Share

Second Story: Aku dan Adikku

Penulis: _yukimA15
last update Terakhir Diperbarui: 2022-11-19 09:28:07

"Apa Lady Viyura bersikap aneh hari ini karena putra mahkota akan datang ke mansion ini untuk-?" ucap Klea.

"Apaan itu?!" tatapanku masih datar, padahal aku sedikit bingung.

"Pa-nge-ran??"

"Iya! Yang Mulia Pangeran Agnreandel Leansane Diamondver datang, akan datang ke mansion ini untuk mengumumkan pertunangan dengan anda, Lady! Anda sangat menantikan ini dari kemarin-kemarin. Apa karena senangnya hingga lupa?"

Aku mencerna ucapan Klea. Lalu, aku terpikirkan tentang peristiwa saat Viyuranessa berumur duabelas tahun.

'Ternyata sudah kejadian yang ini.'

Aku menekan bibir bawahku dengan jari telunjuk. Lalu, mataku yang datar, tiba-tiba terbuka lebar.

'Kesampingkan itu dulu, lebih baik aku menemukan keberadaan Azu. Semoga saja ya..., dia merasuki orang itu!'

Sebelum aku pergi ke kamar saudari Viyuranessa, Celzurunessi Roseary, aku harus merapikan diriku, mengingat diriku adalah bangsawan. Meskipun sebelumnya aku tidak peduli dengan penampilanku.

'Wanita ini sangat cantik,' pikirku yang memandangi diriku sendiri di cermin. 'Kalau dilihat-lihat, wajahnya mirip denganku. Mungkin karena ekspresi yang mirip. Hanya saja, iris mata dan mahkota wajah ini yang lebih memperindahnya.'

'Mungkin, aku akan menolak pertunangan itu untuk menghindari kehancuranku. Sayang sekali kan kalau wanita secantik ini hidup sia-sia hanya demi pangeran yang hanya memanfaatkannya? Haha...'

***

"Apa anda gugup, nona?" ucap Klea.

"Sepertinya iya," ucapku yang sentak langsung berdiri.

'Aku gugup karena tidak tahu apa yang harus aku bicarakan untuk menolak pertunangan itu. Aku tidak seperti adikku yang pintar bicara karena kebiasaanku yang mengabaikan orang-orang dan terlalu terobsesi mempelajari semua ilmu pengetahuan.'

Aku segera keluar kamar, "Aku mau bertemu adikku! Dimana ia sekarang?"

"Mungkin ia berada di kamarnya," ucap Klea.

'Aku tidak tahu dimana, bodoh! Bukankah mansion ini banyak sekali ruangannya!' batinku dengan memaksakan senyumanku.

"Bisa kamu menuntun jalan? Kepalaku agak pusing karena malam tadi aku telat tidur."

"Baik, nona Viyura! Tapi, bukankah anda seharusnya istirahat saja! Dan anda harus menemui putra mahkota hari ini?!" Klea menunjukkan wajahnya yang khawatir kepadaku.

"Tak apa," aku menunjukkan ekspresi pemalu yang sengaja ku tunjukkan kepada Klea. "Se-sebenarnya, aku tidak bisa tidur... Hmm... Ka-karena... ... Aaa... I-ini terlalu memalukan untuk dikatakan!"

Klea hanya tersenyum jahil melihat reaksi yang sengaja ku tunjukkan. "Oh... Saya mengerti nona!"

Aku kembali memasang raut wajahnya seperti biasa. Seringai tipis terbentuk dari bibir merahku.

'Maaf Klea! Aku hanya berakting.'

***

Aku tiba di depan pintu kamar Celzurunessi. Lalu, ku ketuk pintu itu.

"Permisi!" ucapku. 'Pakaian ini berat amat!'

Pintu terbuka dan seorang yang berambut soft pink yang panjangnya sepinggang, terlihat olehku.

"Gaun ini cantik sekali! Ummm!!! Rambutnya juga!!" ucap wanita itu.

Tatapan ku datar tanpa ekspresi seperti biasa dan sudah bisa menebak sosok orang itu adalah adikku sendiri.

"Permisi!" ucapku tersenyum.

"Ya, apa?" ucap wanita itu.

"Bisa tidak kita bicara sebentar! Empat mata!" ucapku yang masih dengan tatapan datar.

"Kak Yu-!"

"Empat mata!" Aku membungkam mulut adikku dengan tanganku lalu melepaskannya.

"Hemp hemh!" Ia mengangguk.

"Maaf Klea! Bisa kamu siapkan ruangan untuk kami bicara," perintahku.

"Baik, Lady!"

***

Kedua kakak adik yang berada di sebuah ruangan yang memiliki jendela besar. Kami bisa menikmati pemandangan indah kebun mawar yang berwarna-warni yang berada di luar.

"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" ucapku. "Bagaimana kalau kamu saja yang bertunangan dengan pangeran? Mungkin tidak masalah karena kamu juga anak Duke."

"Tidak! Pokoknya tidak! Dia bukan tipeku," ucap Azu. "Aku mau cowok cool keren dan tampan. Bukannya cowok sombong, kejam dan labil seperti pangeran itu. Padahal, ia cerdas namun otaknya kurang waras. Aku tidak mau pokoknya!" Azu menepuk-nepuk meja seperti hakim yang sangat tidak ingin merubah keputusan.

Aku berpikir kembali. Jari telunjukku sibuk memukul pelan bibir lembutku, hal yang biasa ku lakukan saat berpikir.

"Bagaimana kalau kita hanya perlu menghindari kontak dengan tokoh protagonis. Jadi, lamaran itu tidak masalah."

"Tapi, kak Yui tahu juga kan kalau pangeran itu akan melakukan segala cara untuk membatalkan pertunangan itu. Dan membatalkan pertunangan juga pasti tidak semudah itu."

"Ia punya dendam pula kepada Viyuranessa. Seharusnya, aku mencari tahu tentang dendamnya. Tapi, sepertinya akan sulit," ucapku. "Kenapa novel itu tidak menceritakan dendamnya itu!? Ini menyulitkan saja! Kurang informasi!"

Sudut bibirku terangkat. Aku menyipitkan matanya dan menatap Azu untuk memberi kode bahwa aku sudah menemukan cara.

"Ya... kalau begitu. Kita lawan saja dia saat ia dengan beraninya mencoba menjatuhkan kita!" ucapku dengan tersenyum lebar yang hanya ku bisa tunjukkan kepada saudariku.

"Bukankah tidak ada yang berani melawan kita sebelumnya. Dan, karena karakterku memiliki sihir listrik dan kamu juga memiliki sihir api. Itu semakin memudahkan kita untuk melawan. Viyuranessa yang dulu tidak bisa melawannya karena ia terlalu mencintai pangeran itu. Ya aku sih tidak, mungkin...?"

"Benar juga itu, kak! Tapi, kok pake koma tidaknya?"

"Ya, aku tidak bisa menjamin apa yang akan terjadi nanti," ucapku. "Lalu, aku akan mencari cara menggunakan sihir ini!"

Aku menyilangkan tanganku ke depan dada. "Dan, aku akan mempelajari semua tentang dunia ini. Pengetahuan tentang sains, aku sudah mempelajari semuanya. Jadi, aku hanya perlu mempelajari sihir dan pengetahuan sosial."

"Aku akan mencoba berlatih pedang dan beladiri dengan beberapa guru," ucap Azu. "Lalu, kita bisa mempelajarinya bersama."

"Jadi, mulai sekarang. Aku adalah Viyuranessa Roseary, seorang putri pertama duke Roseary. Kamu bisa memanggilku, kak Yu!"

"Aku adalah Celzurunessi Roseary! Kak Yu bisa memanggilku, Zu!"

'Dan begitulah cerita kami dimulai!' batinku alias Viyuranessa. 'Tapi, aku penasaran dengan suara yang meminta pertolongan kami. Siapa yang harus kami tolong?'

Tiba-tiba, aku merasakan denyutan pada dadaku. Karena tidak kuat menahan rasa sakit, aku pun terduduk di lantai dengan tangan kiri yang menompang beban tubuhku.

"Aaaakkkh!" Aku merasa sesak yang disertai sakit kepala.

"Ada apa, kak Yu!?"

Adikku, Celzurunessi segera mendekati kakaknya yang terlihat menderita. Namun, saat Celzurunessi akan menyentuh tubuhku, aku tidak merasakan denyutan itu lagi. Aku segera menghembus nafas panjang. Lalu, aku duduk di kursi.

"Apa yang terjadi, kak? Kenapa kakak tiba-tiba-"

"Entahlah, dadaku terasa berdenyut dan sakit kepala," aku terus menahan dadaku meskipun denyutan tersebut hilang, rasa berdebar masih tertinggal. "Kenapa jantungku tiba-tiba berdebar seperti ini?"

Aku tidak menyadari bahwa pipiku sedang merona merah. Aku juga tidak menyadari kalau aku sedang menyeringai seperti kesenangan akan suatu hal. Tiba-tiba, aku melihat sebuah memori lama yang memperlihatkan seorang anak lelaki bersurai hitam yang sedang tersenyum tulus kepadaku.

'Kepalaku kembali terasa sakit!'

_____

See U...

- This is My Story -

by: yukimA15

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    164th Story: Inginkan Kekuasaan

    "Mohon maaf, saya adalah Cistine Moontel, putri pertama Duke Moontel! Baru sekarang saya berkesempatan bertemu dengan anda.... Setelah sekian lama saya berada di luar kerajaan ini. Walaupun saya sudah lama kembali ke kerajaan ini semenjak kelulusan, baru kali ini saya berkesempatan menemui anda. Mengingat, anda yang sering berada di sisi Putra Mahkota...." "Saya mengerti, senang bertemu dengan anda lagi, Lady." Leitte memberikan salam dengan gerakan tubuhnya. "Tapi, saya cukup senang berhadapan dengan anda lagi seperti ini!" "Iya, Lady Cistine Moontel. Senang bertemu dengan anda." Putri pertama Verk bertunangan dengan Putra Kedua Duke Moontel, Tristante Moontel. Dikarenakan itu, diadakan pertemuan kedua keluarga tersebut atas pertemuan pelamaran dari Duke Moontel ke kediaman mereka. Dengan rasa penasaran, Leitte segera memasuki ruang pertemuan dan memperkenalkan dirinya hingga pusat perhatian mereka ke sosok Leitte Verk. Pembicaraan sempat menjadi membicarakan Leitte hingga ke

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    Second Side Story: Kisah Horor

    Angin malam di hutan menerpa rambut Soft Pink yang terurai meskipun Celzuru berada di dalam tenda yang dibangun oleh para pasukan prajurit kerajaan Diamondver. Ia dan Riliana Verk menginap di tenda yang sama. Pintu tenda masih terbuka dan Celzuru memperhatikan suasa luar tenda yang mana hutan yang gelap tertangkap oleh mata pink Diamondnya yang bulat sempurna. "Mengingat suasana ini, aku jadi teringat suatu hal..." Celzuru terdiam dan Riliana tersentak melihat raut wajah Celzuru yang terlihat suram. "I, i, ingat hal apa, zzzz Zu!?" Riliana merasa merinding apalagi suara hutan membuatnya bulu kuduknya berdiri. "Rilia! Bagaimana kalau kita menceritakan kisah horor!?" "Ja, jangan menceritakan kisah horor di tempat menyeramkan seperti ini, Zu! Aku tidak bisa tidur! "Humm... Ataukah kamu mau mendengar kisah Croinel selama ia menjadi pelayanku?" Riliana tersentak. Ia menggelengkan kepalanya dengan malu. Rasa takutnya hilang sesaat. "Ba, baiklah kisah horor saja!" Celzur

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    163rd Story: Tidak Sebaik itu

    "Daerah sini kah." Dari ketinggian Zennofer berhasil menemukan kereta kuda kerajaan yang akan berpulang ke istana dari kediaman Roseary menuju istana. 'Dia benar-benar terlihat berbeda dibandingkan waktu melupakan pria itu.' 'Aku jadi penasaran saja. Apa aman-aman saja aku datang ke tempat tinggalnya ini?' 'Tapi untungnya orang itu tidak tahu aku sering menemuimu, Viyuranessa.' 'Menganggap dunia ini ada di genggamannya. Ia terlalu percaya semua akan berjalan atas pemikirannya.' *** "Terasa panjang juga hari ini." Baru saja aku merebahkan diriku di kasur untuk melepaskan semua penat di hari ini, angin mulai berhembus masuk ke dalam kamarku. Aku tentunya mengenali angin ini. Tanpa beranjak dari berbaring, aku hanya menoleh ke arah jendela. "Wah wah, kamarmu membosankan juga, Viyuranessa." "Kamu bahkan berani datang ke rumahku, Zenno." Aku sedikit sentak menggelengkan kepala memang sempat kepikiran sebelumnya di ada di sini. "Aku sempat berpikiran sih kamu bakal menem

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    162nd Story: Sulit Untuk Jujur

    "Kamu benar-benar santai, Rean. Yang mereka incar sebenarnya adalah kamu." Rean tersentak dan tentunya terheran. "Bagaimana kamu tahu itu, Yu!?" Aku tentunya terheran dengan keterkejutannya yang jelas-jelas terlihat. "Kenapa kamu jadi berpikir aku tidak bakalan menyadari hal seperti ini." "Tunggu dulu, Yu. Apa saja yang sudah kamu ketahui mengenai hal ini?" Termenung memikirkan Zennofer yang masih berada disana, aku hanya bisa menghembuskan nafas pasrah dengan keadaan yang rumit ini. 'Dia juga bisa lebih gila lagi jika dibiarkan lebih lama. Aku tidak ingin tangannya jadi kotor lagi akibat ulah keserakahan orang itu.' 'Aku tidak bisa melakukannya sendirian.' 'Karena itu waktu itu aku mencoba membicarakannya dengannya, tetapi malah...!' "Itu-" "Viyura!" Lina melihatku dan segera menghampiriku. Aku menoleh ke arah Lina sambil mengatakan, "Kita bicarakan nanti ya, Rean," ucapku yang hanya didengar oleh Rean. "Jelaskan saja sekarang, Yu!" "Nanti saja!" Memberikan tatapan

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    161st Story: Kejutan

    "Racunkah." "Bagaimana kamu yakin, Yu?" "Rasa minuman sangat berbeda! Chiii, nyebelin juga ya makan diganggu gini!" Sedikit tarikan nafas dalam untuk meredam kekesalan ini, pikiran jernih pun jernih hingga sempat terpikirkan banyak hal. "Tapi bagus sih, kita bisa memanfaatkan percobaan ngeracun gini, mwehehe!" Aku tersenyum dengan mata yang menyipit. "Bagaimana?" "Bagaimana kalau kita berpura-pura meminumnya sampai habis sehingga mereka menganggap kalau kita memiliki resistensi terhadap racun?" "Kamu yakin kalau mereka yang menaruh racun?" "Bagaimana ga yakin, rasanya aja jadi jelek gini!? Mungkin saja kan mereka pembunuh profesional yang menghalalkan segala cara untuk membunuh targetnya. Untungnya soal rasa makanan aku bisa membedakannya. Orang yang tidak cicip dulu dari aromanya dulu lalu mulai masuk mulut, cuma lihat penampilan saja kayak kamu ini, mudah teracuni! Dasar ga pekaan!" "Jangan nusuk gitu roasting tunanganmu ini, Yu. Tak apa sih, masih tetap sayang."

  • Ketika Si Jenius Menjadi Tokoh Antagonis    160th Story: Gangguan

    Di tengah keramaian kota, di taman kota banyak yang membangun stand-stand yang menjual berbagai macam terutama makanan dan minuman. Melihat kesana kemari dengan bersemangat. Aku cukup bingung ingin menghampiri stand yang mana dulu. Satu hal yang paling menarik perhatian yaitu... Aku segera melangkah menghampiri kedai minuman dingin. Meskipun mereka memiliki menu yang banyak, tetap saja aku memilih, "Es teh!" Sambil menyeruput minuman menyegarkan bagi tubuh dan pikiran, aku melirik sosok Rean yang melihat diriku dan terlihat bersemangat entah kenapa. 'Masa sih ia terlihat bersemangat gitu hanya melihatku? Hem....' 'Iya sih, aku juga gitu....' 'Ia jauh lebih keren padahal.' 'Tidak ku sangka ia bisa mengubah kerajaan ini dengan sesingkat ini.' 'Aku bahkan dengar ada beragam pelatihan dilakukan untuk mengurangi pengangguran.' 'Meskipun aku juga sering melihat perkembangan cepat di Lezarion, tapi disini lebih cepat!' Mataku kembali bergeser ke arah Rean yang mana ia terli

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status