LOGINThe story that began in Vampire Witch and continued in Vampire Queen, of Casey Merker's love for two vampire brothers, finally comes to a close. More trials await Casey as she battles the New World Order to regain peace in her kingdom, gains more knowledge and abilities in the magic department, eliminates some enemies and makes friends with others and finally marries the vampire of her dreams while looking forward to living in a world of peace and harmony. KINGS & QUEENS IS THE FINAL BOOK OF THE VAMPIRE QUEENS TRILOGY
View More"Dua puluh juta, apa masih kurang?"
Seorang pria memberikan negosiasi kerjasama dengan pelayan yang bekerja di rumah mereka. Ramli, pria yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu nampak berpikir seribu kali sebelum memutuskannya. Pria itu adalah pelayan di rumah Rangga dan Vina. Pasangan suami-istri dan sedang mencari cara untuk segera mendapatkan anak. "Tugasmu cuma satu, hamili istriku!" lanjut Rangga, suami Vina.Sang istri, Vina berdiri di samping suaminya dengan wajah tak nyaman.
Bagaimana bisa dirinya harus berhubungan intim dengan pria yang menjadi pelayan di rumahnya.
Rangga kembali menegaskan tujuannya untuk mengajak Ramli bekerja sama dengan dirinya. Karena ia tahu jika Ramli sangat membutuhkan uang untuk membiayai ketiga anaknya yang ada di kampung. "Ini untuk uang muka, setelah Vina benar-benar hamil, aku genapin semuanya menjadi seratus juta. Aku rasa yang ini sudah cukup untuk biaya anak-anakmu di kampung, bahkan lebih dari cukup. Bagaimana, kamu tertarik? Tenang saja aku tidak akan menuntutmu, setelah Vina hamil kamu bisa hidup seperti biasa, dengan satu syarat kamu harus bisa merahasiakan kerjasama kita ini. Jangan sampai ada yang tahu!" kata Rangga dengan entengnya. Ramli, pria berwajah tegas dan sedikit pas-pasan, memiliki tatapan mata yang tajam, rambut hitam ikal dan memiliki postur tubuh yang nyaris sempurna. Tubuh yang atletis bak binaraga karena pria itu pernah menjadi penjaga tempat gym di desanya. Tak ayal, ia memiliki tubuh yang proporsional dan gagah. "Tapi Pak... Apa ini tidak keterlaluan? Bu Vina adalah istri Anda. Apa Anda rela jika istri Anda disentuh oleh pria seperti saya? Saya rasa ini sangat tidak masuk akal!" sahut Ramli, berusaha untuk menjaga martabat majikannya. "Hah, persetan dengan itu semua. Kami berdua hanya menginginkan anak. Jika tidak, rumah tangga kami yang harus dikorbankan, dan aku harus kehilangan segalanya, apa yang aku bangun selama ini akan sia-sia, aku tidak mau itu terjadi!" kata Rangga dengan tegas. Vina menundukkan wajahnya, sebenarnya wanita itu tidak setuju dengan kerjasama yang diusulkan sang suami. Pasalnya, ia dan Ramli harus melewati masa-masa yang sangat intim yang tak seharusnya mereka lakukan. "Mas, kamu yakin ingin aku melakukan ini? Kok aku ragu, ya!" ucap Vina kepada Rangga, wanita cantik putri dari seorang konglomerat di kota itu. "Kita tidak punya pilihan lain. Kamu tahu Papamu ingin sekali kita segera memiliki keturunan, sedangkan kamu tahu sendiri, setelah kecelakaan itu, dokter memvonis aku mandul, tidak mungkin aku bisa memberimu anak, sedangkan aku sangat mencintaimu, aku tidak mau kehilanganmu, Vin! Terpaksa, kita harus melakukan cara ini!" kata Rangga meyakinkan istrinya. Vina berusaha mengerti, sang suami memang mengalami permasalahan pada sistem reproduksinya.Setelah mengalami kecelakaan dua tahun yang lalu, Rangga divonis tidak bisa memiliki keturunan, testisnya bermasalah karena terkena paparan zat kimia.
Apalagi tuntutan dari kedua orang tuanya yang menginginkan mereka untuk segera memberikan keturunan.Karena sudah lima tahun mereka menikah, nyatanya sampai saat ini Vina belum hamil juga.
Vina sendiri sangat mencintai suaminya dan tidak ingin melihat karier Rangga hancur karena pria itu bekerja di perusahaan orang tuanya. Terpaksa, Vina mengikuti permintaan sang suami. Dengan sangat terpaksa ia harus bisa menerima Ramli untuk mengisi rahimnya dari benih pria itu. Meskipun wanita itu masih ragu untuk melakukannya karena Ramli hanyalah seorang pembantu di rumah. "Oke, aku setuju melakukannya, tapi Mas, aku nggak yakin jika Ramli bisa memberikan keturunan yang bagus. Kamu tahu dia itu cuma pria dari desa. Mukanya aja muka ndeso, Mas!" kata Vina sambil melihat penampilan Ramli yang sangat sederhana. Ramli sudah merasa dirinya sedang dibicarakan oleh majikannya. Pria itu melihat dirinya sendiri.Sejenak ia mencium aroma tubuhnya sendiri yang dirasa tidak enak, cenderung bau asam dan kecut. Belum lagi celana tujuh perdelapan yang dipakainya saat bersih-bersih rumah. Nampak sekali penampilan pria itu sangat tidak menarik di mata para wanita.
"Kira-kira Bu Vina mau nggak ya dekat-dekat dengan pria kayak aku? Bu Vina kan cantik, tapi aku... Badan aja baunya kek kambing, gimana aku bisa menghamilinya?" batin Ramli dengan ekspresi bingung. Pantas saja Vina merasa ilfeel melihat Ramli. Wanita itu adalah seorang sosialita yang biasa bergaul dengan wanita-wanita kaya, apa jadinya jika dirinya hamil dari seorang pria yang cuma pelayan di rumahnya. Rangga kembali membujuk istrinya agar mau mengikuti rencananya, "Sudahlah, sayang. Ini tidak seburuk yang kamu kira. Ramli memang pelayan dari desa, tapi aku nggak meragukan kemampuannya, kalau bukan karena dia, mana mungkin aku bisa selamat dari preman-preman itu. Aku yakin sekali jika Ramli pasti bisa membantu kita. Apalagi dia sudah terbukti punya tiga anak. Paling cuma satu atau dua malam saja, kamu sudah bisa hamil!" ucap Rangga tanpa memikirkan akibat yang lain. Yang ada dalam pikirannya adalah karirnya, ia harus menyelamatkan karirnya yang sudah berada di atas. Vina pasrah, karena rasa sayangnya yang berlebihan untuk sang suami, wanita itu pun tidak bisa menolaknya. "Terserah kamu saja, tapi jangan salahkan aku jika bayi yang lahir nanti tidak mirip sama kamu, tapi mirip dia!" jawab Vina dengan wajah lemas. Rangga tersenyum sambil mencium kening sang istri. "Soal itu kamu tenang saja. Yang penting kamu hamil dan melahirkan anak. Ini adalah tujuan utama kita, kan?" kata Rangga. Lalu, pria itu kembali menghampiri Ramli yang sedang berdiri tertunduk. Pria itu terlihat panik, karena kali ini pekerjaannya bukan sembarang pekerjaan, tapi pekerjaan yang dibilang enak tapi sangat beresiko. Sedangkan dirinya sudah janji kepada anak keduanya untuk membelikannya sepeda baru. "Ramli, bagaimana tawaranku tadi? Istriku sudah setuju untuk melakukannya. Sekarang aku menunggu keputusanmu. Ingat, kamu membutuhkan uang banyak untuk menyekolahkan anak-anakmu, apa kamu juga tidak ingin membahagiakan orang tuamu, dengan uang itu, kamu bisa merenovasi rumah agar anak-anakmu tinggal dengan nyaman, nggak kebocoran lagi pas hujan. Pikirkan baik-baik tawaran ini. Aku memberikan tawaran khusus untukmu karena aku tahu kamu pasti bisa membantuku," ucap Rangga dengan tegas. Tentu saja sebagai seorang pelayan, mana mungkin ia menyentuh istri majikannya, ini adalah sebuah hal yang sangat tabu dan terlarang. Tapi, melihat bagaimana kondisi pernikahan Vina dan Rangga membuat Ramli akhirnya setuju untuk melakukan kerja sama. Apalagi Ramli seringkali mendengar Vina dan suaminya bertengkar hanya gara-gara soal anak, sehingga membuat pria itu tak tega melihat Vina yang menangis setelah pertengkaran itu. Setelah berpikir seribu kali, akhirnya Ramli bersedia untuk bekerja sama membantu pasangan itu. "Baiklah, Pak. Saya bersedia membantu kalian. Katakan, bagaimana cara kerjanya?" kata pria itu dengan lugunya. Rangga tertawa mendengar ucapan Ramli yang sangat polos. "Astaga Ramli, bagaimana bisa kamu tanyakan itu, anakmu saja sudah tiga biji, lantas kamu tanya bagaimana cara kerjanya?" kata Rangga yang tanpa sengaja Vina pun ikut tertawa kecil. BERSAMBUNGSince we were so far from the fighting and time was of the essence, Abigail was forced to endure teleportation once again. I assumed she was getting more accustomed to the sensation because her vomiting was less severe. I felt sympathy for her. Teleporting was something that took getting used to for magical beings. I could only imagine the impact it had on supernaturals who didn’t possess magic.We emerged at the edge of the battlefield. I searched for Geo. There were so many bodies flying through the air or wrestling with each other that it was difficult to identify anyone in particular. A beam of light shot through the crowd. It passed right through the humans without a scratch, but destroyed any supernatural it touched. I looked for a retaliation blast from one of our weaponry neutralizer, but nothing came.I wasn’t ready to make my presence known, so I refrained from shooting fireballs at them. I wan
Geo rushed to my side to inspect my injury. The fireball went through my inner thigh and severed my femoral vein. I looked down to see a pool of my blood forming on the floor.“We have to do something for her now,” he said. “We need to get Gwendoline back in here.”“She ran after Morena,” Julia said.“I’ll get her,” Abigail said as she raced from the room at vampire speed.I put my arms around Geo’s neck as he helped me to the guest room. Lord Moken’s worried face peered over Geo’s shoulder.“Should we give her blood?” he asked, hesitantly. “Vampires usually repair quickly. I don’t understand why she’s bleeding out.”“I’m sure Morena attached a magic spell to the fireballs," I said as I winced with pain. “I’d try to counter it, but I feel too weak.”“Lady Gwendoli
Abigail accompanied me back to Vampire Land. The distance between Verso and Vampire land could be crossed in one day if we kept a steady pace. Since neither of us wanted to spend our resting time sleeping in a tree because we feared making camp in such dangerous times, we started before the sun came up and traveled light and fast. We entered the gates of Vampire Land just after the stroke of midnight.Lord Moken was just coming out of the dining hall when he spotted us coming down the corridor toward him.“Your majesty,” he said with surprise as he rushed toward me and bowed low. “Forgive me. I did not realize you were returning to us so soon or I would have had a reception party waiting for you.”“We came with a matter of importance,” I said as I nodded acknowledgement to his bowing and motioned for him to follow us to a nearby antechamber.I closed the door behind me and immediately began telling him of ou
By the time we returned to Verso with our children in tow, Abigail was waiting for us. She admitted to pouting about being left behind for a moment, but she understood the urgency in Gwendoline and Geo reaching me, as well as the fact that Gwendoline needed to be sure she didn’t use too much energy teleporting extra bodies. She needed to be sharp and quick when they caught up with me.I felt a little guilty eavesdropping on Abigail and Luthias as they stood in the corner, but not so guilty as to stop. I smiled to myself when he told Abigail I called him an ‘oaf’. He praised her for her courage in going into the hut alone with me and speculated that she must truly care for me to take such a risk or offer to perform a task that he knew she resented being asked to do by Charles for so long.I listened as she reinforced my opinion that he was indeed an ‘oaf’ and confided that she had very few female friends. She conside
We wasted no time traveling to gather up the mutant-vampires and resurrect the kingdom. Lord Moken expressed his disappointment in not being able to go with us, but I was too concerned about keeping the peace in Vampire Land to allow him to come. Although Pierre Blaise didn’t ha
Although Owena was too young to understand that we’d been separated, Braedon squealed with delight and rushed into my arms as I entered the room. I hugged him so tight it’s a wonder I didn’t break something inside him.After a great deal of hugs and kisses, he
By the time Abigail returned to me, I’d managed to remove the rest of my clothes. Since, when I turned, I would shed them anyway, starting out naked seemed the sensible thing.“This feels so clinical,” I said as Abigail traced my breasts with her soft lips and smooth
I missed Morena’s crystal ball. I paced the grounds around the tiny hut while I worried about how my children were doing. It was silly, since they were in the competent care of both my grandparent’s and Gwendoline and safe within the confines of Luthias’ compound. I decide






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews