Deg, deg, deg...!
Jantung Jason berdebar-debar. Kemudian Jason menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu menunjuk wajahnya sendiri. Ia bertanya pada gadis yang memanggilnya. "Heh...? Aku...?" Gadis itu sumringah, ia nampak sangat pandai bersandiwara. "Sayang, ya kamu lah. Memangnya, mau siapa lagi? Apakah kau lupa kalau kita sudah janjian untuk kencan hari ini? Aku kemari jauh-jauh untuk menemuimu, sesuai janji yang kita buat beberapa hari kemarin." Gadis itu berpura-pura merasa senang saat berkata-kata, seolah memang benar bahwa mereka sudah berjanji bertemu untuk kencan. Jason yang bingung, sangat terkejut. Jason mundur beberapa langkah, sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak, tidak, tidak. Kau pasti salah orang, Nona." Jason ingin menyangkal, karena dia merasakan tatapan tajam dari beberapa pria dewasa itu. Dari tatapan yang mereka lemparkan, Jason dapat mengerti dengan jelas, bahwa mereka merasa marah. Dan benar saja, sesuai apa yang Jason duga. Ia melihat salah satu pria berbadan kekar itu berjalan mendekatinya sambil menggerakkan kepalan tangannya. Kretek...! Suara tulang dari kepalan pria yang mendekati Jason itu terdengar sangat jelas. "Oh..., jadi kau adalah penyebab Nona kami pergi dari rumah, ya? Bagus, kau harus menanggung akibatnya karena telah membuat repot kami semua!" Pria itu melotot, ada aura hawa membunuh yang memancar darinya. Setelah pria itu sampai di hadapan Jason, ia menggerakkan tangannya ingin menarik kerah baju lusuh yang Jason kenakan. Trash...! Akan tetapi, Jason secara reflek menepis tangan pria itu yang ingin menyentuhnya. Alhasil, itu membuat orang itu tambah marah. "Kau...?! Sebaiknya jangan melawan! Ayo, ikut dengan kami! Aku peringatkan kau sekali lagi! Jika kau melawan, kau akan tanggung resikonya!" Kali ini pria itu mencoba merangkul leher Jason guna menangkapnya. Namun, lagi-lagi Jason menepisnya. "Tidak, tidak! Tunggu dulu. Aku bisa jelaskan, ini semua pasti salah paham." Jason mundur, ia mencoba untuk meyakinkan bahwa dia tidak ada kaitannya dengan masalah mereka. Padahal, Jason ingin mejelaskan, akan tetapi gadis itu malah kembali berkata yang tidak-tidak. "Hey, Sayang...? Kenapa sikapmu begitu? Apakah benar kau sudah melupakan aku? Padahal, Minggu lalu kita baru saja menginap di Hotel bersama. Apakah kau melupakan kejadian malam itu? Hem? Aku rela memberikan hak yang paling berharga di hidupku untukmu, Sayang." Jelegar...! Jason merasa jantungnya seperti dihantam petir. Ia tak menyangka bahwa gadis itu akan berkata seperti itu. Dari kata-kata yang baru saja gadis itu sebutkan, semua yang ada di sana sudah pasti paham, apa yang telah mereka lakukan berduaan di kamar Hotel. "Kurang ajar...! Pria gembel sepertimu, berani-beraninya berbuat seperti itu pada Nona kami!" Kemarahan para pria itu memuncak setelah mendengar ucapan dari Nona mereka. "Ayo, kita urus dia! Jangan sampai dia lolos! Hal ini harus kita beritahu pada Big Boss!" Pria yang satunya langsung maju, yang kemudian diiringi beberapa rekannya. "Hey...! Tidak, aku tidak pernah melakukan hal semacam itu dengannya! Toh, aku kenal saja tidak, bagaimana mungkin aku bisa tidur dengannya di Hotel?" Jason bersikeras menyangkal ucapan gadis itu. "Lagi pula, kalian juga bisa lihat kan, penampilanku? Gembel sepertiku mana boleh menginap di Hotel?" Namun sayangnya, keempat pria berbadan kekar itu tidak mengindahkan ucapan Jason. Mereka sudah memutuskan untuk menangkap Jason. "Omong kosong!" teriak salah satu pria berbadan kekar itu. Dan kemudian ia melayangkan tinjunya yang nampak besar dan kuat. Akan tetapi, tiba-tiba saja muncul pemberitahuan dari layar sistem di hadapan Jason. Tring...! "Sistem mendeteksi adanya ancaman bahaya kepada Jason. Sistem akan mengaktifkan teknik beladiri. Silahkan Jason atasi bahaya yang mengancam." Setelah membaca pemberitahuan dari sistem, Jason kemudian merasakan tubuhnya menjadi ringan. Itu berkat teknik beladiri dari sistem yang telah diaktifkan. Kemudian, Jason nampak bergerak mengindari dan terkadang menepis tiap serangan yang datang padanya. "Kenapa kalian tidak mau dengar dulu penjelasanku?" tanya Jason seraya membela diri. Awalnya keempat orang pria itu menyerang Jason secara bergantian. Akan tetapi, saat mengetahui bahwa Jason ternyata bisa beladiri, agar dapat mengatasinya dengan mudah, mereka pun menyerang Jason secara bersamaan. "Ayo..., kita kepung dia...!"Setelah berhasil menyusup dan mendapatkan kepercayaan dari Serigala Hitam, Jason dan Susan yang berada di tengah sarang musuh harus tetap waspada. Karena satu kesalahan kecil saja bisa membahayakan nyawa mereka. Jason dan Susan yang kini menyamar sebagai Alex dan Sarah, mulai lanjut mengumpulkan informasi rahasia Serigala Hitam lebih banyak lagi. Mereka juga sempat menghadiri berbagai pertemuan lain guna mendengarkan percakapan rahasia, dan meneliti dokumen-dokumen penting yang belum mereka dapatkan informasinya. Mereka mempelajari rencana-rencana jahat organisasi tersebut dengan cermat, termasuk lokasi laboratorium rahasia lainnya dan detail tentang senjata biologis yang mereka kembangkan. "Ternyata mereka berencana untuk menyebarkan senjata biologis yang telah dimodifikasi oleh pengguna sistem jahat itu ke seluruh dunia," bisik Susan pada Jason, setelah menghadiri sebuah pertemuan rahasia. "Ini tidak bisa dibiarkan, Jason. Kita harus bergerak lebih cepat. Jika tidak, senjata bio
"Jason, berarti kita perlu membuat identitas palsu yang meyakinkan," kata Susan, sambil melihat data yang mereka dapatkan dari penyadapan. "Kita harus mengetahui detail organisasi mereka, seperti kode etik mereka, kebiasaan mereka, dan cara mereka berkomunikasi." Jason mengangguk setuju. "Aku sudah menganalisis data tersebut. Mereka memiliki sistem hierarki yang ketat, dan setiap anggota memiliki kode identitas dan sandi khusus. Kita harus membuat identitas palsu yang sesuai dengan struktur organisasi mereka." Mereka menghabiskan beberapa hari untuk menciptakan identitas palsu yang sempurna. Mereka membuat dua identitas baru: "Alex" dan "Sarah", dua agen yang berpengalaman dan setia kepada Serigala Hitam. Mereka bahkan menciptakan riwayat hidup palsu untuk Alex dan Sarah, lengkap dengan detail pekerjaan sebelumnya, keterampilan khusus, dan koneksi penting. Untuk membuat penyamaran mereka lebih meyakinkan, Jason dan Susan melakukan riset ekstensif tentang gaya berpakaian, bahasa,
Jason menatap pria itu, yang masih gemetar ketakutan. "Kita serahkan saja dia pada pihak para Pejuang," jawab Jason, "tapi informasi yang dia berikan terlalu berharga untuk diabaikan. Serigala Hitam..., aku merasa lebih berbahaya dari yang kita bayangkan." Susan mengangguk setuju. "Baiklah, kalau begitu. Kalau menurutku, sebaiknya pertama-tama kita harus memverifikasi informasi ini. Kita perlu bukti lebih banyak tentang keberadaan laboratorium lain dan kegiatan Serigala Hitam." "Benar," kata Jason, matanya berkilat tajam. "Kita akan menggunakan pria ini sebagai umpan. Kita akan memberinya kesempatan untuk menghubungi kontaknya di Serigala Hitam, dan kita akan melacak komunikasi tersebut." "Tapi Jason, aku rasa ini sangat berisiko," kata Susan, "tapi mungkin ini hanya satu-satunya cara untuk masuk ke dalam organisasi mereka tanpa menimbulkan kecurigaan." "Maka dari itu kita perlu untuk lebih berhati-hati ke depannya," kata Jason. "Aku nanti akan menggunakan teknologi penyadapan
Akhirnya momen untuk Jason dan Susan menyerang tiba ketika pria berjubah itu lengah, ia terlalu fokus pada tabung yang sedang ia modifikasi. Dengan gerakan cepat dan senyap, Jason melompat dari balik batu, belatinya menyambar ke arah pria itu. Serangan mendadak itu membuat pria berjubah itu tersentak, alat di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. "Awas!" teriak Susan, ia lalu menembakkan beberapa peluru ke arah makhluk-makhluk batu yang langsung menyerang. Peluru-peluru itu mengenai sasaran, membuat makhluk-makhluk itu tersandung dan memberikan Jason kesempatan untuk mendekati pria berjubah itu. Pria berjubah itu mencoba melawan, namun Jason terlalu cepat. Dengan sekali gerakan, belati Jason berhasil mengenai lengan pria itu, membuat pria itu menjerit kesakitan dan melepaskan tudungnya. Wajahnya terlihat pucat, penuh dengan ketakutan. "Kau..., siapa kalian?" tanya pria itu dengan suara gemetar. "Kami adalah orang-orang yang akan menghentikanmu," jawab Jason tegas. Susan, y
Susan mengangguk pelan, napasnya masih terengah-engah. "Aku... aku baik-baik saja, tapi itu hampir saja jadi akhir untuk kita," jawabnya dengan suara bergetar. Jason menatap ke dalam gua yang kini tampak lebih mengancam. "Mereka jelas memasang ranjau untuk melindungi sesuatu. Kita harus lebih hati-hati." Tiba-tiba, dari kegelapan gua, muncul suara gemuruh berat disusul oleh bayangan besar yang melesat cepat ke arah mereka. "Jason lihat itu, ada yang datang dari dalam goa!" teriak Susan sambil mengacungkan senjatanya. Bayangan itu ternyata makhluk besar bertubuh kekar dengan kulit seperti batu, matanya menyala, berwarna merah menyala. Ia melompat ke arah Jason dengan cakar terbuka lebar. Jason menghindar dengan cepat, merangsek ke samping dan membalas dengan serangan belati tajamnya. "Susan, fokus ke kanan! Aku akan coba mengalihkan perhatiannya!" Susan bergerak dengan gesit, ia lalu menembakkan peluru tepat ke sisi makhluk itu, membuatnya teriak kesakitan. Namun, makhluk i
Amir berkata pada Jason, "Jason, jika kau ingin pergi ke tempat itu, aku sarankan berhati-hatilah. Walaupun kala itu kami berhasil mengalahkan pasukan IDP yang ada di sana, tapi menurut informasi yang kami dapatkan, kini markas itu ditempati oleh pasukan bantuan. Dan yang menjadi kabar buruknya, pasukan bantuan yang ada di sana jumlahnya justru dua kali lipat lebih banyak dari pasukan yang sebelumnya." Amir lalu memberikan peta miliknya pada Jason. "Dan ini, ambilah. Jason menatap peta dengan seksama, jari-jarinya menyapu garis-garis wilayah yang tampak penuh konflik itu. "Kalau begitu, aku harus berangkat segera. Susan, kau ikut denganku, ya?" Susan mengangguk mantap. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri. Apalagi ini menyangkut bahaya yang belum kita ketahui." Amir menatap mereka berdua dengan penuh kekhawatiran. "Kalian berdua harus berhati-hati. Wilayah itu bukan hanya sarang pasukan IDP, tapi juga penuh jebakan dan pengkhianat." Jason tersenyum tipis, menenangkan. "A