Главная / Romansa / Kiss The Antagonist / 7. Nama Yang Sebenarnya

Share

7. Nama Yang Sebenarnya

Aвтор: Black Aurora
last update publish date: 2026-03-15 08:31:50

Pisau di tangan Xeyren masih menyentuh dagu Lovelle.

Bilahnya terasa dingin, hingga cukup dingin hingga membuat kulitnya merinding, dan memaksa Lovelle untuk menatap langsung ke dalam mata kelabu gelap itu.

Tatapan yang begitu tenang… namun mengandung sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada amarah.

Beberapa detik berlalu tanpa suara, hingga Xeyren akhirnya menarik pisaunya.

Namun ia masih tidak menjauh, alih-alih duduk dengan santai di tepi meja di depan Lovelle.

Kakinya yang panjangnya bersilang dengan sikap santai, kontras dengan aura mengancam yang mengelilinginya.

Xeyren memutar-mutar pisau itu di antara jemarinya.

“Sekarang, coba kita ulangi lagi pertanyaannya,” ucapnya pelan.

Matanya kemudian menatap Lovelle dengan penuh perhatian. “Siapa kau sebenarnya?”

Lovelle menelan ludah. Ia tahu bahwa identitas Daniela tidak akan bertahan lama.

Xeyren terlalu pintar dan berbahaya, ia tidak akan percaya begitu saja pada cerita sederhana.

Lovelle menarik napas pelan. “Namaku… bukan Daniela.”

Xeyren hanya mengangkat alis tipis, tidak terlihat terkejut.

“Begitu.”

Lovelle memandangi lantai sejenak sebelum akhirnya mengangkat wajah dan kembali menatap pria itu.

“Namaku Lovelle.”

Sunyi kembali memenuhi kamar, saat Xeyren memperhatikan wajahnya seperti seorang ilmuwan yang sedang meneliti spesimen aneh.

“Lovelle,” ulangnya pelan. “Nama yang cukup cantik dan normal untuk seorang mata-mata.”

Xeyren berdiri dari meja dan berjalan mengelilinginya lagi.

Seperti yang ia lakukan sebelumnya kepada David, ia bergerak seperti predator yang sedang menikmati proses berburu.

“Jadi, Lovelle.” Pisau itu kembali terangkat, dan bilahnya kali ini menyentuh di sepanjang bahu Lovelle dengan ringan.

“Siapa yang mengirimmu?”

Lovelle menggeleng pelan. “Aku tidak bekerja untuk siapa pun.”

Pisau Xeyren berhenti bergerak, lalu ia tertawa dingin. “Jawaban yang buruk.”

Pisau itu lalu bergerak turun perlahan di sepanjang lengannya.

“Aku sudah hidup cukup lama di dunia ini, dan aku belum pernah bertemu mata-mata yang tidak memiliki majikan.”

Lovelle menatapnya dengan gugup. “Aku mengatakan yang sebenarnya.”

Pisau Xeyren kini berhenti tepat di perut Lovelle, lalu pria itu mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat.

“Kalau begitu jelaskan satu hal padaku, Lovelle. Bagaimana kau tahu tentang penyergapan di Las Vegas?”

Pertanyaan itu membuat Lovelle terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan kebenaran, bahwa ia membaca semua ini dari novel.

Bahwa dunia ini... sebenarnya hanyalah sebuah cerita.

Lovelle menghela napas pelan. “Aku tahu karena…”

Ia berhenti sejenak.

“…karena ada begitu banyak orang menginginkan kematianmu.”

Melihat Xeyren yang masih tidak bereaksi, Lovelle pun kembali melanjutkan dengan hati-hati.

“Kamu memiliki terlalu banyak musuh," ucapnya, seraya menatap pria itu dengan serius.

“Di dunia bisnis, di dunia bawah tanah… bahkan di antara orang-orang yang berpura-pura menjadi sekutumu.”

Xeyren masih diam dengan ekspresi dingin tak terbaca, dan itu membuat Lovelle semakin berani untuk melanjutkan.

“Aku bisa membantumu eeperti yang terjadi di Las Vegas,” katanya cepat.

“Aku sudah memperingatkanmu sebelumnya dan kau selamat.”

Lovelle mencondongkan tubuh sedikit ke depan di kursinya. “Jika aku ingin menjatuhkanmu, aku tidak akan memberitahumu tentang jebakan itu.”

Beberapa detik berlalu, Xeyren akhirnya berjalan menjauh beberapa langkah untuk menuangkan whiskey keduanya ke dalam gelas.

“Menarik.” Pria itu berucap, sebelum meminum whiskey itu perlahan sebelum kembali menatap Lovelle.

“Jadi menurutmu… aku harus membiarkanmu hidup karena kau bisa membantuku?” ucap Xeyren sambil tersenyum tipis.

Lovelle mengangguk pelan. “Ya.”

Namun sedetik kemudian senyum Xeyren perlahan memudar, dan tatapannya kembali dingin.

“Masalahnya,” katanya pelan, sembari berjalan kembali mendekati Lovelle.

“...aku tidak percaya padamu.”

Pisau itu kembali terangkat. Bilahnya menyentuh pergelangan tangan Lovelle yang terikat.

“Dan aku pun tidak suka menyimpan masalah di dekatku.”

Lovelle merasakan jantungnya berdetak semakin cepat. “Xeyren~”

“Kau mengira aku membutuhkan kerja samamu, hm?" Pria itu menundukkan wajahnya hingga kini pandangan mereka hampir sejajar.

“Kau salah, Lovelle.”

SRET!!

Pisau itu tiba-tiba bergerak cepat, dan bilahnya memotong sedikit kain di lengan Lovelle, serta menggores kulitnya hingga meneteskan darah.

Meskipun bukan luka yang dalam, namun membuat gadis itu tersentak dan lagi-lagi menggigit bibirnya menahan nyeri.

Mata kelabu gelap itu menyipit. “Yang kubutuhkan, hanyalah jawaban, dan ada banyak cara untuk mendapatkannya."

Lovelle mulai merasakan udara di paru-parunya terasa berat karena ketegangan yang tebal di udara.

Xeyren berdiri tegak, dengan pisau itu yang kini berputar santai di tangannya.

“Biasanya, orang akan berbicara setelah beberapa jam disiksa," ucapnya, seraya berjalan perlahan di belakang kursi Lovelle.

“Beberapa orang mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama, namun pada akhirnya… semua orang pasti berbicara.”

Pisau itu menyentuh bahu Lovelle lagi, saat Xeyren berbisik pelan di dekat telinganya.

Lovelle menutup matanya. Ia tahu pria ini tidak sedang menggertak.

Jika Xeyren benar-benar ingin menyiksanya, maka ia pun pasti akan melakukannya tanpa ragu.

Lovelle membuka matanya lagi. “Kau tidak perlu menyiksaku. Aku bisa memberitahumu sesuatu yang lebih penting.”

“Apa?”

Lovelle menatap lurus ke depan. “Serangan di Las Vegas bukan yang terakhir. Ada seseorang yang benar-benar menginginkan kematianmu. Dan orang itu… jauh lebih berbahaya daripada Lucien Moreau.”

Beberapa detik berlalu, hingga akhirnya Xeyren tertawa pelan.

“Kalau begitu, sepertinya malam ini akan menjadi lebih menarik." Xeyren berjalan kembali ke hadapan Lovelle.

Mata abu-abu gelapnya menatap langsung ke dalam mata gadis itu. Senyum tipis kembali muncul di sudut bibirnya.

Dan pisau itu kembali terangkat dan ujungnya berhenti di depan bola mata kanan Lovelle.

“Mulailah bicara, Lovelle. Dan kita lihat berapa lama kau bisa membuatku tidak membunuhmu.”

***

Продолжить чтение
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kiss The Antagonist    97. Xeyren?

    Lovelle baru mengangkat wajahnya ketika pintu lift telah tertutup sepenuhnya, memantulkan bayangan dirinya yang terlihat samar pada dinding logam yang mengkilap. Untuk sesaat, ia hanya berdiri diam dengan ponsel yang masih berada di tangan. Setelah membaca pesan Nathan sekali lagi, jemarinya pun kini bergerak cepat di atas layar untuk mengetik jawaban. "Terima kasih. Semoga harimu juga menyenangkan." Singkat, namun cukup tulus untuk mewakili apa yang ingin ia sampaikan. Beberapa detik selanjutnya pesan itu pun terkirim, dan Lovelle pun memutuskan untuk menyimpan ponselnya kembali di saku. Ketika pintu lift terbuka beberapa menit kemudian, Lovelle pun segera melangkah keluar. Namun keningnya sontak mengernyit saat baru menyadari sesuatu yang tidak biasa. Lorong kantor di lantai ini tampak jauh lebih ramai daripada biasanya. Beberapa orang berdiri berkelompok sambil berbicara dengan suara pelan, sedangkan sebagian lain terlihat mondar-mandir dengan tablet atau laptop di tangan.

  • Kiss The Antagonist    96. Pria Dari Dalam Buku

    Suasana di dalam mobil menjadi sedikit canggung setelah percakapan itu, tapi untungnya Nathan tidak memaksa. Ia tidak meminta jawaban Lovelle dengan segera, juga tidak mengulangi lagi pengakuan perasaannya. Dan Lovelle sangat bersyukur untuk itu, karena saat ini pikirannya masih benar-benar berantakan. Memikirkan Nathan, Xeyren, serta dunia yang pernah ia tinggali, juga perasaan aneh seperti seseorang yang mencengkram pinggangnya, masih mendominasi seluruh benaknya, menyisakan hanya sedikit ruang untuk berpikir. Tapi untungnya, aroma makanan dari kantong kertas yang dibawa Nathan cukup berhasil mengalihkan pikirannya. Lovelle membuka bungkus sandwich itu perlahan, kemudian menggigitnya. "Ini enak. Thanks, Nathan." Nathan yang sedang menyetir tertawa kecil. "Aku tahu kamu akan suka." Sambil mengunyah, Lovelle mengangguk. "Rotinya pun masih hangat." "Aku sengaja membelinya sebelum ke apartemenmu." Lovelle kembali menggigit sandwich itu dengan ekspresi yang terlihat s

  • Kiss The Antagonist    95. Khayalan ataukah Nyata?

    Pagi itu, cahaya matahari musim dingin menembus tirai apartemen Lovelle. Udara masih terasa dingin, ketika gadis itu berdiri di depan meja rias sambil menyisir rambut gelapnya yang hanya mencapai leher. Hari ini akan menjadi hari kerja yang panjang. Namun saat sedang merapikan ujung rambutnya, pandangan Lovelle tanpa sengaja tertuju pada sebuah buku yang tergeletak di sudut meja rias. Gerakan tangannya pun seketika terhenti. Buku itu masih berada di sana, belum tersentuh dan belum pernah dibuka. Sampulnya berwarna hitam kebiruan, dihiasi siluet sebuah kastel megah yang berdiri di bawah langit badai. Di bagian depan tampak sosok pria tinggi berjas hitam yang hanya terlihat dari belakang. Di sisi lain berdiri seorang wanita bergaun putih yang wajahnya diselimuti bayangan. Sementara jauh di belakang mereka terdapat seorang pria lain yang berdiri di tengah kabut, seolah mengawasi semuanya dari kejauhan. Judulnya tercetak dengan huruf perak. "His Obsession." Jemari Lov

  • Kiss The Antagonist    94. Seseorang Yang Masih Terus Mencari

    Malam itu, Nathan menepati janjinya. Tepat setelah jam kerja berakhir, mobil hitam yang sama sudah menunggu di depan gedung kantor. Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak berbicara. Tatapan Lovelle ke luar jendela memandangi lampu kota yang menyala di kedua sisi jalan, orang-orang memenuhi trotoar, kendaraan berlalu-lalang di tengah udara malam yang dingin. Semuanya terasa begitu normal. Nathan akhirnya membawa Lovelle ke sebuah restoran kecil yang cukup tenang, mewah namun juga hangat dan nyaman. Setelah makanan mereka datang, suasana sempat hening untuk beberapa saat, hingga akhirnya Lovelle meletakkan garpunya. "Kamu bilang akan menjelaskan semuanya." Nathan tersenyum tipis. "Aku memang bilang begitu." Tatapannya perlahan menjadi lebih serius. "Lalu dari mana aku harus mulai?" Lovelle mencondongkan tubuhnya sedikit. "Dari awal. Aku ingin tahu bagaimana semua ini bisa terjadi." Nathan mengangguk, lalu menatap keluar jendela selama beberapa detik seolah sedang

  • Kiss The Antagonist    93. Belum Bisa Melupakan

    Begitu memasuki area kantor, beberapa orang langsung menyambut Lovelle. Ada yang tersenyum dan ada yang melambaikan tangan, ada pula yang sekadar mengangguk dari meja kerja mereka. Berita tentang dirinya yang tenggelam di sungai ternyata beredar sampai di tempat kerjanya. Meskipun tidak terlalu dekat dengan semua orang, tapi Lovelle tetap merasa hangat setelah menerima sambutan tersebut. Setidaknya masih ada orang-orang yang senang melihatnya kembali. Saat ia baru saja meletakkan tas di atas mejanya, sebuah suara pria terdengar dari belakang. "Lovelle." Gadis itu segera menoleh. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun berjalan mendekatinya sambil membawa tablet di tangan. Rambut cokelatnya mulai memutih di beberapa bagian, namun wajahnya masih tampak ramah seperti biasa. Dia Daniel Carter, atasan langsungnya sekaligus kepala tim analis. Lovelle mengangguk pelan. "Pak Carter." Daniel tersenyum kecil. "Bagaimana keadaanmu?" "Jauh lebih baik." "Bagus." Pria itu tampak

  • Kiss The Antagonist    92. Kembali

    Lovelle menatap Nathan tanpa berkedip dengan jantung yang masih berdetak terlalu cepat, seolah pikirannya belum mampu mengejar kenyataan yang baru saja menghantam dirinya. Dan tampak begitu lega melihatnya. "Aku..." suara Lovelle terdengar pelan. "Aku benar-benar sudah kembali?" Nathan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap gadis itu beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala. "Ya." Untuk beberapa saat, Lovelle tidak mengatakan apa-apa, ia hanya menatap selimut putih yang menutupi tubuhnya. Ia sudah kembali. Kalimat itu terdengar begitu sederhana, tetapi justru terasa sulit untuk dipahami. Karena anehnya, saat mendengar bahwa dirinya telah kembali, yang pertama kali muncul di dalam pikirannya... adalah sebuah Mansion megah yang berdiri di bawah langit asing. Mansion Crow. Dan disusul oleh satu per satu wajah mulai bermunculan di benaknya. Profesor Seraphine yang selalu terlihat tenang di balik kecerdasannya. Crelia dengan segala kebencian dan rasa sak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status