تسجيل الدخولBaik Surya maupun Nenek Salma sama-sama menatap Joana dengan ekspresi terkejut. Mereka jelas nggak nyangka orang yang akan menentang usulan itu justru dirinya. Joana menatap mereka dengan tenang dan tegas, lalu ulangi pendiriannya sekali lagi.“Aku nggak akan masuk ke Keluarga Setiawan dengan andalkan seorang anak.”Dia nggak ingin dapatkan status hanya karena mengandung pewaris. Jika suatu hari dia benar-benar nikah dengan Surya, itu hanya mungkin terjadi karena mereka saling cinta dengan tulus dan sama-sama telah siap melangkah ke jenjang pernikahan. Namun saat ini, dia sama sekali belum punya niatan untuk nikah dengan Surya.Sejak awal, Nenek Salma memang nggak suka dengan Joana. Di mata wanita tua itu, seorang janda yang masih berharap jadi menantu Keluarga Setiawan adalah sesuatu yang terlalu berani, bahkan nyaris nggak tahu malu. Namun sekarang, untuk pertama kalinya, dia mulai sedikit menghargai gadis di hadapannya.Setidaknya Joana masih sadar diri. Dia paham kalau nikah ke kel
Kilatan kekecewaan melintas di mata Jihan. Dengan air mata yang terus mengalir, dia lari menjauh. Tanpa sadar, langkahnya bawa dia keluar dari kawasan rumah Keluarga Setiawan.Tin! Tin!Tiba-tiba suara klakson mobil terdengar di sampingnya.Jihan noleh. Dari dalam sebuah limusin Lincoln panjang yang terparkir di tepi jalan, tampak wajah tua Rudi yang suram dan penuh intrik.“Nona Jihan.”Jihan tentu tahu perseteruan antara pria itu dan Surya. Secara naluriah, dia nggak ingin berurusan dengannya. Jihan langsung palingkan wajah dan lanjutkan langkahnya. Namun Rudi bicara dengan tenang dari belakangnya, “Kalau kamu mau nikah dengan keponakanku, Surya, saat ini hanya aku yang bisa bantu kamu.”Langkah Jihan terhenti. Dia berbalik dan menatap Rudi dengan ragu.“Bisa bantu aku? Gimana caranya?”Sudut bibir Rudi terangkat bentuk senyum mengejek. Alih-alih jawab, dia justru balik tanya, “Selain aku, apa sekarang kamu masih punya pilihan lain?”Jihan terdiam. Kalimat itu tepat kenai sasaran. Sa
Surya hentikan langkahnya. Alisnya langsung berkerut begitu lihat pemandangan di hadapannya. Susan adalah orang pertama yang sadar dengan kedatangannya. Wanita itu segera lambaikan tangan.“Surya, kenapa baru datang sekarang? Nenek sudah tunggu kamu cukup lama. Cepat duduk sini.”Sambil bicara, dia sengaja geser kursi kosong di samping Jihan, kasih isyarat agar Surya duduk di sana. Wajah tampan Surya langsung jadi muram. Dia bahkan nggak ngelirik kakaknya. Tatapannya yang tajam justru tertuju lurus ke Jihan.“Ngapain kamu masih di sini? Bukannya kemarin malam aku sudah suruh kamu pergi?”Dengar itu, Susan langsung bela Jihan. Dia menatap adiknya dengan nggak senang.“Apa maksudmu suruh orang pergi begitu saja? Jihan itu tamu yang aku undang. Aku nggak izinkan kamu usir dia!”Tatapan Surya semakin dingin.“Kalau dia tamumu, maka kamu yang tanggung jawab bawa dia pergi. Mulai sekarang, aku nggak mau lihat dia di sini lagi.”“Kamu!”Susan memandang adiknya dengan nggak percaya.Sejak kapa
Orang-orang sering berkata kalau pria di pagi hari adalah makhluk yang paling berbahaya. Dan saat ini, Joana benar-benar rasakan itu. Dia bisa dengan jelas rasakan sesuatu dari tubuh Surya yang tekan punggungnya. Tubuhnya langsung jadi tegang. Secara refleks, Joana berusaha lepaskan diri.“Lepaskan aku!”“Sebentar lagi.”Namun Surya justru peluk dia semakin erat. Di pagi hari seperti ini, garis rahangnya yang tegas telah ditumbuhi lapisan tipis janggut halus. Saat bergesekan dengan pipinya, rasa gatal dan geli langsung menjalar. Joana begitu malu hingga rasanya ingin menghilang dari muka bumi. Dia nggak bisa tahan diri untuk ingatkan Surya, “Ini rumah utama Keluarga Setiawan.”Surya angkat alisnya.“Terus kenapa?”Joana benar-benar kehabisan kata.“Bisa nggak kamu jaga sikap sedikit?”Mereka sudah habiskan satu malam bersama di rumah Keluarga Setiawan. Sudah pasti seluruh keluarga perhatikan itu. Gimanapun juga, mereka belum nikah, tetapi sudah tinggal sekamar.Dalam pandangan para tet
Joana terdiam. Pria itu jelas-jelas sudah tahu jawaban atas pertanyaannya.Surya jongkok di hadapannya.“Percayalah ke aku. Di Keluarga Setiawan, selain aku, nggak ada yang bisa nyakitin kamu.”Joana menatapnya. Pandangan mereka bertaut. Setelah hening cukup lama, akhirnya Joana mengangguk. Namun, dia juga punya batasannya sendiri.“Aku cuma akan nginap satu malam.”Satu malam adalah batas terakhir yang bisa dia toleransi. Setelah ini, dia nggak akan dengan mudah datang ke tempat ini lagi.“Oke.”Surya hormati keputusannya. Dia kasih semangkuk bubur sarang burung yang sejak tadi dibawanya. Joana terima dan minum itu perlahan. Rasanya sangat enak. Seolah bercampur dengan perhatian dan kepedulian Surya terhadap dirinya.Setelah habiskan bubur itu, dia letakkan mangkuknya, lalu angkat kepala.“Ngomong-ngomong, saat aku lagi berendam tadi, sepertinya aku dengar ada orang yang bicara dengan kamu di depan pintu?”Dan dari suaranya, orang itu jelas seorang wanita. Insting Joana katakan kalau
Jihan lari pergi sambil nangis. Baru saja turuni tangga, dia berpapasan dengan Susan yang keluar dari kamar Nenek Salma.“Jihan, kamu kenapa?”Begitu lihat mata Jihan yang memerah karena nangis, Susan segera hampiri dengan penuh perhatian.“Kak Susan .…”Baru saja Jihan buka mulut, air matanya kembali mengalir deras. Kali ini dia benar-benar terluka. Seumur hidupnya, belum pernah ada pria yang tolak dia seperti ini. Selama ini, selalu ada banyak pria yang kejar dia. Surya adalah pria pertama yang dia dekati atas kemauannya sendiri. Namun baru saja dia beranikan diri untuk mendekat, pria itu sudah hancurkan harga dirinya tanpa ampun. Apa yang baru saja terjadi benar-benar jadi pengalaman paling memalukan dalam hidupnya.“Kenapa? Apa adik berengsekku itu ganggu kamu?”Lihat Jihan nangis seperti ini, Susan langsung bisa tebak penyebabnya. Gimanapun, Jihan adalah putri keluarga terpandang. Selain Surya, siapa lagi yang berani buat dia nangis?Dengan suara tersendat, Jihan mengadu, “Tadi ak
Joana keluar dari ruang periksa, ambil obatnya, lalu bergegas tinggalkan rumah sakit.Setiap kali ingat adegan barusan, gimana seorang dokter pria perintahkan dia lepas celana dan periksa dia, wajahnya langsung memerah tanpa bisa dicegah.Jika sampai tersebar, ia benar-benar nggak akan berani ketemu
“Lepas dulu, lalu berbaring!”Suara pria yang rendah dan dingin itu menggema di ruangan.Jantung Joana Widodo berdegup keras. Ia sendiri nggak tahu sejak kapan dirinya mengidap penyakit memalukan yang sulit dijelaskan itu. Setiap kali kambuh, hasratnya datang begitu kuat, nggak kenal waktu dan tempa
Kelopak mata Joana berkedut pelan.Surya, beneran mau langsung angkat dia jadi asisten presiden direktur? Jangan-jangan ini cuma cara halus untuk jatuhkan dia?“Aku belum pernah kerja sebagai asisten. Aku khawatir nggak mampu jalankan tugas itu .…” Refleks pertamanya adalah menolak.Saat ini kepalan
Herman menatapnya tajam.“Kamu habis buat salah apa?”Bos besar tiba-tiba sebut namanya untuk menghadap, nggak cuma Joana yang kaget, seluruh orang di kantor, termasuk Herman, atasan langsungnya juga nggak nyangka.Joana mengedip polos.“Aku juga nggak tahu.”Telapak tangannya basah oleh keringat di







