LOGINLunara menopang keningnya dengan tangan, lalu pura-pura bertanya dengan santai, "Kenapa? Kamu sudah mau mulai pacaran?""Nggak. Aku cuma mau dukung bisnismu."Lunara tersenyum. "Kalau begitu, kamu harus beli lebih banyak ya."Omzet S2 tahun ini cukup bagus. Membeli beberapa set perhiasan di àl'aube masih mampu dia lakukan.Lunara sengaja berkata, "Elina belum lama ini pulang. Kamu sudah tahu, 'kan?"Ekspresi Silvar tampak sedikit tidak wajar. Senyum di sudut bibirnya pun sempat membeku sesaat sebelum dia menjawab pelan, "Ya.""Beberapa hari lalu, mereka ingin bekerja sama dengan S2, jadi hari ini mereka datang menemuiku."Lunara sengaja memanjangkan suaranya. "Oh ... begitu."Siapa yang tidak tahu bahwa selama beberapa tahun ini, Silvar tidak pernah datang ke satu pun acara kencan yang diatur untuknya?Setiap kali Nancy mencarinya, menangis, mengamuk, bahkan mengancam akan melakukan hal nekat, Silvar malah ikut menangis. Akhirnya, Nancy justru tidak tahu harus berbuat apa.Nancy bahkan
Mobil melaju menuju gedung di dekat sana.Kayden mengenakan kacamata tanpa bingkai. Tatapannya serius saat membaca dokumen di tangannya.Silvar mendekat untuk melihat. Ternyata itu adalah rapor SD Daisy.Silvar semula mengira Kayden sedang begitu serius membaca laporan proyek, mungkin ingin berinvestasi di sana."Daisy baru masuk SD, 'kan? Kalaupun nilainya kurang bagus, seharusnya nggak perlu terlalu dikhawatirkan.""Justru aku khawatir nilainya terlalu bagus."Silvar terdiam. Ada juga ya, orang yang suka pamer semacam ini?Sambil mengemudi, Ignas menjelaskan, "Nona Daisy anak yang pendiam dan terlalu cerdas. Dia agak sulit bergaul dengan anak-anak seusianya. Di sekolah, selain bersama Tuan Rupert, biasanya dia selalu sendirian."Itulah yang sebenarnya dikhawatirkan Kayden. Semakin besar, Daisy semakin tidak terlihat seperti anak kecil.Sejak kecil, kemampuan bahasanya sudah berkembang lebih cepat daripada anak-anak seusianya. Sekarang, bakat dan kegigihannya yang luar biasa juga sema
Itu adalah foto mereka yang diambil secara spontan ketika ibunya mengajak Elina makan dan sekalian mengajaknya ikut.Saat Reyhan mengunggahnya kemarin malam, Elina tidak melihatnya. Namun, cukup banyak orang-orang terdekat mereka yang meninggalkan komentar di bawah foto. Mereka bahkan menanyakan kapan keduanya akan menikah.Reyhan tahu Elina masih belum bisa benar-benar melupakan Silvar. Selama dua tahun terakhir, mereka terus berhubungan sebagai teman, tidak terlalu dekat, tetapi juga tidak benar-benar jauh.Elina tidak pernah melewati batas. Reyhan pun selalu menjaga sikap dan tidak pernah mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan.Ibunya sudah beberapa kali mendesaknya, merasa dia terlalu pasif. Namun, Reyhan justru merasa dengan sifat Elina seperti itu, kalau dirinya terlalu terang-terangan mengejar, hasilnya juga hanya akan ditolak.Lebih baik dia tetap seperti sekarang, perlahan mendekatinya tanpa membuatnya merasa tertekan. Suatu hari nanti kalau Elina bersedia melepaskan
Reyhan membuka suara dari seberang telepon. "Katanya Grup Sankara ingin bekerja sama dengan Pak Silvar, tapi ditolak?"Silvar mencibir. "Informasi Pak Reyhan cukup cepat juga."Mereka sama-sama bergerak di industri yang sama, jadi masing-masing memang punya jalur untuk mendapatkan informasi tertentu.Itu bukan hal yang aneh. Apalagi dalam dua tahun terakhir, Grup Sankara berkembang cukup baik di bidang robotika dan berhasil membangun pasarnya sendiri.Perkembangan dan peluncuran produk-produk baru mereka juga menjadi perhatian beberapa perusahaan lain di industri yang sama.Perusahaan Reyhan juga memproduksi sejumlah cip yang bisa digunakan untuk mengoperasikan robot rumah tangga.Hanya saja, dalam tahap pengujian, hasilnya masih kalah mengesankan dibandingkan produk yang diberikan S2.Grup Sankara sudah berulang kali membujuk S2 agar bersedia bekerja sama. Hal ini juga bukan rahasia lagi di kalangan industri."Aku cuma mau memastikan dulu dengan Pak Silvar. Kalau kalian nggak berniat
"Bu Elina bisa pergi dulu. Setelah aku memikirkan syaratnya, aku akan menghubungimu.""Aku masih ada urusan lain, jadi nggak bisa mentraktir Bu Elina untuk makan siang."Elina terdiam dan membatin, 'Memangnya kamu pikir aku masih di sini karena ingin menumpang makan denganmu?'Elina merapikan dua rangkap kontrak itu."Tolong Pak Silvar cap dulu kontraknya. Setelah itu aku akan segera pergi dan nggak akan mengganggumu lagi."Kontrak sudah ditandatangani, jadi pemberian cap hanyalah prosedur. Silvar membubuhkan cap pada kontrak, lalu menyerahkannya kepada Elina.Saat tangan mereka sama-sama memegang kontrak itu, Silvar tidak melepaskannya. Dia hanya menatap Elina dalam-dalam. Seolah ingin melihat wanita di hadapannya sampai ke lubuk hati.Wajah Elina tetap tenang. Dia mengerahkan sedikit tenaga untuk menarik kontrak itu, tetapi tiba-tiba kepalanya terasa sangat pusing. Mungkin karena pagi ini dia terlalu banyak minum kopi dan asupan kafeinnya berlebihan, sehingga sekarang jantungnya mula
Syarat ini benar-benar tidak masuk akal.Ditambah lagi, Silvar tidak menjelaskan secara terang-terangan apa saja syaratnya, sehingga sulit bagi Elina untuk menyetujuinya begitu saja.Elina menggigit bibir bawahnya."Kenapa Pak Silvar harus mempersulitku?""Kalau Bu Elina menganggap ini mempersulitmu, lupakan saja. Kamu bebas mencari perusahaan lain untuk bekerja sama."Silvar menautkan kedua tangannya dan bersandar ke belakang. Sikapnya terlihat santai dan berkelas. Namun pada saat yang sama, dia juga memancarkan tekanan yang sangat kuat. Dia yakin tidak ada cip lain di dunia ini yang lebih cocok daripada cip buatannya.Cip buatan Reyhan sama sekali tidak sebanding.Elina memandangi dokumen di tangannya. Tangannya sedikit gemetar.Silvar pasti masih belum bisa melupakan kejadian beberapa tahun lalu. Dia ingin membalas dendam kepadanya. Kali ini, Grup Sankara telah menginvestasikan dana yang sangat besar untuk memperbarui produk mereka.Elina juga tidak mungkin membiarkan kerja keras se







