Share

BAB 36

Aвтор: Asda Witah busrin
last update Последнее обновление: 2025-11-15 14:15:12

“Mana ini Mama barunya Rika? Kok nggak ikut kesini, Mas Ammar?”

Pertanyaan salah satu wali murid saat berpamitan pulang membuat Ammar menghela napas panjang. Lelaki itu merasa lega karena Rika dan Riko tidak berada di dekatnya. Dua anak itu sedang bersama Zahra, sibuk membagikan bingkisan pada teman-teman Rika yang berbaris rapi untuk bersalaman dan mengucapkan selamat ulang tahun pada Rika.

“Istri saya sedang tidak enak badan, Mbak. Tadinya sudah mau ikut, tapi pas sudah mau berangkat malah pu
Продолжить чтение
Scan code to download App
Заблокированная глава

Latest chapter

  • Kita yang Terluka   BAB 135

    “Aku makan di rumah Ibu saja. Kangen masakan Ibu. Sudah lama kita tidak menginap disana.” Indra mengajak Zahra langsung pulang saja. Dia tidak nafsu makan. Perutnya tidak lapar sama sekali. Kalau tadi dia tidak nafsu makan karena deg-degan menunggu hasil apa Zahra benar hamil atau tidak, kali ini dia tidak merasa lapar karena hatinya buncah oleh perasaan bahagia.“Mas senang?” Zahra memegang lengan Indra saat mereka sudah di mobil. Dia tersenyum saat melihat Indra mengangguk dan menatap matanya dalam-dalam.“Senang … senang sekali, Sayang.” Indra meraih dagu Zahra dan mencium bibir istrinya lama. Rasa harusnya tak terhingga hingga air matanya jatuh di sela-sela bibir mereka. Lelaki itu tersenyum saat kedekatan mereka terlepas. Indra bingung dengan perasaannya, campur aduk memenuhi dada. Dia masih belum percaya kalau akhirnya Tuhan mempercayainya untuk menitipkan amanah keturunan yang sekian lama dia inginkan.Kedua orang tua Zahra terkejut saat mendengar kabar dari Zahra. Lebih terkej

  • Kita yang Terluka   BAB 134

    Dada Indra bergemuruh hebat. Lelaki itu merasakan telinganya berdenging kencang hingga tidak mendengar suara tangis Zahra lagi. Sekian menit berlalu, dia akhirnya bisa menguasai diri. Perlahan, Indra melepaskan pelukan Zahra dan membawa istrinya duduk di kasur. Kakinya terasa lemas antara yakin dan tidak dengan keajaiban yang datang ke hidupnya. Dia membingkai wajah Zahra tanpa kata, menunggu istrinya bicara.“Besok kita cek ke dokter, Mas.” Air mata Zahra mengalir. Akhirnya, dia bisa memberikan kebahagiaan yang selama ini Indra berikan padanya dan kedua anaknya. Tidak lama lagi, dia bisa melihat lelaki yang sangat menyukai anak-anak itu menggendong dan menimang da rah dagingnya sendiri. “Mas senang?” Zahra memegang tangan Indra yang membingkai wajahnya. Dia tersenyum melihat mata suaminya berkaca-kaca.“Senang.” Indra bicara dengan suara serak. Satu kata itu susah payah dia keluarkan. Entah kapan terakhir kali dia merasakan perasaan seperti ini. Antara yakin dan tidak kalau akhirnya

  • Kita yang Terluka   BAB 133

    “Bilang terima kasih nggak?”“Bilang dong ….” Rika meraih bantal dan tiduran di dekat Zahra. Dia memperhatikan wajah mamanya dan menautkan alis. “Tumben Mama dandan di rumah? Biasanya cuma lipstik saja sama pakai bedak tipis. Kok ini pakai alis dan merah-merah pipi segala?” Rika menyentuh pipi mamanya.“Cantik nggak Mama?” Zahra terkekeh saat Rika spontan mengangguk. Dia mencium kening anaknya dan mengelus rambut Rika yang dikepang dua. “Siapa yang merapikan rambut Rika? Tante Anisa?” Zahra balik bertanya, tidak menanggapi pertanyaan anaknya tadi. Entahlah, dia mendadak ingin dandan saja pagi tadi. Setelah salat pun dia touch up, seperti sedang di kantor. Biasanya, kalau di rumah, malas dia dandan-dandan begitu.“Nenek laaaah, apaan Tante Anisa.” Rika mencebik. Kedua tantenya itu boro-boro merapikan rambutnya, yang ada mereka hanya akan protes rambut Rika kusutlah, susah diaturlah, Rika gerak-gerak terus lah dan masih banyak lagi hingga akhirnya tetap tida

  • Kita yang Terluka   BAB 132

    “Rika, ajak adik-adiknya kesini! Ayo, makan dulu.” Mela memanggil cucunya. Wanita itu menggeser pesanan makanan yang sudah sampai saat pramusaji membawakan kue ulang tahun dengan dekorasi Bis Tayo kesukaan Reki. “Rika, ayo ajak adik-adiknya kesini!” Mela berdecak pelan melihat cucu pertamanya itu masih asyik bermain perosotan bersama kedua adiknya. Rika itu seperti pimpinan bagi Rika dan Reki. Keduanya lebih menuruti apa kata Rika dibandingkan yang lainnya, termasuk Ammar dan Adelia sekalipun.“Ayo kita makan dulu, Gengs! Nanti diomelin Tante Anisa.” Rika tertawa-tawa melihat tantenya melirik dengan mata menyipit ke arah mereka. Dia memang sengaja mengeraskan suaranya saat bicara. Anak kelas empat SD itu sudah pandai berdebat dengan kedua tantenya kalau dilarang ini itu dan dicereweti oleh mereka. “Kalau Tante Azizah mode kalem. Aman. Ada pawangnya soalnya.”Meja mereka langsung ramai oleh suara tawa berderai. Rika terkikik bersama Riko melihat Anisa dan Azizah men

  • Kita yang Terluka   BAB 131

    Gadis itu datang bersama tunangannya, rekan di tempatnya bekerja. Mereka sudah melangsungkan lamaran minggu lalu dan rencana akan menikah setelah lebaran, tiga bulanan lagi. “Mau apa? Biar kuambilkan.” Ammar yang duduk di samping Adelia menatap mantan istrinya sambil tersenyum. Dari gerak-gerik Adelia, dia tahu kalau wanita itu membutuhkan sesuatu. Sejak tadi, Adelia minta tolong mamanya yang sedang ke kamar mandi kalau membutuhkan sesuatu karena gerakannya yang terbatas. “Mau gurame tepung? Atau mie tumis?” Ammar sigap mengambilkan saat melihat Adelia mengangguk. Tiga tahun ke belakang, hubungan mereka jauh membaik. Keduanya menjadi teman yang saling mengisi untuk membersamai pertumbuhan Reki. Ammar sudah naik jabatan lagi di kantor, sehingga tidak pusing membagi nafkah untuk ketiga anaknya. Apalagi, Anisa dan Azizah juga sudah bekerja, dia hanya perlu menanggung ibunya saja. Sementara Adelia juga nyaman bekerja di rumah. Apalagi, sekar

  • Kita yang Terluka   BAB 130

    Seperti biasa, Fatma memeluknya erat dan kali ini, Zahra membalas pelukan, tidak seperti dulu hanya membiarkan. “Mas Indra, masalah pembicaraan kita kemarin, dari kami sudah ada lagi stok resleting yang sempat tertunda. Apa masih butuh barangnya? Saya mau nelpon Mas Indra kelupaan terus karena repot kemarin-kemarin ini.” Gunawan menepuk bahu Ammar saat lelaki itu menyalaminya. “Kalau masih perlu, nanti saya kirim orang ke kantor Mas Indra buat ngasih sampel apa sesuai atau tidak dengan keinginan.” Zahra menyalami Ammar tanpa kata saat Indra masih ngobrol dengan Gunawan. Wanita itu memutuskan menunggu diluar saja karena tidak nyaman berada di dalam sana. Sejak tadi, Ammar sering menatap ke arahnya dan Zahra merasa Indra juga menyadarinya hingga suaminya itu tidak sedetikpun melepaskan genggaman tangan mereka. Lepas dzuhur, Ammar dan keluarga berpamitan. Dia mencium pipi anaknya hati-hati. Setelah ini, dia akan sibuk membagi waktu. Beruntun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status