LOGINSetelah keluar dari kamar, Eston menghampiri Dayne."Casya sedang mengalami sedikit masalah di rumahnya. Selama beberapa hari ini, tolong buatkan makanan yang bergizi untuk memulihkannya. Tadi malam dia jatuh ke laut dan terdampar di pulau semalaman. Baru pagi tadi dia berhasil diselamatkan.""Kenapa kamu baru ngomong sekarang? Dasar anak nakal!"Dayne segera mengambil kunci mobil dan bersiap pergi membeli bahan makanan.Saat membuka pintu, di luar berdiri seorang pemuda berseragam militer. "Nyonya Dayne, ada sebuauh mobil yang membawa barang untuk keluarga Anda. Mereka meminta Anda keluar untuk menerimanya.""Barang apa?""Mereka bilang ini kiriman bahan makanan dari Keluarga Narasoma di Kota Andara. Katanya untuk Tuan Rayan yang sedang kurang sehat."Kemungkinan bukan hanya untuk Tuan, tetapi juga untuk kebutuhan Casya selama beberapa hari ke depan. Keluarga Narasoma memang sangat perhatian. Dayne pun tidak sungkan dan langsung menerimanya.Setelah kembali ke dalam, Dayne berdiskusi
"Makanlah, ini ambil. Kalau Rayan tahu kamu datang, dia pasti senang. Sayangnya, dia masih belum bisa pulang."Dayne tersenyum sambil berkata, "Casya datang untuk menginap beberapa hari, Bu. Jangan merasa terganggu, ya."Mata Nyonya Tua Keluarga Lumbana langsung berbinar."Benarkah? Bagus sekali! Sayang sekali Eston sedang nggak libur beberapa hari ini .... Aduh!"Vira adalah seorang wanita tua yang ramah dan penyayang. Wajahnya bulat, rambut peraknya disanggul rapi, dan dia mengenakan setelan sutra yang tampak anggun.Dayne juga merasa sedikit menyesal soal itu.Saat dia dan sang nenek sama-sama mendongak, mereka melihat Eston melingkarkan satu tangan di pinggang Casya. Ujung hidungnya hampir menyentuh hidung Casya saat dia berbisik pelan, "Kalau ada apa-apa yang kamu butuhkan, bilang saja padaku.""Anggap saja tempat ini rumahmu sendiri. Selama Pak Kayden melindungimu dari luar, Frans nggak akan menemukan tempat ini. Kalaupun dia menemukannya, dia tetap nggak akan bisa masuk.""Untuk
"Aku tahu apa yang ingin kamu katakan." Kayden menyandarkan telapak tangannya di pagar batu balkon."Frans itu orang bodoh. Selama ini aku nggak menyentuhnya cuma karena istriku bilang nggak perlu aku turun tangan. Pasti akan ada orang yang membereskannya."Eston mengangguk. "Bu Lunara memang baik hati.""Bukan. Dia hanya khawatir aku bertindak kelewatan hingga menyeret diriku sendiri. Istriku terlalu mengenalku." Sudut bibir Kayden sedikit terangkat.Dia menoleh melihat Lunara yang sedang duduk dengan tenang di sisi Casya, sesekali mengangkat tangan untuk memeriksa suhu tubuh Casya."Semalaman dia nggak bisa tidur. Kalau bukan karena dia hamil, aku juga nggak bisa membujuknya kembali ke hotel. Kalau aku melindungi atau membiarkan Frans lolos begitu saja, istriku juga nggak akan memaafkanku.""Jadi, soal itu kamu nggak perlu khawatir."Setelah menjelaskan pendiriannya, Kayden langsung berkata singkat, "Aku perlu tahu apa sebenarnya yang terjadi semalam."Eston menjelaskan, "Begitu mene
"Terus soal ibuku, semua uangnya ada padaku. Jadi kenapa masih ada yayasan yang didirikan atas namanya?""Aku sendiri bahkan nggak tahu soal itu. Tapi Frans justru tahu dengan begitu jelas. Menurutku ada yang nggak beres."Kalau dokumen itu memang dipalsukan oleh Frans, masalahnya justru masih lebih mudah dijelaskan.Yang aneh adalah semua dokumen itu ternyata asli. Di situlah letak kejanggalannya.Kayden mengangguk pelan. "Lanjutkan.""Frans pasti ingin aku melepaskan hak kepemilikan saham di perusahaan perhiasan. Tapi dia juga khawatir kalau aku masih hidup, aku akan terus menghalangi jalannya.""Kalau begitu, lebih baik kubiarkan dia mengira aku sudah mati. Aku ingin lihat apa yang akan dia lakukan setelah ini."Sorot mata Casya memancarkan kilatan dingin. "Kalau disuruh membalas dengan cara yang sama, aku nggak bisa. Aku ini sangat taat hukum. Tapi kalau membongkar kedoknya di hadapan dewan direksi, itu bisa kulakukan."Dia ingin menghancurkan hal yang paling dipedulikan Frans. Hal
Saat fajar baru saja menyingsing, kabar dari tepi pantai akhirnya datang.Kayden menepuk pelan Lunara yang tertidur dalam pelukannya, lalu berbisik, "Dia sudah ditemukan."Lunara langsung mencengkeram lengan Kayden dan membuka matanya lebar-lebar. Ada banyak pertanyaan yang ingin dia ajukan, tetapi dia tidak berani mengucapkannya.Kayden langsung mengerti. "Masih hidup. Dia ada di kamar sebelah."Kayden menggendong Lunara menuju kamar mandi. "Kamu bersih-bersih dulu. Nanti baru kita ke sana menemuinya."Kayden telah mengatur semuanya dengan rapi. Dia sendiri yang membantu Lunara mencuci muka dan bersiap, lalu mengantarnya ke kamar sebelah.Casya sudah sadar. Tubuhnya terbungkus selimut, sementara dia menyeruput air hangat sedikit demi sedikit.Eston yang baru tiba setelah menempuh perjalanan jauh sedang berjongkok di depannya. Dengan hati-hati, dia menggosok kedua tangan Casya, lalu memeriksa suhu tubuhnya. Setelah itu, dia berbalik dan menaikkan suhu pendingin ruangan.Suara Casya ter
Dokumen-dokumen perwalian yang berserakan di tanah itu juga memang asli. Batas waktu pengajuan untuk satu gelombang dana perwalian memang berakhir tepat pukul 12 malam ini.Kalau melewatkannya, pembukaan berikutnya memang harus melalui prosedur yang sangat panjang. Itu juga fakta. Kebetulan semuanya seolah terjadi bersamaan.Kayden mengernyit. Wajahnya benar-benar muram. Tatapannya kepada Frans juga dipenuhi kecurigaan dan ketidakpercayaan.Saat itu, Eirene memanjat tebing batu dengan tangan kosong hingga berhasil naik ke daratan. Dia menggeleng kepada Lunara. "Aku nggak menemukannya. Tapi melihat kondisi arus laut sekarang, sepertinya dia bukan terseret arus.""Bisa saja Bu Casya bisa berenang dan sudah berenang ke tempat lain."Gaia hampir mati ketakutan. Dia buru-buru berlari menghampiri Eirene dan menyelimuti tubuhnya dengan handuk. "Kak Eirene, kenapa tadi langsung lompat begitu saja?"Eirene menggeleng. "Nggak apa-apa. Menyelamatkan orang lebih penting. Kasus orang tenggelam berb







