เข้าสู่ระบบ"Kamu... kamu pasang CCTV rahasia?" Al mendongak, menatapku dengan mata memerah. Suaranya bergetar, menahan amarah. Aku mengangguk sembari mengulas senyum. "Ya. Dan ini terhubung langsung ke HP-ku. Aku bisa memantau butik ini dari mana saja.” “Kenapa kamu memasang CCTV lagi? Kamu mau mematai-matai aku? Tidak percaya dengan aku?” “Memang, aku sudah tidak percaya sama sekali dengan kamu!” Ingin aku menjawab demikian, tapi urung. Belum saatnya membongkar rahasia.“Dih! Gr banget sih!” Aku tertawa sumbang, lalu melipat kedua tangan di depan dada. “Eh, tapi kenapa kamu berpikir aku sedang memata-matai kamu, Mas? Dan kenapa pula wajahmu pias? Apa ada yang sedang kamu sembunyikan dari aku?” Al menggeleng cepat. “Jangan sok tahu! Ini karena aku kurang sehat.” Al menyangkal dengan bola mata yang ke sana kemari. Ciri khas orang berbohong. “Oh gitu. Kirain karena ada apa-apa." Aku tersenyum kecil. "Jadi, nggak masalah ya aku pasang CCTV yang lebih canggih?”“Tapi, apa itu tidak mela
Jam tiga sore aku pergi menuju butik Alica. Butik yang kami bangun berdua dari nol. Butik yang semua desainnya adalah karyaku.Aku memanggil manajer butik ke ruang kerja Mas Al. "Pak Budi, saya mau pasang CCTV tambahan di beberapa sudut. Yang kecil, yang nyaris tidak terlihat. Dan ini harus terhubung langsung ke HP saya."Pak Budi mengerutkan kening. "Tapi Bu, kan sudah ada CCTV lama. Kenapa harus pasang lagi?"Aku tersenyum tipis. "CCTV lama kualitasnya buruk, Pak. Saya mau upgrade untuk keamanan stok barang mahal kita. Cctv yang baru terhubung langsung ke HP saya. Biar bisa saya monitoring langsung di mana pun berada. Kan saya jarang ada di tempat.”Pak Budi mengangguk. Aku mencondongkan tubuh ke arah meja, lalu menatapnya lekat, "Tapi, tolong jangan bilang ke Pak Al, ya, Pak. Ini inisiatif saya sendiri sebagai pemilik. Kalau beliau tahu ada dua cctv takutnya tersinggung.”Aku mundur ke belakang saat menatap kerutan di kening Pak Budi semakin banyak. “Sebenarnya tidak terjad
Aku meregangkan otot tangan sejenak setelah cukup lama melanjutkan menggambar desain di atas tablet digital saat Mbak Susi masuk mengantarkan kopi pesananku.“Makasih ya, Mbak. Nadira sudah tidur?” Ini memang jadwal tidur siangnya. Mbak Susi mengangguk. “Sudah, Bu. Nadira sudah pulas, sepertinya kecapean habis berenang.” Iya, Nadira sudah mulai aku ikutan les berenang. Pagi ini aku sempat menemaninya berenang sebelum masuk ke ruang kerja ini. Sambil menunggu kopinya sedikit dingin, aku mengecek pesan-pesan di perangkat tertaut WhatsApp Mas Al. Jari-jariku menelusuri layar dengan cepat, membaca percakapan mesra antara suamiku dan istri mudanya.Hingga akhirnya, ada satu percakapan yang membuat tanganku berhenti.(Mas, adikku sudah lama banget ingin baju dari butik kamu. Tapi karena nggak punya uang hanya bisa menelan ludah sendiri. Mumpung dia ada di sini boleh nggak aku ajak ke butik untuk lihat-lihat dulu. Nanti kalau sudah punya uang baru beli.) (Jangankan hanya diajak lihat
Aku duduk di teras belakang sambil menyuapi Nadira sarapan. Sambil mengunyah Nadira asyik menggambar di buku warnanya, sesekali menengadah dan tersenyum lebar memperlihatkan gambar kucing yang menurutnya lucu."Bagus gambarnya, Nak," ujarku sambil mengelus kepalanya."Ini gambar kucing buat Bunda. Biar Bunda nggak sedih lagi," ucapnya polos.Hatiku mencelos. Anak sekecil ini saja sudah bisa merasakan kesedihanku. Padahal, aku berusaha keras menyembunyikannya. Aku tersenyum tipis, lalu mencium keningnya."Terima kasih, Sayang. Bunda nggak akan sedih lagi. Bunda janji."Setelah Nadira selesai sarapan aku mengantarkannya pada Mbak Susi untuk menjaganya. Lalu aku kembali ke ruang kerja. Di depan meja kerja aku mulai menyalakan laptop. Pagi ini aku harus mengecek beberapa hal. Pertama, arus keuangan perusahaan yang sejak kemarin mulai kuakses. Kedua, pesan-pesan di perangkat tertaut WhatsApp Mas Al.Aku membuka aplikasi WhatsApp Web di laptop. Layarnya berpendar menampilkan deretan
"Kamu pulang ke sini, Mas?" tanya Anita di depan pintu dengan mata berbinar."Iya, Sayang. Aku sedang butuh kamu." Aku menariknya ke dalam pelukanku, menghirup aroma tubuhnya yang familiar. Aku memeluknya erat tanpa perlu merasa berdosa lagi.Anita mendongak, menatapku dengan tatapan penuh pemujaan. "Aku siap melayanimu dengan sepenuh hati, Mas." Senyumnya tulus. Senyum yang menular padaku. Dia mengandeng tanganku ke dalam. "Kamu mau apa dulu? Makan, mandi, atau mau dipijitin dulu?" Suaranya yang mendayu membuat penatku hilang seketika.Ini yang paling aku suka dari Anita. Selain cantik dan masih sepupuku, dia tahu persis bagaimana cara melayani dan menyenangkan hatiku. Sangat berbeda dengan Ica yang sekarang nyaris tidak punya waktu untukku, lebih sering menatap layar laptop daripada menatap wajahku.Aku tersenyum saat menatap matanya yang penuh cinta. "Aku pasrah. Mau kamu ajak apa dulu?" Aku menoel hidungnya yang bangir sembari tersenyum. "Makan, yuk. Kebetulan aku juga belum
Aku yang ketiduran di samping Nadira terbangun, lalu menatap jam dinding. Sudah pukul dua puluh tiga. Tapi, Mas Al belum pulang. Aku bersandar di punggung ranjang sambil mengambil ponsel di atas nakas.Siapa tahu ada pesan. Tapi, nihil. Aku menatap wajah Nadira yang begitu tenang dalam lelapnya. Setelah mengetahui pengkhianatan Mas Al, aku selalu membawa Nadira ke kamar ini. Sebagai tameng agar Mas Al tidak lagi meminta haknya. Aku merasa jijik dengannya setelah mengetahui semua. Tangan ini mulai mengelus pipinya yang lembut. “Nak, mulai sekarang kamu harus terbiasa tanpa kehadiran ayah ya. Ayahmu akan sering menghabiskan waktu dengan istri mudanya. Bahkan, mungkin akan menghabiskan separuh lebih waktunya untuk anak dari Tante Anita nantinya, Nak. Kamu harus siap dari sekarang,” gumamku dengan suara bergetar, menahan tangis. Setelah puas menciumi Nadira, aku kembali membuka ponsel dan mengirim pesan untuk suami. (Kamu di mana, Mas? Nggak pulang malam ini?) Pesan terkirim. Buk







