LOGINBuat seorang wanita hamil dan nggak perlu tanggung jawab!Tatapan Joana begitu jernih dan tenang."Meskipun aku dan Surya sudah punya anak, dia tetap nggak mungkin nikahi aku."Joana lihat kenyataan itu dengan sangat jelas.Keluarga Setiawan nggak mungkin terima seorang anak di luar nikah seperti dia jadi istrinya Surya. Daripada terus harapkan status yang sejak awal nggak mungkin dia raih, lebih baik hidup dengan lebih realistis. Jalani hari demi hari dengan bahagia jauh lebih penting. Nggak pikirkan sesuatu yang pada akhirnya nggak akan pernah jadi miliknya.Lili menatapnya lama."Kamu beneran pikir seperti itu?"Joana tersenyum tipis."Kalau nggak gitu, terus aku harus pikir gimana lagi?"Lili menghela napas pelan."Menurutku, ini masalah besar. Gimanapun juga kamu harus bicarakan ini dengan Surya."Namun Joana menggeleng perlahan."Aku nggak berencana kasih tahu Surya."Lili kembali tertegun."Kenapa? Apa kamu takut dia akan rebut anak itu dari kamu?"Tanpa sadar, tangan Joana berg
Surya menatap Joana dengan mata hitamnya yang pekat dan dalam."Sebenarnya apa?"Joana balas tatapannya."Nggak ada apa-apa."Kata-kata yang sudah sampai di ujung lidah itu akhirnya dia telan kembali. Meski dia sangat ingin kasih tahu Surya tentang kehamilannya, pikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi setelah pria itu tahu buat Joana jadi ragu. Mungkin lebih baik dia amati situasinya lebih lama lagi sebelum ambil keputusan. Namun Joana juga nggak ingin menutup semua kemungkinan begitu saja."Soal yang sebelumnya kamu bilang tentang punya anak, aku akan pikirkan itu."Senyuman langsung terukir di wajah tampan Surya."Oke."Surya tahu, ketika Joana bilang akan pikirkan itu, itu berarti hatinya sudah mulai melunak. Walaupun Surya masih bisa lihat begitu banyak kegelisahan yang tersimpan di hati wanita itu, setidaknya sekarang Joana perlahan mulai buka dirinya untuk dia.Saat ini, Surya merasa sangat puas. Meski Joana belum sepenuhnya terima dirinya, setidaknya wanita itu sudah mul
Nggak lama kemudian, Surya keluar dari kamar mandi. Dia sudah ganti pakai kemeja hitam, dengan dua kancing teratas yang dibiarkan terbuka. Penampilannya terlihat begitu tampan, santai, namun tetap pancarkan aura elegan yang sulit diabaikan.Pandangan Joana jatuh pada rambut pendeknya yang masih meneteskan air. Joana ambil handuk dan jalan mendekat."Kenapa rambutmu nggak dikeringkan dulu?"Dengan cekatan, Joana ambil handuk kering lalu mulai usap rambut pria itu perlahan. Dengan patuh Surya tundukkan tubuhnya. Dia sengaja sesuaikan tinggi badannya agar Joana lebih mudah keringkan rambutnya.Dengan nada seolah ngobrol santai, Surya berkata, "Aku punya seorang rekan bisnis. Istrinya baru saja lahirkan seorang putra beberapa waktu lalu."Gerakan tangan Joana yang pegang handuk sedikit terhenti. Dia sipitkan matanya menatap Surya."Kamu kok tahu?""Waktu kita minum sama-sama, dia sendiri yang cerita ke aku."Nada suara Surya terdengar sedikit iri."Hari itu dia kelihatannya senang banget.
Joana tunggu cukup lama, tetapi Surya tetap nggak keluar-keluar dari kamar mandi. Akhirnya dia jalan dekati pintu kamar mandi dan ketuk pelan."Surya?"Nggak ada jawaban dari dalam. Joana kembali ketuk pintu beberapa kali sambil panggil namanya, tetapi tetap nggak ada respons. Dengan sedikit khawatir, Joana buka pintu kamar mandi dan intip ke dalam.Kabut uap air penuhi seluruh ruangan. Bahkan sebelum dia sempat lihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam, tiba-tiba sebuah tangan panjang terulur keluar. Dalam sekejap, pergelangan tangannya ditangkap, lalu tubuhnya ditarik masuk begitu saja."Ah!" Joana menjerit pelan.Tubuhnya terhuyung dan jatuh tepat ke dalam pelukan Surya. Wajah tampan pria itu mendadak penuhi pandangannya. Rambut hitam pendeknya masih basah setelah mandi. Butiran air mengalir dari pelipisnya, lewati alis tegasnya, turuni batang hidung yang mancung, lalu meluncur hingga ke lehernya.Sudut bibir Surya terangkat bentuk senyum jahil. Seluruh dirinya pancarkan pesona lia
Surya menatap Joana cukup lama dengan sepasang matanya yang dalam dan sulit ditebak. Tiba-tiba, sudut bibirnya terangkat bentuk sebuah senyum tipis. Joana menatapnya dengan bingung."Kamu kok ketawa?"Sorot mata Surya dipenuhi tawa saat menatapnya."Bukannya tadi kamu sendiri yang suruh aku cari wanita lain? Kalau gitu, kenapa sekarang kamu malah urusin apa yang buat aku ketawa?""Kamu ...."Joana menatapnya dengan mata membelalak, hampir dibuat kesal setengah mati."Aku kenapa?"Surya tersenyum geli sambil godain Joana."Wajahmu waktu cemburu itu lucu sekali.""Cemburu? Siapa yang cemburu?"Joana sama sekali nggak mau ngaku kalau dirinya memang cemburu.Surya angkat alisnya."Di luar kamu pura-pura nggak peduli, tapi sebenarnya kamu peduli banget. Jangan harap bisa sembunyikan itu dari aku."Ekspresi Joana sedikit membeku. Dia nggak nyangka bahwa meski sudah berusaha sembunyikan itu sebaik mungkin, pria itu tetap bisa tahu."Aku nggak mau bicara sama kamu lagi."Joana monyongkan bibir
"Sudah, sudah, nggak usah dilanjutkan lagi!" Joana akhirnya nggak tahan dan berseru."Belum cukup. Jauh dari cukup."Tatapan Surya dipenuhi kelembutan dan kasih sayang yang begitu dalam. Tangannya masih nggak mau berhenti sentuh Joana. Bulu mata Joana bergetar pelan. Jika pria itu terus goda dia seperti ini, Joana benar-benar takut akan nyerah sepenuhnya."Surya, hentikan!"Suara Joana terdengar panik.Wajah cantiknya telah memerah hingga ke telinga. Barangkali Joana sendiri nggak sadar betapa memikat dirinya saat ini. Jantung Surya berdebar semakin cepat. Ada bara panas yang perlahan membakar dalam dirinya. Dia kembali menunduk dan cium bibir merah wanita itu.Joana hanya mampu pejamkan mata. Tanpa sadar tubuhnya gemetar pelan. Dia lingkarkan kedua tangannya di leher pria itu sambil terengah pelan."Beneran nggak bisa, aku nggak mau ...."Dahi Surya menempel pada dahinya. Tatapannya yang panas terkunci pada wajah Joana."Kenapa nggak bisa?"Suara rendahnya terdengar serak. Kesabaranny
Herman menatapnya tajam.“Kamu habis buat salah apa?”Bos besar tiba-tiba sebut namanya untuk menghadap, nggak cuma Joana yang kaget, seluruh orang di kantor, termasuk Herman, atasan langsungnya juga nggak nyangka.Joana mengedip polos.“Aku juga nggak tahu.”Telapak tangannya basah oleh keringat di
Semalam suntuk, Joana nggak bisa pejamkan mata.Kekosongan di tubuhnya dan pukulan di hatinya buat dia benar-benar nggak bisa tidur.Syukurlah keesokan paginya ia nggak terlambat masuk kerja.Namun saat Joana menguap kecil dan melangkah ke kantor, ia segera rasakan suasana yang aneh.“Hari ini ada p
Kelopak mata Joana berkedut pelan.Surya, beneran mau langsung angkat dia jadi asisten presiden direktur? Jangan-jangan ini cuma cara halus untuk jatuhkan dia?“Aku belum pernah kerja sebagai asisten. Aku khawatir nggak mampu jalankan tugas itu .…” Refleks pertamanya adalah menolak.Saat ini kepalan
“Lepas dulu, lalu berbaring!”Suara pria yang rendah dan dingin itu menggema di ruangan.Jantung Joana Widodo berdegup keras. Ia sendiri nggak tahu sejak kapan dirinya mengidap penyakit memalukan yang sulit dijelaskan itu. Setiap kali kambuh, hasratnya datang begitu kuat, nggak kenal waktu dan tempa







