LOGIN“Halo, Aldo.”
“Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” Suara di seberang terdengar santai, tapi berubah tegang begitu mendengar nada dingin Dennis. “Tolong selidiki seorang perempuan. Namanya Saras. Dia kerja di dealer mobil yang kita datangi kemarin.” Di ujung sana, Aldo yang semula bersandar santai di kursinya langsung tegak. Alisnya bertaut. “Saras?” tanyanya, agak ragu. “Ada masalah, Pak?” “Iya.” Jawaban itu singkat, tapi berat, tegas, dan tak memberi ruang untuk diskusi. “Secepatnya, ya.” Keheningan singkat tercipta sebelum Aldo berdehem kecil. “Baik, Pak.” Ia menelan pertanyaannya. Ia tahu benar, kalau Dennis sudah berbicara dengan nada seperti itu, membantah hanya berarti bunuh diri. Panggilan terputus. Dennis meletakkan ponsel di kursi sebelah, lalu bersandar, menatap lurus ke jalanan yang mulai ditelan gelap. Lampu kendaraan melintas silih berganti di kaca depannya, tapi pikirannya melayang jauh. Tangannya mengepal di atas setir, sementara satu pertanyaan terus menggema di kepalanya pertanyaan yang bahkan ia sendiri takutkan jawabannya. Sementara itu, di atas motor, angin sore mengibaskan anak-anak rambut di pelipis Saras. Tapi pikirannya jauh lebih berisik daripada bising jalanan yang mereka lewati. Dia kenapa sih? Mau apa lagi? Masa iya dia tertarik sama aku? Saras menggeleng pelan, mendesah lirih. Ah, Saras, kamu ini. Ngaca dong. Dia itu Dennis Damara. Orang kaya, punya segalanya. Sementara kamu? Cuma ibu-ibu pekerja keras yang ngumpulin receh buat beli susu dan bayar kontrakan. Senyum miris muncul di bibirnya, hanya sebentar. Ia tahu pikirannya barusan konyol. Namun senyum itu mendadak sirna. Di kaca spion motor, matanya menangkap sesuatu, bayangan mobil hitam. Mobil yang tak asing. Mobil yang tadi dikendarai Dennis. Jantungnya mencelos. Ia menoleh cepat ke belakang, memastikan. Benar. Mobil itu masih ada. Tidak menyalip, tidak pula terlalu dekat. Hanya menjaga jarak. Tapi cukup lama berada di jalur yang sama untuk membuat bulu kuduknya meremang. “Dia ngikutin aku?” Saras meraih erat tas di pangkuannya, jemari dingin karena cemas. Jalanan sore yang tadinya hanya terasa lengang, kini mendadak berubah menjadi lorong panjang penuh bayangan. Perasaan tak enak merambati dirinya, semakin kuat setiap kali mobil itu muncul lagi di spion. “Bang,” ucap Saras pelan, berusaha menahan getar suaranya. “Bisa lewat jalan pintas nggak? Yang cuma bisa dilewatin motor. Saya agak buru-buru.” Sang driver melirik spion, lalu menatap Saras sekilas, sebelum kembali melirik spion. Ada perubahan halus di wajahnya, yang tadi santai kini tampak lebih waspada. “Oke, Kak. Saya tahu jalurnya.” Tanpa banyak bicara, motor itu membelok tajam di persimpangan, memasuki jalan sempit yang hanya muat satu motor. Ban motor bergesekan dengan aspal kasar, sementara cahaya lampu jalanan semakin jarang, meninggalkan bayangan panjang di dinding-dinding gang. Saras merapatkan tubuh, menggenggam tasnya lebih erat. Napasnya terengah, antara takut sekaligus sedikit lega karena mobil hitam itu tak mungkin bisa masuk mengikuti. Namun rasa lega itu tak bertahan lama. Hening yang menyelimuti gang kecil justru memperbesar suara-suara dalam kepalanya. Jika benar itu Dennis kenapa dia mengikutiku? Apa yang dia mau dariku? Setiap tikungan yang dilalui motor hanya menambah denyut gugup di dadanya. Bayangan dinding tinggi, suara jauh anak-anak bercanda di ujung gang, dan deru motor yang bergaung semuanya menyatu, menekan dadanya makin kuat. Saras memejamkan mata sejenak, berdoa dalam hati. Semoga aku salah. Semoga semua ini cuma perasaanku saja… *** "Apa yang kamu dapat, Aldo?" tanya Dennis begitu pria itu melangkah masuk ke ruang kerjanya. Aldo membuka map di tangannya, meletakkannya di meja sebelum menatap bosnya dengan ekspresi serius. "Namanya Pravita Saraswati, Pak. Statusnya janda, punya satu anak laki-laki. Tinggal bersama ibunya dan anaknya di sebuah rumah kontrakan kecil di daerah belakang pasar." Dennis menyipitkan mata, fokus. "Siapa mantan suaminya?" "Gavin Alexander," jawab Aldo. Dennis mengernyit, seolah nama itu familiar. "Anaknya Robin Alexander?" "Benar, Pak. Gavin adalah anak pertama Robin Alexander, pengusaha properti besar yang menikah dengan Nora Hartawan, putri dari Sandy Hartawan." Dennis terdiam sesaat. Nama-nama itu bukan sekadar nama. Mereka bagian dari lingkaran elit. Lingkaran yang ia kenal baik. "Kenapa mereka bercerai?" Aldo menghela napas, lalu menjawab, "Alasan klasik, Pak. Saras dianggap tidak selevel. Pernikahan mereka ditentang keras oleh Pak Robin. Gavin dijodohkan dengan Nora Hartawan. Akhirnya mereka bercerai saat Saras hamil tiga bulan.” Dennis bersandar di kursinya, tatapannya kosong. Dennis bersandar di kursinya, kedua tangannya terlipat di depan dada. Tatapannya kosong menembus dinding, seolah mencoba menyusun potongan-potongan puzzle yang baru saja diberikan Aldo. “Gavin Alexander…” gumamnya pelan. Nama itu terasa getir di lidahnya. “Aku ingat, dulu dia sering muncul di beberapa acara keluarga besar. Anak manja yang terlalu dimanja, tapi Robin selalu membanggakannya.” Aldo menunggu, tak berani menyela. “Jadi Saras, wanita itu pernah menjadi bagian dari keluarga Alexander?” Dennis tersenyum miring, namun tidak ada kebahagiaan di baliknya. Lebih seperti kepahitan. “Tak heran sorot matanya penuh luka.” Ia mengetuk meja dengan jarinya, ritme pelan namun penuh tekanan. Pikirannya melayang. Tentang Robin Alexander, tentang pernikahan yang dipaksakan, tentang bagaimana sistem keluarga elit selalu mengorbankan satu pihak demi kehormatan dan status. “Pak…” suara Aldo pelan, ragu. “Apa yang harus saya lakukan dengan informasi ini?” Dennis menghela napas panjang, menutup matanya sejenak sebelum menjawab, “Untuk sementara, cukup kita simpan. Jangan sampai ada yang lain tahu kau sedang menyelidikinya.” Aldo mengangguk cepat. “Baik, Pak.” Dennis membuka mata, sorotnya kini lebih tajam. “Aku ingin tahu lebih banyak tentang kehidupannya sekarang. Bagaimana dia bertahan. Apa yang dia sembunyikan. Dan…” bibirnya melengkung samar, “kenapa perasaan ini seperti déjà vu.” Aldo sempat menatap bosnya dengan bingung, tapi tak berani bertanya lebih jauh. Sementara itu, Dennis menyandarkan tubuhnya kembali ke kursi kulitnya, menatap langit senja yang mengintip dari balik jendela besar ruang kerjanya. Di balik semua rasa penasaran, ada satu hal yang mulai mengusik hatinya. Dennis terdiam lama. Ruangan kerjanya yang megah mendadak terasa sempit. Suara jarum jam di dinding berdetak pelan, tapi setiap detiknya menusuk telinganya. Ia teringat jelas, hari itu, di minimarket. Gavin dengan wajah merah padam, suara membentak, tangan kasar yang menarik lengan seorang perempuan muda. Saras. Dan dirinya, Dennis Damara, hanya berdiri beberapa meter dari sana, pura-pura tidak melihat. Tidak peduli. Tidak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain. Kini, potongan puzzle itu menyatu, menghantam keras ke dalam kepalanya. "Kalau saja waktu itu aku menengahi, kalau saja aku bicara sedikit saja, mungkin hidupnya tidak akan seburuk sekarang." Sebuah penyesalan asing merambat di dadanya. Ia bukan tipe pria yang mudah diguncang, tapi entah mengapa, wajah Saras saat menangis dulu, kini hadir lagi di hadapannya dengan begitu jelas. Wajah yang sama yang ia lihat beberapa hari terakhir, tegar di luar, tapi menyimpan luka yang tak pernah sembuh. Aldo menatap bosnya dengan bingung. “Pak?” panggilnya hati-hati.“Di depan kita, nanti pasti akan banyak ujian kehidupan, Ras.” Dennis mempererat pelukannya, seolah sedang membangun benteng pelindung bagi mereka berdua. “Kita hadapi bersama. Selama kamu mendukungku, aku akan selalu berjuang untuk keluarga kecil kita. Apalagi nanti...” Dennis menjeda kalimatnya, tangannya mengusap lembut perut Saras. “Akan ada adik-adik Alvin dan Althaf yang menambah ramainya rumah kita.”Saras sedikit menjauhkan wajah, menatap Dennis dengan dahi berkerut heran. “Memangnya Mas mau anak berapa lagi, sih?”Dennis terkekeh, matanya berkilat jahil di bawah lampu temaram. “Ya, dua atau tiga lagi sepertinya cukup.”“Hah?!” Mata Saras membelalak seketika, kantuknya hilang entah ke mana. Ia refleks menarik diri dari dekapan Dennis. “Mas serius? Nggak kasihan sama aku? Ini saja baru nambah satu, rasanya badanku sudah mau rontok, Mas!”Dennis tertawa melihat reaksi panik istrinya. Ia segera menarik Saras kembali ke pelukannya, kali ini lebih erat agar Saras tidak kabur.
Kehangatan selimut yang membungkus bayi itu seolah berpindah ke dada Saras saat bidan meletakkan makhluk mungil tersebut di atas kulitnya. Saras menahan napas sejenak, rasa hangat, sedikit lengket, dan aroma khas bayi baru lahir menyerbu indranya. Di bawah bimbingan lembut sang bidan, Saras memulai inisiasi menyusu dini. Ada rasa kikuk yang asing, namun saat bibir mungil itu mulai mencari, sebuah sengatan kasih sayang yang tak terlukiskan menjalar hingga ke relung hatinya, sebuah ikatan batin yang sah dan tak terputus sejak detik itu.Di sisi ranjang, Dennis mematung. Ia merasa seolah dunia di luar sana berhenti berputar. Matanya beralih perlahan antara wajah mungil putranya yang masih kemerahan dan wajah Saras yang tampak pucat namun bercahaya. Ada air mata yang menggenang di sudut matanya, sebuah campuran antara rasa lega yang hebat dan rasa hormat yang mendalam pada perjuangan istrinya. Irsa dan suaminya melangkah masuk dengan langkah tergesa namun penuh kehati-hatian. Wajah mere
Begitu mobil berhenti di depan lobi rumah sakit, petugas medis langsung sigap menyambut mereka. Saras sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya sendiri. Setiap langkah terasa seperti duri yang menusuk punggung bawahnya. Dennis dengan sigap membantu istrinya pindah ke kursi roda, lalu mendorongnya dengan hati-hati namun cepat menuju ruang persalinan.Di dalam ruangan yang beraroma antiseptik itu, tim perawat dan bidan sudah bersiap. Dokter keluarga mereka, dr. Setiawan, kebetulan sedang bertugas pagi itu dan menyambut mereka dengan senyum tenang yang sedikit mengurangi ketegangan."Pak Dennis mau menemani prosesnya di dalam, kan?" tanya dokter itu sambil mengenakan sarung tangan medis.Dennis terdiam sejenak. Ia menatap wajah Saras yang kini dibanjiri peluh. Istrinya meringis, mencengkeram sisi tempat tidur dengan buku jari yang memutih. Melihat Saras dalam kondisi seperti itu, hati Dennis terasa seperti diremas. Ia tidak tega, ada rasa ngeri sekaligus cemas yang hebat menghantam dada
Sembilan bulan berlalu, dan perut Saras kini sudah terasa begitu berat. Hari-hari penantian terasa mendebarkan, namun kehadiran Dennis sebagai suami siaga benar-benar menjadi kekuatannya. Bukan hanya Dennis, Alvin dan Althaf pun tak kalah antusias, mereka sering mengelus perut Saras, tak sabar menyambut anggota keluarga baru.Langkah Dennis terhenti saat melihat wajah Saras tiba-tiba berubah pias. "Kenapa, Sayang?" tanyanya sigap, tangannya langsung memeluk bahu sang istri.Saras meremas lengan Dennis, matanya terpejam sesaat. "Perutku mules sekali.""Apa sudah waktunya? Kita ke rumah sakit sekarang?" Suara Dennis terdengar panik, matanya menyiratkan kekhawatiran yang besar.Saras menarik napas panjang, mencoba mengatur ritme jantungnya sampai rasa nyeri itu perlahan memudar. "Sepertinya hanya kontraksi palsu. Sekarang sudah hilang," ucapnya sambil mengembuskan napas lega."Benar tidak apa-apa?" Dennis memastikan, jemarinya mengusap keringat dingin di dahi Saras."Iya, nanti saja k
Meninggalkan meja kantor yang selama bertahun-tahun menjadi dunianya bukan hal mudah bagi Saras. Namun, setiap kali rasa mual itu menghantam atau saat ia merasakan denyut kehidupan baru di rahimnya, ia tahu keputusannya sudah tepat. Ia ingin memberikan yang terbaik bagi calon buah hatinya, juga bagi Alvin dan Althaf yang kini menjadi prioritas utamanya.Namun, pengunduran diri Saras ternyata menjadi "lampu hijau" bagi Dennis untuk memperketat penjagaannya."Mas, aku hanya ingin ke taman depan sebentar dengan anak-anak. Kenapa harus dijaga Bik Wati dan supir juga?" protes Saras suatu sore ketika ia sudah rapi dengan daster hamil yang cantik.Dennis yang baru saja pulang kantor, bahkan belum sempat melepas dasinya, langsung menghampiri Saras. Ia berlutut di depan istrinya yang sedang duduk di sofa, mengusap perut Saras yang mulai membuncit dengan saksama."Taman itu licin kalau habis hujan, Sayang. Kalau kamu pusing dan tidak ada yang memegangi bagaimana?" ujar Dennis dengan nada rendah
Dennis mengerutkan kening saat tangannya hanya meraba sisi ranjang yang dingin. Kesadaran sepenuhnya pulih saat pendengarannya menangkap suara gemericik air dari balik pintu kaca yang buram."Mungkin dia sedang mandi," gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.Tak lama, pintu terbuka. Uap hangat tipis merayap keluar, membawa serta aroma sabun yang sangat ia kenali. Dennis tersenyum lebar, bersandar pada bantalnya dengan tatapan memuja."Wanginya istriku," goda Dennis, matanya mengikuti gerak-gerik Saras yang tampak terburu-buru meraih handuk kering.Namun, senyum Dennis perlahan memudar. Saras hanya membalas dengan senyum tipis yang tampak dipaksakan, wajahnya terlihat jauh lebih pucat dari biasanya. Gerakannya saat mengenakan pakaian pun tampak gontai, seolah seluruh energinya telah terkuras habis di dalam kamar mandi tadi."Sayang, kamu sakit?" Dennis langsung beranjak dari tempat tidur. Rasa kantuknya hilang seketika, berganti dengan kekhawatiran yang mendesak.Saras menggele
“Kak Alvin sekolah, Nak. Nanti kalau sudah Althaf, bisa main lagi dengan Kak Alvin,” kata Dennis sambil tersenyum hangat, menatap Althaf dengan penuh kasih.“Bener ya, Pa?” tanya Althaf dengan mata berbinar-binar, senyumnya merekah seperti matahari pagi.Dennis mengangguk, hatinya terasa meledak ha
“Halo, Sayang,” kata Gavin lembut sambil melangkah mendekati Althaf, menatap anaknya dengan mata yang hangat tapi penuh kewaspadaan.“Eh… Pak Dennis.” Gavin mengulurkan tangannya ke Dennis. Ia mencoba tersenyum, tapi hatinya dipenuhi cemburu saat melihat kedekatan Dennis dengan Saras.Dennis menat
“Kamu mau ngapain?” tanya Nora, suaranya sedikit meninggi saat melihat Gavin merapikan pakaiannya. Mereka sedang menginap di hotel karena urusan pekerjaan Gavin, dan Nora bersikeras ikut.“Kita pulang sekarang,” jawab Gavin singkat, matanya fokus pada tas yang ia kemas.Nora mengerutkan dahi. “Ng
“Dita!” panggil Dennis, suaranya agak terengah, hampir terbawa emosi.Dita, yang baru saja melangkah masuk ke gedung kantornya, langsung berhenti. Ia menatap Dennis, terkejut, wajahnya serius, mata berbinar karena gelisah, dan langkahnya tidak seperti biasanya.Rupanya, Dennis berangkat pagi-pagi k







