Share

Bab 2

Auteur: Bella Amara
Joana keluar dari ruang periksa, ambil obatnya, lalu bergegas tinggalkan rumah sakit.

Setiap kali ingat adegan barusan, gimana seorang dokter pria perintahkan dia lepas celana dan periksa dia, wajahnya langsung memerah tanpa bisa dicegah.

Jika sampai tersebar, ia benar-benar nggak akan berani ketemu dengan siapa pun lagi.

Mulai sekarang ia bersumpah cuma mau cari dokter wanita. Ia nggak ingin lagi bagian paling pribadinya diperiksa oleh pria asing.

Tepat saat itu, sebuah mobil Bentley hitam meluncur pelan dan berhenti di depannya.

Joana sempat kira itu mobil pesanannya. Namun ketika ia menoleh ke balik kaca jendela, yang terlihat justru wajah tampan dengan garis rahang tegas dan sempurna, seolah dipahat tangan dewa.

Pandangan mereka beradu sesaat. Ada rasa familiar.

Tatapan mata itu .…

Bukannya itu dokter pria yang tadi periksa dia?

Napas Joana tercekat. Wajahnya kembali memerah.

Kenapa bisa kebetulan sekali ketemu lagi tepat di depan rumah sakit?

“Naik saja. Aku antar kamu,” ujar Surya singkat.

Joana buru-buru menggeleng. “Nggak perlu, makasih.”

Mereka nggak akrab. Mana mungkin ia seenaknya numpang mobil pria itu?

Apalagi barusan, di atas ranjang periksa, pria itu lakukan pemeriksaan yang begitu intim ke dia .…

Orang yang saat ini paling nggak ingin Joana temui adalah dia.

Kalau bisa, ia ingin pura-pura nggak saling kenal selamanya.

Sorot mata Surya sedikit menggelap, alisnya terangkat tipis, pancarkan aura dominan yang sulit diabaikan.

Ini pertama kalinya ia ditolak seorang wanita!

“Beneran nggak perlu. Suamiku sebentar lagi jemput,” kata Joana lagi dengan nada canggung, sengaja tekankan kata suami, sembari melambaikan tangan menolak.

Maksudnya jelas, ia wanita bersuami.

Tapi dia bisa merasakan pria itu tidak senang.

Surya terdiam.

Sudut bibir Surya melengkung tipis, dingin dan nyaris nggak terlihat. Ia langsung perintahkan sopir untuk pergi.

Lihat mobil Bentley itu melaju menjauh, Joana akhirnya hembuskan napas lega.

Namun ucapan dokter tadi kembali terngiang.

Penyakitnya berkaitan dengan kurangnya kehidupan seksual dalam waktu lama.

Obat hanya bantu seimbangkan hormon. Untuk benar-benar sembuh, ia tetap harus lebih sering berhubungan dengan pria.

Kebetulan malam ini Fajar pulang dari perjalanan dinas.

Ia harus manfaatkan kesempatan ini.

Nggak pakai tunda waktu lagi, Joana langsung pergi ke mall, beli gaun tidur seksi dengan warna yang disukai suaminya serta parfum penggugah suasana.

Setelah pulang, ia keluarkan sebotol anggur merah yang sudah lama ia simpan.

Rencananya sederhana: minum bersama Fajar, buat dia sedikit mabuk, lalu tidur dengannya.

Tapi Fajar punya gangguan OCD yang berlebihan dan selalu hindari kehidupan suami istri.

Setelah setahun nikah, setiap kali Joana ajukan permintaan itu, ia selalu ditolak.

Penolakan itu menumpuk jadi tekanan fisik dan mental yang berat.

Kini ia sudah sakit. Ia nggak punya pilihan lain.

Semua sudah siap, tapi justru kini ia merasa sangat gugup.

Ini pertama kalinya sejak menikah, ia dengan sengaja “godain” suaminya.

Jantungnya berdegup begitu cepat seolah hendak meloncat keluar.

Joana menuang segelas anggur untuk dirinya sendiri, coba tenangkan diri.

……

Pukul delapan malam, Fajar pulang dari dinas.

Klik.

Lampu kamar tidur yang semula gelap mendadak menyala.

Joana yang pura-pura tidur di ranjang tersentak dan buka matanya. Pandangannya langsung tertuju pada sosok tinggi ramping berpakaian hitam di ambang pintu.

“Suamiku, kamu sudah pulang?”

Joana segera menyingkap selimut dan lari hampirin dia dengan wajah berseri.

Fajar sipitkan matanya.

Malam ini Joana kenakan gaun tidur merah anggur dengan belahan V yang dalam, buat kulitnya tampak putih bagai salju dan lekuk tubuhnya terekspos jelas.

Dipadukan dengan wajahnya yang polos namun menggoda, ia tampak begitu memikat, perpaduan lugu dan sensual yang memabukkan.

Aroma parfum yang ia kenakan menyusup lembut ke indera penciuman, bangkitkan naluri dasar seorang pria.

Nggak diragukan lagi, wanita di hadapannya begitu seksi dan menggoda.

Namun, bukan tipe yang ia sukai.

Hasrat yang sempat berkilat di mata gelapnya perlahan memudar, digantikan oleh dingin dan jarak.

Fajar tanpa sadar dorong Joana untuk menjauh.

“Aku capek.”

Satu kalimat itu seolah siram api di hati Joana dengan air dingin.

Namun ia nggak mau nyerah.

Penyakitnya nggak bisa tunggu lagi. Ia harus tidur dengan seorang pria.

Lagian malam ini ia sudah dandan khusus dan siapkan semuanya.

Mana mungkin ia berhenti di tengah jalan?

“Suamiku, mau aku bantu pijat?” tanyanya lembut sambil raih lengan Fajar.

“Nggak perlu!” Fajar kibaskan tangannya seolah disentuh sesuatu yang kotor.

Ia lalu langsung melangkah menuju kamar mandi.

Saat lewati Joana, ia cium aroma parfum wanita lain yang samar tertinggal di tubuh pria itu.

Aromanya elegan dan berkelas. Bukan parfum yang biasa ia pakai.

Joana terdiam, ada kilat kecurigaan melintas di matanya.

Apa Fajar punya wanita lain?

Namun ia segera tepis pikiran itu.

Suaminya sering hadiri jamuan bisnis. Aroma parfum wanita bisa saja menempel tanpa sengaja.

Lagian dengan kebiasaan OCD-nya yang begitu ekstrem, ia saja nggak mau sentuh Joana, istrinya, mana mungkin ia sentuh wanita lain?

Joana berusaha tenangkan diri.

Ia pun tuangkan segelas anggur untuk Fajar, tetap berpegang pada rencana semula.

Setengah jam kemudian, Fajar keluar dari kamar mandi.

Ia hanya kenakan jubah mandi putih longgar, ikat pinggangnya belum terikat. Otot dadanya yang kokoh samar terlihat di bawah cahaya lampu kekuningan.

Kulitnya yang berwarna kecoklatan tampak begitu memikat. Kakinya panjang dan lurus.

Dipadukan dengan wajah tampan yang dingin, pemandangan itu hampir buat Joana terpaku. Tenggorokannya terasa kering.

Entah karena lama nggak lihat Fajar seperti ini, atau karena sikapnya yang selalu dingin, mendadak hatinya bergetar nggak terkendali.

Joana tanpa sadar menelan ludah.

Tatapannya tanpa sengaja meluncur ke bawah, lewati pinggang rampingnya.

Astaga!

Hasratnya semakin menjadi-jadi?

“Kamu lihat apa?”

Suara Fajar yang dingin dan tegas memecah lamunannya.

Joana tersentak dan buru-buru menggeleng. “Nggak lihat apa-apa!”

Joana takut Fajar akan makin jijik jika tahu ia inginkan tubuh pria itu.

Dengan senyum manis, Joana angkat gelas anggur dan mendekat. “Suamiku, mau minum segelas?”

Ia tahu Fajar terbiasa minum sedikit sebelum tidur.

Namun setelah ia bicara, pria itu terdiam cukup lama.

Hatinya mulai gelisah. Jangan-jangan rencananya ketahuan?

“Suamiku .…” Joana kembali mendekat, suaranya sengaja dibuat lembut.

Bukannya jawab soal anggur, Fajar malah menoleh dan menatapnya dengan sorot penuh makna.

“Sudah malam. Kenapa kok belum tidur?”

Joana seketika berbinar. Ia kira suaminya akhirnya berniat tidur dengan dia. Ia segera letakkan gelas di meja samping ranjang.

“Oke, aku naik ke ranjang sekarang.”

Dengan semangat, Joana hendak naik ke ranjang. Namun sebelum tangannya sempat sentuh Fajar. Fajar tiba-tiba cengkeram pergelangan tangannya, angkat alis dengan nada mengejek.

“Kamu nggak lagi pikir malam ini aku akan sentuh kamu, kan?”
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 50

    Mata hitam Surya menatapnya lurus tanpa berkedip.“Kalau malam ini aku suruh kamu ke rumahku, kamu bakal datang nggak?”Kepala Joana berdengung keras, rasanya mau meledak.Surya minta dia datang ke rumahnya malam ini?Apa maksudnya?Bibir merahnya terkatup terbuka, hendak katakan sesuatu.Tiba-tiba HP Surya berdering.Ia tekan tombol jawab. Dari seberang terdengar suara pria yang familiar.“Malam ini ada pesta kapal pesiar, jangan lupa datang!”“Nggak.” Surya langsung tolak tanpa berpikir.Yusin terdengar kesal.“Nggak mau lagi? Serius? Belakangan ini sudah sepuluh kali lebih aku ajak kamu, kamu selalu nolak. Kenapa sih?”“Aku lagi sibuk urusan perusahaan, nggak ada waktu. Lagian, kamu kan baru saja nikah. Sebaiknya kamu juga tahan diri,” jawab Surya tenang.Yusin mendengus nggak peduli.“Pernikahan itu bukan kemauanku. Lagian aku benar-benar nggak cocok dengan Diana itu! Kalau dia nggak tahan, lebih baik dia sendiri yang minta cerai.”Karena jarak mereka begitu dekat, hampir semua per

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 49

    Tatapannya begitu tajam, seakan mampu tembus kulit dan tulang, buat udara di sekitar mereka terasa menipis.Joana tiba-tiba merasa napasnya nggak stabil lagi.Ia buru-buru alihkan pandangan.Nggak nyangka, justru Surya datang mendekat.Tubuhnya yang tinggi tegap berhenti tepat di hadapan Joana. Tangannya terangkat, jemarinya mengait lembut dagu Joana.“Kenapa kamu kok menghindar?”Jarak mereka sekarang begitu dekat, napas pun saling berbaur.Mata indah Joana berkilat, suaranya tersendat.“Aku takut kamu tenggelam dalam pesonaku dan nggak bisa keluar lagi ….”Alis Surya terangkat tipis.“Kalau aku yang tenggelam, ngapain kamu yang takut?”Joana terdiam.“Takut aku makan kamu?”Wajah tampannya hanya sejengkal dari Joana, napasnya melingkari tubuh Joana seperti kabut hangat.Suhu di dalam kantor perlahan naik.Pikiran Joana mulai melayang ke arah yang nggak bisa dijelaskan lagi dengan kata-kata.Wajahnya memerah hingga terasa terbakar.Napasnya berubah jadi hembusan panas.Tubuhnya seolah

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 48

    Joana sama sekali nggak nyangka, pembalasan akan datang secepat ini.Dulu, meski ia telah nikah dengan Fajar, kakaknya tetap berhubungan dengan Fajar, juga sering main semalaman dan nggak pulang.Sekarang, baru saja nikah, Yusin, suami kakaknya, justru menghilang.Akhirnya ia juga rasakan gimana rasanya ditinggalkan suami.Namun ibunya, Julia, jelas nggak bisa terima kenyataan itu. Sepanjang telepon, ia terus-menerus cerca Yusin.Malam itu, Diana diabaikan suami barunya. Sementara suaminya sendiri, Fajar, juga nggak pulang semalaman.Ibunya gelisah nggak bisa tidur, nangis terus sampai matanya sembap.Keesokan paginya, begitu bangun, Joana sudah lihat berita di internet, laporan tentang gimana Diana dipermalukan Yusin di pesta pernikahan semalam.Ada warganet yang marah, bilang Yusin nggak punya kesadaran sebagai suami, baru nikah sudah tinggalkan istrinya.Namun nggak sedikit juga yang ejek Diana.Internet nggak pernah lupa, orang-orang masih ingat skandal ciumannya dengan Fajar yang

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 47

    Joana cepat-cepat dorong pintu mobil dan turun.Lihat Joana kabur seperti itu, mata Surya jadi semakin gelap.Di telapak tangannya seakan masih tertinggal kelembutan kulit di pinggang Joana.Beberapa waktu belakangan ini, hampir setiap malam ia mimpi cengkeram pinggangnya Joana, tindih dia di atas ranjang.Setiap kali terbangun, ia hanya bisa masuk ke kamar mandi untuk mandi air dingin. Kadang mandi pun nggak banyak bantu.Sering kali ia nggak bisa tidur semalaman, pikirannya dipenuhi bayangan tentang Joana.Terutama beberapa hari ini ketika Joana nggak masuk kerja.Nggak bisa lihat Joana buat rasa kangen itu semakin besar.Tatapan Surya jatuh pada jas yang tadi ia selimutkan pada Joana, kini tergeletak di lantai mobil.Ia ulurkan tangannya, ambil jas itu dan bawa mendekat. Di sana masih tertinggal aroma tubuh Joana.Ia tarik napas dalam-dalam. Hasrat di dasar matanya nyaris meluap.…Baru saja Joana sampai di rumah, telepon dari ibunya, Julia, kembali masuk.Joana pun jelaskan kalau i

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 46

    Surya angkat pandangannya, lihat wajah Joana dengan tatapan dalam.“Enak pegangnya?”Joana seketika tarik tangannya seolah tersengat listrik.Wajah cantiknya memerah panas.“Ma … maaf!”Tatapan Surya menggelap saat menatapnya, sikapnya justru tampak santai.“Kamu yang curi kesempatan untuk pegang-pegang aku, aku saja nggak malu. Kenapa malah kamu yang jadi merah?”Kepala Joana berdengung.“Aku nggak sengaja pegang kamu!” bantahnya tergesa.Ia tadi hanya ingin segera bangkit dari pangkuan pria itu.Siapa sangka makin panik justru makin kacau.Nggak sengaja pegang bagian itu.Alis Surya terangkat tipis, sorot matanya penuh arti.“Lagian ini bukan pertama kalinya kamu pegang aku. Meskipun sengaja juga nggak masalah kok.”Kata-kata itu diucapkannya sambil nyaris nempel di telinga Joana, napas panasnya menyapu kulit Joana.Tubuhnya gemetar.Seperti kucing kecil yang terkejut, ia melonjak dari pangkuan Surya.Jantungnya belum sepenuhnya tenang. Gimana ia bisa tahan godaan seperti ini?Namun

  • Kita Sudah Pisah Ranjang, Mengapa Kamu Baru Menyesal?   Bab 45

    Untuk apa ia masih berdiri di sini dan basa-basi dengannya?Surya tahu ia seharusnya segera pergi.Namun anehnya, kakinya nggak mau melangkah sedikit pun.Sebaliknya, ia justru bilang, “Ayo, aku antar kau pulang.”Joana spontan langsung nolak.“Nggak perlu repot-repot. Aku bisa naik taksi sendiri.”Walau ia nggak kembali ke dalam dan jalan ke jebakan, untuk pulang pun ia nggak perlu diantar.Tatapan Surya yang gelap jatuh ke dia, wajahnya tegang.“Kamu yakin dengan baju seperti itu bisa naik taksi sendirian?”Joana hampir saja balas, memangnya kenapa dengan bajunya?Namun saat ia menunduk, napasnya tercekat.Kerah kebayanya telah robek lebar gara-gara Lukas.Kain itu nggak lagi mampu menutup tubuhnya dengan layak, lekuk indah di baliknya nyaris tersingkap sepenuhnya.Wajahnya langsung memanas.Ia buru-buru silangkan kedua tangan di dada, tutupi bagian yang terbuka.“Baru sekarang kepikiran untuk nutupin itu? Yang seharusnya aku lihat atau nggak, sudah aku lihat,” ujar Surya pelan, seul

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status