Share

Bab 252

Penulis: Bella Amara
Joana lepaskan diri dari pelukan Surya.

“Nggak .…”

Surya sipitkan matanya, menatap Joana dengan tajam.

“Jadi, kamu beneran nggak mau lakukan itu denganku lagi?”

Tanpa ragu sedikit pun, Joana jawab dengan tegas, “Ya!”

Raut wajah Surya langsung mengeras. Ekspresinya berubah dingin, nyaris tanpa emosi.

Aura yang terpancar darinya mendadak jadi begitu berbahaya. Joana benar-benar khawatir Surya akan paksa dia di dalam mobil. Suasana di dalam mobil membeku selama beberapa detik. Tiba-tiba, Surya doro
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 794

    Denina angkat alisnya tinggi-tinggi."Menurutmu aku lagi bercanda? Maaf, aku nggak punya waktu senggang untuk bercanda dengan kamu."Jantung Julia bergetar hebat."Kak, aku salah apa? Kenapa Kakak mau usir aku?"Denina meliriknya sekilas dengan tatapan dingin."Keluarga Widodo nggak pelihara orang yang nggak berguna. Selama bertahun-tahun kamu sudah numpang hidup di keluarga ini. Sekarang kamu malah sakit. Apa kamu mau seluruh Keluarga Widodo terus tanggung bebanmu?"Nada suaranya dipenuhi rasa jijik dan penghinaan.Wajah Julia seketika jadi pucat. Dia tahu ucapan Denina itu bukan sekadar ancaman. Wanita itu pasti sudah berunding dengan Wayne dan mereka telah sepakat untuk usir dia dari rumah Keluarga Widodo.Sebenarnya, selama bertahun-tahun ini, Julia bukannya nggak ingin pergi. Dia sudah sadar sejak lama kalau usia telah renggut kecantikannya. Di mata Wayne, dirinya sudah nggak punya daya tarik sedikit pun. Sedangkan Denina, sejak dulu memang anggap dia sebagai duri dalam daging. So

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 793

    Namun, bukan berarti dia bisa maafkan mereka."Oke, aku memang sudah tampar Diana. Jadi sekarang, kalian mau apa?"Joana silangkan kedua tangan di depan dada dan tanya terus terang. Joana nggak sangkal perbuatannya. Namun dia juga nggak berniat biarkan mereka terus injak-injak dirinya."Mau apa?"Denina mencibir dingin. Tanpa peringatan, dia melangkah maju dan tampar wajah Joana.Plak!Tamparan itu begitu keras dan tajam hingga gema suaranya penuhi ruangan.Para pelayan, termasuk Bibi Zakia, sontak terdiam. Sudah sangat lama Denina nggak turun tangan sendiri untuk hukum seseorang. Namun setiap kali dia lakukan itu, orang yang dihukum selalu Joana. Dan kali ini juga sama.Lihat Joana ditampar, seulas kepuasan melintas di mata Diana. Inilah pemandangan yang paling ingin dia lihat. Denina dan Joana, ibu-anak itu saling lukai satu sama lain. Mengapa garis keturunan Joana lebih tinggi darinya? Karena itulah dia berharap, sekalipun Denina dan Joana benar-benar terikat hubungan darah, mereka

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 792

    Diana melangkah cepat hampiri Joana. Tangannya sudah terangkat, siap layangkan tamparan ke wajah Joana. Namun Joana sudah lebih dulu baca niatnya. Dengan gerakan cepat, dia justru balas tampar Diana lebih dulu.Plak!Suara tamparan yang nyaring bergema di dalam ruangan. Seketika, bekas lima jari berwarna merah membekas jelas di pipi mulus Diana. Diana membelalakkan mata, menatap Joana dengan wajah nggak percaya."Kamu berani tampar aku?"Dalam benaknya, Joana sama sekali nggak punya nyali untuk sentuh dia. Terlebih lagi mereka sedang ada di rumah Keluarga Widodo. Joana benar-benar sudah kehilangan akal."Kalau memang harus tampar kamu, memangnya masih perlu pilih waktu dan tempat?"Sekali lagi Diana dibuat tercengang. Joana yang sekarang jauh lebih angkuh dibanding dulu. Bahkan di rumah Keluarga Widodo pun, Joana berani angkat tangan ke dia."Kamu ... tunggu saja! Aku nggak akan lepaskan kamu begitu saja!"Tubuh Diana gemetar karena marah, bahkan giginya sampai bergemeletuk. Setelah le

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 791

    Bibir Bibi Zakia terbuka, tetapi kata-kata yang hendak dia ucapkan kembali tertahan. Lihat raut wajah itu, Joana langsung tahu kalau wanita itu pasti sembunyikan sesuatu."Apa sebenarnya yang terjadi?" desaknya dengan cemas.Bibi Zakia menghela napas panjang. "Nyonya benar-benar kasihan. Dia kangen ke Nona besar sampai jadi penyakit, tetapi Nona besar nggak pernah sekalipun mau datang jenguk dia."Bahkan dirinya ikut merasa pilu untuk sang nyonya. Putri yang selalu dirindukan dan dipikirkan siang malam, justru perlakukan dia sedingin itu.Jantung Joana bergetar waktu dengar ucapan itu. Ibu jatuh sakit karena terlalu kangen dengan Kakak. Ternyata ibunya begitu sayang dengan Diana.Kalau gitu dia gimana? Emangnya dia dianggap apa? Dia begitu tempatkan Julia di dalam hatinya. Namun, dia nggak pernah sedikit pun dapat perhatian yang sama sebagai balasannya. Sebaliknya, Diana yang nggak pernah peduli ke ibunya, tetap jadi sosok yang terus dipikirkan Julia, bahkan saat kondisinya sudah separ

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 790

    Joana hampir kira dirinya salah dengar. Denina beneran suruh dia bawa Julia pergi sekarang? Padahal wanita itu tahu betul kondisi ibunya sedang sangat kritis. Usir dia di saat seperti ini, bukannya itu terlalu kejam dan nggak berperikemanusiaan?"Ini keinginan Bibi sendiri atau memang keinginan Ayah juga?"Lihat punggung Denina yang hendak pergi, Joana tiba-tiba tanya.Langkah Denina terhenti. Dia terdiam beberapa detik, barulah dia noleh perlahan."Ini keinginanku dan juga keinginan ayahmu."Jantung Joana seakan diremas.Jadi, ini memang keputusan Denina dan ayahnya? Mereka benar-benar ingin usir ibunya ketika kondisinya sedang seburuk ini. Apa bedanya dengan langsung jatuhkan hukuman mati ke Julia? Mereka tahu persis, sekarang nyawa Julia sudah ada di ujung tanduk. Kalau di saat seperti ini mereka paksa dia pergi, sama saja dengan dorong dia menuju kematian."Kalian keterlaluan!"Joana akhirnya nggak mampu tahan amarahnya lagi. Mereka benar-benar terlalu dingin. Sama sekali nggak ped

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 789

    Wajah tampan Surya berubah dingin."Siapa yang kirim semua ini?""Masih belum tahu."Surya langsung kasih perintah, "Cari tahu sekarang juga.""Siap!"...Setelah sadar dia telah terima kasih ke orang yang salah, Joana merasa gelisah sepanjang hari. Dia ingin jelaskan semuanya ke Surya. Namun dia sama sekali nggak tahu harus mulai dari mana.Gimana kalau semakin dia jelaskan, semakin timbulkan salah paham?Setelah berpikir cukup lama, akhirnya dia putuskan untuk bicara langsung dengan Surya waktu bertemu nanti. Karena merasa bersalah, sepulang kerja Joana sengaja mampir ke supermarket. Dia beli berbagai bahan makanan segar. Dia berniat "suap" Surya dengan masakkan makan malam yang istimewa.Dengan sepenuh hati, Joana siapkan hidangan yang begitu mewah. Namun, orang yang dia tunggu nggak kunjung pulang. Joana duduk sendirian di ruang makan vila. Dagunya bertumpu di telapak tangan. Tatapannya terus mengarah ke pintu masuk. Tunggu Surya kembali. Satu jam berlalu. Dua jam. Lalu lima jam pu

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 2

    Joana keluar dari ruang periksa, ambil obatnya, lalu bergegas tinggalkan rumah sakit.Setiap kali ingat adegan barusan, gimana seorang dokter pria perintahkan dia lepas celana dan periksa dia, wajahnya langsung memerah tanpa bisa dicegah.Jika sampai tersebar, ia benar-benar nggak akan berani ketemu

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 1

    “Lepas dulu, lalu berbaring!”Suara pria yang rendah dan dingin itu menggema di ruangan.Jantung Joana Widodo berdegup keras. Ia sendiri nggak tahu sejak kapan dirinya mengidap penyakit memalukan yang sulit dijelaskan itu. Setiap kali kambuh, hasratnya datang begitu kuat, nggak kenal waktu dan tempa

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 6

    Kelopak mata Joana berkedut pelan.Surya, beneran mau langsung angkat dia jadi asisten presiden direktur? Jangan-jangan ini cuma cara halus untuk jatuhkan dia?“Aku belum pernah kerja sebagai asisten. Aku khawatir nggak mampu jalankan tugas itu .…” Refleks pertamanya adalah menolak.Saat ini kepalan

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 5

    Herman menatapnya tajam.“Kamu habis buat salah apa?”Bos besar tiba-tiba sebut namanya untuk menghadap, nggak cuma Joana yang kaget, seluruh orang di kantor, termasuk Herman, atasan langsungnya juga nggak nyangka.Joana mengedip polos.“Aku juga nggak tahu.”Telapak tangannya basah oleh keringat di

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status