分享

Bab 2

作者: Serein M
Ibu jariku menggulir layar ponsel memeriksa seluruh unggahan milik wanita itu, dan semakin lama semakin cepat.

Tas mewah desainer. Bros mahal dengan bentuk macan kumbang. Keterangan fotonya berbunyi: [Kiano bilang kucing liar ini sangat mirip denganku saat di atas ranjang.]

Gaun pesanan khusus merek Deor di atas kapal pesiar pribadi.

Aku bahkan tak pernah berani melihat merek-merek itu melalui kaca jendela toko. Namun, dia mengunggahnya seolah barang-barang itu adalah belanjaan murah saja.

Semakin aku menggulir, semakin tanganku bergetar hebat.

Hingga aku berhenti pada sebuah foto.

Diunggah pada tanggal dua puluh empat Desember tahun lalu, bertepatan pada hari ulang tahunku.

Foto itu memperlihatkan kemesraan yang sangat intim. Cintia berbaring malas di atas seprai hotel putih bersih. Sebuah bekas ciuman merah yang baru dan gelap menandai lehernya. Dan, tangan kuat seorang pria tampak sedang menelusuri tulang selangkanya.

Pupil mataku langsung menyusut.

Ada sebuah tahi lalat yang sangat jelas di ruas kedua jari telunjuknya.

Aku mengenal tahi lalat itu. Tangan sama yang pernah menyentuh wajahku, pernah menyeka keringatku, dan pernah menyusup jauh ke dalam diriku.

Keterangan fotonya: [Dia sangat merindukanku. Hujannya terlalu lebat, jadi susah berkendara .… Sayang, jangan buat aku menunggu terlalu lama lagi lain kali.]

Pikiranku serasa meledak.

Pada hari itu, turun hujan badai terburuk sepanjang tahun yang membuat seluruh Bruklima hampir banjir.

Kiano meneleponku, suaranya terdengar kelelahan. "Anita, jalanan ditutup karena hujannya terlalu lebat. Aku harus tidur di lantai bengkel."

Aku bilang bahwa tidak apa-apa, dan masih menyuruhnya untuk tetap menjaga tubuhnya agar hangat.

Sementara aku duduk sendirian dengan kue mangkok yang gosong. Aku meniup sebuah lilin dan satu-satunya harapanku saat itu adalah agar dia bisa bekerja lebih santai di tahun depan.

Aku menunggunya sepanjang malam, meringkuk di sofa yang membekukan tubuh, khawatir kalau sampai melewatkan pesannya.

...

Keesokan paginya, dia mendorong pintu hingga terbuka dalam keadaan menggigil.

Dia lalu menunduk dan menciumku hingga terbangun. Hidungnya terasa dingin seperti es. "Maaf karena sudah membuatmu menunggu, Sayang."

Hatiku hancur melihat kondisinya saat itu. Aku meraih kedua tangannya yang membeku dan menyelipkannya ke dalam bajuku, menempelkannya ke kulitku secara langsung untuk menghangatkannya.

"Apa di bengkel sangat dingin?" tanyaku sambil mengusap lembut rambutnya.

Dia bergumam mengiyakan, lalu menyembunyikan wajahnya yang penuh rasa bersalah di ceruk leherku.

Sekarang, aku akhirnya mengerti.

Rasa dingin yang melingkupi tubuhnya saat itu bukanlah berasal dari bengkel mana pun, namun berasal dari kawasan perumahan mewah yang tak terjangkau itu.

Dari malam-malam panjang yang dia habiskan untuk berbohong bersama wanita itu.

Sementara aku?

Seperti orang bodoh menggunakan tubuhku sendiri untuk menghangatkan pria yang menguasai dunia mafia itu. Pria yang menghakimiku sambil duduk di atas singgasananya.

Aku berlari ke kamar mandi dan muntah.

Perutku bergejolak hebat dan memuntahkan kembali kroisan jamur putih seharga delapan juta lima ratus ribu, yang lenyap begitu saja di lubang toilet.

Aku menyiram toilet. Dan, air mataku jatuh mengalir ke dalamnya tanpa suara.

Dengan tangan gemetar, aku mengambil tangkapan layar tanda lokasi yang dicantumkan Cintia.

Di Leksona, Kota Goldensah.

Karena tidak punya mobil, jadi aku harus naik kereta hingga lokasi terdekat, lalu berjalan kaki sejauh tiga kilometer lebih di tengah hujan badai yang membekukan.

Angin dan air menusuk wajahku seperti serpihan kaca. Jari-jari kakiku benar-benar mati rasa, tetapi semangat di dadaku membuatku terus bergerak maju.

Ketika akhirnya aku melihat perumahan itu, lututku hampir jatuh lemas.

Itu bukan hanya sebuah rumah besar, melainkan sebuah istana.

Menara-menara bergaya Gotik dengan gerbang besi tempa. Sebuah kawasan pribadi yang luas dan dijaga oleh tembok setinggi hampir empat meter serta kawat beraliran listrik.

Aku menelan ludah dengan berat dan menyeret langkah kakiku yang membeku menuju ke arah gerbang.

"Berhenti di situ!"

Sebuah teriakan keras memecah keheningan. Dua pria bertubuh besar dengan setelan jas hitam bergegas keluar dari pos penjagaan.

Salah satu dari mereka meraba bagian ikat pinggangnya. Napasku tercekat saat melihat sebuah pistol sungguhan.

"Dari mana datangnya perempuan gila ini? Pergi sana!"

Penjaga itu menarik pistolnya setengah keluar dari sarungnya. Dia tidak mengarahkannya langsung padaku, tetapi ancamannya sangat jelas.

Aku membuka mulut, tetapi tak ada suara yang mampu keluar.

Suamiku ....

Pria yang setiap hari pulang ke rumah dengan tubuh berlumuran oli mesin, dan menghitung uang recehan bersamaku demi selembar uang seratus ribuan.

Dia benar-benar seorang Bos Mafia kejam yang ditakuti oleh semua orang.

Aku mencoba menipu diriku sendiri bahwa apa yang kudengar barusan hanyalah sebuah lelucon gila.

Tetapi sekarang, laras dingin pistol itu benar-benar menghancurkan ilusi terakhirku menjadi berkeping-keping.

"Apa kau tuli? Cepat pergi, sebelum aku berlaku kasar." Penjaga itu mendorong bahuku dengan keras.

Aku tersandung ke belakang dan jatuh ke genangan air. Jari-jariku terlalu beku untuk bisa menopang tubuhku sendiri saat mencoba bangkit berdiri.

‘Lupakan saja, Anita!’ Sebuah suara berbisik di kepalaku. ‘Pergi saja. Kau sudah cukup melihat semuanya.’

Tepat saat aku memaksakan diri untuk berdiri, sebuah suara raungan mesin yang memekakkan telinga bergema di jalan masuk.

Sebuah mobil mewah berwarna merah darah berhenti hanya beberapa senti dari ujung sepatuku.

Pintu mobil yang berat itu terbuka. Sebuah kaki jenjang dengan sepatu hak tinggi berwarna hitam terlihat melangkah keluar, diikuti oleh mantel bulu rubah putih sepanjang mata kaki.

Itu Cintia.

Kalung rubi itu tampak kontras berkilauan di kulitnya yang putih pucat. Dia melepas kacamata hitamnya dan menatap ke arahku. Sebuah senyum kejam dan bernada mengejek terukir di bibir merahnya.

"Wah, wah ...." Dia bergumam sambil mengangkat daguku dengan kuku tajamnya. "Bukannya ini istrinya Kiano yang menyedihkan dari Bruklima?"

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Ketika Topeng Kemiskinan Suamiku Terlepas   Bab 9

    Sudut Pandang Anita.Aku menatap dingin pada pria yang sedang menangis terisak-isak seperti orang gila di kakiku itu.Air matanya bercampur dengan darahnya sendiri, dan menodai gaun putih milikku.Tetapi, aku hanya mundur selangkah dengan perasaan muak. Aku menyentak gaunku dari genggamannya yang berlumuran darah."Anita ...." Tangan Kiano seketika membeku di udara. Dia menatap kilatan dingin di sorot mataku dengan ekspresi tak percaya."Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang berlumuran darah dan penuh kebohongan itu." Aku menatapnya, dan suaraku terdengar datar."Selama tiga tahun, kau membuatku terlihat seperti badut, menghemat setiap recehan untukmu di apartemen busuk itu. Sementara kau tinggal di hotel mewah, menginjak-injak cinta dan harga diriku.""Kau terus bilang kalau kau melindungiku. Tapi, kaulah orang yang sudah hampir membunuhku dalam hujan badai itu."Kiano tersentak hebat, dia menggelengkan kepala dengan putus asa. "Tidak .... Aku tidak tahu kalau itu semua palsu .... An

  • Ketika Topeng Kemiskinan Suamiku Terlepas   Bab 8

    Sudut Pandang Anita.Makan malam perpisahanku di sebuah restoran atap mewah Kota Mandira.Aku minum sampanye dan merasa sedikit sesak, jadi mendorong pintu kaca dan berjalan keluar menuju area teras untuk menghirup udara segar.Sesaat kemudian, sebuah jeritan yang sangat tajam terdengar memecah keheningan malam."Anita … pergi kau ke neraka!"Aku langsung menoleh dengan cepat.Sesosok bayangan muncul dari balik kegelapan pohon palem hias. Terlihat seorang wanita dengan rambut kusut dan tatapan mengerikan seperti hantu.Itu Cintia.Dia tidak lagi terlihat dalam balutan gaun pesanan khusus atau perhiasan seharga miliaran. Dia sekarang hanya mengenakan mantel yang sudah kotor dan robek.Selama tiga tahun ini, Kiano benar-benar seperti orang gila demi mencariku. Dia mencabut semua hak istimewa keluarga Cintia, memutus kartu kreditnya, dan mengusirnya dari rumah besar di Leksona seperti seekor anjing liar.Ekspresi wajahnya tampak dipenuhi oleh amarah. Matanya melotot dan menggenggam sebuah

  • Ketika Topeng Kemiskinan Suamiku Terlepas   Bab 7

    Sudut Pandang Anita.Setelah mengatakan itu, aku langsung berbalik tanpa menoleh ke belakang."Hentikan dia!"Raungan Kiano yang memilukan menggema di belakangku.Suaranya penuh dengan kegilaan dan obsesi yang benar-benar tak terkendali.Bunyi suara klik tajam dan serempak dari senjata-senjata yang dikokang menggema di sepanjang lorong yang lebar.Belasan penjaga bersenjata dengan setelan jas hitam keluar dari kegelapan, mereka menghalangi jalanku sepenuhnya.Inilah dia, Sang Bos Mafia yang menguasai dunia mafia Kota Nerusia.Jika tidak bisa memilikinya secara baik-baik, maka dia akan mengambilnya dengan paksa.Aku berhenti dan berbalik dengan perlahan.Kiano tampak berjalan dengan terhuyung keluar dari apartemen palsu yang berjamur itu.Matanya merah sepekat darah. Dia menatapku seperti seekor binatang buas yang mengamuk."Anita, aku tidak bisa membiarkanmu pergi." Dia terengah-engah, suaranya terdengar serak dan putus asa. "Di luar terlalu berbahaya, kau hanya akan aman bersamaku! Ak

  • Ketika Topeng Kemiskinan Suamiku Terlepas   Bab 6

    Sudut Pandang Anita.Petugas keamanan tidak ada yang berani menyentuh Sang Bos Mafia yang legendaris dan kejam itu. Mereka membiarkannya memblokir pintu belakang VIP."Anita, kumohon!" Matanya merah padam, dan suaranya bergetar hebat. "Walaupun kau harus memberiku hukuman mati, setidaknya beri aku kesempatan untuk menjelaskan. Datanglah ke rumahku, dan lihat sekali saja."Aku bahkan tidak sudi menatapnya, hanya berjalan lurus menuju ke mobil timku."Aku masih menyimpan buku catatan hijau tua milikmu yang dulu!" Dia tiba-tiba meraung. "Di dalamnya ada semua sketsa desain awalmu! Apa kau tidak menginginkannya lagi?"Langkahku langsung terhenti.Buku itu menyimpan seluruh jiwa dari desain-desain awal milikku.Aku pergi dengan begitu terburu-buru dan putus asa tiga tahun yang lalu sehingga tidak punya waktu untuk mengemasnya.Aku menoleh, menatapnya dengan sorot mata dingin."Kirimkan alamatnya," kataku dingin. "Aku datang hanya untuk mengambil barang-barangku. Dan ... menjauhlah dari mobi

  • Ketika Topeng Kemiskinan Suamiku Terlepas   Bab 5

    Sudut Pandang Anita.Ketika bus lintas kota itu menurunkanku di Losanes, aku hanya punya uang lima ratus ribu.Aku tidak punya waktu untuk menangis. Tidak ada energi juga untuk mengingat hujan badai Nerusia itu.Aku harus bertahan hidup.Kemudian, aku membuka sebuah kios di Pasar Vinisi. Aku menggunakan kawat tembaga murah dan pecahan kaca yang kubeli kiloan di pasar loak.Selama tiga tahun tinggal di apartemen kumuh itu, demi menghemat uang Kiano, aku sering mengubah barang rongsokan murah menjadi perhiasan buatanku sendiri.Aku tahu persis bagaimana caranya membuat sampah menjadi bersinar. Sama seperti bagaimana caraku mencoba membuat pernikahan murahan itu bersinar.Lapak daganganku meledak oleh pelanggan.Sentuhan kehidupan dan perjuangan yang tersirat dalam desain-desainku menarik perhatian seorang pria berambut putih yang menggunakan kacamata hitam.Dia adalah Tuan Arion, seorang taipan perhiasan paling misterius dan tertutup di wilayah Pantai Wesio.Dia berdiri di depan lapakku

  • Ketika Topeng Kemiskinan Suamiku Terlepas   Bab 4

    Sudut Pandang Kiano.Lampu ruang operasi tetap merah menyala selama tiga hari berturut-turut.Kakaknya menerima tembakan demi melindungiku. Dan, aku berutang nyawa pada Keluarga Kostana.Utang sialan itu membuatku terpaku di lantai luar pintu ruang operasi.Aku menarik dasi dan memeriksa arlojiku.Tiga hari.Tidak ada pemanas ruangan di Bruklima. Hujan badai sangat dahsyat, dan Anita sendirian di apartemen jelek itu. Dia bisa membeku.Akhirnya, pintu ruang operasi terbuka.Para perawat mendorong Cintia keluar dengan kepala dibalut perban tebal.Kepala ahli bedah mengangguk singkat dan gugup. "Tuan Kiano, operasinya berhasil."Aku menghela napas panjang dan berbalik untuk pergi."Kiano .…"Cintia berusaha meraihku dengan susah payah, dia mencengkeram ujung lengan jasku.Dia terengah-engah lemah, tetapi kilatan penuh kebencian melintas jelas di sorot matanya."Kiano, kau menemaniku selama tiga hari. Jangan berani-beraninya kau kembali ke tikus got dari Bruklima itu," semburnya dengan sua

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status