Home / Fantasi / Kiss The Antagonist / 6. Pelajaran Untuk Pengkhianat

Share

6. Pelajaran Untuk Pengkhianat

Author: Black Aurora
last update publish date: 2026-03-15 08:24:03

Langkah Xeyren bergema pelan di koridor panjang di dalam Mansion miliknya.

Udara malam masih terasa dingin setelah penerbangan dari Las Vegas, tetapi ekspresi pria itu tetap tenang seperti biasa.

Christian berhenti beberapa langkah di belakangnya ketika Xeyren tiba di depan pintu ruang kerja pribadinya.

Dua pengawal yang berjaga langsung berdiri tegak.

“Tuan Crow," sapa mereka serempak.

Xeyren hanya mengangguk singkat. “Buka pintunya.”

Pintu besar itu lalu didorong perlahan.

Di dalam ruang luas itu, Lovelle yang kini harus menjalani identitas sebagai Daniela, masih terikat di kursi kayu yang sama. Tangan dan kakinya tidak bebas bergerak.

Ketika pintu terbuka, Lovelle langsung menoleh, dan seketika itu juga ia menahan napasnya saat bertemu pandang dengan Xeyren Crow.

Pria itu berjalan masuk dengan langkah santai seolah tidak terjadi apa-apa malam ini, namun aura yang menyelimutinya terlihat berbeda.

Lebih dingin dan berbahaya.

Pengawal yang tadi menjaga Lovelle terlihat ragu, saat Christian membisikkan perintah Xeyren sebelumnya.

“Tuan… apakah benar kami harus meninggalkan Anda sendirian dengan mata-mata ini?”

Xeyren berhenti berjalan, dan matanya yang abu-abu gelap pun menoleh dengan perlahan.

“Apakah kalian mempertanyakan perintahku?”

Nada suaranya yang terlalu tenang, justru membuat para pengawal langsung menundukkan kepala mereka.

“Tidak, Tuan.”

Manik kelabu itu kini menatap mereka dengan sorot setajam sinar laser. “Kalian boleh pergi.”

Dua pria itu segera keluar dari kamar, dan pintu pun tertutup kembali.

Kini hanya tersisa Xeyren dan Lovelle, serta beberapa detik yang terasa sunyi serta mencekam.

Xeyren berjalan mendekati meja minuman di sudut kamar, dan menuangkan whiskey ke dalam gelas kristal.

Sementara Lovelle terus menatapnya tanpa berkedip dengan jantung berdetak cepat.

Apakah ramalannya benar?

Apakah Xeyren benar-benar menghindari jebakan di Las Vegas?

Xeyren meminum whiskey itu hanya dalam satu tegukan, sebelum akhirnya menoleh ke arah Lovelle.

Lalu manik kelabu itu sedikit menyipit. “Informasimu benar."

Lovelle terdiam, masih menunggu kalimat Xeyren selanjutnya.

Pria itu berjalan mendekat ke arah Lovelle dengan satu sudut bibir sedikit terangkat.

“Klien dari Paris itu mencoba menjebakku. Tapi sayangnya… ia tidak cukup pintar.”

Lovelle menelan ludah. Ia hampir merasa lega, sampai suara langkah kaki tergesa terdengar di koridor.

Pintu ruangan itu pun tiba-tiba diketuk dengan keras.

Christian membuka pintu dengan wajah tegang. “Tuan Crow.”

Xeyren tidak menoleh. “Apa?”

“Seorang pria tertangkap mencoba menyelinap keluar dari Mansion. Dia adalah salah satu staf keamanan yang baru direkrut dua bulan lalu.”

Pada akhirnya Xeyren pun menoleh, namun ekspresinya tetap tidak berubah.

“Apa dia sudah ditangkap?”

“Sudah, Tuan.”

“Bagus.” Xeyren mengangkat gelasnya lagi.

“Bawa dia ke sini.”

Christian terlihat ragu, sekilas ia melirik ke arah Lovelle sebelum kembali menatap Xeyren. “Ke ruang kerja Anda?”

“Ya.”

***

Beberapa menit kemudian, dua pengawal menyeret seorang pria masuk ke dalam ruang kerja Xeyren.

Pria itu terlihat panik. Wajahnya pucat dan kedua tangannya terikat di belakang tubuhnya.

“Tuan Crow, saya bisa menjelaskan!” cetusnya terburu-buru.

Sementara Lovelle sendiri tampak semakin tegang di kursinya. Ia bisa merasakan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.

Xeyren berdiri beberapa langkah di depan pria itu. Mata kelabu gelapnya menatap dengan dingin.

“Namamu?"

“D-David, Tuan.”

“David.” Xeyren mengangguk pelan. “Berapa lama kau bekerja di mansionku?”

“Dua bulan, Tuan.”.

“Menarik.” Xeyren lalu berjalan memutari pria itu dengan perlahan, seperti predator yang sedang mengamati mangsa sebelum menerkamnya.

“Dan selama dua bulan itu… kau mengirim informasi kepada siapa?”

Serta-merta pria itu pun langsung membeku. “A-Apa?”

Xeyren berhenti berjalan di belakangnya. “Jangan membuatku mengulang pertanyaan, David.”

Pria itu akhirnya menjatuhkan diri untuk berlutut. “Saya dipaksa! Mereka mengancam keluarga saya!”

Xeyren menghela napas pelan, seolah mendengar alasan yang sangat membosankan.

“Klasik," cemoohnya tak peduli, lalu mengambil sesuatu dari laci meja.

Sebuah pisau lipat hitam, yang membuat Lovelle merinding.

Xeyren membuka pisau itu dengan suara "klik" yang tajam.

David pun mulai gemetar.“T-Tuan Crow… saya bersumpah saya tidak memberikan informasi penting!”

Xeyren tidak menjawab, ia hanya berjalan mendekat.

Lalu dalam satu gerakan cepat, pisau itu pun tiba-tiba menancap di bahu pria itu.

Suara jeritan pun langsung memenuhi kamar, seketika membuat Lovelle tersentak di kursinya sembari menatap adegan itu dengan ngeri.

Terlihat darah mulai mengalir dari luka itu, namun Xeyren bahkan tidak berkedip dengan matanya yang tetap menyorot dingin.

“Jeritan yang terlalu keras untuk seorang pengkhianat yang lancang,” ucapnya datar.

Ia lalu mencabut pisau itu dengan perlahan, sengaja untuk membuatnya semakin terasa menyakitkan

David pun terengah-engah menahan sakit.

Xeyren kemudian menoleh ke arah Lovelle, menatap manik biru pucat milik gadis itu seolah-olah sengaja memastikan agar Lovelle menyaksikan semuanya.

Kemudian Xeyren kembali menatap pria yang berlutut itu. “Kau tahu apa yang paling kubenci?”

David mulai menangis. "T-Tuan… tolong~”

Tiba-tiba saja, Xeyren kembali menancapkan pisau itu lagi namun kali ini di paha David.

Jeritan pria itu pun kembali menggema.

Lovelle menggigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan agar tidak ikut menjerit. Ada terlalu banyak darah yang membuatnya berkunang-kunang dan ketakutan.

“Yang paling kubenci, adalah pengkhianat yang terlalu bodoh untuk menyadari bahwa mereka sedang digunakan.”

Xeyren akhirnya berkata dengan tenang,

Ia pun lalu berdiri tegak, lalu memberi isyarat kepada pengawal.

“Seret dia ke ruang penyiksaan bawah tanah.”

Pengawal itu segera membawa David yang masih merintih keluar dari ruangan.

Ketika pintu tertutup kembali, kamar itu kembali sunyi.

Lovelle masih diam terpaku di kursinya dengan kedua tangannya yang terasa dingin, sementara Xeyren membersihkan darah di pisaunya dengan sapu tangan.

Lalu ia berjalan perlahan menuju Lovelle dalam langkah-langkah santai, namun aura berbahaya itu terasa semakin kuat.

Kemudian Xeyren berhenti tepat di depan kursi Lovelle.

“Sekarang,” ucapnya pelan dan pisau yang kembali terangkat.

Ujung runcing dan tajam pisau itu menyentuh dagu Lovelle, lalu mengangkat wajahnya hingga mendongak menatap Xeyren.

Manik abu-abu gelap itu menatap langsung ke dalam mata Lovelle.

“Setelah melihat semua itu… apakah kau masih ingin berbohong padaku, Daniela?”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kiss The Antagonist    138. Takdir Yang Akan Menemukan Jalannya (Tamat)

    SATU TAHUN KEMUDIAN... Hujan turun perlahan di balik jendela ruang bersalin. Xavian berdiri tepat di sisi ranjang, tidak pernah melepaskan genggaman tangan Lovelle sejak wanita itu mulai merasakan kontraksi beberapa jam yang lalu. Pria yang selalu terlihat tenang itu tampak benar-benar gugup. "Tarik napas, Nyonya. Sedikit lagi." Suara dokter terdengar samar di tengah napas Lovelle yang memburu. Lovelle menggenggam tangan suaminya begitu erat, hingga buku-buku jari Xavian memutih. "Aku... tidak kuat lagi..." "Kamu pasti kuat, Love. Kamu sudah pernah melewati hal-hal yang jauh lebih berat daripada ini." Xavian segera membungkuk, mengecup kening istrinya yang dipenuhi keringat. Lalu tatapan mereka saling bertemu. Di dalam kedua pasang mata berbeda warna itu, masih tersimpan kenangan tentang kehidupan yang seharusnya tak pernah ada. Tentang seorang pria bernama Xeyren Crow, tentang seorang gadis yang pernah terlempar ke dunia lain. Tentang seorang putri... yang meng

  • Kiss The Antagonist    137. Tidak Akan Melepasmu Lagi

    "Hah? Menginap?" mulut Lovelle benar-benar terbuka saking kagetnya. "Tapi... kenapa??"Sayangnya pertanyaan itu sepertinya tidak akan mendapatkan jawabannya, karena Xavian yang akhirnya benar-benar tidak menjelaskan alasannya.Pria itu hanya berjalan ke arah sofa ruang tamu, melepas jas hitamnya, lalu melipatnya rapi di bagian atas sandaran.Lovelle masih berdiri mematung beberapa langkah darinya. "Tuan Claine...?"Tanpa menjawab, Xavian hanya melonggarkan dasinya, lalu duduk di sofa.Melihat ekspresi lelah di wajah bosnya itu, Lovelle pun mengembuskan napas pelan."Sebentar."Gadis itu masuk ke dalam kamar, lalu beberapa saat kemudian ia pun kembali seraya membawa sebuah bantal dan selimut tebal berwarna abu-abu."Apartemen saya cuma punya satu kamar," ucapnya sedikit canggung. "Maaf... jadi Anda harus tidur di sofa.""Tidak masalah." Xavian berucap sembari menerima bantal itu tanpa banyak bicara. Lovelle masih belum beranjak.Tatapannya terus mengamati pria yang siang tadi begitu

  • Kiss The Antagonist    136. Tidak Ada Pria Lain

    Sudah tiga hari berlalu sejak peristiwa Lovelle yang pingsan di kantor. Selama tiga hari itu pula, tidak ada lagi pembicaraan mengenai penglihatan aneh yang mereka berdua alami. Xavian seolah menghapus seluruh kejadian itu dari permukaan, ia pun kembali menjadi CEO C-Works yang dikenal semua orang. Sikapnya dingin, perfeksionis, dan sulit ditebak. Seolah pria yang memeluk Lovelle di dalam mimpi itu tidak pernah ada. Namun tak ada yang tahu... bahwa tatapan pria itu telah berubah setiap kali menatap Lovelle. *** "Mulai hari ini, Nona White dipindahkan ke Executive Office." Suara kepala HR terdengar jelas, dan Lovelle pun sontak mengangkat kepala. "...Maaf?" tanya gadis itu bingung. "Ini keputusan langsung dari Tuan Xavian Claine. Mulai sekarang Anda akan menjadi Executive Assistant beliau." "Apa?!" Kali ini Emma-lah yang menjerit pelan sembari mengguncang lengan Lovelle. "Gila... itu promosi mendadak yang luar biasa!" bisiknya pelan. Namun wajah Lovelle tampak a

  • Kiss The Antagonist    135. Bagian Dirimu

    Kelopak mata Lovelle terasa begitu berat saat ia berusaha membuka mata. Gelap. Sunyi. Tak ada suara sama sekali. "...Aku di mana?" Gadis itu hanya bisa tertegun kala melihat hamparan putih yang seolah tak berujung. Lalu perlahan, Lovelle pun mulai melangkah. Busana kerja yang tadi ia kenakan kini telah berganti menjadi gaun putih sederhana yang bergoyang diterpa angin. Ia pun mengernyit bingung. "Aneh..." Tempat ini terasa begitu asing, namun juga terasa seperti rumah. Tiba-tiba langkah kaki lain terdengar dari kejauhan, dan Lovelle pun menoleh. Matanya menangkap sesosok pria yang berjalan dari balik kabut putih. Tubuhnya tinggi, rambutnya gelap, serta tatapan kelabu yang begitu dikenalnya. Dingin dan tajam, namun jauh di dalam sana ada luka yang tidak akan pernah benar-benar sembuh. Napas Lovelle pun tercekat di tenggorokannya. "...Xeyren." Pria itu berhenti melangkah, dan untuk beberapa saat mereka hanya saling menatap. Tidak ada senyum atay pelukan, hanya ad

  • Kiss The Antagonist    134. Perasaan yang Asing

    Xavian memejamkan mata begitu kuat hingga urat di pelipisnya menegang. Napasnya terdengar berat, cepat dan tidak beraturan... saat dua kehidupan saling bertabrakan di dalam kepalanya. Xavian Claine. CEO C-Works. Lahir, tumbuh, bersekolah, membangun perusahaan, mengambil alih puluhan bisnis. Semuanya nyata, semuanya memiliki kenangan. Namun di saat yang sama... ada kehidupan lain yang sama nyatanya. Pria bernama Xeyren Crow. Sebuah dunia yang seharusnya tidak mungkin ada. Seorang wanita bernama Lovelle. Seorang putri bernama Xeyrelle. Semuanya terasa begitu nyata hingga dadanya sesak dan sulit menghirup udara. Di sisi lain, Lovelle menatapnya dengan masih berurai air mata. "Tuan Claine..." "Jangan," potong Xavian dengan nada suaranya yang dingin. "Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Tapi aku tidak akan membiarkan beberapa potong halusinasi mengambil alih hidupku." Kalimat itu membuat Lovelle tercekat. "Tapi... ini bukan halusinasi...." "Bagaimana kau

  • Kiss The Antagonist    133. Penolakan

    Pintu ruang CEO menutup dengan bunyi "klik", yang malah terdengar seperti vonis hakim untuk terdakwa. Lovelle menatap gugup pria yang ada di depannya, dan berdiri membelakanginya. "T-Tuan Claine...?" Tidak ada jawaban. Xavian masih tak bergerak di posisinya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja kerja. Namun beberapa detik kemudian, satu pukulan keras menghantam permukaan meja, membuat Lovelle terlonjak kaget. BRAKK!! Napas Xavian tampak memburu. Kepalanya terasa seperti akan pecah. Ini tidak mungkin. Ia adalah Xavian Claine. Lahir di kota ini, dibesarkan oleh keluarganya, dan membangun C-Works dari nol. Lalu... siapa pria bernama Xeyren Crow itu?? Kenapa semua ingatan itu terasa lebih nyata daripada hidupnya sendiri?? Tangan pria itu pun mengepal semakin erat, lalu perlahan Xavian menoleh. Tatapan kelabunya kini begitu tajam, sama seperti tatapan Xeyren ketika pertama kali menodongkan senjata ke leher Lovelle. "Aku tidak tahu apa yang baru saja terja

  • Kiss The Antagonist    10. Kekasih

    “Ummh...” Lovelle mengerang lirih dengan kedua mata yang masih terpejam, kala ia merasakan sesuatu yang dingin dan solid mencengkeram lehernya. “Bangun, Miss Little Spy. Baru saja kutinggal sebentar, kamu malah ketiduran? Really?” Suara maskulin dan berat itu menusuk tajam telinga Lovelle, mem

  • Kiss The Antagonist    9. Pindah Posisi

    Tatapan Luca sedikit mengeras. “Sebuah ledakan terjadi pada mobil milik Lucien Moreau.” Ia menatap lurus ke dalam mata Xeyren. “Lucien dan seluruh pengawalnya tewas di tempat. Dan kebetulan,” lanjut Luca, “Anda adalah orang terakhir yang terlihat bersamanya di sebuah kasino beberapa jam sebelum k

  • Kiss The Antagonist    8. Kedatangan Sang Tokoh Utama Pria

    Suara baling-baling helikopter tiba-tiba terdengar membelah keheningan malam dari atas Mansion, membuat Lovelle yang masih terikat langsung membuka matanya lebar-lebar. Xeyren pun ikut melirik ke atas. Pisau yang tadi nyaris menyentuh bola mata Lovelle, kini tertahan di udara. Tatapan pria itu

  • Kiss The Antagonist    7. Nama Yang Sebenarnya

    Pisau di tangan Xeyren masih menyentuh dagu Lovelle. Bilahnya terasa dingin, hingga cukup dingin hingga membuat kulitnya merinding, dan memaksa Lovelle untuk menatap langsung ke dalam mata kelabu gelap itu. Tatapan yang begitu tenang… namun mengandung sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status