LOGINPintu kamar itu kembali terbuka tanpa diketuk sebelumnya. Lovelle berdiri di dekat jendela saat Luca masuk. Cahaya dari luar jatuh ringan di wajahnya, membuat ekspresinya sulit dibaca. Gadis itu menoleh perlahan, dan tatapan mereka pun seketika bertemu. “Duduk,” titah Luca singkat. Lovelle tidak langsung bergerak. Namun beberapa detik kemudian, ia tetap melangkah ke tepi ranjang dan duduk dengan tenang. “Pernah dengar nama Albrecht Varyn?” tanyanya langsung, tidak membuang waktu. Alis Lovelle sedikit berkerut. “Tidak,” jawabnya singkat namun tegas, membuat Luca diam untuk menilai. Lovelle sedikit menyipitkan mata. “Siapa dia?” Tampak tidak ada kepura-puraan dalam pertanyaan gadis itu. Luca pun lalu melangkah lebih dekat. “Seorang ilmuwan,” jawabnya tenang. “Fisikawan teoretis.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih rendah. “Dia meneliti sesuatu yang tidak biasa. Tentang kemungkinan… adanya lebih dari satu realitas. Dunia lain yang berjalan
Jarak di antara mereka kini hanya tinggal sejengkal. Napas Luca terasa hangat dan teratur… terlalu tenang untuk seseorang yang jelas sedang menguji batas. Sementara di dalam tubuh gadis itu, ada dua reaksi yang saling bertabrakan. Daniela yang diam dan menunggu, dan Lovelle yang menolak. Namun kali ini Lovelle tidak mundur. Sebaliknya, dagunya justru terangkat sedikit, menantang jarak yang semakin menipis itu. “Silakan,” ucapnya pelan. Kalimat itu keluar dengan tenang, tapi terasa penuh dengan lapisan. Seketika Luca berhenti bergerak, karena respons itu tidak sesuai ekspektasinya. Alisnya yang coklat terang serta-merta terangkat samar. “Kamu tidak menolak?” gumannya rendah. Lovelle menyunggingkan senyum tipis. “Bukankah itu yang kamu inginkan?” balasnya. “Daniela yang patuh dan Daniela yang tidak melawan?” Saat itu juga tatapan Luca berubah menjadi lebih tajam. Tangannya yang mencengkeram pergelangan Lovelle sedikit menguat. “Jangan bermain-main denganku,”
BRAKK!! Xeyren membanting ponsel itu ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Pecahan logam dan kaca berhamburan ke atas lantai, memantulkan kilatan tajam dari lampu ruangan. Napas pria itu berat dan tidak teratur. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama… kendalinya pun mulai retak. Tangannya langsung bergerak ke laci meja, danmenariknya dengan kasar hingga terdengar bunyi gesekan yang keras. Sebuah handgun hitam dingin kini sudah berada dalam genggamannya. Tanpa ragu, Xeyren melepaskan pengamannya, lalu membidik sesuatu di depannya. DOR!! Peluru pertama pun menghantam dinding. DOR!! DOR!! DOR!! Tembakan berikutnya kemudian menyusul, liar dan tanpa arah. Kaca jendela pun retak, vas bunga pecah, lukisan mahal juga telah robek oleh lubang peluru. Ruangan itu sontak berubah menjadi berantakan hanya dalam hitungan detik. Namun Xeyren tetap tidak berhenti. Manik kelabu gelapnya terlihat pekat oleh bukan sekedar amarah, tapi sesuatu yang lebih dalam da
Lovelle masih berdiri di dekat jendela, ketika suara itu pertama kali muncul. Bukan suara yang jelas, tapi terasa. Seperti tekanan tipis di dalam kepalanya, tepat di belakang pelipis. Tidak sakit, tapi bisa membuatnya berhenti bernapas untuk sejenak. Lovelle pun mengernyit. Tangannya seketika terangkat untuk menekan sisi kepalanya pelan. “…apa lagi ini?” gumannya rendah. Lovelle lalu menarik napas dalam, mencoba untuk mengabaikannya. Ia sudah mengalami kilasan memori, sensasi yang asing, bahkan emosi yang bukan miliknya. Ini mungkin hanya sisa dari efeknya saja. “Fokus,” bisiknya pada diri sendiri, lalu berbalik dari jendela. Kakinya mengayun satu langkah, lalu tiba-tiba berhenti saat merasakan dadanya yang mendadak berdenyut karena sebuah perasaan yang datang. Perasaan marah... dan emosi. Sejenak Lovelle membeku. “Ini bukan perasaanku,” gumannya cepat. Namun emosi itu tidak kunjung mereda, alih-alih semakin meningkat. Seperti ada sesuatu yang mendorong da
"Lagipula jika aku mati di tangan Xeyren, kamu pasti tidak akan peduli." Kalimat itu menggantung di udara, seiring dengan keheningan yang kemudian menyertainya. Luca tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap terkunci pada Lovelle. Namun kali ini bukan sekadar menilai, melainkan membaca lebih dalam. Mencari sesuatu yang tersembunyi di balik semua perubahan sikap Daniela yang ia kenal. “Apakah mungkin…” gumannya pelan, suaranya turun satu tingkat, “…yang berdiri di depanku ini memang bukan Daniela yang sama?" Lovelle tersenyum tipis. “Lucu,” balasnya tenang. “Karena justru sebenarnya akulah yang selama ini tidak pernah benar-benar menjadi diriku sendiri.” Lovelle kalau bergerak turun dari ranjang. Kakinya masih sedikit goyah, namun ia tetap berdiri tegak di hadapan Luca. Tidak mundur atau menghindar. “Dua tahun aku hidup mengikuti perintahmu, Luca. Tanpa bertanya dan tanpa menolak," lanjutnya pelan Kini tatapan manik biru pucat itu tampak sedikit mengeras, membayan
“Jawab pertanyaanku. Siapa kamu sebenarnya?”Lovelle tidak langsung menjawab, namun kali ini…ia tidak lagi merasa gugup. Tatapan gadis itu justru mengeras, menatap balik Luca tanpa gentar. Ada getaran kecil di dalam dirinya, sesuatu yang sama sekali bukan miliknya. Yaitu rasa takut dan refleks untuk tunduk... semua yang tersisa dari Daniela Raine. Namun bersamaan dengan itu semua, juga ada sesuatu yang lain.Yaitu jatidirinya, sebagai Lovelle White.Tidak, Luca bukanlah seseorang yang harus ia takuti. Bagaimanapun mengintimidasinya sikap Luca, pria ini tetaplah tokoh utama, bukan antagonis kejam seperti Xeyren. Lovelle mungkin tidak berkutik di hadapan Xeyren, namun Luca... pria ini masih mampu ia atasi. Perlahan, dagu Lovelle bergerak naik, menantang cengkraman Luca tanpa benar-benar melepaskannya. “Bukankah itu adalah pertanyaan yang aneh?” ucapnya dingin. Luca menyipitkan mata, namun ia tak bersuara. Dan Lovelle pun melanjutkan, “Kamu bertanya seolah-olah kamu mengenalku







