LOGINLokasi : Salt Lake City, Utah
Langkah Xeyren bergema pelan di koridor panjang di dalam Mansion miliknya. Udara malam masih terasa dingin setelah penerbangan dari Las Vegas, tetapi ekspresi pria itu tetap tenang seperti biasa. Christian berhenti beberapa langkah di belakangnya ketika Xeyren tiba di depan pintu ruang kerja pribadinya. Dua pengawal yang berjaga langsung berdiri tegak. “Tuan Crow," sapa mereka serempak. Xeyren hanya mengangguk singkat. “Buka pintunya.” Pintu besar itu lalu didorong perlahan. Di dalam ruang luas itu, Lovelle yang kini harus menjalani identitas sebagai Daniela, masih terikat di kursi kayu yang sama. Tangan dan kakinya tidak bebas bergerak. Ketika pintu terbuka, Lovelle langsung menoleh, dan seketika itu juga ia menahan napasnya saat bertemu pandang dengan Xeyren Crow. Pria itu berjalan masuk dengan langkah santai seolah tidak terjadi apa-apa malam ini,lnamun aura yang menyelimutinya terlihat berbeda. Lebih dingin dan berbahaya. Pengawal yang tadi menjaga Lovelle terlihat ragu, saat Christian membisikkan perintah Xeyren sebelumnya. “Tuan… apakah benar kami harus meninggalkan Anda sendirian dengan mata-mata ini?” Xeyren berhenti berjalan, dan matanya yang abu-abu gelap pun menoleh dengan perlahan. “Apakah kalian mempertanyakan perintahku?” Nada suaranya yang terlalu tenang itu justru membuat para pengawal langsung menundukkan kepala mereka. “Tidak, Tuan.” Manik kelabu itu kini menatap mereka dengan sorot setajam sinar laser. “Kalian boleh pergi.” Dua pria itu segera keluar dari kamar, dan pintu pun tertutup kembali. Kini hanya tersisa Xeyren dan Lovelle, serta beberapa detik yang terasa sunyi serta mencekam. Xeyren berjalan mendekati meja minuman di sudut kamar, dan menuangkan whiskey ke dalam gelas kristal. Sementara Lovelle terus menatapnya tanpa berkedip dengan jantung berdetak cepat. Apakah ramalannya benar? Apakah Xeyren benar-benar menghindari jebakan di Las Vegas? Xeyren meminum whiskey itu hanya dalam satu tegukan, sebelum akhirnya menoleh ke arah Lovelle. Lalu manik kelabu itu sedikit menyipit. “Informasimu benar.” Lovelle terdiam, masih menunggu kalimat Xeyren selanjutnya. Pria itu berjalan mendekat ke arah Lovelle dengan satu sudut bibir sedikit terangkat. “Klien dari Paris itu mencoba menjebakku. Tapi sayangnya… ia tidak cukup pintar.” Lovelle menelan ludah. Ia hampir merasa lega, sampai suara langkah kaki tergesa terdengar di koridor. Pintu ruangan itu pun tiba-tiba diketuk dengan keras. Christian membuka pintu dengan wajah tegang. “Tuan Crow.” Xeyren tidak menoleh. “Apa?” “Seorang pria tertangkap mencoba menyelinap keluar dari Mansion. Dia adalah salah satu staf keamanan yang baru direkrut dua bulan lalu.” Pada akhirnya Xeyren pun menoleh, namun ekspresinya tetap tidak berubah. “Apa dia sudah ditangkap?” “Sudah, Tuan.” “Bagus.” Xeyren mengangkat gelasnya lagi. “Bawa dia ke sini.” Christian terlihat ragu. “Ke ruang kerja Anda?” “Ya.” *** Beberapa menit kemudian, dua pengawal menyeret seorang pria masuk ke dalam ruang kerja Xeyren. Pria itu terlihat panik. Wajahnya pucat dan kedua tangannya terikat di belakang tubuhnya. “Tuan Crow, saya bisa menjelaskan!” cetusnya terburu-buru. Sementara Lovelle sendiri tampak semakin tegang di kursinya. Ia bisa merasakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Xeyren berdiri beberapa langkah di depan pria itu. Mata kelabu gelapnya menatap dengan dingin. “Namamu?" “D-David, Tuan.” “David.” Xeyren mengangguk pelan. “Berapa lama kau bekerja di mansionku?” “Dua bulan, Tuan.” “Menarik.” Xeyren lalu berjalan memutari pria itu dengan perlahan, seperti predator yang sedang mengamati mangsa sebelum menerkamnya. “Dan selama dua bulan itu… kau mengirim informasi kepada siapa?” Serta-merta pria itu pun langsung membeku. “A-Apa?” Xeyren berhenti berjalan di belakangnya. “Jangan membuatku mengulang pertanyaan, David.” Pria itu akhirnya menjatuhkan diri untuk berlutut. “Saya dipaksa! Mereka mengancam keluarga saya!” Xeyren menghela napas pelan, seolah mendengar alasan yang sangat membosankan. “Klasik," cemoohnya tak peduli, lalu mengambil sesuatu dari laci meja. Sebuah pisau lipat hitam, yang membuat Lovelle merinding. Xeyren membuka pisau itu dengan suara "klik" yang tajam. David pun mulai gemetar.“T-Tuan Crow… saya bersumpah saya tidak memberikan informasi penting!” Xeyren tidak menjawab, ia hanya berjalan mendekat. Lalu dalam satu gerakan cepat, pisau itu pun tiba-tiba menancap di bahu pria itu. Suara jeritan pun langsung memenuhi kamar, seketika membuat Lovelle tersentak di kursinya sembari menatap adegan itu dengan ngeri. Terlihat darah mulai mengalir dari luka itu, namun Xeyren bahkan tidak berkedip dengan matanya yang tetap menyorot dingin. “Jeritan yang terlalu keras untuk seorang pengkhianat yang lancang,” ucapnya datar. Ia lalu mencabut pisau itu dengan perlahan, sengaja untuk membuatnya semakin terasa menyakitkan David pun terengah-engah menahan sakit. Xeyren kemudian menoleh ke arah Lovelle, menatap manik biru pucat milik gadis itu seolah-olah sengaja memastikan agar Lovelle menyaksikan semuanya. Kemudian Xeyren kembali menatap pria yang berlutut itu. “Kau tahu apa yang paling kubenci?” David mulai menangis. "T-Tuan… tolong—l~” Tiba-tiba saja, Xeyren kembali menancapkan pisau itu lagi namun kali ini di paha David. Jeritan pria itu pun kembali menggema. Lovelle menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan agar tidak ikut menjerit. Ada terlalu banyak darah yang membuatnya berkunang-kunang dan ketakutan. “Pengkhianat yang terlalu bodoh untuk menyadari bahwa mereka sedang digunakan.” Xeyren akhirnya berkata dengan tenang, Ia pun lalu berdiri tegak, lalu memberi isyarat kepada pengawal. “Seret dia ke ruang penyiksaan bawah tanah.” Pengawal itu segera membawa David yang masih merintih keluar dari ruangan. Ketika pintu tertutup kembali, kamar itu kembali sunyi. Lovelle masih diam terpaku di kursinya dengan kedua tangannya yang terasa dingin, sementara Xeyren membersihkan darah di pisaunya dengan sapu tangan. Lalu ia berjalan perlahan menuju Lovelle dalam langkah-langkah santai, namun aura berbahaya itu terasa semakin kuat. Kemudian Xeyren berhenti tepat di depan kursi Lovelle. “Sekarang,” ucapnya pelan dan pisau yang kembali terangkat. Ujung runcing dan tajam pisau itu menyentuh dagu Lovelle, lalu mengangkat wajahnya hingga mendongak menatap Xeyren. Manik abu-abu gelap itu menatap langsung ke dalam mata Lovelle. “Setelah melihat semua itu… apakah kau masih ingin berbohong padaku, Daniela?” ***Pisau di tangan Xeyren masih menyentuh dagu Lovelle. Bilahnya terasa dingin, hingga cukup dingin hingga membuat kulitnya merinding, dan memaksa Lovelle untuk menatap langsung ke dalam mata kelabu gelap itu. Tatapan yang begitu tenang… namun mengandung sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada amarah. Beberapa detik berlalu tanpa suara, hingga Xeyren akhirnya menarik pisaunya. Namun ia masih tidak menjauh, alih-alih duduk dengan santai di tepi meja di depan Lovelle. Kakinya yang panjangnya bersilang dengan sikap santai, kontras dengan aura mengancam yang mengelilinginya. Xeyren memutar-mutar pisau itu di antara jemarinya. “Sekarang, coba kita ulangi lagi pertanyaannya,” ucapnya pelan. Matanya kemudian menatap Lovelle dengan penuh perhatian. “Siapa kau sebenarnya?” Lovelle menelan ludah. Ia tahu bahwa identitas Daniela tidak akan bertahan lama. Xeyren terlalu pintar dan berbahaya, ia tidak akan percaya begitu saja pada cerita sederhana. Lovelle menarik napas pelan.
Lokasi : Salt Lake City, UtahLangkah Xeyren bergema pelan di koridor panjang di dalam Mansion miliknya. Udara malam masih terasa dingin setelah penerbangan dari Las Vegas, tetapi ekspresi pria itu tetap tenang seperti biasa. Christian berhenti beberapa langkah di belakangnya ketika Xeyren tiba di depan pintu ruang kerja pribadinya. Dua pengawal yang berjaga langsung berdiri tegak. “Tuan Crow," sapa mereka serempak. Xeyren hanya mengangguk singkat. “Buka pintunya.” Pintu besar itu lalu didorong perlahan. Di dalam ruang luas itu, Lovelle yang kini harus menjalani identitas sebagai Daniela, masih terikat di kursi kayu yang sama. Tangan dan kakinya tidak bebas bergerak. Ketika pintu terbuka, Lovelle langsung menoleh, dan seketika itu juga ia menahan napasnya saat bertemu pandang dengan Xeyren Crow. Pria itu berjalan masuk dengan langkah santai seolah tidak terjadi apa-apa malam ini,lnamun aura yang menyelimutinya terlihat berbeda. Lebih dingin dan berbahaya. Pengawa
Lokasi : Crown Casino, Kota Las Vegas. Di ruang VIP kasino mewah Las Vegas, Xeyren Crow duduk santai di meja poker bundar. Sikapnya dingin seperti biasa, penampilannya masih tetap mahal dan wajahnya terlihat tampan luar biasa, serta satu tangannya memegang kartu dengan tenang. Di seberangnya ada seorang pria bernama Lucien Moreau, seorang pengusaha dari Paris. Meskipun berusaha ditutupi, namun Lucien terlihat gelisah. Sesekali ia melirik pintu ruangan seolah sedang menunggu sesuatu. Dealer membagikan kartu terakhir, dan Xeyren menatap Lucien tanpa emosi. Senyum tipis Lucien terlihat kaku, matanya masih terpaku pada jam tangan dan pintu. Kali ini sepertinya ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan rasa tidak sabarnya. Seharusnya saat ini ada pasukan khusus yang telah ia sewa dengan harga mahal untuk menyergap Xeyren, tapi kemana mereka sekarang? Brengsek! Ketegangan itu langsung tertangkap oleh Xeyren, yang akhirnya hanya mengukir sebuah senyum samar di satu sud
Xeyren lalu menutup pintu dan menguncinya, tanpa memberi kesempatan siapa pun untuk membantah. Saat itu juga, Lovelle merasa lututnya menjadi lemas karena terlalu lega. Namun sayangnya, perasaan lega itu tidak bertahan lama. Saat Xeyren berjalan kembali ke arahnya, tatapan pria itu kini terlihat lebih gelap dari sebelumnya. “Sepertinya kamu beruntung, Daniela,” ujarnya pelan. Sebelum Lovelle sempat bereaksi, tangannya tiba-tiba saja ditarik. Ia kembali berontak, namun semua usahanya sia-sia. Dan hanya dalam beberapa menit kemudian, Lovelle sudah duduk di sebuah kursi kayu di tengah kamar. Pergelangan tangannya diikat kuat di belakang kursi dengan tali dari kulit. Ia mencoba bergerak, tetapi ikatan itu terlalu kuat dan semakin menggores kulitnya. Xeyren berdiri menjulang di depannya seraya memegang sebuah pisau, memantulkan cahaya lampu kristal di bilahnya yang tajam. Lovelle menelan ludah saat Xeyren berjalan perlahan mengelilinginya seperti predator yang mengam
Bibir Lovelle menyentuh bibir Xeyren. Hangat, lembut, dan sepenuhnya tidak terduga. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti bergerak. Tangan Xeyren yang mencengkeram lehernya pun membeku di tempat. Tekanan yang tadi hampir mematahkan napas Lovelle tidak serta-merta hilang, tetapi kini terasa lebih longgar. Tubuh pria itu kaku, pikirannya membutuhkan beberapa detik untuk memproses apa yang baru saja terjadi. Lovelle sendiri hampir tidak percaya dengan tindakannya. Tapi jika ia diam, ia akan mati. Jika ia berontak, tetap saja ia akan mati. Maka ia pun tidak lagi berpikir, hanya bertindak berdasarkan insting belaka. Lovelle bisa merasakan detak jantungnya yang berdetak keras di dada, seiring dengan napasnya yang tersendat. Bibir mereka hanya bersentuhan selama beberapa detik, tetapi rasanya jauh lebih lama dari itu. Kemudian perlahan, Lovelle pun menjauh. Udara langsung menyerbu paru-parunya ketika tekanan di lehernya sedikit mengendur. Ia menarik napas dengan rakus, dadany
Saat ini, ia berdiri tegak di sebuah kamar luas yang hangat dan elegan. Lampu kristal mewah yang bercahaya menggantung dari langit-langit yang tinggi, memantulkan kilau lembut ke dinding berpanel kayu gelap. Karpet tebal dan lembut menutup lantai, dan tercium aroma yang wangi di ruangan itu. Seketika Lovelle pun tertegun. Dimana dirinya sekarang? Tidak ada air, tidak ada sungai, dan tidak ada tiga pria pemabuk mesum yang mengejarnya. Dan pakaiannya pun... kering. Lovelle kembali menatap ke sekelilingnya dengan bingung. “Apa yang terjadi?” gumannya pelan. Mungkinkan ia sedang bermimpi? Atau mungkin juga tubuhnya mengalami hipotermia setelah jatuh ke dalam sungai yang dingin, lalu mulai berhalusinasi. Sebelum gadis itu sempat memikirkan lebih jauh, tiba-tiba sebuah suara pria yang dalam dan berat terdengar dari arah belakangnya. “Apa yang dilakukan seorang pelayan di dalam kamarku?” Lovelle pun membeku, lalu perlahan ia pun berbalik dan.... menatap seorang pri







