LOGINAda segumpal amarah yang menyesakkan di dada Laras. Buat seluruh tubuhnya terasa berat dan nggak nyaman. Lihat Laras terdiam begitu lama nggak mampu ucapkan satu kalimat pun untuk bantah dia, Joana nggak berniat lanjutkan perdebatan itu lebih jauh. Dia sedikit tundukkan kepala sebagai bentuk kesopanan.“Bibi, kalau nggak ada hal lain, aku permisi dulu.”Sebenarnya, nggak ada lagi yang perlu dibicarakan di antara mereka. Joana benar-benar nggak ingin buang lebih banyak waktu bersama Laras.Perasaan Laras sendiri bercampur aduk. Dia sendiri nggak tahu apa yang penuhi hatinya saat ini adalah kemarahan atau justru kesedihan. Kata-kata Joana seolah sumbat seluruh isi dadanya. Ada keluhan, ada amarah, namun anehnya, nggak ada satu pun yang mampu dia luapkan. Namun tepat ketika Joana berbalik dan hendak pergi, Laras tiba-tiba berkata, “Fajar akan segera menikah.””...”Seketika itu langkah Joana langsung terhenti.Fajar akan segera menikah? Padahal belum lama sejak perceraian mereka. Dia send
Di sebuah gazebo di tepi danau.Ranting-ranting pohon beringin menjuntai lembut, daunnya yang hijau bergoyang perlahan tertiup angin. Pemandangan di sekitar begitu indah dan menenangkan. Namun jelas, baik Joana maupun Laras sama-sama nggak punya suasana hati untuk nikmati itu.“Bibi, sebenarnya kenapa kamu mau cari aku?”Joana langsung buka pembicaraan tanpa basa-basi, nada suaranya tenang dan datar.Dia dan Fajar sudah lama cerai. Sebenarnya, sudah nggak ada lagi yang perlu dibicarakan antara dirinya dan Laras. Lebih baik langsung menuju inti persoalan. Tampaknya Laras juga nggak berniat buang waktu.“Kalau gitu aku akan bicara terus terang. Apa sekarang kamu masih berhubungan dengan Fajar?”Joana jawab tanpa ragu sedikit pun, “Nggak.”“Beneran?”Wajah Laras terlihat ragu.“Karena setahuku, kenyataannya nggak seperti itu.”Joana terdiam sesaat, lalu tanya balik dengan nada nggak berdaya, “Kalau gitu menurut Bibi, seperti apa kenyataannya?”Sorot mata Laras berubah dingin dan tajam.“A
“Kamu ....”Joana buka mulutnya, awalnya mau tanya langsung. Namun tepat pada saat itu, HP Surya tiba-tiba berdering. Pria itu segera angkat panggilan teleponnya, lalu berdiri dan melangkah menuju ruang kerja. Kata-kata yang sudah hampir keluar dari bibir Joana hanya bisa ditelan kembali.Joana menunduk pelan, lalu lanjutkan makan siangnya seorang diri. Nggak lama kemudian, Surya kembali dari ruang kerja.“Aku ada urusan dan harus keluar sebentar. Hari ini aku nggak bisa temani kamu.”Nada suaranya terdengar sedikit meminta maaf.Joana menggeleng dengan pengertian.“Nggak apa-apa. Urusan kerja memang lebih penting.”Namun kali ini, Surya nggak peluk dia sebelum pergi seperti biasanya. Dia hanya menatap Joana sejenak, lalu berbalik dan pergi dengan langkah tergesa.Rumah itu kembali sunyi. Joana menatap sekeliling vila yang kini terasa kosong dan hampa. Entah mengapa, ada perasaan kehilangan yang begitu kuat penuhi dadanya. Seolah ada sesuatu yang telah terlepas dari genggamannya dan ng
Pagi itu hujan turun tanpa henti. Langit tampak kelabu, tertutup awan tebal yang menggantung rendah. Surya hanya merasa sesak, seolah ada sesuatu yang tekan dadanya hingga sulit bernapas.Dia berdiri di depan jendela kaca besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit, lalu nyalakan sebatang rokok. Namun bahkan setelah rokok itu habis terbakar hingga ke ujungnya, kegelisahan di dalam hatinya tetap nggak kunjung hilang. Di balik kepulan asap yang berputar-putar di udara, dia seakan lihat wajah cantik Joana yang jernih dan lembut.Dulu, Surya benar-benar percaya ketika wanita itu pilih bersamanya, itu berarti Joana cinta dia dengan tulus. Dan saat itu, Surya begitu bahagia. Seperti seorang pemuda yang baru pertama kali kenal cinta, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Namun pada akhirnya dia baru sadar kalau semua itu hanyalah ilusi. Joana ternyata nggak cinta dia sebesar yang selama ini dia bayangkan. Bahkan soal kehamilan, hal sebesar itu pun Joana nggak kasih tahu d
Joana tarik napas dalam-dalam, lalu gelengkan kepalanya pelan.“Aku nggak apa-apa.”Lili segera noleh dan menatap Fajar dengan tajam.“Ngapain dia ada di sini?”Saat baru masuk tadi, dia lihat dengan mata kepalanya sendiri gimana Fajar tekan Joana di atas ranjang rumah sakit. Padahal, Joana lagi hamil. Siapa yang tahu apa yang ingin dilakukan pria itu?“Aku juga nggak tahu.”Joana jawab sambil melirik Fajar dengan penuh kewaspadaan. Baru saja dia terbangun dari tidur, pria itu sudah berdiri di samping ranjangnya. Dia bahkan hampir kira Fajar adalah Surya. Untung saja dia segera sadar. Namun, alasan kemunculan Fajar di sini kemungkinan besar berkaitan dengan kehamilannya. Fajar datang untuk sakiti anaknya. Setidaknya, itu yang dipikirkan Joana.“Jangan-jangan dia datang setelah tahu kamu hamil untuk kasih ucapan selamat?” Lili berkata dengan nada sindiran yang jelas ditujukan ke Fajar. Setelah itu, dia jalan beberapa langkah dan berdiri tepat di hadapan pria tersebut.“Sekarang Joana ng
“Kamu!”Joana menatap Fajar dengan penuh rasa nggak percaya. Joana sama sekali nggak nyangka, di dalam rumah sakit pun pria itu berani lakukan hal seperti ini ke dia. Seolah-olah Fajar benar-benar ingin hancurkan hidupnya.“Takut?”Kilatan geli bercampur dingin melintas di mata Fajar yang dipenuhi aura membunuh. Dia kembali datang mendekat. Secara refleks, Joana tutupi perutnya dengan kedua tangan. Tanpa sadar tubuhnya bergerak mundur.“Fajar, jangan macam-macam!” Dia peringatkan dengan panik. Joana benar-benar takut pria itu akan lakukan sesuatu pada anak yang ada di dalam kandungannya.Sudut bibir Fajar terangkat bentuk senyum jahat. Saat itu, dia benar-benar tampak seperti iblis yang baru keluar dari neraka, buat siapa pun rasakan hawa dingin menjalar di punggung. Butiran keringat dingin mulai muncul di dahi Joana. Tatapannya tetap waspada menatap pria di hadapannya.Tepat ketika Fajar hendak kembali mendekat dan paksakan ciumannya ke dia, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar
Semalam suntuk, Joana nggak bisa pejamkan mata.Kekosongan di tubuhnya dan pukulan di hatinya buat dia benar-benar nggak bisa tidur.Syukurlah keesokan paginya ia nggak terlambat masuk kerja.Namun saat Joana menguap kecil dan melangkah ke kantor, ia segera rasakan suasana yang aneh.“Hari ini ada p
Wajah cantik Joana seketika langsung membeku.Fajar lihat kilasan kecewa yang melintas di dasar matanya. Namun bibir tipisnya tetap bergerak dingin. “Maaf. Aku sudah bilang berkali-kali, aku punya gangguan OCD.”“Ta-tapi, Suamiku … aku .…” Joana bicara tergesa.Ia sudah sakit. Ia sangat butuh seoran
Kelopak mata Joana berkedut pelan.Surya, beneran mau langsung angkat dia jadi asisten presiden direktur? Jangan-jangan ini cuma cara halus untuk jatuhkan dia?“Aku belum pernah kerja sebagai asisten. Aku khawatir nggak mampu jalankan tugas itu .…” Refleks pertamanya adalah menolak.Saat ini kepalan
Herman menatapnya tajam.“Kamu habis buat salah apa?”Bos besar tiba-tiba sebut namanya untuk menghadap, nggak cuma Joana yang kaget, seluruh orang di kantor, termasuk Herman, atasan langsungnya juga nggak nyangka.Joana mengedip polos.“Aku juga nggak tahu.”Telapak tangannya basah oleh keringat di







