Share

Bab 3

Author: Serein M
Aku menarik wajahku menjauh dari sentuhan kuku jarinya.

Cintia terkekeh. Dia sama sekali tidak marah. Dengan bersandar di mobil mewahnya, dia menatapku dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Tatapan matanya beralih dari topi rajut murahanku hingga ke sepatu ketsku yang basah kuyup.

"Pantas saja Kiano bilang kau itu sangat membosankan. Kau memang terlihat seperti sampah."

Aku mengepalkan tangan yang membeku.

"Kenapa kau menyebutnya milikmu?" Suara yang keluar dari tenggorokanku terdengar serak dan parau. Itu sama sekali tidak terdengar seperti suaraku sendiri.

Cintia sempat terpaku sejenak. Kemudian, dia menengadahkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

Dia tertawa begitu keras hingga mantel bulunya terlepas merosot dari bahunya, dan memperlihatkan memar keunguan yang pekat di tulang selangkanya.

"Kenapa?" Dia menyeka air mata karena geli. "Oh, Sayang. Coba kau yang katakan padaku, kenapa kau pikir dia itu milikmu?"

Dia menghisap sebatang rokok dalam-dalam. "Dia itu Kiano Minasa. Sang Bos dari Keluarga Minasa. Salah satu dari Lima Keluarga Penguasa di Nerusia."

Telingaku mulai berdengung hebat.

"Tiga tahun lalu, sebuah keluarga musuh mengirim enam pembunuh bayaran untuk menghabisinya. Tunangannya saat itu tewas dalam ledakan bom mobil." Cintia menghembuskan asap rokoknya tepat ke wajahku. "Dia butuh sebuah penyamaran."

"Menyamar sebagai warga sipil biasa. Kau itu seorang yatim piatu dengan latar belakang bersih dan bodoh, tanpa status, dan koneksi. Seorang istri biasa yang tidak akan pernah dilirik dua kali oleh musuh-musuhnya."

Dia melangkah lebih dekat, aroma parfumnya membuat perutku mual.

"Coba tebak kenapa dia memilihmu?" bisiknya. "Karena kau tidak punya siapa-siapa dan tinggal di daerah kumuh. Orang sepertimu akan berlutut penuh rasa syukur karena bisa menikahi seorang tukang bengkel yang bangkrut."

"Kau itu cuma perisai manusia, Anita. Yang bisa dibeli dan dibayar lunas dengan cincin murahan seharga delapan ratus ribu."

Aku berdiri terpaku di sana, dan hujan turun semakin lebat, hingga makin membasahi sepatuku.

Aku merasa jiwaku seperti sedang dicabut sepotong demi sepotong dari dalam dada.

Tiga tahun.

Aku rela membuat diriku kelaparan demi menghemat uang. Aku rela mengendarai sepeda menembus hujan badai sampai jari-jariku keriput demi membayar uang sewa rumah kami.

Tapi ternyata, aku hanya sedang membiayai seorang bos mafia kaya raya yang sedang bermain rumah-rumahan.

"Kiano bilang kau sebenarnya sedang berusaha keras untuk membeli rumah." Cintia mengerucutkan bibirnya dengan ekspresi pura-pura kasihan. "Sebuah apartemen kecil di Bruklima? Ya ampun, kau sungguh menyedihkan sampai-sampai aku merasa kasihan padamu."

Tiba-tiba, dia mengulurkan tangan dan merebut topi rajut murahan dari kepalaku.

"Apa ini? Sampah seharga seratus ribu?" Dia melemparkan topi itu ke genangan air berlumpur.

Dia menyentuh sebuah jepit rambut berlian yang tampak berkilauan di rambutnya yang tertata sempurna. "Apa kau tahu berapa harga jepit rambut ini? Delapan miliar lebih. Kiano membelikannya untukku minggu lalu hanya karena aku bilang sedang kesal rambutku berantakan."

Aku menggigit bagian dalam pipiku sampai bisa mengecap rasa logam dari darah.

"Cukup." Aku menyentakkan kepala dan menepis jari tangannya dari wajahku. "Berhenti bicara omong kosong! Itu urusanku dan dia. Kau tidak berhak ikut campur!"

"Ah ...!" Cintia tiba-tiba menjerit histeris.

Aku bahkan tidak mendorongnya, tetapi Cintia dengan sengaja melemparkan dirinya sendiri ke belakang.

Anak tangga di belakangnya sangat licin karena air hujan.

Dahinya membentur keras tepian tajam dari sebuah pilar besar. Darah segar langsung menyembur keluar seketika.

Kakiku yang membeku langsung lemas tak bertenaga dan jatuh tersungkur ke atas lantai dengan keras.

Ranting-ranting mati yang berduri merobek telapak tanganku.

Tanganku kini berlumuran darah dan rasa sakitnya terasa sangat menyiksa.

"Cintia!"

Pintu gerbang besi berukir itu mendadak terbuka lebar.

Kiano berlari kencang keluar, diikuti oleh selusin pria bersetelan jas hitam di belakangnya.

Matanya langsung tertuju pada sosok Cintia yang tergeletak di dalam genangan darah.

Kepalanya menoleh ke arahku yang sedang terduduk di atas genangan air dengan seluruh tubuh gemetar.

Pupil matanya menyempit. Kilatan kepanikan dan rasa sakit yang mendalam terpancar di sorot matanya.

Naluri membuatnya melangkah maju mendekatiku.

"Kiano ... tolong aku ...." Cintia terisak lemah. Darah tampak menetes ke matanya. "Apa kau akan membiarkanku mati ... seperti saat kau membiarkan kakakku mati?"

Kalimat itu langsung menghentikan langkah Kiano.

Rahangnya mengencang keras, dan matanya memerah. Pada akhirnya, dia berbalik dan mengangkat tubuh Cintia yang berdarah ke dalam pelukannya.

Dia lalu menatapku dan suaranya terdengar sangat serak.

Sorot matanya dipenuhi tatapan putus asa dan memohon yang tidak bisa kupahami.

“Anita, dengarkan aku. Kau pulang sekarang juga, di luar terlalu dingin.” Dia mengucapkan kata-kata itu dengan tergesa-gesa. “Aku berutang nyawa pada kakaknya Cintia. Aku tidak bisa membiarkannya mati! Aku harus membawanya ke rumah sakit keluarga sekarang.”

“Tunggu aku di rumah dan jangan ke mana-mana. Aku akan menjelaskan semuanya malam ini. Seluruh kebenarannya, oke?”

Dia bahkan tidak punya waktu untuk melirik sekali lagi, dan langsung bergegas menuju mobil mewahnya bersama Cintia tanpa menoleh ke belakang.

Suara mesin mobil meraung. Konvoi itu melaju kencang, dan mencipratkan lumpur yang menampar wajahku.

Para penjaga gerbang pun juga pergi. Aku ditinggalkan sendirian di luar gerbang rumah besar itu.

Aku menatap telapak tanganku yang berdarah dan robek.

Tiba-tiba, sebuah tawa pahit keluar begitu saja dari bibirku. Aku tak bisa membendungnya lagi.

‘Pulang ke rumah mana? Ke apartemen jelek tempat kau melihatku bertingkah seperti seorang badut, yang rela kelaparan demi bisa menabung recehan untukmu?’

‘Menjelaskan? Menjelaskan bagaimana kau melihatku hidup dalam kemiskinan yang menyedihkan selama tiga tahun? Bagaimana kau duduk angkuh di atas tahtamu dan menguji kesetiaanku yang murahan dan tak berharga ini?’

Dengan tubuh yang demam tinggi, aku pun berjalan menembus hujan untuk waktu yang sangat lama.

Hingga akhirnya, sorot lampu depan sebuah bus lintas kota menembus kegelapan malam.

Aku mengosongkan seluruh uang tunai di dompetku, ditambah dengan kartu debit yang menyimpan semua gaji paruh waktuku yang totalnya ada lima puluh lima juta.

Uang yang tadinya akan kugunakan untuk membelikan pelindung lutut Kiano, membayar tagihan-tagihan, dan juga untuk masa depan kami.

Aku membeli sebuah tiket ke Pantai Wesio dan naik bus lintas kota yang menuju ke sisi lain negara ini.

'Simpan saja penjelasanmu, Kiano.'

'Aku tidak akan pernah memaafkan kebohongan yang disengaja.'

'Selamat tinggal untuk selamanya.'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ketika Topeng Kemiskinan Suamiku Terlepas   Bab 9

    Sudut Pandang Anita.Aku menatap dingin pada pria yang sedang menangis terisak-isak seperti orang gila di kakiku itu.Air matanya bercampur dengan darahnya sendiri, dan menodai gaun putih milikku.Tetapi, aku hanya mundur selangkah dengan perasaan muak. Aku menyentak gaunku dari genggamannya yang berlumuran darah."Anita ...." Tangan Kiano seketika membeku di udara. Dia menatap kilatan dingin di sorot mataku dengan ekspresi tak percaya."Jangan sentuh aku dengan tanganmu yang berlumuran darah dan penuh kebohongan itu." Aku menatapnya, dan suaraku terdengar datar."Selama tiga tahun, kau membuatku terlihat seperti badut, menghemat setiap recehan untukmu di apartemen busuk itu. Sementara kau tinggal di hotel mewah, menginjak-injak cinta dan harga diriku.""Kau terus bilang kalau kau melindungiku. Tapi, kaulah orang yang sudah hampir membunuhku dalam hujan badai itu."Kiano tersentak hebat, dia menggelengkan kepala dengan putus asa. "Tidak .... Aku tidak tahu kalau itu semua palsu .... An

  • Ketika Topeng Kemiskinan Suamiku Terlepas   Bab 8

    Sudut Pandang Anita.Makan malam perpisahanku di sebuah restoran atap mewah Kota Mandira.Aku minum sampanye dan merasa sedikit sesak, jadi mendorong pintu kaca dan berjalan keluar menuju area teras untuk menghirup udara segar.Sesaat kemudian, sebuah jeritan yang sangat tajam terdengar memecah keheningan malam."Anita … pergi kau ke neraka!"Aku langsung menoleh dengan cepat.Sesosok bayangan muncul dari balik kegelapan pohon palem hias. Terlihat seorang wanita dengan rambut kusut dan tatapan mengerikan seperti hantu.Itu Cintia.Dia tidak lagi terlihat dalam balutan gaun pesanan khusus atau perhiasan seharga miliaran. Dia sekarang hanya mengenakan mantel yang sudah kotor dan robek.Selama tiga tahun ini, Kiano benar-benar seperti orang gila demi mencariku. Dia mencabut semua hak istimewa keluarga Cintia, memutus kartu kreditnya, dan mengusirnya dari rumah besar di Leksona seperti seekor anjing liar.Ekspresi wajahnya tampak dipenuhi oleh amarah. Matanya melotot dan menggenggam sebuah

  • Ketika Topeng Kemiskinan Suamiku Terlepas   Bab 7

    Sudut Pandang Anita.Setelah mengatakan itu, aku langsung berbalik tanpa menoleh ke belakang."Hentikan dia!"Raungan Kiano yang memilukan menggema di belakangku.Suaranya penuh dengan kegilaan dan obsesi yang benar-benar tak terkendali.Bunyi suara klik tajam dan serempak dari senjata-senjata yang dikokang menggema di sepanjang lorong yang lebar.Belasan penjaga bersenjata dengan setelan jas hitam keluar dari kegelapan, mereka menghalangi jalanku sepenuhnya.Inilah dia, Sang Bos Mafia yang menguasai dunia mafia Kota Nerusia.Jika tidak bisa memilikinya secara baik-baik, maka dia akan mengambilnya dengan paksa.Aku berhenti dan berbalik dengan perlahan.Kiano tampak berjalan dengan terhuyung keluar dari apartemen palsu yang berjamur itu.Matanya merah sepekat darah. Dia menatapku seperti seekor binatang buas yang mengamuk."Anita, aku tidak bisa membiarkanmu pergi." Dia terengah-engah, suaranya terdengar serak dan putus asa. "Di luar terlalu berbahaya, kau hanya akan aman bersamaku! Ak

  • Ketika Topeng Kemiskinan Suamiku Terlepas   Bab 6

    Sudut Pandang Anita.Petugas keamanan tidak ada yang berani menyentuh Sang Bos Mafia yang legendaris dan kejam itu. Mereka membiarkannya memblokir pintu belakang VIP."Anita, kumohon!" Matanya merah padam, dan suaranya bergetar hebat. "Walaupun kau harus memberiku hukuman mati, setidaknya beri aku kesempatan untuk menjelaskan. Datanglah ke rumahku, dan lihat sekali saja."Aku bahkan tidak sudi menatapnya, hanya berjalan lurus menuju ke mobil timku."Aku masih menyimpan buku catatan hijau tua milikmu yang dulu!" Dia tiba-tiba meraung. "Di dalamnya ada semua sketsa desain awalmu! Apa kau tidak menginginkannya lagi?"Langkahku langsung terhenti.Buku itu menyimpan seluruh jiwa dari desain-desain awal milikku.Aku pergi dengan begitu terburu-buru dan putus asa tiga tahun yang lalu sehingga tidak punya waktu untuk mengemasnya.Aku menoleh, menatapnya dengan sorot mata dingin."Kirimkan alamatnya," kataku dingin. "Aku datang hanya untuk mengambil barang-barangku. Dan ... menjauhlah dari mobi

  • Ketika Topeng Kemiskinan Suamiku Terlepas   Bab 5

    Sudut Pandang Anita.Ketika bus lintas kota itu menurunkanku di Losanes, aku hanya punya uang lima ratus ribu.Aku tidak punya waktu untuk menangis. Tidak ada energi juga untuk mengingat hujan badai Nerusia itu.Aku harus bertahan hidup.Kemudian, aku membuka sebuah kios di Pasar Vinisi. Aku menggunakan kawat tembaga murah dan pecahan kaca yang kubeli kiloan di pasar loak.Selama tiga tahun tinggal di apartemen kumuh itu, demi menghemat uang Kiano, aku sering mengubah barang rongsokan murah menjadi perhiasan buatanku sendiri.Aku tahu persis bagaimana caranya membuat sampah menjadi bersinar. Sama seperti bagaimana caraku mencoba membuat pernikahan murahan itu bersinar.Lapak daganganku meledak oleh pelanggan.Sentuhan kehidupan dan perjuangan yang tersirat dalam desain-desainku menarik perhatian seorang pria berambut putih yang menggunakan kacamata hitam.Dia adalah Tuan Arion, seorang taipan perhiasan paling misterius dan tertutup di wilayah Pantai Wesio.Dia berdiri di depan lapakku

  • Ketika Topeng Kemiskinan Suamiku Terlepas   Bab 4

    Sudut Pandang Kiano.Lampu ruang operasi tetap merah menyala selama tiga hari berturut-turut.Kakaknya menerima tembakan demi melindungiku. Dan, aku berutang nyawa pada Keluarga Kostana.Utang sialan itu membuatku terpaku di lantai luar pintu ruang operasi.Aku menarik dasi dan memeriksa arlojiku.Tiga hari.Tidak ada pemanas ruangan di Bruklima. Hujan badai sangat dahsyat, dan Anita sendirian di apartemen jelek itu. Dia bisa membeku.Akhirnya, pintu ruang operasi terbuka.Para perawat mendorong Cintia keluar dengan kepala dibalut perban tebal.Kepala ahli bedah mengangguk singkat dan gugup. "Tuan Kiano, operasinya berhasil."Aku menghela napas panjang dan berbalik untuk pergi."Kiano .…"Cintia berusaha meraihku dengan susah payah, dia mencengkeram ujung lengan jasku.Dia terengah-engah lemah, tetapi kilatan penuh kebencian melintas jelas di sorot matanya."Kiano, kau menemaniku selama tiga hari. Jangan berani-beraninya kau kembali ke tikus got dari Bruklima itu," semburnya dengan sua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status