登入Dia menggiring tangan Lunara untuk bergerak turun.Lunara menjelaskan, "Kadang ada klien yang minta tipe tubuhnya nggak seperti kamu. Aku juga nggak tahu tubuh pria lain seperti apa, jadi ya cuma bisa cari referensi."Menggambar ilustrasi memang berbeda dengan pekerjaan lain. Ada klien yang suka pria muda kurus dan cantik, ada juga yang suka pria berotot penuh hormon maskulin. Lunara tidak mungkin menggambar semua karakter berdasarkan Kayden.Namun, Kayden malah mengernyit. Nada suaranya bercampur emosi rumit yang sulit dijelaskan. "Kamu masih mau lihat pria lain?"Lunara langsung diam. 'Mulut sialan, memangnya nggak bisa diam dikit, ya?'Sebenarnya Lunara ingin bilang, "Memangnya kenapa? Waktu kuliah dulu, entah sudah berapa banyak model telanjang yang kulihat demi menggambar anatomi tubuh. Semua itu memang pakai model sungguhan".Namun, melihat wajah Kayden yang mulai gelap, dia tidak melanjutkan. Jarinya malah mengait sabuk Kayden, lalu mengikuti perkataannya untuk membujuk."Lihat
Saat Lunara tersadar kembali, Kayden sudah menjalankan "uji coba" yang dikatakannya tadi dengan sangat tuntas. Sudut mata Lunara mulai berkaca-kaca. Dia melirik ke arah pintu dan melihat bayangan seseorang lewat.Jantungnya langsung menegang. Dia buru-buru mendorong Kayden. "Ada orang ...."Kayden tidak menjawab.Ini kantornya. Kalaupun ada yang datang, tidak ada yang berani masuk tanpa izinnya.Lagi pula, andaikan benar ada yang masuk, memangnya kenapa?Kayden hanya mencium istrinya sendiri di ruang kantornya. Itu bukan tindak kriminal dan juga tidak melanggar norma.Akan tetapi, Lunara sangat gugup.Bagaimanapun, dulu dia pegawai Grup Narasoma. Kalau ada yang masuk kantor, kemungkinan besar orang itu mengenalnya.Kayden sangat sibuk setiap hari dan tidak pernah membuka forum internal perusahaan, jadi dia tidak tahu seberapa heboh gosip para pegawai di belakangnya.Kalau benar ada yang melihat, jangankan besok, malam ini juga forum pasti sudah penuh dengan pembahasan soal Kayden yang
Lunara berkedip. "Aku lagi mikir siapa yang ngasih kamu kopi di sofa sana, feminin banget."Kayden melirik gelas yang diletakkan di sana. Dia juga tampak sedikit tertegun.Lunara mendongak menatapnya. Mungkin dia ingin melihat sedikit petunjuk dari wajah Kayden, tapi saat bertemu dengan mata pria itu yang dalam, yang dilihat Lunara hanya senyum yang tak tersembunyikan.Lunara hampir saja tenggelam dalam senyumannya.Kayden mengulurkan tangan dan menyentuh dagu Lunara.Tadi pagi Lunara malas berdandan. Saat membangunkan Daisy, keduanya malah bermanja-manja cukup lama. Wajah Lunara sampai dipenuhi krim bayi milik Daisy dan sekarang masih ada aroma susu lembut dari sisa krim bayi di wajahnya.Kayden tersenyum, "Bu Lunara, kamu lagi khawatir soal apa? Itu punya Daisy waktu kemarin keluar, dia kasih ke aku."Kayden berdiri, lalu berjalan ke sana untuk mengambil gelas di atas meja dan menyerahkannya kepada Lunara. Di atasnya masih ada gambar yang dibuat Daisy dengan spidol.Labelnya tertulis
Lunara duduk di kantor Kayden, memutar kursinya pelan. Kursi kantor seharga ratusan juta itu memang jauh lebih nyaman dibanding kursi bekas 600 ribu yang dulu dia beli di pasar furnitur bekas. Bahkan ada fitur pijatnya juga.Begitu duduk di sana, Lunara sampai merasa dia bisa menetap di kantor ini.Ignas masuk membawa kopi. "Bu Lunara, mau kopi?""Terima kasih, taruh saja di sana."Di kantor Kayden, bagian belakangnya berupa dinding kaca besar dari lantai sampai langit-langit. Berdiri di sana bisa melihat sebagian besar gedung-gedung di Kota Andara. Belum lagi di tengah cuaca dingin begini, duduk sambil berjemur membuat Lunara ikut merasa hangat.Ignas tersenyum. "Gimana kantor Pak Kayden ini?""Bau."Ignas langsung panik. Dia baru saja ingin bertanya bagian kebersihan mana yang kurang beres ketika mendengar Lunara berdecak kagum."Bau orang kaya."Kantor presdir Grup Narasoma memang penuh kemewahan di setiap sudutnya, tetapi semua itu juga hasil akumulasi puluhan tahun perkembangan Gr
Berkat pengalaman bertahun-tahun dalam interogasi, polisi itu menangkap inti dari ucapan Moana dengan cepat."Dia menyinggung siapa?"Moana langsung terhenyak. Saat tatapannya bertemu dengan pandangan tegas polisi itu, tubuhnya tanpa sadar gemetar. Dia menggertakkan gigi sebelum akhirnya berkata pelan, "Eden ... dia menyinggung Eden."Para polisi saling memandang.Di jendela kecil pintu ruang interogasi, tampak sepasang mata dingin dan suram milik seorang pria. Tubuhnya tinggi hingga kepalanya hampir menyentuh bagian atas kusen pintu. Dari posisi jendela itu, hanya matanya yang terlihat.Kayden menggeleng pelan. Bukan Eden. Atau lebih tepatnya, bukan cuma Eden.Telapak tangan Moana sudah dipenuhi keringat dingin. Bibirnya bergetar saat berkata, "Ma ... masih ada Martin dan Alfie. Mereka bilang kalau aku bisa menghancurkan perusahaan Lunara, mereka ... mereka bakal kasih aku keuntungan."Dia tidak menjelaskan keuntungan seperti apa. Paling juga hal-hal semacam itu.Soal dua orang itu, K
Elina menarik napas dalam-dalam.Saat luka di ibu jarinya dibersihkan dan diperban tadi, dia tidak diberi obat bius. Setelah mengirim pesan itu, seluruh tenaganya seolah-olah langsung habis.Dengan wajah pucat, dia bersandar lemas di tubuh Lunara sambil mengunci layar ponselnya.Elina tahu dia seharusnya tidak terlalu bersedih karena hal ini. Masih banyak hal penting lain yang harus dia lakukan. Namun, hati manusia tidak bisa dikendalikan.Lagi pula, Silvar adalah cinta pertamanya. Ini pertama kalinya dalam hidup Elina menyukai seorang pria. Hubungan pertamanya dimulai dengan terburu-buru, juga berakhir begitu saja tanpa hasil apa pun.Ponsel masih tergenggam di tangan Elina. Air mata tanpa sadar mengalir dari sudut matanya. Bahunya yang kurus bergetar pelan seperti sayap kupu-kupu yang rapuh.Awalnya dia terus meyakinkan diri bahwa berakhir seperti ini juga bagus. Setidaknya bisa berhenti sebelum terluka lebih dalam. Bahkan kalau bagi Silvar hubungan mereka cuma permainan, itu juga ti







