaku, aku selalu harus merenung semalaman sendiri, lalu pergi meminta maaf padanya, barulah dia terpaksa memaafkanku.

Aku memejamkan mata yang terasa perih, lalu menyimpan kedua video itu.

Baru saja hendak mematikan ponsel, telepon dari Kevin masuk.

Aku mengangkatnya dan suara musik yang bising langsung meledak di telingaku.

Kevin berteriak keras, “Hans, kamu mau mengadakan pemakaman untuk Putri? Kamu sudah gila?”

“Kubilang padamu, cepat batalkan! Kalau nggak, kamu akan menyesal saat Putri kembali nanti!”

Belum sempat dia selesai bicara, aku langsung mematikan telepon. Aku menarik selimut dari samping, lalu meringkuk di sofa dan tertidur.

Itu adalah tidur paling nyenyak yang kurasakan dalam tiga bulan terakhir.

Keesokan paginya, aku membawa dokumen-dokumen dan pergi mencabut status kependudukan Putri.

Setelah selesai mengurusnya, aku pergi ke rumah Kevin.

Pintu rumahnya tertutup rapat. Aku menekan bel berkali-kali, barulah terdengar suara pintu dibuka.

Dia mengenakan jubah mandi dan bersandar di kusen pintu. Jejak-jejak kemesraan di lehernya terlihat jelas, bahkan menjalar sampai ke bagian yang tertutup pakaian.

“Hans, apain kamu datang ke rumahku?”

Pandangan mataku berpindah dari leher ke wajahnya, lalu bertemu dengan tatapannya yang tidak senang.

“Aku harap kamu bisa hadir di pemakaman Putri, bagaimanapun juga kamu itu sahabat baiknya.”

Kevin melirikku sekilas, lalu berkata dengan nada meremehkan, “Hans! Kamu itu suaminya Putri! Sekarang dia hilang, hidup dan matinya belum jelas. Nggak pergi mencarinya saja sudah keterlaluan, kamu malah mau mengadakan pemakaman untuk dia?”

“Bagaimana kalau sebenarnya dia belum mati? Bukannya kamu sedang mengutuknya? Mana ada suami sepertimu?!”

Aku mengeluarkan surat keterangan kematian yang baru saja diterbitkan oleh kantor dukcapil dari dalam tas, lalu tersenyum tipis, “Terkubur di salju selama tiga bulan, aku nggak bisa menemukannya. Status kependudukannya sudah kuhapus.”

“Bukankah dulu kalian juga yang menyuruhku untuk terus melangkah?”

Waktu kabar buruk itu pertama kali datang, aku langsung pingsan.

Saat membuka mata lagi, sudah keesokan paginya. Semua sahabat Putri berdiri mengelilingi ranjangku.

“Kak, tempat Putri hilang itu sangat berbahaya. Sangat sulit menemukan orang di sana, bagaimana kalau kita menyerah saja?”

“Iya, benar. Tempat itu terlalu bahaya, benar-benar nggak boleh pergi ke sana.”

Aku memaksakan diri untuk bangkit, membeli tiket, menyewa tim pencari, lalu langsung bergegas ke pegunungan salju.

Selama setengah bulan penuh, aku mencarinya tanpa tidur dan tanpa istirahat.

Saat itu, aku tak menyadari mengapa di mata para sahabat yang katanya sangat dekat dengan Putri itu tidak ada sedikit pun kekhawatiran, yang ada malah ejekan.

Usai aku bicara, tiba-tiba terdengar suara benturan keras dari dalam kamar Kevin.

Ekspresi Kevin berubah, lalu dia mengancamku, “Hans, jangan macam-macam! Kalau nggak, saat Putri kembali nanti, dia pasti nggak akan membiarkanmu begitu saja!”

Aku memperlakukannya sama seperti tadi malam, seolah-olah tidak mendengar apapun.

Kevin menatapku dengan tatapan tajam, lalu membanting pintu dengan keras.

Suara pertengkaran dari dalam kamar terdengar sampai ke telingaku.

Begitu mendengar status kependudukan sudah dicabut, akhirnya Putri tidak bisa menahan diri lagi.

Namun, aku tak mungkin membiarkannya menemukan keberadaanku.

Dia sudah menghilang selama tiga bulan. Jika aku menghilang beberapa hari, rasanya tidak berlebihan.

Aku membawa koper yang sudah kusiapkan sebelumnya, lalu meminta Rendy memesan kamar hotel untuk tujuh hari menggunakan identitasnya.

Beberapa hari ini, selain menyiapkan perlengkapan pemakaman, aku hanya berdiam diri di hotel.

Saat Rendy datang menemuiku, wajahnya tampak sangat senang.

“Kudengar ada orang yang gila-gilaan mencarimu. Hampir seluruh Kota Hanko sudah diacak-acak olehnya.”

Aku melihat pengumuman orang hilang yang sedang diputar di televisi, lalu tersenyum tipis, “Kalaupun dia mengacak-acak kota itu, emangnya kenapa? Kalau aku nggak mau menemuinya, dia nggak akan bisa menemukanku. Dulu, dia bilang akan muncul lagi setelah aku hampir gila mencarinya, kok sekarang malah dia yang nggak bisa menahan diri?”
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Ketika Kebohongan Menjadi Takdir   Bab 11

    “Pacar apaan? Hans itu suamiku! Tante! Kamu itu tanteku!”Dara menatapnya dari atas dengan dingin, lalu mencibir, “Sepertinya kamu lupa? Kamu itu hanya anak angkat Keluarga Salim yang sudah diusir dari rumah.”Putri langsung berdiri dan mengayunkan tinjunya, menyerang ke arah kami. Aku segera membuka kedua tangan dan berdiri di depan Dara untuk melindunginya. Wajah Dara sampai pucat karena kaget.Untungnya tinju Putri berhenti tepat waktu.“Hans! Siapa yang menyuruhmu menghadang di depanku?! Kamu sudah gila?”Saat melihat wajah Dara yang penuh amarah, aku menunjukkan ekspresi menjilat, “Nanti saja baru marahi aku. Aku selesaikan urusan dengan Putri dulu.”Dara memaksa dirinya untuk menahan amarahnya.Aku menoleh ke arah sudut ruangan, “Keluarlah.”Kevin keluar dengan wajah penuh air mata. Dia menatap Putri, tapi di matanya sudah tidak ada lagi cinta seperti dulu.Aku berkata dengan suara dingin, “Putri, mempermainkan orang-orang yang peduli denganmu berkali-kali, kamu nggak bosan?”“M

  • Ketika Kebohongan Menjadi Takdir   Bab 10

    Aku mengangguk, lalu dengan inisiatif menggenggam tangannya, “Masa percobaan tiga bulan, bisa lanjut jadi pacar sungguhan atau nggak, itu tergantung performamu.”Dara langsung mengangguk berkali-kali.“Kebetulan pekerjaan hari ini juga sudah selesai. Kita pergi makan hotpot lagi?”Mungkin karena sudah empat tahun tidak makan hotpot, aku jadi ketagihan.Setiap dua atau tiga hari sekali pasti harus makan. Kalau tidak, rasanya menderita.Dara sudah cukup lama menemaniku makan, tapi dia tidak bosan sama sekali. Setiap kali dia selalu mencari restoran hotpot yang berbeda untuk mengajakku mencoba rasa baru.Begitu juga dengan hari ini.“Kebetulan aku baru menemukan satu restoran yang cukup enak. Ayo kita pergi.”Namun, baru saja kami keluar dari gerbang kantor, tiba-tiba seseorang berlari dan berlutut tepat di depanku.“Hans! Kumohon carikan Putri! Dia sudah menghilang tiga hari! Aku nggak bisa menemukannya!”Kevin dengan mata merah terus bersujud memohon agar aku mau membantu mencari Putri.

  • Ketika Kebohongan Menjadi Takdir   Bab 9

    Namun, tiba-tiba dia menarikku kuat ke dalam pelukannya.“Hans, aku benar-benar sudah tahu salah! Aku dan Kevin benar-benar nggak ada apa-apa!”“Aku akan menjauh darinya. Kumohon, beri aku satu kesempatan lagi!”Dia memelukku sangat erat. Tidak peduli bagaimana aku berusaha melepaskan diri, tetap tak bisa melepaskannya.Hingga akhirnya sebuah kekuatan besar menarikku ke pelukan lain. Saat mendongak, aku melihat garis rahang Dara yang tegas,Suaranya terdengar dari atas kepalaku.“Putri, sudah kubilang padamu. Kalau kamu masih terus mengganggu Hans, Keluarga Salim juga nggak akan peduli lagi padamu!”Tangan Putri yang menggenggam tanganku langsung terlepas.“Tante, ini urusan antara kami berdua sebagai suami istri.”Mendengar itu, aku malah tertawa sinis.“Urusan kita berdua?”“Putri, siapa yang memberimu ide untuk pura-pura menghilang?”“Jangan bilang itu ide dari kepalamu sendiri. Emangnya kamu punya otak untuk memikirkan hal seperti itu?”“Kamu hanya dipermainkan oleh Kevin saja!”“S

  • Ketika Kebohongan Menjadi Takdir   Bab 8

    Bagaimanapun juga kami sudah akan bekerja sama, jadi tidak ada alasan untuk menolak.Dara memarkir mobil di depan sebuah restoran hotpot.Saat melihat nama restorannya, aku sempat terdiam.Dara berdiri di belakangku dan bertanya, “Kok melamun? Bukannya kamu suka makan hotpot?”“Aku sudah empat tahun nggak makan….”Selama empat tahun bersama Putri, karena dia tak bisa makan pedas, aku tak pernah lagi masuk ke restoran hotpot.Dara menarik lenganku sambil tersenyum ringan dan berkata, “Kalau begitu, hari ini kita rayakan perceraianmu dengan makan hotpot yang sudah lama nggak kamu makan.”Aku ikut tertawa, lalu tanpa ragu memesan satu meja penuh makanan.Selama makan, kami juga membicarakan rencana kerja sama ke depan. Suasananya cukup menyenangkan.Selesai makan, hari juga sudah gelap.Dara bersikeras mengantarku pulang.Namun, begitu sampai di rumah, langsung terlihat seorang tamu tak diundang di depan pintu.Putri sedang berjongkok di depan gerbang vila, menggigil kedinginan. Saat meli

  • Ketika Kebohongan Menjadi Takdir   Bab 7

    Kevin tidak mau pergi dan bersikeras tetap berada di sisi Putri.Aku juga tidak peduli, langsung naik ke mobil Dara dan pergi ke kantor administrasi kependudukan.Petugas di sana tertawa saat melihatku, “Kok datang lagi hari ini?”“Putri sudah ditemukan. Aku datang untuk memulihkan status kependudukannya.”“Sudah kubilang pasti bisa ditemukan, selamat ya!”Aku mengangguk dan tak mengatakan apa-apa lagi.Saat keluar dari kantor dukcapil, Putri memanggilku.“Hans, aku benar-benar mencintaimu.”“Hari itu di rumah Kevin… itu karena aku mabuk. Aku mengira dia itu kamu….”Aku menoleh dan menjawab dengan nada dingin, “Jangan membuatku jijik dengan kata-kata seperti itu.”Setelah menerima akta cerai, aku berjalan ke pinggir jalan untuk menghentikan taksi.Mobil Dara berhenti di depanku, dia bertanya, “Mau ke mana? Biar kuantar.”Aku menatapnya dengan maksud tersirat, “Bu Dara, aku sudah cerai dengan Putri.”“Lalu kenapa?”“Artinya kita sudah nggak ada hubungan apapun. Nggak perlu tiba-tiba jad

  • Ketika Kebohongan Menjadi Takdir   Bab 6

    “Kalau kamu mau memulihkan status kependudukanmu, tetap harus melalui aku. Putri, aku kasih kamu dua pilihan.”Ujarku sambil menyerahkan surat cerai padanya.“Tanda tangan ini dan kamu bisa hidup kembali. Kalau nggak, silakan saja hidup sebagai orang tanpa identitas.”Putri begitu marah sampai dadanya bergerak naik turun. Dia merebut surat cerai itu dari tanganku, melihat ke bagian pembagian harta, lalu langsung melemparkannya ke lantai.“Kok harus aku yang keluar tanpa mendapat sepeserpun?”Wajah Putri memerah, matanya dipenuhi urat merah, ekspresinya tampak menakutkan.Dulu, aku sangat takut melihat dia marah. Tapi sekarang, melihat wajahnya seperti itu, hanya ada satu kata yang terlintas di kepalaku.Gertak kosong.Jelas-jelas tidak ada pilihan apapun di tangannya, tapi dia masih mencoba mengambil keuntungan dariku.Aku mencibir dingin, “Karena sekarang kamu nggak punya status kependudukan dan karena kamu berselingkuh.”Dia menatapku dengan tatapan tajam, lalu tiba-tiba tertawa, “Ma

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status