แชร์

10. Kekasih

ผู้เขียน: Black Aurora
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-19 11:31:44

“Ummh...”

Lovelle mengerang lirih dengan kedua mata yang masih terpejam, kala ia merasakan sesuatu yang dingin dan solid mencengkeram lehernya.

“Bangun, Miss Little Spy. Baru saja kutinggal sebentar, kamu malah ketiduran? Really?”

Suara maskulin dan berat itu menusuk tajam telinga Lovelle, membuat kesadarannya seketika tersentak kembali.

Sontak saja ia membuka kedua manik biru pucatnya lebar-lebar dan mendongak.

Xeyren sudah berdiri menjulang di depannya.

Jemarinya yang panjang dan kokoh mencengkeram leher Lovelle, tidak cukup kuat untuk mencekik, tetapi cukup untuk mengontrol setiap gerakannya.

Tatapan manik abu-abu gelap itu pun turun dengan perlahan untuk menelusuri wajah pucat Lovelle, kemudian memandangi tubuhnya yang tampak rapuh.

Dalam benak Xeyren, gadis ini tampak terlalu lemah.

Tubuhnya kecil dan kurus, bahkan warna kulitnya yang pucat itu terlihat hampir transparan di bawah cahaya lampu kristal.

Ck.

Ia tidak mengerti. Bagaimana bisa seseorang seperti ini dikirim sebagai mata-mata?

Dan siapa pun orang yang mengirim gadis tak berguna ini… pilihan mereka sangat buruk.

“Aku bertemu seseorang yang cukup menarik malam ini," guman Xeyren pelan.

Ibu jarinya sedikit bergerak di sisi leher Lovelle, untuk merasakan denyut nadi yang berdegup cepat di sana.

Tubuh Lovelle pun menegang, ia tahu ke mana arah pembicaraan ini.

Xeyren mengukir senyum samar di bibirnya, namun sorot matanya semakin menajam.

“Jaksa Luca Montclair," ucap pria itu dengan penekanan yang disengaja, meskipun disebut dengan nada yang datar.

Lalu Xeyren menunduk wajahnya, hingga kini hanya berjarak beberapa senti saja dari wajah Lovelle.

“Sekarang aku jadi penasaran,” lanjutnya pelan, “apa sebenarnya hubunganmu dengan dia, hm?”

Lovelle pun membeku. Untuk sesaat, pikirannya terasa kosong.

Namun pertanyaan itu justru memaksanya berpikir lebih cepat dari sebelumnya.

Ia tahu mengenai fakta bahwa Daniela hanyalah seorang mata-mata biasa bagi Luca. Setidaknya itulah yang ia baca dari buku.

Hanya saja, Lovelle pun memahami kecurigaan Xeyren.

Jika memang Daniela hanyalah mata-mata biasa yang dibayar oleh Luca, lalu kenapa pria itu sampai mendatangi Mansion milik Xeyren saat Daniela menghilang?

Lovelle pun berpikir cepat dan berusaha mengingat kembali alur buku yang ia baca.

Setahunya, Luca dan Xeyren kelak akan terikat pada satu hal yang sama.

Yaitu seorang wanita bernama Crelia. Crelia Everly.

Wanita yang akan membuat dua pria ini saling berhadapan bukan hanya sebagai musuh… tetapi juga sebagai pria yang menginginkan Crelia.

Namun sampai detik ini Crelia pun belum muncul, dan mungkin hal itu bisa ia jadikan kesempatan untuk menyelamatkan diri.

Jika Lovelle bisa menempatkan dirinya dalam posisi yang memiliki “nilai” di mata Xeyren…

Maka mungkin… ia bisa bertahan hidup.

Lovelle menelan ludah.

Tatapannya bergetar untuk sesaat, sebelum akhirnya ia berkata pelan, “A-aku… dan Luca…”

Ia berhenti sejenak, lalu memaksakan keberanian yang tersisa.

“…kami adalah sepasang kekasih.”

Beberapa detik yang kemudian berlalu terasa sangat panjang.

Xeyren tidak langsung bereaksi, ia hanya menatap Lovelle seolah mencoba membaca apakah gadis itu sedang berbohong… atau cuma terlalu bodoh karena mengatakan hal seperti itu.

Lalu tiba-tiba saja, ia tertawa.

Suara tawa rendah dan dingin yang keluar dari tenggorokannya.

“Kekasih?” ulangnya dengan nada mengejek.

Satu sudut bibirnya terangkat samar dan matanya menyipit. “Menarik sekali.”

Saat itu juga, Lovelle merasakan tenggorokannya mengering.

Namun ia tidak sempat berkata apa pun, karena dalam satu gerakan cepat, Xeyren telah mencengkram dan menarik dagunya lebih dekat.

Lovelle bisa merasakan hembusan napas Xeyren yang menerpa wajahnya, sama panasnya dengan api neraka.

Dan kini tatapan pria itu berubah menjadi lebilh tajam dan lebih menusuk.

“Kalau begitu, kekasih macam apa yang malah mencium pria lain?” gumannya pelan, dengan suara seperti sebuah bisikan yang berbahaya.

Xeyren menatap Lovelle yang terdiam tanpa berkedip, seolah menikmati kebingungan yang terpancar jelas di wajahnya.

“Jadi ini adalah permainanmu, Lovelle?” lanjutnya dingin.

“Berpura-pura setia di satu pria… lalu mencoba menyelamatkan diri di sisi pria lain, begitu?"

Ia pun tertawa pelan lagi, namun kali ini terdengar lebih merendahkan.

“Lucu.” Tangannya yang mencengkeram leher Lovelle akhirnya terlepas.

Namun bukan berarti Lovelle benar-benar bebas, karena tatapan itu masih terasa seperti belenggu yang membuatnya sulit bernapas.

“Kau hanyalah seorang oportunis,” ucap Xeyren datar seraya menatap ke sekujur tubuh Lovelle.

“Seorang jalang yang tahu kapan harus berpindah posisi.”

Kalimat itu serasa meninju ulu hati Lovelle, namun ia tidak membalas.

Karena saat ini… bertahan hidup jauh lebih penting daripada harga diri.

Beberapa detik sunyi berlalu, ketika akhirnya Xeyren yang mulai bergerak.

Lovelle mengerjap ketakutan ketika Xeyren malah mengangkat pisau di tangannya, namun ternyata ia salah kira.

Xeyren menggunakan benda tajam itu bukan untuk melukainya, melainkan untuk memotong tali di pergelangan tanganya.

Lovelle pun tertegun setengah tak percaya.

Namun belum juga sempat ua bereaksi, Xeyren sudah memotong ikatan di kakinya juga, membiarkan tali itu jatuh ke atas lantai.

Kini tubuh Lovelle akhirnya benar-benar bebas sepenuhnya.

Lovelle menatap pergelangan tangannya yang memerah karena gesekan, lalu mengusapnya perlahan dengan napas yang masih memburu.

Ia tidak menyangka, benar-benar tidak menyangka jika Xeyren akan membebaskannya begitu saja.

“Terima kasih…” ucap Lovelle pelan, meskipun suaranya masih terdengar ragu.

Tapi Xeyren tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam, menatap Lovelle dengan ekspresi dingin yang tak terbaca.

Meskipun keheningan itu membuat Lovelle semakin gelisah, namun ini adalag kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali.

Lovelle pun melangkah mundur, lalu segera berbalik menuju pintu.

Walaupun untuk ia tidak tahu harus pergi ke mana karena tidak punya tempat tujuan di dunia ini, namun yang pasti ia harus menjauh dari pria ini.

Karena berada di dekat seorang Xeyren Crow, terasa seperti berdiri di samping bom aktif yang bisa meledak kapan saja.

Lovelle bergegas meraih gagang pintu dan memutarnya... tapi ternyata tidak bisa terbuka.

Napas Lovelle mulai tidak teratur saat ia mencoba lagi untuk kedua kali, namun tetap saja gagal.

Tiba-tiba saja, bayangan panjang jatuh dari belakang tubuhnya dan membuat udara di sekitar mendadak terasa jauh lebih dingin.

Lovelle belum sempat berbalik, ketika suara berat dan mengintimidasi itu kembali terdengar tepat di belakangnya.

“Siapa yang menyuruhmu keluar, Lovelle?”

***

Black Aurora

Halooo... makasih untuk yg baca kisah Lovelle-Xeyren 🫶🫶🫶 utk visual mereka bisa di cek di igeku blackauroranovels, yaa 🤗❤️

| 10
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kiss The Antagonist    138. Takdir Yang Akan Menemukan Jalannya (Tamat)

    SATU TAHUN KEMUDIAN... Hujan turun perlahan di balik jendela ruang bersalin. Xavian berdiri tepat di sisi ranjang, tidak pernah melepaskan genggaman tangan Lovelle sejak wanita itu mulai merasakan kontraksi beberapa jam yang lalu. Pria yang selalu terlihat tenang itu tampak benar-benar gugup. "Tarik napas, Nyonya. Sedikit lagi." Suara dokter terdengar samar di tengah napas Lovelle yang memburu. Lovelle menggenggam tangan suaminya begitu erat, hingga buku-buku jari Xavian memutih. "Aku... tidak kuat lagi..." "Kamu pasti kuat, Love. Kamu sudah pernah melewati hal-hal yang jauh lebih berat daripada ini." Xavian segera membungkuk, mengecup kening istrinya yang dipenuhi keringat. Lalu tatapan mereka saling bertemu. Di dalam kedua pasang mata berbeda warna itu, masih tersimpan kenangan tentang kehidupan yang seharusnya tak pernah ada. Tentang seorang pria bernama Xeyren Crow, tentang seorang gadis yang pernah terlempar ke dunia lain. Tentang seorang putri... yang meng

  • Kiss The Antagonist    137. Tidak Akan Melepasmu Lagi

    "Hah? Menginap?" mulut Lovelle benar-benar terbuka saking kagetnya. "Tapi... kenapa??"Sayangnya pertanyaan itu sepertinya tidak akan mendapatkan jawabannya, karena Xavian yang akhirnya benar-benar tidak menjelaskan alasannya.Pria itu hanya berjalan ke arah sofa ruang tamu, melepas jas hitamnya, lalu melipatnya rapi di bagian atas sandaran.Lovelle masih berdiri mematung beberapa langkah darinya. "Tuan Claine...?"Tanpa menjawab, Xavian hanya melonggarkan dasinya, lalu duduk di sofa.Melihat ekspresi lelah di wajah bosnya itu, Lovelle pun mengembuskan napas pelan."Sebentar."Gadis itu masuk ke dalam kamar, lalu beberapa saat kemudian ia pun kembali seraya membawa sebuah bantal dan selimut tebal berwarna abu-abu."Apartemen saya cuma punya satu kamar," ucapnya sedikit canggung. "Maaf... jadi Anda harus tidur di sofa.""Tidak masalah." Xavian berucap sembari menerima bantal itu tanpa banyak bicara. Lovelle masih belum beranjak.Tatapannya terus mengamati pria yang siang tadi begitu

  • Kiss The Antagonist    136. Tidak Ada Pria Lain

    Sudah tiga hari berlalu sejak peristiwa Lovelle yang pingsan di kantor. Selama tiga hari itu pula, tidak ada lagi pembicaraan mengenai penglihatan aneh yang mereka berdua alami. Xavian seolah menghapus seluruh kejadian itu dari permukaan, ia pun kembali menjadi CEO C-Works yang dikenal semua orang. Sikapnya dingin, perfeksionis, dan sulit ditebak. Seolah pria yang memeluk Lovelle di dalam mimpi itu tidak pernah ada. Namun tak ada yang tahu... bahwa tatapan pria itu telah berubah setiap kali menatap Lovelle. *** "Mulai hari ini, Nona White dipindahkan ke Executive Office." Suara kepala HR terdengar jelas, dan Lovelle pun sontak mengangkat kepala. "...Maaf?" tanya gadis itu bingung. "Ini keputusan langsung dari Tuan Xavian Claine. Mulai sekarang Anda akan menjadi Executive Assistant beliau." "Apa?!" Kali ini Emma-lah yang menjerit pelan sembari mengguncang lengan Lovelle. "Gila... itu promosi mendadak yang luar biasa!" bisiknya pelan. Namun wajah Lovelle tampak a

  • Kiss The Antagonist    135. Bagian Dirimu

    Kelopak mata Lovelle terasa begitu berat saat ia berusaha membuka mata. Gelap. Sunyi. Tak ada suara sama sekali. "...Aku di mana?" Gadis itu hanya bisa tertegun kala melihat hamparan putih yang seolah tak berujung. Lalu perlahan, Lovelle pun mulai melangkah. Busana kerja yang tadi ia kenakan kini telah berganti menjadi gaun putih sederhana yang bergoyang diterpa angin. Ia pun mengernyit bingung. "Aneh..." Tempat ini terasa begitu asing, namun juga terasa seperti rumah. Tiba-tiba langkah kaki lain terdengar dari kejauhan, dan Lovelle pun menoleh. Matanya menangkap sesosok pria yang berjalan dari balik kabut putih. Tubuhnya tinggi, rambutnya gelap, serta tatapan kelabu yang begitu dikenalnya. Dingin dan tajam, namun jauh di dalam sana ada luka yang tidak akan pernah benar-benar sembuh. Napas Lovelle pun tercekat di tenggorokannya. "...Xeyren." Pria itu berhenti melangkah, dan untuk beberapa saat mereka hanya saling menatap. Tidak ada senyum atay pelukan, hanya ad

  • Kiss The Antagonist    134. Perasaan yang Asing

    Xavian memejamkan mata begitu kuat hingga urat di pelipisnya menegang. Napasnya terdengar berat, cepat dan tidak beraturan... saat dua kehidupan saling bertabrakan di dalam kepalanya. Xavian Claine. CEO C-Works. Lahir, tumbuh, bersekolah, membangun perusahaan, mengambil alih puluhan bisnis. Semuanya nyata, semuanya memiliki kenangan. Namun di saat yang sama... ada kehidupan lain yang sama nyatanya. Pria bernama Xeyren Crow. Sebuah dunia yang seharusnya tidak mungkin ada. Seorang wanita bernama Lovelle. Seorang putri bernama Xeyrelle. Semuanya terasa begitu nyata hingga dadanya sesak dan sulit menghirup udara. Di sisi lain, Lovelle menatapnya dengan masih berurai air mata. "Tuan Claine..." "Jangan," potong Xavian dengan nada suaranya yang dingin. "Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Tapi aku tidak akan membiarkan beberapa potong halusinasi mengambil alih hidupku." Kalimat itu membuat Lovelle tercekat. "Tapi... ini bukan halusinasi...." "Bagaimana kau

  • Kiss The Antagonist    133. Penolakan

    Pintu ruang CEO menutup dengan bunyi "klik", yang malah terdengar seperti vonis hakim untuk terdakwa. Lovelle menatap gugup pria yang ada di depannya, dan berdiri membelakanginya. "T-Tuan Claine...?" Tidak ada jawaban. Xavian masih tak bergerak di posisinya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja kerja. Namun beberapa detik kemudian, satu pukulan keras menghantam permukaan meja, membuat Lovelle terlonjak kaget. BRAKK!! Napas Xavian tampak memburu. Kepalanya terasa seperti akan pecah. Ini tidak mungkin. Ia adalah Xavian Claine. Lahir di kota ini, dibesarkan oleh keluarganya, dan membangun C-Works dari nol. Lalu... siapa pria bernama Xeyren Crow itu?? Kenapa semua ingatan itu terasa lebih nyata daripada hidupnya sendiri?? Tangan pria itu pun mengepal semakin erat, lalu perlahan Xavian menoleh. Tatapan kelabunya kini begitu tajam, sama seperti tatapan Xeyren ketika pertama kali menodongkan senjata ke leher Lovelle. "Aku tidak tahu apa yang baru saja terja

  • Kiss The Antagonist    9. Pindah Posisi

    Tatapan Luca sedikit mengeras. “Sebuah ledakan terjadi pada mobil milik Lucien Moreau.” Ia menatap lurus ke dalam mata Xeyren. “Lucien dan seluruh pengawalnya tewas di tempat. Dan kebetulan,” lanjut Luca, “Anda adalah orang terakhir yang terlihat bersamanya di sebuah kasino beberapa jam sebelum k

  • Kiss The Antagonist    8. Kedatangan Sang Tokoh Utama Pria

    Suara baling-baling helikopter tiba-tiba terdengar membelah keheningan malam dari atas Mansion, membuat Lovelle yang masih terikat langsung membuka matanya lebar-lebar. Xeyren pun ikut melirik ke atas. Pisau yang tadi nyaris menyentuh bola mata Lovelle, kini tertahan di udara. Tatapan pria itu

  • Kiss The Antagonist    7. Nama Yang Sebenarnya

    Pisau di tangan Xeyren masih menyentuh dagu Lovelle. Bilahnya terasa dingin, hingga cukup dingin hingga membuat kulitnya merinding, dan memaksa Lovelle untuk menatap langsung ke dalam mata kelabu gelap itu. Tatapan yang begitu tenang… namun mengandung sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada

  • Kiss The Antagonist    1. Lompat Ke Dunia Yang Baru

    Udara malam yang dingin di kota kecil itu terasa menggigit. Setelah tengah malam, hampir tidak ada kehidupan yang tersisa di jalanan. Namun saat itu, suara langkah kaki yang berlari cepat memecah kesunyian. Lovelle White berlari sekuat tenaga. Sepatu kerjanya menghantam aspal dengan ritme yang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status