FAZER LOGIN“Ummh...”
Lovelle mengerang lirih dengan kedua mata yang masih terpejam, kala ia merasakan sesuatu yang dingin dan solid mencengkeram lehernya. “Bangun, Miss Little Spy. Baru saja kutinggal sebentar, kamu malah ketiduran? Really?” Suara maskulin dan berat itu menusuk tajam telinga Lovelle, membuat kesadarannya seketika tersentak kembali. Sontak saja ia membuka kedua manik biru pucatnya lebar-lebar dan mendongak. Xeyren sudah berdiri menjulang di depannya. Jemarinya yang panjang dan kokoh mencengkeram leher Lovelle, tidak cukup kuat untuk mencekik, tetapi cukup untuk mengontrol setiap gerakannya. Tatapan manik abu-abu gelap itu pun turun dengan perlahan untuk menelusuri wajah pucat Lovelle, kemudian memandangi tubuhnya yang tampak rapuh. Dalam benak Xeyren, gadis ini tampak terlalu lemah. Tubuhnya kecil dan kurus, bahkan warna kulitnya yang pucat itu terlihat hampir transparan di bawah cahaya lampu kristal. Ck. Ia tidak mengerti. Bagaimana bisa seseorang seperti ini dikirim sebagai mata-mata? Dan siapa pun orang yang mengirim gadis tak berguna ini… pilihan mereka sangat buruk. “Aku bertemu seseorang yang cukup menarik malam ini," guman Xeyren pelan. Ibu jarinya sedikit bergerak di sisi leher Lovelle, untuk merasakan denyut nadi yang berdegup cepat di sana. Tubuh Lovelle pun menegang, ia tahu ke mana arah pembicaraan ini. Xeyren mengukir senyum samar di bibirnya, namun sorot matanya semakin menajam. “Jaksa Luca Montclair," ucap pria itu dengan penekanan yang disengaja, meskipun disebut dengan nada yang datar. Lalu Xeyren menunduk wajahnya, hingga kini hanya berjarak beberapa senti saja dari wajah Lovelle. “Sekarang aku jadi penasaran,” lanjutnya pelan, “apa sebenarnya hubunganmu dengan dia, hm?” Lovelle pun membeku. Untuk sesaat, pikirannya terasa kosong. Namun pertanyaan itu justru memaksanya berpikir lebih cepat dari sebelumnya. Ia tahu mengenai fakta bahwa Daniela hanyalah seorang mata-mata biasa bagi Luca. Setidaknya itulah yang ia baca dari buku. Hanya saja, Lovelle pun memahami kecurigaan Xeyren. Jika memang Daniela hanyalah mata-mata biasa yang dibayar oleh Luca, lalu kenapa pria itu sampai mendatangi Mansion milik Xeyren saat Daniela menghilang? Lovelle pun berpikir cepat dan berusaha mengingat kembali alur buku yang ia baca. Setahunya, Luca dan Xeyren kelak akan terikat pada satu hal yang sama. Yaitu seorang wanita bernama Crelia. Crelia Everly. Wanita yang akan membuat dua pria ini saling berhadapan bukan hanya sebagai musuh… tetapi juga sebagai pria yang menginginkan Crelia. Namun sampai detik ini Crelia pun belum muncul, dan mungkin hal itu bisa ia jadikan kesempatan untuk menyelamatkan diri. Jika Lovelle bisa menempatkan dirinya dalam posisi yang memiliki “nilai” di mata Xeyren… Maka mungkin… ia bisa bertahan hidup. Lovelle menelan ludah. Tatapannya bergetar untuk sesaat, sebelum akhirnya ia berkata pelan, “A-aku… dan Luca…” Ia berhenti sejenak, lalu memaksakan keberanian yang tersisa. “…kami adalah sepasang kekasih.” Beberapa detik yang kemudian berlalu terasa sangat panjang. Xeyren tidak langsung bereaksi, ia hanya menatap Lovelle seolah mencoba membaca apakah gadis itu sedang berbohong… atau cuma terlalu bodoh karena mengatakan hal seperti itu. Lalu tiba-tiba saja, ia tertawa. Suara tawa rendah dan dingin yang keluar dari tenggorokannya. “Kekasih?” ulangnya dengan nada mengejek. Satu sudut bibirnya terangkat samar dan matanya menyipit. “Menarik sekali.” Saat itu juga, Lovelle merasakan tenggorokannya mengering. Namun ia tidak sempat berkata apa pun, karena dalam satu gerakan cepat, Xeyren telah mencengkram dan menarik dagunya lebih dekat. Lovelle bisa merasakan hembusan napas Xeyren yang menerpa wajahnya, sama panasnya dengan api neraka. Dan kini tatapan pria itu berubah menjadi lebilh tajam dan lebih menusuk. “Kalau begitu, kekasih macam apa yang malah mencium pria lain?” gumannya pelan, dengan suara seperti sebuah bisikan yang berbahaya. Xeyren menatap Lovelle yang terdiam tanpa berkedip, seolah menikmati kebingungan yang terpancar jelas di wajahnya. “Jadi ini adalah permainanmu, Lovelle?” lanjutnya dingin. “Berpura-pura setia di satu pria… lalu mencoba menyelamatkan diri di sisi pria lain, begitu?" Ia pun tertawa pelan lagi, namun kali ini terdengar lebih merendahkan. “Lucu.” Tangannya yang mencengkeram leher Lovelle akhirnya terlepas. Namun bukan berarti Lovelle benar-benar bebas, karena tatapan itu masih terasa seperti belenggu yang membuatnya sulit bernapas. “Kau hanyalah seorang oportunis,” ucap Xeyren datar seraya menatap ke sekujur tubuh Lovelle. “Seorang jalang yang tahu kapan harus berpindah posisi.” Kalimat itu serasa meninju ulu hati Lovelle, namun ia tidak membalas. Karena saat ini… bertahan hidup jauh lebih penting daripada harga diri. Beberapa detik sunyi berlalu, ketika akhirnya Xeyren yang mulai bergerak. Lovelle mengerjap ketakutan ketika Xeyren malah mengangkat pisau di tangannya, namun ternyata ia salah kira. Xeyren menggunakan benda tajam itu bukan untuk melukainya, melainkan untuk memotong tali di pergelangan tanganya. Lovelle pun tertegun setengah tak percaya. Namun belum juga sempat ua bereaksi, Xeyren sudah memotong ikatan di kakinya juga, membiarkan tali itu jatuh ke atas lantai. Kini tubuh Lovelle akhirnya benar-benar bebas sepenuhnya. Lovelle menatap pergelangan tangannya yang memerah karena gesekan, lalu mengusapnya perlahan dengan napas yang masih memburu. Ia tidak menyangka, benar-benar tidak menyangka jika Xeyren akan membebaskannya begitu saja. “Terima kasih…” ucap Lovelle pelan, meskipun suaranya masih terdengar ragu. Tapi Xeyren tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, menatap Lovelle dengan ekspresi dingin yang tak terbaca. Meskipun keheningan itu membuat Lovelle semakin gelisah, namun ini adalag kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali. Lovelle pun melangkah mundur, lalu segera berbalik menuju pintu. Walaupun untuk ia tidak tahu harus pergi ke mana karena tidak punya tempat tujuan di dunia ini, namun yang pasti ia harus menjauh dari pria ini. Karena berada di dekat seorang Xeyren Crow, terasa seperti berdiri di samping bom aktif yang bisa meledak kapan saja. Lovelle bergegas meraih gagang pintu dan memutarnya... tapi ternyata tidak bisa terbuka. Napas Lovelle mulai tidak teratur saat ia mencoba lagi untuk kedua kali, namun tetap saja gagal. Tiba-tiba saja, bayangan panjang jatuh dari belakang tubuhnya dan membuat udara di sekitar mendadak terasa jauh lebih dingin. Lovelle belum sempat berbalik, ketika suara berat dan mengintimidasi itu kembali terdengar tepat di belakangnya. “Siapa yang menyuruhmu keluar, Lovelle?” ***Halooo... makasih untuk yg baca kisah Lovelle-Xeyren 🫶🫶🫶 utk visual mereka bisa di cek di igeku blackauroranovels, yaa 🤗❤️
Jantung Lovelle berdetak semakin keras.Sulit dipercaya.Pertanyaan itu... keluar dari bibir pria yang memiliki wajah yang sama persis dengan Xeyren. Bibir yang sama, mata yang sama, dan suara rendah yang sama.Namun entah kenapa, semuanya terasa berbeda.Untuk sesaat, pikirannya seperti ditarik jauh ke masa lalu. Ke sebuah ruangan yang diterangi cahaya lilin. Ke sepasang mata kelabu yang tidak pernah sedingin ini.Tatapan yang selalu berubah gelap setiap kali memandangnya, sorot yang pernah membuat seluruh tubuhnya gemetar.Ia teringat jemari kokoh yang menggenggam tangannya, pelukan hangat yang nyaris mencekik karena begitu erat, serta kecupan-kecupan lembut yang pernah mendarat di sekujur tubuhnya. Pria itu... Pria yang sama sekali tidak pandai mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata, tetapi selalu menunjukkan segalanya melalui tindakan.Namun sekarang... mata yang sama itu justru memandangnya dengan rasa ingin tahu yang dingin...... seolah mereka benar-benar orang asing."Jad
Lovelle merasa seluruh darah di tubuhnya seolah mengalir ke wajahnya. Karena sekarang, bukan hanya Xavian yang menatapnya. Para pengawal yang berdiri di dekat pria itu ikut memandang ke arahnya. Beberapa karyawan yang sedang berjalan di lobi pun ikut berhenti dan memperhatikan mereka. Untuk sesaat, suasana menjadi canggung. Lovelle menelan ludah, lalu perlahan melangkah keluar dari balik pilar. "...Anda sedang berbicara denganku?" tanyanya ragu. Xavian sedikit menelengkan kepala sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Tentu saja." Tatapan mata kelabu itu tetap tenang dan datar. "Ada hal penting mengenai pekerjaan yang ingin kudiskusikan denganmu." Lovelle sedikit mengernyit. "Sekarang?" "Ya. Sekarang." "Kalau memang tentang pekerjaan..." Lovelle mencoba tersenyum sopan. "Apa tidak bisa besok saat jam kerja?" "Tidak." Jawaban Xavian datang dengan cepat. "Aku perlu mendiskusikannya malam ini." Kali ini Lovelle terdiam, dan ia bisa merasakan tatap
"Aku penasaran," lanjut Xavian tenang. "Apakah model itu cukup kuat untuk dipertahankan jika aku mengganti seluruh variabel pasar yang Anda gunakan?" Jantung Lovelle kembali berdetak keras, karena kini ia sadar bahwa pria itu memang tidak menatapnya sebagai seseorang yang dikenalnya. Namun untuk alasan yang tidak ia pahami... Xavian Claine baru saja mengalihkan seluruh perhatian Lovelle kepadanya. Jam kerja hari itu terasa jauh lebih panjang daripada biasanya. Bahkan setelah presentasi selesai dan Daniel Carter mengucapkan kalimat penutup, Lovelle masih belum sepenuhnya kembali ke kenyataan. "Presentasi yang sangat baik, Nona White." Salah satu eksekutif mengangguk puas. Daniel tersenyum lega dan segera menjawab, "Terima kasih. Sebagian besar analisis ini memang disusun oleh Lovelle." Lovelle hanya mengangguk kecil secara refleks, namun pikirannya masih tertinggal di ujung meja rapat... pada pria yang duduk di sana. Xavian Claine. Atau... Xeyren. Ketika Daniel memberi isya
Lovelle bahkan tidak menyadari jika sejak tadi ia sedang menahan napasnya. Beberapa detik yang lalu, dunia masih terasa normal. Lalu sekarang... Xeyren Crow sedang berada di ruangan yang sama dengannya. Tidak. Bukan Xeyren. Nama pria itu adalah Xavian Claine. Pemilik C-Works Industries. Pemimpin perusahaan raksasa yang baru saja mengakuisisi tempatnya bekerja. Seorang pebisnis. Seorang CEO. Seorang manusia nyata yang seharusnya tidak memiliki hubungan apa pun dengan dunia yang pernah ditinggalkan Lovelle. Namun semakin lama ia memandang pria itu, semakin sulit baginya untuk meyakinkan dirinya sendiri. Xeyren dan Xavian terlalu mirip... Bukan hanya wajah, tapi juga bola mata, ukiran tattoo di kulitnya, bahkan cara pria itu duduk dengan postur yang tegak dan tenang. Mereka berdua sama-sama memiliki aura dominan yang secara alami membuat seluruh ruangan fokus mengelilinginya. Lovelle pun mengepalkan kedua tangannya, berusaha mengendalikan jantungnya yang terus berd
Lovelle baru mengangkat wajahnya ketika pintu lift telah tertutup sepenuhnya, memantulkan bayangan dirinya yang terlihat samar pada dinding logam yang mengkilap. Untuk sesaat, ia hanya berdiri diam dengan ponsel yang masih berada di tangan. Setelah membaca pesan Nathan sekali lagi, jemarinya pun kini bergerak cepat di atas layar untuk mengetik jawaban. "Terima kasih. Semoga harimu juga menyenangkan." Singkat, namun cukup tulus untuk mewakili apa yang ingin ia sampaikan. Beberapa detik selanjutnya pesan itu pun terkirim, dan Lovelle pun memutuskan untuk menyimpan ponselnya kembali di saku. Ketika pintu lift terbuka beberapa menit kemudian, Lovelle pun segera melangkah keluar. Namun keningnya sontak mengernyit saat baru menyadari sesuatu yang tidak biasa. Lorong kantor di lantai ini tampak jauh lebih ramai daripada biasanya. Beberapa orang berdiri berkelompok sambil berbicara dengan suara pelan, sedangkan sebagian lain terlihat mondar-mandir dengan tablet atau laptop di tangan.
Suasana di dalam mobil menjadi sedikit canggung setelah percakapan itu, tapi untungnya Nathan tidak memaksa. Ia tidak meminta jawaban Lovelle dengan segera, juga tidak mengulangi lagi pengakuan perasaannya. Dan Lovelle sangat bersyukur untuk itu, karena saat ini pikirannya masih benar-benar berantakan. Memikirkan Nathan, Xeyren, serta dunia yang pernah ia tinggali, juga perasaan aneh seperti seseorang yang mencengkram pinggangnya, masih mendominasi seluruh benaknya, menyisakan hanya sedikit ruang untuk berpikir. Tapi untungnya, aroma makanan dari kantong kertas yang dibawa Nathan cukup berhasil mengalihkan pikirannya. Lovelle membuka bungkus sandwich itu perlahan, kemudian menggigitnya. "Ini enak. Thanks, Nathan." Nathan yang sedang menyetir tertawa kecil. "Aku tahu kamu akan suka." Sambil mengunyah, Lovelle mengangguk. "Rotinya pun masih hangat." "Aku sengaja membelinya sebelum ke apartemenmu." Lovelle kembali menggigit sandwich itu dengan ekspresi yang terlihat s
"Silahkan masuk ke dalam mobil, Nona Daniela Raine. Tuan Montclair sudah menunggu." Lovelle mundur satu langkah saat Alistair membuka pintu mobil untuknya Tatapannya pun berubah menjadi tajam dan penuh waspada. “Aku tidak akan ikut,” ucap Lovelle dingin. Nada suaranya tegas, meskipun napasnya m
Pintu utama Mansion terbuka tepat pukul delapan pagi. Xeyren pun melangkah masuk, namun gesturnya tidak seangkuh biasanya. Ada sesuatu yang berat menempel di wajahnya yang tampak kusut, muram, dan… tidak fokus. Pikirannya masih tertahan di satu kalimat dari Professor Albrecht Varyn... ((Makh
Jam telah menunjukkan tepat pukul dua malam.Mansion itu sunyi. Tidak ada suara langkah kaki pelayan, tiidak ada suara penjaga. Bahkan hembusan angin pun terasa seolah tertahan di balik dinding marmer yang dingin.Lovelle membuka matanya. Ia memang tidak pernah benar-benar tidur.Perlahan, gadis i
Sementara itu di sisi lain kota, sebuah bangunan penelitian berdiri, terisolasi, dan jauh dari pusat keramaian. Laboratorium milik Professor Albrecht Varyn. Pintu baja itu akhirnya perlahan terbuka, lalu langkah sepatu Xeyren pun masuk tanpa ragu. Ruangan yang terang itu dipenuhi layar, grafik, s







