تسجيل الدخولBahkan ada senyum di sudut bibirnya. Orang yang tidak tahu mungkin akan mengira dia baru saja mendapatkan kontrak besar, padahal cuma karena sebuah panggilan sederhana.Kadang Lunara merasa, 'Siapa bilang perempuan itu mudah berubah? Laki-laki juga sama saja.'Kayden dulu sering memaksa Lunara memanggil nama lengkapnya. Saat suasana intim, dia berkali-kali menyuruh Lunara menyebut namanya lengkap. Sekarang malah tidak boleh dipanggil begitu."Tante Fresia dan ibuku memang nggak terlalu akur."Lunara hanya mengangguk pelan. Dalam hati dia merasa, mungkin Fresia bukan hanya tidak akur dengan Saphira. Berani mengatakan hal seperti itu di pesta pertunangan Eden, jelas dia juga tidak terlalu peduli pada Eden.Lagi pula, pasangan dari keluarga kedua itu memang sama-sama keterlaluan.Mata Kayden sedikit bergerak, nadanya jadi agak tegang. "Kamu nggak marah sama aku?""Hah? Aku marah apa? Apa yang dikatakan tantemu itu cuma untuk menaikkan popularitas Carol. Aku cuma jadi alat saja."Wajah Lun
Begitu mendapat sedikit saja informasi tentang Keluarga Narasoma, media langsung membesar-besarkannya tanpa batas. Awalnya masih bisa dibilang hanya spekulasi tanpa dasar. Lama-lama malah diperbesar, sampai jadi viral.Lunara tidak melihat ponselnya di dalam mobil, sementara Kayden sedang menyetir. Nada dering ponsel tiba-tiba terdengar nyaring.Kayden tidak melihat layar. "Sayang, tolong angkat teleponnya."Lunara menekan tombol jawab.Suara Ignas terdengar dari sana. "Pak Kayden, di internet ada banyak komentar tidak benar tentang Bu Lunara. Tim PR sudah sedang menanganinya."Alis Kayden langsung berkerut.Biasanya untuk hal seperti ini, Ignas akan melapor setelah semuanya selesai ditangani. Kali ini jelas agak rumit."Apa yang mereka katakan?""Pemicunya adalah pesta pertunangan Pak Eden. Nyonya Fresia menerima wawancara media dan mengatakan bahwa Bu Lunara dan Carol sangat mirip. Ucapannya ambigu dan memicu spekulasi."Netizen sekarang paling suka membongkar urusan keluarga kaya ya
Hilda menepuk bedak ke wajahnya. "Aku juga bukan mau menikah denganmu demi saham Keluarga Narasoma. Memangnya kalau kamu punya saham, setelah kita menikah atau bercerai nanti saham itu jadi milikku? Aku bukan orang bodoh.""Kamu nggak usah berharap sama saham keluargaku dan aku juga nggak mau saham keluargamu."Eden menatap wajah Hilda yang halus. Wajahnya tidak bisa dibilang sangat cantik, bibirnya agak tipis, tulang pipinya juga terlihat jelas. Namun mata itu berkilau, membuatnya teringat pada orang lain.Hanya saja, orang itu indah di segala sisi, sementara Hilda hanya memiliki sedikit kemiripan dalam sorot mata. Hanya dengan sedikit itu saja, sudah cukup untuk membuatnya memilih Hilda."Ayo."Acara pertunangan berlangsung lancar.Hilda dan Eden berkeliling bersulang dengan para tamu.Saat mereka sampai di depan Lunara dan Kayden, pandangan Hilda langsung terpaku pada Kayden, senyumnya menggoda. "Kakak, Kakak Ipar, aku bersulang untuk kalian."Lunara menarik Kayden, berbisik pelan,
Ekspresi di wajah Fresia seketika berubah-ubah. Dengan suara gemetar, dia berkata, "Kamu bilang Saphira rela memberikan pelabuhan itu kepada menantunya?"Dia tidak percaya.Kemungkinan besar tetap atas nama Kayden. Secara nominal memang diberikan pada menantu, tapi siapa tahu ada permainan di baliknya.Eden menatap Fresia di depannya. Di dalam hatinya muncul rasa lelah yang sangat mendalam.Terulang lagi.Sejak kecil sampai sekarang, Fresia memang tidak pernah peduli pada dirinya dan Frans. Fresia tidak pernah peduli bagaimana posisi mereka di Keluarga Narasoma.Dalam pandangan Eden, meskipun Zafran keras dan otoriter, dia masih punya sedikit kelembutan yang bahkan tidak perlu dimiliki seorang pria. Walaupun Zafran tidak menyukai Fresia, tetap saja dia tidak pernah menghalangi ketika setiap kali Fresia datang menjemput Frans dan Eden untuk pergi.Namun, tidak pernah ada yang bertanya pada Eden, apakah dia ingin pergi bersama ibunya.Setiap kali Fresia menjemput mereka, yang dia katakan
Semua yang digunakan di gedung utama tentu saja yang terbaik. Latar belakang keluarga Saphira bagus, Javier juga murah hati. Apalagi, sekarang kendali Keluarga Narasoma ada di tangan Kayden. Tinggal di gedung utama sehari, berarti mendapat perlindungan Kayden selama sehari.Eden dan Frans benar-benar setuju untuk pindah keluar begitu saja?Saphira tersenyum sambil menepuk tangan Fresia. "Kamu juga jangan khawatir. Anak-anak ini sudah mau berkeluarga. Frans juga sedang dikenalkan dengan calon pasangan. Memang sudah seharusnya pisah. Kalau nggak, nanti waktu para menantu menikah, malah jadi bahan tertawaan."Secara logika memang begitu. Akan tetapi, Fresia tetap tidak bisa menelan kekesalan itu."Hardi juga setuju?""Setuju, dong. Kenapa nggak setuju?"Fresia menggigit bibir bawahnya.Di ruang rias, Hilda sedang berdandan. Ini hanya pesta pertunangan, jadi dia tidak menyiapkan gaun yang terlalu mahal. Dia hanya mengenakan gaun merah, lalu berdandan secukupnya.Saphira mengeluarkan sepasa
Fresia mengamati dengan terang-terangan tanpa menyembunyikan apa pun. Dari atas sampai bawah, dia menilai Lunara secara menyeluruh.Tubuhnya bagus, wajahnya semakin dilihat semakin menarik. Ada daya pikat yang sulit dijelaskan di sorot matanya, membuat Fresia menjadi tertarik.Fresia tidak percaya wanita yang bisa mengendalikan Kayden ini tidak punya kelebihan apa pun.Tatapan Fresia membuat Lunara merasa tidak nyaman. Saat itu juga, dia menggeleng. "Tante, aku nggak dekat dengan Hilda, juga nggak dekat dengan Eden. Lebih baik aku nggak ikut. Coba Tante tanya saja ibuku."Fresia tertegun, seolah-olah tidak menyangka Lunara akan langsung menolak di depan pintu hotel.Sudut bibir Kayden terangkat sedikit. Dia menurunkan tangan Lunara dari lengannya, lalu menggenggamnya erat. "Kami masuk dulu. Ibuku di mobil belakang, Tante bisa pergi bersamanya."Setelah berkata begitu, dia mengangguk ringan pada Fresia, lalu membawa Lunara pergi.Fresia mengernyit melihat mereka, berseru pelan, tetapi p







