Share

Warisan luka

Penulis: De Sore
last update Tanggal publikasi: 2026-09-10 10:49:49

Mobil Joshua berhenti di area parkir pemakaman elit. Dengan ragu Kiara keluar dari mobil setelah Joshua membukakan pintu untuknya. Meski tanda tanya besar menyerang pikiran Kiara, namun dia tidak bertanya kenapa Joshua membawanya ke tempat ini.

Suasana tenang, asri dan tertata membuat tempat itu jauh dari kata suram dan duka.

Tidak ada percakapan, Joshua dan Kiara berjalan beriringan melewati gundukan-gundukan rumput hijau pendek terawat.

Joshua berhenti di depan dua kavling makam berdampinga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   END

    Pukul lima dini hari Kiara membuka mata, ia tidak bisa tidur semalaman ini. Sebelum terlelap beberapa saat lalu, tadi ia sempat melihat jam di ponsel, menunjukan pukul dua dini hari. Itu artinya hanya tiga jam Kiara benar-benar nyenyak. Meski masih subuh Kiara tak melanjutkan tidur, dengan gerakan pelan ia melepaskan diri dari pelukan Joshua. Kiara beranjak dari ranjang, lalu melangkah ke kamar mandi. Kiara berdiri di bawah shower, berharap air mengalir membawa kegugupan itu ikut rontok dari hatinya. Dia membiarkan air mengguyur kepalanya yang ramai dengan pertanyaan, apakah ia bisa menjadi ibu yang baik untuk Lyora? Apakah ia mampu merawat Lyora dengan benar? Selesai mandi, Kiara duduk di pinggir ranjang. Ia mengusap rambut Joshua yang masih nyenyak dibalut selimut tebal. Ia tak tahu jam berapa Joshua benar-benar terlelap, sebab malam ini mereka sama-sama tak bisa tidur. Kali ini Joshua terlihat tenang dalam tidurnya. Tidak seperti berminggu-minggu belakangan, Kiara selalu terja

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Mas, ini beneran?

    “Mas, kamu yakin dokter atau suster belum ada ngomong kapan Lyora boleh pulang?” Pertanyaan yang sama Kiara lontarkan lagi saat Joshua pulang malam ini.“Belum ada, sayangku,” Joshua berucap lembut. Ia menyerahkan cooler bag kosong pada Kiara.“Hmm…” Kiara bergumam, menghela napas panjang, bibirnya manyun menerima uluran cooler bag dari Joshua.“Kita bersabar sedikit lagi ya, sayang. Baru lima hari yang lalu sejak susternya ngomong kayak gitu kan,” bujuk Joshua lalu duduk di samping Kiara.“Ya mana tau bisa lebih cepat Lyora ikut pulang bareng kita,” bahu Kiara tampak lesu, lalu menyandarkan punggungnya pada sofa.Joshua tersenyum kecil, hampir setiap hari Kiara bertingkah seperti ini. Awalnya Joshua khawatir perkataan perawat beberapa hari lalu akan memberi harapan semu untuk Kiara. Namun, Joshua menyadari bahwa Kiara jauh lebih tegar dari yang ia kira. Walau bersikap manja seperti ini, tapi Joshua tahu kalau Kiara sebenarnya kuat.“Nanti begitu dokternya bilang Lyora sudah boleh kel

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Pelukan pertama

    Tepat pukul sepuluh pagi, Kiara dan Joshua tiba di rumah sakit. Joshua menggenggam tangan Kiara, mengikuti langkah kecil-kecil istrinya ketika melewati lorong menuju ruangan Lyora berada. Saat pintu kaca NICU terbuka lebar, Kiara mengeratkan genggaman tangannya. Joshua menyadari hal itu, lalu menepuk pelan punggung tangan Kiara dengan tangan satunya lagi.Perawat yang berjaga di ruangan itu sekaligus yang mengirim pesan tadi, tersenyum ramah menyambut kedatangan Kiara dan Joshua.“Mari, Pak, Bu.” Perawat mengarahkan keduanya untuk mendekat ke kursi recliner biru yang ada di samping inkubator Lyora.Kiara tersenyum tipis, degup jantungnya kian tak menentu, dengan tangan yang berkeringat dalam genggaman Joshua, Kiara mengikuti langkah perawat itu dari belakang.“Silahkan duduk di sini, Bu. Buka tiga kancing teratas kemejanya, ya.” ujar perawat seraya menarik tirai menutupi area Kangaroo Mother Care.Perlahan Kiara melepaskan tangan Joshua, kakinya melangkah naik ke kursi recliner, jari

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Kabar baik

    Sudah seminggu sejak Kiara pulang dari rumah sakit, perasaannya masih sama. Ia tidak pernah terbiasa dengan rutinitas baru ini. Setiap hari pumping ASI tapi tidak bisa melihat bayinya secara langsung.Malam itu Kiara membuka mata, sedari tadi matanya memang terpejam tapi dia dalam kesadaran penuh. Setelah mengubah posisi berbaring telentang, miring ke kiri lalu miring ke kanan, akhirnya Kiara duduk bersandar pada kepala ranjang.Dia melirik jam yang tergantung di dinding, menunjukkan pukul dua dini hari.Kiara mengambil pompa ASI dari atas nakas. Ia duduk di pinggir ranjang, dengan punggung yang tegak Kiara mulai menyalakan pompa. Suara dari alat itu memenuhi keheningan kamar.Perlahan punggung Kiara membungkuk. Ia menatap sayu botol di tangannya, hasilnya masih sama, tidak sampai setengah botol.Di belakangnya, Joshua terbangun karena suara alat itu juga. Sudah tujuh hari dia tidak pernah tidur lebih dari tiga jam. Pagi hari ia harus mengantar ASI, siangnya bekerja di kantor, lalu so

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Mulai menghitung mundur

    “Sayang, aku berangkat dulu, ya.” Joshua menyibak rambut Kiara yang sedikit menutupi wajah cantik wanita itu, lalu mengecup kening istrinya.Kiara terjaga dari lelapnya. Merasakan tangan hangat Joshua mengelus pipinya. “Jam berapa, Mas?” Suara Kiara serak khas orang bangun tidur.“Masih jam tujuh, cantik.” sahut Joshua lembut.Kiara membuka mata perlahan, “Kok cepat banget berangkat ke kantornya jam segini?” Kiara menoleh pada Joshua yang sudah rapi dengan kemeja yang lengannya digulung hingga siku dan celana bahan. “Aku mau mampir ke rumah sakit dulu, mau liat perkembangan Lyora sekalian ngantar ASI yang tadi malam kamu pumping.” ujar Joshua sambil memperhatikan wajah sembab Kiara.Kiara mengangguk paham. Rutinitas mereka sudah berubah sekarang, “Kamu istirahat yang cukup, ya. Jangan melakukan pekerjaan apa pun dulu. Nanti jahitannya ngilu.” Joshua mewanti-wanti karena Kiara pribadi yang tidak bisa hanya berdiam diri seharian.“Iya, Mas,” jawab Kiara meyakinkan suaminya.“Good girl.

  • Kiara, Suamimu Enggan Bercerai!   Seperti ada yang kurang

    Dalam perjalanan pulang, Kiara tidak membuka suara sedikit pun. Matanya menatap kosong ke arah jalanan yang ramai sore itu.Joshua melirik Kiara, menyadari sikap diam sang istri, tapi ia tidak mengatakan apa pun. Dia memberikan Kiara waktu untuk dirinya sendiri. Namun, Joshua tidak akan diam saja membiarkan Kiara merasa sendiri.Joshua tetap fokus mengemudi, dengan satu tangan yang masih di roda kemudi, tangan satunya lagi menarik pelan pergelangan Kiara. Membawa tangan kecil istrinya untuk ia genggam di atas pangkuannya. Kiara tidak menolak, ia tahu itu cara Joshua menenangkannya. Ada kalanya mereka tidak perlu bicara agar dapat berkomunikasi. Cukup dengan hal-hal seperti ini, keduanya mengerti isi hati masing-masing.Sesampainya di rumah, Joshua mengambil tas jinjing yang berisi pakaian dan perlengkapan Lyora dari kursi penumpang belakang.“Sini aku bantuin.” Kiara menawarkan diri untuk membawa barang-barang Lyora.“Aku bisa sendiri, sayang. Kamu jalan duluan aja.” Kedua tangan Jos

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status