MasukPisau di tangan Xeyren masih menyentuh dagu Lovelle.
Bilahnya terasa dingin, hingga cukup dingin hingga membuat kulitnya merinding, dan memaksa Lovelle untuk menatap langsung ke dalam mata kelabu gelap itu. Tatapan yang begitu tenang… namun mengandung sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada amarah. Beberapa detik berlalu tanpa suara, hingga Xeyren akhirnya menarik pisaunya. Namun ia masih tidak menjauh, alih-alih duduk dengan santai di tepi meja di depan Lovelle. Kakinya yang panjangnya bersilang dengan sikap santai, kontras dengan aura mengancam yang mengelilinginya. Xeyren memutar-mutar pisau itu di antara jemarinya. “Sekarang, coba kita ulangi lagi pertanyaannya,” ucapnya pelan. Matanya kemudian menatap Lovelle dengan penuh perhatian. “Siapa kau sebenarnya?” Lovelle menelan ludah. Ia tahu bahwa identitas Daniela tidak akan bertahan lama. Xeyren terlalu pintar dan berbahaya, ia tidak akan percaya begitu saja pada cerita sederhana. Lovelle menarik napas pelan. “Namaku… bukan Daniela.” Xeyren hanya mengangkat alis tipis, tidak terlihat terkejut. “Begitu.” Lovelle memandangi lantai sejenak sebelum akhirnya mengangkat wajah dan kembali menatap pria itu. “Namaku Lovelle.” Sunyi kembali memenuhi kamar, saat Xeyren memperhatikan wajahnya seperti seorang ilmuwan yang sedang meneliti spesimen aneh. “Lovelle,” ulangnya pelan. “Nama yang cukup cantik dan normal untuk seorang mata-mata.” Xeyren berdiri dari meja dan berjalan mengelilinginya lagi. Seperti yang ia lakukan sebelumnya kepada David, ia bergerak seperti predator yang sedang menikmati proses berburu. “Jadi, Lovelle.” Pisau itu kembali terangkat, dan bilahnya kali ini menyentuh di sepanjang bahu Lovelle dengan ringan. “Siapa yang mengirimmu?” Lovelle menggeleng pelan. “Aku tidak bekerja untuk siapa pun.” Pisau Xeyren berhenti bergerak, lalu ia tertawa dingin. “Jawaban yang buruk.” Pisau itu lalu bergerak turun perlahan di sepanjang lengannya. “Aku sudah hidup cukup lama di dunia ini, dan aku belum pernah bertemu mata-mata yang tidak memiliki majikan.” Lovelle menatapnya dengan gugup. “Aku mengatakan yang sebenarnya.” Pisau Xeyren kini berhenti tepat di perut Lovelle, lalu pria itu mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat. “Kalau begitu jelaskan satu hal padaku, Lovelle. Bagaimana kau tahu tentang penyergapan di Las Vegas?” Pertanyaan itu membuat Lovelle terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan kebenaran, bahwa ia membaca semua ini dari novel. Bahwa dunia ini... sebenarnya hanyalah sebuah cerita. Lovelle menghela napas pelan. “Aku tahu karena…” Ia berhenti sejenak. “…karena ada begitu banyak orang menginginkan kematianmu.” Melihat Xeyren yang masih tidak bereaksi, Lovelle pun kembali melanjutkan dengan hati-hati. “Kamu memiliki terlalu banyak musuh," ucapnya, seraya menatap pria itu dengan serius. “Di dunia bisnis, di dunia bawah tanah… bahkan di antara orang-orang yang berpura-pura menjadi sekutumu.” Xeyren masih diam dengan ekspresi dingin tak terbaca, dan itu membuat Lovelle semakin berani untuk melanjutkan. “Aku bisa membantumu eeperti yang terjadi di Las Vegas,” katanya cepat. “Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya dan kau selamat.” Lovelle mencondongkan tubuh sedikit ke depan di kursinya. “Jika aku ingin menjatuhkanmu, aku tidak akan memberitahumu tentang jebakan itu.” Beberapa detik berlalu, Xeyren akhirnya berjalan menjauh beberapa langkah untuk menuangkan whiskey keduanya ke dalam gelas. “Menarik.” Pria itu berucap, sebelum meminum whiskey itu perlahan sebelum kembali menatap Lovelle. “Jadi menurutmu… aku harus membiarkanmu hidup karena kau bisa membantuku?” ucap Xeyren sambil tersenyum tipis. Lovelle mengangguk pelan. “Ya.” Namun sedetik kemudian senyum Xeyren perlahan memudar, dan tatapannya kembali dingin. “Masalahnya,” katanya pelan, sembari berjalan kembali mendekati Lovelle. “...aku tidak percaya padamu.” Pisau itu kembali terangkat. Bilahnya menyentuh pergelangan tangan Lovelle yang terikat. “Dan aku pun tidak suka menyimpan masalah di dekatku.” Lovelle merasakan jantungnya berdetak semakin cepat. “Xeyren~” “Kau mengira aku membutuhkan kerja samamu, hm?" Pria itu menundukkan wajahnya hingga kini pandangan mereka hampir sejajar. “Kau salah, Lovelle.” SRET!! Pisau itu tiba-tiba bergerak cepat, dan bilahnya memotong sedikit kain di lengan Lovelle, serta menggores kulitnya hingga meneteskan darah. Meskipun bukan luka yang dalam, namun membuat gadis itu tersentak dan lagi-lagi menggigit bibirnya menahan nyeri. Mata kelabu gelap itu menyipit. “Yang kubutuhkan, hanyalah jawaban, dan ada banyak cara untuk mendapatkannya." Lovelle mulai merasakan udara di paru-parunya terasa berat karena ketegangan yang tebal di udara. Xeyren berdiri tegak, dengan pisau itu yang kini berputar santai di tangannya. “Biasanya, orang akan berbicara setelah beberapa jam disiksa," ucapnya, seraya berjalan perlahan di belakang kursi Lovelle. “Beberapa orang mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama, namun pada akhirnya… semua orang pasti berbicara.” Pisau itu menyentuh bahu Lovelle lagi, saat Xeyren berbisik pelan di dekat telinganya. Lovelle menutup matanya. Ia tahu pria ini tidak sedang menggertak. Jika Xeyren benar-benar ingin menyiksanya, maka ia pun pasti akan melakukannya tanpa ragu. Lovelle membuka matanya lagi. “Kau tidak perlu menyiksaku. Aku bisa memberitahumu sesuatu yang lebih penting.” “Apa?” Lovelle menatap lurus ke depan. “Serangan di Las Vegas bukan yang terakhir. Ada seseorang yang benar-benar menginginkan kematianmu. Dan orang itu… jauh lebih berbahaya daripada Lucien Moreau.” Beberapa detik berlalu, hingga akhirnya Xeyren tertawa pelan. “Kalau begitu, sepertinya malam ini akan menjadi lebih menarik." Xeyren berjalan kembali ke hadapan Lovelle. Mata abu-abu gelapnya menatap langsung ke dalam mata gadis itu. Senyum tipis kembali muncul di sudut bibirnya. Dan pisau itu kembali terangkat dan ujungnya berhenti di depan bola mata kanan Lovelle. “Mulailah bicara, Lovelle. Dan kita lihat berapa lama kau bisa membuatku tidak membunuhmu.” ***Lovelle masih berdiri di dekat jendela, ketika suara itu pertama kali muncul. Bukan suara yang jelas, tapi terasa. Seperti tekanan tipis di dalam kepalanya, tepat di belakang pelipis. Tidak sakit, tapi bisa membuatnya berhenti bernapas untuk sejenak. Lovelle pun mengernyit. Tangannya seketika terangkat untuk menekan sisi kepalanya pelan. “…apa lagi ini?” gumannya rendah. Lovelle lalu menarik napas dalam, mencoba untuk mengabaikannya. Ia sudah mengalami kilasan memori, sensasi yang asing, bahkan emosi yang bukan miliknya. Ini mungkin hanya sisa dari efeknya saja. “Fokus,” bisiknya pada diri sendiri, lalu berbalik dari jendela. Kakinya mengayun satu langkah, lalu tiba-tiba berhenti saat merasakan dadanya yang mendadak berdenyut karena sebuah perasaan yang datang. Perasaan marah... dan emosi. Sejenak Lovelle membeku. “Ini bukan perasaanku,” gumannya cepat. Namun emosi itu tidak kunjung mereda, alih-alih semakin meningkat. Seperti ada sesuatu yang mendorong dari dalam. Men
"Lagipula jika aku mati di tangan Xeyren, kamu pasti tidak akan peduli." Kalimat itu menggantung di udara, seiring dengan keheningan yang kemudian menyertainya. Luca tidak langsung menjawab. Tatapannya tetap terkunci pada Lovelle. Namun kali ini bukan sekadar menilai, melainkan membaca lebih dalam. Mencari sesuatu yang tersembunyi di balik semua perubahan sikap Daniela yang ia kenal. “Apakah mungkin…” gumannya pelan, suaranya turun satu tingkat, “…yang berdiri di depanku ini memang bukan Daniela yang sama?" Lovelle tersenyum tipis. “Lucu,” balasnya tenang. “Karena justru sebenarnya akulah yang selama ini tidak pernah benar-benar menjadi diriku sendiri.” Lovelle kalau bergerak turun dari ranjang. Kakinya masih sedikit goyah, namun ia tetap berdiri tegak di hadapan Luca. Tidak mundur atau menghindar. “Dua tahun aku hidup mengikuti perintahmu, Luca. Tanpa bertanya dan tanpa menolak," lanjutnya pelan Kini tatapan manik biru pucat itu tampak sedikit mengeras, membayan
“Jawab pertanyaanku. Siapa kamu sebenarnya?”Lovelle tidak langsung menjawab, namun kali ini…ia tidak lagi merasa gugup. Tatapan gadis itu justru mengeras, menatap balik Luca tanpa gentar. Ada getaran kecil di dalam dirinya, sesuatu yang sama sekali bukan miliknya. Yaitu rasa takut dan refleks untuk tunduk... semua yang tersisa dari Daniela Raine. Namun bersamaan dengan itu semua, juga ada sesuatu yang lain.Yaitu jatidirinya, sebagai Lovelle White.Tidak, Luca bukanlah seseorang yang harus ia takuti. Bagaimanapun mengintimidasinya sikap Luca, pria ini tetaplah tokoh utama, bukan antagonis kejam seperti Xeyren. Lovelle mungkin tidak berkutik di hadapan Xeyren, namun Luca... pria ini masih mampu ia atasi. Perlahan, dagu Lovelle bergerak naik, menantang cengkraman Luca tanpa benar-benar melepaskannya. “Bukankah itu adalah pertanyaan yang aneh?” ucapnya dingin. Luca menyipitkan mata, namun ia tak bersuara. Dan Lovelle pun melanjutkan, “Kamu bertanya seolah-olah kamu mengenalku
"Silahkan masuk ke dalam mobil, Nona Daniela Raine. Tuan Montclair sudah menunggu." Lovelle mundur satu langkah saat Alistair membuka pintu mobil untuknya Tatapannya pun berubah menjadi tajam dan penuh waspada. “Aku tidak akan ikut,” ucap Lovelle dingin. Nada suaranya tegas, meskipun napasnya masih belum sepenuhnya teratur. Dan Alistair tidak terlihat terkejut. Ia hanya menatap Lovelle selama beberapa detik, lalu menghela napas pelan... seolah sudah memperkirakan reaksi itu sejak awal. “Sayangnya,” jawabnya tenang, “ini bukanlah sebuah undangan, Nona. Tapi perintah." Saat itu juga, Lovelle langsung membalikkan tubuhnya, berniat untuk melarikan diri. Namun seketika saja gerakannya terhenti. Bukan karena ragu, melainkan karena ada sesuatu yang dingin terasa menusuk lengannya. Lovelle menoleh dengan cepat. Matanya sontak membelalak, saat melihat jarum suntik di tangan Alistair yang masih menancap di kulitnya. “Kau~~” Kalimat Lovelle pun terputus, dan tubuhnya melemah seketika
Pintu utama Mansion terbuka tepat pukul delapan pagi. Xeyren pun melangkah masuk, namun gesturnya tidak seangkuh biasanya. Ada sesuatu yang berat menempel di wajahnya yang tampak kusut, muram, dan… tidak fokus. Pikirannya masih tertahan di satu kalimat dari Professor Albrecht Varyn... ((Makhluk yang bisa menyeberang antar dimensi… kemungkinan besar sudah tidak bernyawa di dunia asalnya.)) Rahang Xeyren seketika mengeras meskipun samar, saat bayangan sosok itu muncul begitu saja di benaknya. Cara gadis itu bernapas, tatapan bola mata biru pucatnya… serta cara ia melawan. Lovelle. Dan tiba-tiba, sebuah kemungkinan yang tidak ia sukai mulai merayap di dalam benaknya. Bagaimana kalau… dia memang sudah mati di dunia sana? Langkah Xeyren bahkan sempat terhenti selama beberapa detik ketika memikirkannya, sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa ada seseorang yang berjalan mendekatinya. “Xeyren...” Suara lembut itu menarik Xeyren kembali dari lamunan. Crelia itu berdi
Jam telah menunjukkan tepat pukul dua malam.Mansion itu sunyi. Tidak ada suara langkah kaki pelayan, tiidak ada suara penjaga. Bahkan hembusan angin pun terasa seolah tertahan di balik dinding marmer yang dingin.Lovelle membuka matanya. Ia memang tidak pernah benar-benar tidur.Perlahan, gadis itu duduk di tepi ranjang. Selimut telah terlepas dari tubuhnya, menyisakan rasa dingin yang merambat halus di atas kulitnya.Lalu tangannya terangkat, dan telapaknya terbuka dengan perlahan.Di sana... kunci kecil itu masih ada, sejak tadi ia menggenggamnya dengan erat.Lovelle menatap benda dalam diam.Lalu beberapa saat kemudian, ia pun bangkit dan melangkah dengan ringan, hati-hati… namun pasti.Tidak ada lagi ragu, tidak akan lagi menoleh ke belakang.Ia kemudian membuka pintu kamar, dan koridor yang gelap pun menyambutnya.Lampu-lampu redup menyala samar, menciptakan bayangan panjang di sepanjang lantai. Setiap langkahnya terasa terlalu jelas, terlalu terdengar… meskipun ia sudah berus
Beberapa hari kemudian, di malam lelang... Gedung tua bergaya klasik itu berdiri megah di tengah kota. Tampak tenang dari luar, namun di dalamnya dipenuhi aura ketegangan. Di sana, sekitar lima belas orang telah berkumpul. Mereka adalah tokoh-tokoh berpengaruh di dunia gelap, masing-masing me
“Siapa yang menyuruhmu keluar, Lovelle?” Lovelle menelan ludah dan seketika tersadar, bahwa meski ia berhasil selamat dari takdir kematian di halaman ke-lima, tapi di sini ia masih dalam permainan yang jauh lebih berbahaya dan kompleks. Xeyren perlahan melangkah mendekat dengan langkah yang be
Xeyren tidak berkata apa-apa. Namun dalam satu gerakan halus, tangannya masuk ke balik jasnya, dan sebuah hand gun tiba-tiba saja sudah berada dalam genggamannya. Senjata itu langsung terangkat dan mengarah lurus ke pintu. Sementara di belakang tubuh Xeyren, Lovelle refleks menutup mulutnya se
“Daniela,” panggil Luca pelan. Sekarang Lovelle pun tidak berpikir lagi, dan langsung berlari ke arahnya. Pria ini adalah tokoh protagonis dalam novel. Satu-satunya pria yang harus ia percaya, alih-alih Xeyren Crow yang jelas-jelas penjahatnya. "Kamu baik-baik saja?" Luca masih memegangi







