Short
Aku Menolak Nama Moretti

Aku Menolak Nama Moretti

By:  KaterinaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku tidak pernah pandai berpura-pura, tidak menyadari saat seseorang memanipulasiku. Waktu aku berumur 14 tahun, seorang gadis di kelas matematikaku menyelinapkan lembar contekan ke mejaku tepat ketika guru berjalan menyusuri barisan kursi kami. "Pegang sebentar untukku," bisiknya. "Cukup sampai ujiannya selesai." Dia menyangka aku akan menyembunyikannya. Tapi, aku mengangkat tangan. "Bu Kelly, Jessi menaruh contekan di mejaku dan memintaku membantunya simpan." Sejak hari itu, tak seorang pun di sekolah pernah lagi memintaiku membantu mereka pegang sesuatu. Lalu, Lorenzo Halim, pemimpin keluarga mafia tertua di dalam negeri, menemukanku dan memberitahuku bahwa akulah putrinya yang hilang 25 tahun lalu. Dia mengadakan makan malam untuk memperkenalkanku kepada keluarga. Sebelum aku tiba, Sofia, putri yang mereka besarkan, menyembunyikan kartu tempat dudukku dan mengambil kursi di antara kedua orang tuaku. "Aku sudah duduk di sini selama 21 tahun," katanya manis. "Kamu nggak keberatan, ‘kan?" Semua orang menyangka aku akan tersenyum, duduk di tempat lain, dan membuktikan bahwa aku bukan ancaman. Tapi aku meletakkan kembali kartu tempat dudukku di atas meja. "Kalau kursi ini tak berarti apa-apa, kenapa kamu membutuhkan kursiku?" Sofia menangis. Ibuku bergegas menghiburnya, ketiga kakakku mengikutinya keluar, dan ayahku menasihatiku agar menjaga kedamaian. Ini bukan kali pertama. Mereka melewatkan tiga ulang tahunku demi Sofia, menghadiahkan padanya gelang yang terukir namaku, dan mengubah kamar-kamar yang dijanjikan untukku menjadi studio pribadinya. Setiap janji yang diingkari selalu datang dengan alasan yang terdengar masuk akal, tetapi setiap alasan berakhir dengan cara yang sama: Sofia selalu diprioritaskan dan aku selalu dituntut untuk mengerti. Mereka semua percaya aku akan menolerir apa saja demi marga Halim, demi uang mereka, dan demi perlindungan mereka. Esok paginya, mereka meninggalkanku seorang diri di gedung pengadilan pada jadwal penggantian namaku, hanya karena Sofia mengeluh asmanya kambuh. Maka aku menarik kembali permohonanku, mempertahankan marga yang diberikan ibu angkatku, lalu pindah membawa satu koper. Namun setelah aku pergi, kenapa justru mereka semua yang menyesalinya?

View More

Chapter 1

Bab 1

Hening merambat menyusuri kedua sisi meja panjang itu.

Para paman yang tadinya mengangkat gelas kristal memalingkan wajah. Begitu pula para pengacara keluarga dan para lelaki yang mengurus bisnis di dermaga Keluarga Halim. Di kediaman Osintrik, setiap penentuan tempat duduk ada alasan yang jelas. Setiap orang di ruangan itu pun tahu alasan setiap penempatan tersebut.

Sofia mencengkeram kartu yang disembunyikannya di bawah gelas anggurnya sambil memaksakan tawa. "Elena, aku cuma pengin suasananya tetap santai."

"Bagian mana yang santai? Mengambil kartuku atau menyembunyikannya?"

"Aku nggak berniat mencuri apa-apa."

"Bagus. Kalau begitu, serahkan kursinya."

Matanya seketika berkaca-kaca. Leo, kakak pertama dari ketiga kakakku, bangkit dari kursi di sisi kanan ayah kami sambil menurunkan suaranya. "Ada tamu di sini. Jangan buat makan malam jadi seperti pertunjukan gini."

Pandanganku menyapu ke sekeliling meja. "Mereka semua melihat Sofia memindahkan kartu itu. Kenapa justru aku yang dianggap membuat keributan?"

Rahangnya mengeras, tapi dia tak memberi jawaban.

Ibuku, Catherine, akhirnya menyentuh tangan Sofia. "Sayang, duduklah di sisi lainku malam ini. Elena masih sedang beradaptasi dengan keluarga kita."

"Aku sudah tinggal di kediaman ini selama tiga tahun," kataku. "Tapi kalian baru terpikir untuk memperkenalkanku malam ini."

Kehangatan lenyap dari wajah ibuku selama setengah detik.

Sofia berdiri, tapi dia tidak bergerak menuju kursi kosong yang tersedia. Dia menempelkan telapak tangannya ke dada, sementara napasnya berubah dangkal dan buru-buru. "Maafkan aku. Aku nggak seharusnya datang. Kehadiranku malam ini memang tak diharapkan.”

Dia merogoh tas kecilnya untuk mencari inhaler penyelamat. Jemarinya gemetar begitu hebat sampai dia nyaris tak sanggup memutar tutupnya.

Mervin, kakak keduaku sekaligus dokter kesayangan keluarga, sudah berada di sisinya sebelum inhaler itu menyentuh bibirnya. Ibu sontak berdiri. Leo memberi isyarat pada sopir yang menunggu di luar. Sementara Nico, si bungsu, berdiri tegak menghadang di antara aku dan Sofia.

Suaranya sedingin hujan yang menghantam kaca pintu teras. "Apa kamu baru akan senang setelah dia berhenti bernapas?"

"Mervin itu dokter. Sofia nggak butuh satu armada mobil."

"Dia butuh keluarganya pada saat dia ketakutan."

Ibu, Leo, dan Nico bergegas mengikuti Mervin yang memapah Sofia keluar. Aku tidak mencoba menghentikan mereka. Tak ada gunanya menyeret kembali orang-orang yang sudah memilih untuk pergi.

Ayahku, Lorenzo Halim, tetap duduk di ujung kepala meja. Dia tidak perlu menghantamkan tinjunya untuk menundukkan sebuah ruangan. Dia hanya meletakkan gelasnya. Bunyi letakannya yang lembut langsung membuat belasan orang menahan napas.

"Usiamu sudah 28 tahun, Elena," katanya. "Kamu sudah tinggal bersama kami selama tiga tahun, tapi kamu masih begitu keras kepala, nggak tahu kapan harus berkompromi."

Aku melihat keempat kursi kosong itu. Dingin seolah merembes langsung menembus rusukku.

Aku sempat mencoba tiga gaun untuk malam ini dan menghapal nama-nama sepupu yang tak pernah sekalipun meneleponku. Hal yang paling menyakitkan adalah aku memercayai janji ibuku. "Kali ini, semua orang akan melihat bahwa kamu sudah pulang."

Selama tiga tahun, setiap pengakuan dan perkenalan di depan umum selalu ditunda sampai waktunya pas. Aku terus berkata pada diriku sendiri bahwa malam ini berarti masa penantian sudah berakhir. Ketika toko bunga mengantarkan mawar putih, ibu mengatakan bunga itu sama persis dengan buket pada hari kelahiranku. Aku menyimpan satu tangkai di kamarku sebelum makan malam, terlampau senang oleh tanda sekecil itu bahwa dia masih mengingatku. Sungguh memalukan.

Mereka memang telah melihatku, tapi juga melihat dengan sempurna siapa yang mampu membuat keluarga ini bangkit dari kursi dan pergi.

Aku menyelipkan kartu tempat dudukku ke dalam tas. "Aku justru belajar sesuatu. Di rumah ini, anak yang nggak menangis harus mencari kursinya sendiri."

Ayah memanggil namaku, tapi aku sudah pergi sebelum dia sempat menasihatiku tentang kesabaran lagi.

Aku paham betul maksud tersirat di balik semua itu. Aku menolak mengubah manipulasi sebagai kebaikan. Keluarga Halim mulai menyadari bahwa aku tidak akan terus menelan versi kejadian mereka demi menjaga suasana makan malam tetap nyaman.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status