LOGIN“Jawab pertanyaanku. Siapa kamu sebenarnya?”Lovelle tidak langsung menjawab, namun kali ini…ia tidak lagi merasa gugup. Tatapan gadis itu justru mengeras, menatap balik Luca tanpa gentar. Ada getaran kecil di dalam dirinya, sesuatu yang sama sekali bukan miliknya. Yaitu rasa takut dan refleks untuk tunduk... semua yang tersisa dari Daniela Raine. Namun bersamaan dengan itu semua, juga ada sesuatu yang lain.Yaitu jatidirinya, sebagai Lovelle White.Tidak, Luca bukanlah seseorang yang harus ia takuti. Bagaimanapun mengintimidasinya sikap Luca, pria ini tetaplah tokoh utama, bukan antagonis kejam seperti Xeyren. Lovelle mungkin tidak berkutik di hadapan Xeyren, namun Luca... pria ini masih mampu ia atasi. Perlahan, dagu Lovelle bergerak naik, menantang cengkraman Luca tanpa benar-benar melepaskannya. “Bukankah itu adalah pertanyaan yang aneh?” ucapnya dingin. Luca menyipitkan mata, namun ia tak bersuara. Dan Lovelle pun melanjutkan, “Kamu bertanya seolah-olah kamu mengenalku
"Silahkan masuk ke dalam mobil, Nona Daniela Raine. Tuan Montclair sudah menunggu." Lovelle mundur satu langkah saat Alistair membuka pintu mobil untuknya Tatapannya pun berubah menjadi tajam dan penuh waspada. “Aku tidak akan ikut,” ucap Lovelle dingin. Nada suaranya tegas, meskipun napasnya masih belum sepenuhnya teratur. Dan Alistair tidak terlihat terkejut. Ia hanya menatap Lovelle selama beberapa detik, lalu menghela napas pelan... seolah sudah memperkirakan reaksi itu sejak awal. “Sayangnya,” jawabnya tenang, “ini bukanlah sebuah undangan, Nona. Tapi perintah." Saat itu juga, Lovelle langsung membalikkan tubuhnya, berniat untuk melarikan diri. Namun seketika saja gerakannya terhenti. Bukan karena ragu, melainkan karena ada sesuatu yang dingin terasa menusuk lengannya. Lovelle menoleh dengan cepat. Matanya sontak membelalak, saat melihat jarum suntik di tangan Alistair yang masih menancap di kulitnya. “Kau~~” Kalimat Lovelle pun terputus, dan tubuhnya melemah seketika
Pintu utama Mansion terbuka tepat pukul delapan pagi. Xeyren pun melangkah masuk, namun gesturnya tidak seangkuh biasanya. Ada sesuatu yang berat menempel di wajahnya yang tampak kusut, muram, dan… tidak fokus. Pikirannya masih tertahan di satu kalimat dari Professor Albrecht Varyn... ((Makhluk yang bisa menyeberang antar dimensi… kemungkinan besar sudah tidak bernyawa di dunia asalnya.)) Rahang Xeyren seketika mengeras meskipun samar, saat bayangan sosok itu muncul begitu saja di benaknya. Cara gadis itu bernapas, tatapan bola mata biru pucatnya… serta cara ia melawan. Lovelle. Dan tiba-tiba, sebuah kemungkinan yang tidak ia sukai mulai merayap di dalam benaknya. Bagaimana kalau… dia memang sudah mati di dunia sana? Langkah Xeyren bahkan sempat terhenti selama beberapa detik ketika memikirkannya, sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang berjalan mendekatinya. “Xeyren...” Suara lembut itu menarik Xeyren kembali dari lamunan. Crelia itu berdi
Jam telah menunjukkan tepat pukul dua malam.Mansion itu sunyi. Tidak ada suara langkah kaki pelayan, tiidak ada suara penjaga. Bahkan hembusan angin pun terasa seolah tertahan di balik dinding marmer yang dingin.Lovelle membuka matanya. Ia memang tidak pernah benar-benar tidur.Perlahan, gadis itu duduk di tepi ranjang. Selimut telah terlepas dari tubuhnya, menyisakan rasa dingin yang merambat halus di atas kulitnya.Lalu tangannya terangkat, dan telapaknya terbuka dengan perlahan.Di sana... kunci kecil itu masih ada, sejak tadi ia menggenggamnya dengan erat.Lovelle menatap benda dalam diam.Lalu beberapa saat kemudian, ia pun bangkit dan melangkah dengan ringan, hati-hati… namun pasti.Tidak ada lagi ragu, tidak akan lagi menoleh ke belakang.Ia kemudian membuka pintu kamar, dan koridor yang gelap pun menyambutnya.Lampu-lampu redup menyala samar, menciptakan bayangan panjang di sepanjang lantai. Setiap langkahnya terasa terlalu jelas, terlalu terdengar… meskipun ia sudah berus
Sementara itu di sisi lain kota, sebuah bangunan penelitian berdiri, terisolasi, dan jauh dari pusat keramaian. Laboratorium milik Professor Albrecht Varyn. Pintu baja itu akhirnya perlahan terbuka, lalu langkah sepatu Xeyren pun masuk tanpa ragu. Ruangan yang terang itu dipenuhi layar, grafik, serta tabung-tabung transparan yang berisi cairan berpendar samar. Dan di tengah semua itu, Albrecht bergegas berdiri dari kursinya Pria paruh baya itu tampak kaku saat melihat Xeyren. "T-Tuan Crow…” sapanya gugup. Tidak ada balasan yang hangat, hanya ada ketegangan. Xeyren melepas sarung tangannya dengan tenang. “Aku tidak datang untuk basa-basi,” ucapnya datar. “Langsung saja ke intinya.” Albrecht menelan ludah. “I–iya…” Lalu ia berbalik untuk membuka beberapa data di layar besar. “Aku sudah melanjutkan penelitian tentang anomali dimensi seperti yang Anda minta,” jelasnya cepat, seolah takut terlambat bicara. “Dan… aku telah menemukan sebuah pola.” Xeyren menyilangkan kedua tang
Langkah kaki Crelia terdengar pelan namun pasti, saat ia menaiki tangga menuju lantai dua. Wanita itu tidak tampak terburu-buru atau pun ragu, seolah hal ini sudah ia pikirkan masak-masak sebelumnya. Koridor terasa sunyi, hanya suara detak sepatunya yang menggema halus di dinding marmer. Ia lalu berhenti di depan pintu kamar Xeyren yang tidak tertutup rapat. Crelia menyipitkan mata… lalu mendorongnya perlahan, membuat cahaya masuk lebih banyak. Di dalam kamar, Lovelle sudah terbangun. Gadis itu duduk di atas ranjang dengan tubuh yang masih terbungkus selimut dan rambutnya yang seleher sedikit berantakan... serta wajah yang kosong. “Rupanya kamu baru bangun,” ucapnya ringan sambil melangkah masuk, lalu menutup pintu di belakangnya. Lovelle tidak langsung menjawab. Tatapannya hanya bergerak dan menilai. “Kalau kamu datang hanya untuk melihat keadaanku, kamu bisa pergi,” ucap Lovelle dingin. Crelia tersenyum tipis. “Oh, tidak. Aku tidak tertarik melihat ‘mainan’ milik
Xeyren tidak berkata apa-apa. Namun dalam satu gerakan halus, tangannya masuk ke balik jasnya, dan sebuah hand gun tiba-tiba saja sudah berada dalam genggamannya. Senjata itu langsung terangkat dan mengarah lurus ke pintu. Sementara di belakang tubuh Xeyren, Lovelle refleks menutup mulutnya se
“Daniela,” panggil Luca pelan. Sekarang Lovelle pun tidak berpikir lagi, dan langsung berlari ke arahnya. Pria ini adalah tokoh protagonis dalam novel. Satu-satunya pria yang harus ia percaya, alih-alih Xeyren Crow yang jelas-jelas penjahatnya. "Kamu baik-baik saja?" Luca masih memegangi
Beberapa hari kemudian, di malam lelang... Gedung tua bergaya klasik itu berdiri megah di tengah kota. Tampak tenang dari luar, namun di dalamnya dipenuhi aura ketegangan. Di sana, sekitar lima belas orang telah berkumpul. Mereka adalah tokoh-tokoh berpengaruh di dunia gelap, masing-masing me
“Siapa yang menyuruhmu keluar, Lovelle?” Lovelle menelan ludah dan seketika tersadar, bahwa meski ia berhasil selamat dari takdir kematian di halaman ke-lima, tapi di sini ia masih dalam permainan yang jauh lebih berbahaya dan kompleks. Xeyren perlahan melangkah mendekat dengan langkah yang be







