Share

Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?
Auteur: Bella Amara

Bab 1

Auteur: Bella Amara
“Lepas dulu, lalu berbaring!”

Suara pria yang rendah dan dingin itu menggema di ruangan.

Jantung Joana Widodo berdegup keras. Ia sendiri nggak tahu sejak kapan dirinya mengidap penyakit memalukan yang sulit dijelaskan itu. Setiap kali kambuh, hasratnya datang begitu kuat, nggak kenal waktu dan tempat. Pekerjaan dan kehidupannya mulai terganggu karena masalah itu.

Karena nggak tahan lagi, Joana akhirnya beranikan diri daftar ke bagian ginekologi di sebuah rumah sakit swasta. Ia pilih tempat itu karena kerahasiaannya terkenal sangat ketat, meskipun biaya konsultasinya berkali-kali lipat lebih mahal dibanding rumah sakit biasa.

Tapi, bukannya ia pesan jadwal konsultasi dengan dokter senior wanita berusia empat puluhan? Kenapa yang duduk di hadapannya justru seorang dokter pria muda, tinggi, dan berwibawa?

“Ha-harus … lepas celana?” tanyanya gugup, suaranya nyaris nggak terdengar.

Lepas pakaian di depan pria asing, meski ia seorang dokter, tetap saja buat Joana merasa sangat canggung.

Surya Setiawan jawab dengan wajah serius, “Kalau nggak dilepas, gimana aku bisa periksa kamu?”

“Tapi, aku ….”

Wajah Joana memerah, jemarinya saling meremas gelisah.

Pria di hadapannya pakai masker, namun tatapannya tajam dan dalam, seolah mampu tembus apa pun. Entah mengapa, ia tiba-tiba merasa seakan akan didorong ke ranjang dan diperlakukan sesuka hati oleh pria itu.

Joana buru-buru menggeleng keras.

Astaga! Pikiran macam apa itu?

Dia itu dokter. Setiap hari ia periksa puluhan pasien seperti dirinya. Ini cuma pekerjaannya.

Joana berusaha tenangkan diri terus-menerus. Dengan tahan rasa malu, ia perlahan turunkan celananya dan berbaring di ranjang periksa.

“Bagian mana yang nggak nyaman?” tanya Surya sambil siapkan alat sterilisasi.

Wajahnya kembali memerah. “Aku, di bagian sana .…”

Lihat ia nggak mampu lanjutkan, Surya tanya dengan tenang, “Terlalu sering berhubungan? Atau luka?”

Biasanya gadis muda yang datang ke poli kandungan memang karena alasan itu.

Namun Joana menggeleng dengan wajah merah padam. “Bukan, aku nggak punya kehidupan seksual .…”

Gerakan Surya terhenti. Ia menoleh, menatap Joana dengan heran.

Gadis di depannya memiliki wajah yang begitu halus dan menawan, kulitnya lembut seperti bisa meneteskan air. Cantik, memikat, dengan aura yang anggun dan menggoda. Sekali lihat dia, orang pasti sulit untuk lupakan.

Dengan kecantikan seperti itu, pasti nggak kekurangan orang yang kejar dia. Namun ia bilang nggak punya kehidupan seksual?

“Aku … hanya … di sana … agak nggak nyaman .…” gumamnya terbata di bawah tatapan mata pria yang gelap dan dalam itu.

Jari Surya yang sedang pegang kapas steril tanpa sadar mengencang. Namun raut wajah Surya tetap tenang, terfokus padanya. “Nggak nyaman gimana?”

Joana terdiam.

Gimana ia harus jelaskan itu?

“Yah itu … aku .…”

Ia gigit bibir merahnya, ragu untuk lanjutkan.

Surya menatap wajah Joana yang sudah memerah, perlahan menelan ludah.

Badannya tanpa sadar mulai memanas.

Tapi dia tetap menahan semuanya. "Kenapa bisa begitu?"

Joana terbata-bata, dengan tidak enak berkata, "Aku .... Anu ...."

Apa ia harus ngaku hasratnya terlalu besar? Bahwa ia sangat ingin lakukan ‘itu’?

Padahal sudah lebih dari setahun menikah, suaminya, Fajar Geraldi nggak pernah sentuh dia.

Seiring waktu hasratnya semakin kuat, semakin nggak terkendali, tapi Fajar justru makin menjauh darinya. Bahkan tampak ketakutan setiap kali Joana singgung tentang hal itu.

Nggak ada pilihan lain, Joana hanya bisa cari cara sendiri untuk redakan itu. Namun jelas itu nggak cukup.

Ia ingin.

Ingin lebih.

Surya perhatikan reaksinya. “Sudah menikah?”

Joana mengangguk tanpa sadar.

Entah kenapa, ada sedikit rasa kecewa yang melintas di hati pria itu.

Sorot matanya menggelap. “Berbaring dulu. Biar aku periksa.”

Joana menurut.

Tangannya mengepal erat, wajahnya terasa panas seperti terbakar.

“Jangan gerak.” Surya menatapnya, suara pria itu mendadak lebih serak.

Rasa malunya sudah memuncak. Dengan penyakitnya ini, gimana mungkin ia bisa tenang saat diperiksa?

“Bisa nggak … diganti dokter wanita?” tanyanya canggung.

Tatapan Surya makin dalam. “Kamu nggak puas dengan aku?”

“Bu-bukan gitu .…” Joana buru-buru jelaskan.

Namun sebelum kalimatnya selesai, pria itu memotong dingin, “Hari ini kamu terdaftar atas nama pasienku. Kalau nggak mau berobat, silakan pergi saja.”

Pria ini galak sekali.

Dalam hati ia janji akan adukan ini nanti. Namun penyakitnya nggak bisa ditunda lagi. Untuk kali ini, ia putuskan percaya pada kemampuan dokter itu.

“Aku nggak bermaksud apa-apa, Dokter. Tolong sembuhkan aku,” pintanya pelan.

Ini pertama kalinya Surya gantikan jadwal jaga. Siapa sangka ia justru bertemu pasien wanita yang begitu istimewa.

Penyakit wanita itu sendiri saja sudah cukup buat Surya sulit bersikap netral, ditambah lagi Joana secantik itu. Ini benar-benar ujian terhadap kendali dirinya sebagai seorang pria.

“Nggak usah banyak bicara.”

Ia tegur Joana, jakunnya bergerak. Ia pun kenakan sarung tangan, ambil kapas steril, lalu perlahan mendekat.

Joana nggak kuasa menutup mata.

Suaminya saja, Fajar, belum pernah lihat dia seperti ini. Kini justru pria lain yang lihat lebih dulu.

Meski tahu ia dokter, tetap saja sulit untuk terima hal itu dalam hatinya.

“Ahh!” Seruan itu keluar dari bibirnya, manja dan enak didengar.

Tubuh Surya menegang, kulit kepalanya terasa panas. Ia sedikit tarik tangannya.

“Sakit?”

Mata Joana berkabut lembap. Bibir merahnya terbuka, namun nggak tahu harus berkata apa.

Akal sehatnya berkata ia harus tahan diri. Namun penyakitnya buat dia nggak mampu sepenuhnya kendalikan reaksinya.

Dalam keadaan rapuh dan memikat seperti itu, sungguh sulit bagi siapa pun untuk tetap tenang.

“Aku akan coba lebih pelan,” gumamnya seraya berdeham, memalingkan wajah dan kembali fokus pada pemeriksaan.

Setelah selesai, anehnya Joana justru merasa lebih hampa, lebih tersiksa.

“Dokter, apa kondisiku parah?” Suaranya sedikit bergetar.

Surya berusaha kendalikan emosinya, lepas sarung tangan perlahan.

“Ini histeria akibat gangguan hormon, diakibatkan karena kurangnya kehidupan seksual dalam jangka panjang.”

Kurangnya kehidupan seksual?

Joana menunduk, dia seketika malu.

Bukan kurang, tapi nggak pernah ada.

Suaminya punya gangguan OCD (Gangguan obsesif kompulsif) yang lumayan parah. Sejak pacaran sampai menikah, mereka hampir nggak pernah bermesraan. Namun justru karena itu, ia semakin rindu akan sentuhan.

Seolah setiap sel dalam tubuhnya mendambakan pelukan, belaian .…

“Aku kasih obat antiinflamasi dan penyeimbang hormon,” ujar Surya sambil duduk di depan komputer dan tuliskan resep. “Tapi sebaiknya kamu pulang dan lebih sering lakukan hubungan seksual dengan suamimu. Penyakit ini akan jauh berkurang.”

Wajah Joana sudah merah sekali seperti darah.

Ia kenakan kembali celananya, turun dari ranjang, dan terima resep itu.

“Makasih, Dokter.”

Baru saja ia keluar dari ruang periksa, seorang dokter wanita berjas putih masuk dari pintu belakang.

“Surya! Berani-beraninya kamu periksa pasienku waktu aku nggak ada!”

Susan Setiawan yang baru datang, langsung marahin adiknya.

Surya jawab dengan santai, “Jangan lupa, dulu waktu di fakultas kedokteran, nilaiku yang selalu ada peringkat pertama, kamu cuma ada peringkat kedua. Sekarang aku periksa pasienmu gratis, itu justru keberuntungan buat mereka. Lagian rumah sakit ini sekarang kan punyaku.”

“Kamu!” Susan melotot.

Anak ini benar-benar pandai membangkang.

Namun adiknya yang terkenal selalu jaga jarak dengan wanita, hari ini justru mau periksa pasien wanita, ini cukup aneh.

“Kalau aku nggak disambut, aku pergi saja,” ujar Surya dengan satu tangan di saku, pandangannya tertuju ke arah Joana menghilang.

“Pergi apaan? Aku panggil kamu ke sini hari ini untuk ketemu dengan dokter jantung baru kita, Dokter Wina Lestari. Dia muda, cantik, dan sangat berbakat. Bunga rumah sakit kita! Yang terpenting, masih lajang dan belum punya pacar .…” Susan buru-buru tahan Surya, berusaha keras jodohkan dia.

“Kita lihat saja nanti.”

Surya jawab sekenanya, tanpa minat, lalu melangkah pergi.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 50

    Mata hitam Surya menatapnya lurus tanpa berkedip.“Kalau malam ini aku suruh kamu ke rumahku, kamu bakal datang nggak?”Kepala Joana berdengung keras, rasanya mau meledak.Surya minta dia datang ke rumahnya malam ini?Apa maksudnya?Bibir merahnya terkatup terbuka, hendak katakan sesuatu.Tiba-tiba HP Surya berdering.Ia tekan tombol jawab. Dari seberang terdengar suara pria yang familiar.“Malam ini ada pesta kapal pesiar, jangan lupa datang!”“Nggak.” Surya langsung tolak tanpa berpikir.Yusin terdengar kesal.“Nggak mau lagi? Serius? Belakangan ini sudah sepuluh kali lebih aku ajak kamu, kamu selalu nolak. Kenapa sih?”“Aku lagi sibuk urusan perusahaan, nggak ada waktu. Lagian, kamu kan baru saja nikah. Sebaiknya kamu juga tahan diri,” jawab Surya tenang.Yusin mendengus nggak peduli.“Pernikahan itu bukan kemauanku. Lagian aku benar-benar nggak cocok dengan Diana itu! Kalau dia nggak tahan, lebih baik dia sendiri yang minta cerai.”Karena jarak mereka begitu dekat, hampir semua per

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 49

    Tatapannya begitu tajam, seakan mampu tembus kulit dan tulang, buat udara di sekitar mereka terasa menipis.Joana tiba-tiba merasa napasnya nggak stabil lagi.Ia buru-buru alihkan pandangan.Nggak nyangka, justru Surya datang mendekat.Tubuhnya yang tinggi tegap berhenti tepat di hadapan Joana. Tangannya terangkat, jemarinya mengait lembut dagu Joana.“Kenapa kamu kok menghindar?”Jarak mereka sekarang begitu dekat, napas pun saling berbaur.Mata indah Joana berkilat, suaranya tersendat.“Aku takut kamu tenggelam dalam pesonaku dan nggak bisa keluar lagi ….”Alis Surya terangkat tipis.“Kalau aku yang tenggelam, ngapain kamu yang takut?”Joana terdiam.“Takut aku makan kamu?”Wajah tampannya hanya sejengkal dari Joana, napasnya melingkari tubuh Joana seperti kabut hangat.Suhu di dalam kantor perlahan naik.Pikiran Joana mulai melayang ke arah yang nggak bisa dijelaskan lagi dengan kata-kata.Wajahnya memerah hingga terasa terbakar.Napasnya berubah jadi hembusan panas.Tubuhnya seolah

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 48

    Joana sama sekali nggak nyangka, pembalasan akan datang secepat ini.Dulu, meski ia telah nikah dengan Fajar, kakaknya tetap berhubungan dengan Fajar, juga sering main semalaman dan nggak pulang.Sekarang, baru saja nikah, Yusin, suami kakaknya, justru menghilang.Akhirnya ia juga rasakan gimana rasanya ditinggalkan suami.Namun ibunya, Julia, jelas nggak bisa terima kenyataan itu. Sepanjang telepon, ia terus-menerus cerca Yusin.Malam itu, Diana diabaikan suami barunya. Sementara suaminya sendiri, Fajar, juga nggak pulang semalaman.Ibunya gelisah nggak bisa tidur, nangis terus sampai matanya sembap.Keesokan paginya, begitu bangun, Joana sudah lihat berita di internet, laporan tentang gimana Diana dipermalukan Yusin di pesta pernikahan semalam.Ada warganet yang marah, bilang Yusin nggak punya kesadaran sebagai suami, baru nikah sudah tinggalkan istrinya.Namun nggak sedikit juga yang ejek Diana.Internet nggak pernah lupa, orang-orang masih ingat skandal ciumannya dengan Fajar yang

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 47

    Joana cepat-cepat dorong pintu mobil dan turun.Lihat Joana kabur seperti itu, mata Surya jadi semakin gelap.Di telapak tangannya seakan masih tertinggal kelembutan kulit di pinggang Joana.Beberapa waktu belakangan ini, hampir setiap malam ia mimpi cengkeram pinggangnya Joana, tindih dia di atas ranjang.Setiap kali terbangun, ia hanya bisa masuk ke kamar mandi untuk mandi air dingin. Kadang mandi pun nggak banyak bantu.Sering kali ia nggak bisa tidur semalaman, pikirannya dipenuhi bayangan tentang Joana.Terutama beberapa hari ini ketika Joana nggak masuk kerja.Nggak bisa lihat Joana buat rasa kangen itu semakin besar.Tatapan Surya jatuh pada jas yang tadi ia selimutkan pada Joana, kini tergeletak di lantai mobil.Ia ulurkan tangannya, ambil jas itu dan bawa mendekat. Di sana masih tertinggal aroma tubuh Joana.Ia tarik napas dalam-dalam. Hasrat di dasar matanya nyaris meluap.…Baru saja Joana sampai di rumah, telepon dari ibunya, Julia, kembali masuk.Joana pun jelaskan kalau i

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 46

    Surya angkat pandangannya, lihat wajah Joana dengan tatapan dalam.“Enak pegangnya?”Joana seketika tarik tangannya seolah tersengat listrik.Wajah cantiknya memerah panas.“Ma … maaf!”Tatapan Surya menggelap saat menatapnya, sikapnya justru tampak santai.“Kamu yang curi kesempatan untuk pegang-pegang aku, aku saja nggak malu. Kenapa malah kamu yang jadi merah?”Kepala Joana berdengung.“Aku nggak sengaja pegang kamu!” bantahnya tergesa.Ia tadi hanya ingin segera bangkit dari pangkuan pria itu.Siapa sangka makin panik justru makin kacau.Nggak sengaja pegang bagian itu.Alis Surya terangkat tipis, sorot matanya penuh arti.“Lagian ini bukan pertama kalinya kamu pegang aku. Meskipun sengaja juga nggak masalah kok.”Kata-kata itu diucapkannya sambil nyaris nempel di telinga Joana, napas panasnya menyapu kulit Joana.Tubuhnya gemetar.Seperti kucing kecil yang terkejut, ia melonjak dari pangkuan Surya.Jantungnya belum sepenuhnya tenang. Gimana ia bisa tahan godaan seperti ini?Namun

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 45

    Untuk apa ia masih berdiri di sini dan basa-basi dengannya?Surya tahu ia seharusnya segera pergi.Namun anehnya, kakinya nggak mau melangkah sedikit pun.Sebaliknya, ia justru bilang, “Ayo, aku antar kau pulang.”Joana spontan langsung nolak.“Nggak perlu repot-repot. Aku bisa naik taksi sendiri.”Walau ia nggak kembali ke dalam dan jalan ke jebakan, untuk pulang pun ia nggak perlu diantar.Tatapan Surya yang gelap jatuh ke dia, wajahnya tegang.“Kamu yakin dengan baju seperti itu bisa naik taksi sendirian?”Joana hampir saja balas, memangnya kenapa dengan bajunya?Namun saat ia menunduk, napasnya tercekat.Kerah kebayanya telah robek lebar gara-gara Lukas.Kain itu nggak lagi mampu menutup tubuhnya dengan layak, lekuk indah di baliknya nyaris tersingkap sepenuhnya.Wajahnya langsung memanas.Ia buru-buru silangkan kedua tangan di dada, tutupi bagian yang terbuka.“Baru sekarang kepikiran untuk nutupin itu? Yang seharusnya aku lihat atau nggak, sudah aku lihat,” ujar Surya pelan, seul

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status