LOGINAku tidak pernah pandai berpura-pura, tidak menyadari saat seseorang memanipulasiku. Waktu aku berumur 14 tahun, seorang gadis di kelas matematikaku menyelinapkan lembar contekan ke mejaku tepat ketika guru berjalan menyusuri barisan kursi kami. "Pegang sebentar untukku," bisiknya. "Cukup sampai ujiannya selesai." Dia menyangka aku akan menyembunyikannya. Tapi, aku mengangkat tangan. "Bu Kelly, Jessi menaruh contekan di mejaku dan memintaku membantunya simpan." Sejak hari itu, tak seorang pun di sekolah pernah lagi memintaiku membantu mereka pegang sesuatu. Lalu, Lorenzo Halim, pemimpin keluarga mafia tertua di dalam negeri, menemukanku dan memberitahuku bahwa akulah putrinya yang hilang 25 tahun lalu. Dia mengadakan makan malam untuk memperkenalkanku kepada keluarga. Sebelum aku tiba, Sofia, putri yang mereka besarkan, menyembunyikan kartu tempat dudukku dan mengambil kursi di antara kedua orang tuaku. "Aku sudah duduk di sini selama 21 tahun," katanya manis. "Kamu nggak keberatan, ‘kan?" Semua orang menyangka aku akan tersenyum, duduk di tempat lain, dan membuktikan bahwa aku bukan ancaman. Tapi aku meletakkan kembali kartu tempat dudukku di atas meja. "Kalau kursi ini tak berarti apa-apa, kenapa kamu membutuhkan kursiku?" Sofia menangis. Ibuku bergegas menghiburnya, ketiga kakakku mengikutinya keluar, dan ayahku menasihatiku agar menjaga kedamaian. Ini bukan kali pertama. Mereka melewatkan tiga ulang tahunku demi Sofia, menghadiahkan padanya gelang yang terukir namaku, dan mengubah kamar-kamar yang dijanjikan untukku menjadi studio pribadinya. Setiap janji yang diingkari selalu datang dengan alasan yang terdengar masuk akal, tetapi setiap alasan berakhir dengan cara yang sama: Sofia selalu diprioritaskan dan aku selalu dituntut untuk mengerti. Mereka semua percaya aku akan menolerir apa saja demi marga Halim, demi uang mereka, dan demi perlindungan mereka. Esok paginya, mereka meninggalkanku seorang diri di gedung pengadilan pada jadwal penggantian namaku, hanya karena Sofia mengeluh asmanya kambuh. Maka aku menarik kembali permohonanku, mempertahankan marga yang diberikan ibu angkatku, lalu pindah membawa satu koper. Namun setelah aku pergi, kenapa justru mereka semua yang menyesalinya?
View MoreEnam bulan kemudian, aku membeli apartemen dua kamar tidur di Breklin.Hanya nama Elena Harta yang tercantum di akta. Aku memilih sendiri pelat nama kuningan itu. Tak ada satu pun lambang Halim yang menempel di atasnya.Para kolega membantu merakit rak-rak buku pada hari kepindahan. Vivian membawa sampanye, sementara Maya memberi kotak kunci untuk kunci cadangan. Tak ada yang memilihkan gorden untukku dan tak ada yang mencoba mengisi kamar-kamar kosong dengan hadiah-hadiah yang cocok untuk orang lain.Aku memilih sofa hijau tua, peralatan makan putih polos, dan gorden cukup tebal untuk menyekat matahari pagi. Tak satu pun keputusan itu berarti bagi siapa pun selain diriku. Justru karena itulah, aku menikmatinya. Kebebasan tidak selalu dramatis. Kadang itu berupa satu nota yang hanya memuat satu tanda tangan, alias milikmu sendiri.Seminggu sebelum ulang tahunku, ibu mengirim pesan.[Kami ingin mengajakmu makan malam, kalau kamu bersedia. Kamu yang pilih waktu dan tempatnya.]Aku balas,
Pukul 16.47 sore berikutnya, Yayasan Aurora memulihkan seluruh 5,1 miliar rupiah itu.Sofia mengundurkan diri sebagai direktur eksekutif. Label perhiasannya dipisahkan dari yayasan. Pengacara eksternal mengamankan pesan-pesan itu dan mengirimkan pemberitahuan perbaikan kepada penjamin emisi. Keluarga Halim tidak menutupi masalahnya. Untuk pertama kalinya, ayah tidak memintaku menukar kenyataan dengan kata yang lebih lembut.Ketika kontrak kerjanya selesai, keluargaku mengirimiku pesan.[Maukah kamu menemui kami? 20 menit saja, di lantai bawah kantormu.]Aku balas, [Oke, 20 menit. Lantai bawah.]Ibu membawa gelang safir itu. Dia mengulurkan kotaknya dengan kedua tangan. "Sejak awal, namamu terukir di dalamnya. Memberikannya kepada orang lain memang kesalahanku. Berpura-pura setelahnya bahwa hal itu tak mungkin menyakitimu juga salah. Keduanya sama-sama salah."Aku terima kotak itu. "Aku terima kata-katamu."Leo mengeluarkan sebuah kartu kunci dari kopernya. "Studio Sofia sudah dipindahk
Sore harinya, Sofia datang sendirian ke kantor Alden.Resepsionis memberitahuku bahwa dia sudah menunggu di lantai bawah hampir dua jam. Ketika aku selesai bekerja, dia duduk di lobi hotel sebelah dengan sebotol soda yang tak tersentuh.Begitu melihatku, dia langsung berdiri. "Beri aku sepuluh menit.""Kalau ini soal yayasan, telepon pengacaramu.""Ini soal pengadilan."Aku melihat jam tanganku, lalu menggeser diri ke bilik di dekat jendela.Sofia meletakkan gelang safir itu di atas meja. "Aku ingin mengembalikan ini lebih dulu. Namamu terukir di dalamnya. Aku nggak seharusnya terus memakainya.""Gelang itu nggak bisa mengubah apa pun dalam audit ini.""Aku tahu." Dia menyilangkan jemarinya. "Aku sedang berusaha mengaku bahwa aku punya pilihan."Aku hanya diam, membiarkannya mengisi keheningan itu.Dia menatap gelembung-gelembung yang naik di sisi gelasnya. "Saat di pengadilan, penyakitku tidak kambuh. Ketika aku melihat studio sedang dikosongkan, aku tahu cukup dengan bilang aku tak b
Asma Sofia tidak kambuh.Dia mempelajari kontrak itu lama sekali sebelum mengaku bahwa salinan SIM itu pernah melewati tangannya. "Asuransi membutuhkan dokumen semua orang. Aku mengembalikannya padamu begitu selesai aku pakai."Leo berpaling ke direktur keuangan. "Siapa yang menyewa Konsultan Kreswal?""Grace, asisten eksekutif Nona Sofia."Tiga puluh menit kemudian, Grace dibawa masuk ke ruang rapat. Satu pandangan pada tanda tangan itu langsung membuat wajahnya pucat."Aku yang membuat dokumen itu," katanya.Sofia melonjak dari kursinya. "Kenapa kamu memakai nama Elena?"Suara Grace bergetar, tapi dia terus berbicara, "Kamu bilang perusahaan perhiasanmu nggak boleh muncul di mana pun dalam rantai pembayaran yayasan. Kamu menyuruhku mencari seseorang yang tampak independen. Nona Elena bekerja di bidang risiko dan dia terhubung dengan Halim, jadi aku kira dia akan lolos tinjauan."Leo memerintahkan pesan-pesan itu diproyeksikan ke layar. Satu pesan dari Sofia berbunyi: [Namaku nggak bo












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.