แชร์

BAB 6

ผู้เขียน: Asda Witah busrin
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-05 18:47:10

“Jelaskan pada istrimu kalau kamu harus menemani Adelia terapi. Dia harus mengerti kalau suaminya harus mempertanggungjawabkan kesalahannya. Lagipula, tidak setiap minggu kamu menemani Adelia terapi. Weekend lainnya kamu masih bisa menghabiskan waktu bersama anak dan istrimu. Jadi, segera kemari, Ammar. Kami sudah berbaik hati menunggu pertanggungjawabanmu sampai selama ini.”

Ammar menghela napas panjang saat telepon dimatikan secara sepihak dari seberang sana. Selama ini, dia memang selalu menemani Adelia setiap kali terapi, seperti yang diinginkan oleh keluarga wanita itu. Dia bukannya lupa kalau hari ini jadwal terapi Adelia. Akan tetapi, dia sudah berjanji pada Zahra akan mengantar istrinya itu menginap ke rumah orangtuanya.

“Aku bisa berangkat sendiri kalau Mas mau kesana. Lagipula, aku sepertinya harus mulai belajar melakukan semuanya sendiri agar tidak kaget saat kita berpisah nantinya.”

“Kamu bicara apa, Yang?” Ammar langsung menyimpan ponsel. Dia tidak menyadari kalau Adelia sudah duduk di sampingnya karena tadi pikirannya melayang kemana-mana. “Kenapa kamu terus membicarakan perpisahan, Ra? Otakku serasa buntu setiap kali kamu menyinggung hal itu.”

“Karena memang itu yang akan kita hadapi.” Zahra membalas tatapan suaminya tidak berkedip. Sekian detik berlalu, dia memalingkan wajah. Air matanya tumpah. “Memangnya kamu ada pilihan lain selain menikahi wanita itu seperti yang diminta keluarganya, Mas? Tidak ‘kan?”

“Aku sedang berusaha mencari jalan terbaik ….”

Zahra menggeleng menanggapi ucapan suaminya. Kalimat itu bernada dusta. Lima tahun menikah, dia bisa mendengar keragu-raguan Ammar saat mengucapkannya. Meski Zahra tahu betul sebesar apa cinta suaminya pada dirinya dan kedua anak mereka, lelaki itu jelas tidak bisa mengabaikan Ibu dan kedua adiknya begitu saja.

“Sudahlah, Mas, tidak perlu bersusah payah memikirkan kalimat indah agar tidak terlalu menyakiti. Faktanya, saat ini, kita sedang mengulur waktu dan mempersiapkan diri untuk saling melepas ketika sudah saatnya nanti.”

Ammar urung menanggapi ucapan istrinya saat melihat anak pertama mereka berjalan cepat menuju mobil sambil tertawa-tawa. Di belakangnya, Riko ikut berteriak-teriak di gendongang pengasuhnya.

“Jangan begitu, Ra, aku benar-benar sedang mencari cara agar tidak ada yang menjadi korban karena keputusan yang akan kuambil nantinya.”

“Cukup, Mas! Jangan bahas apapun di hadapan anak-anak.” Zahra meraih tisu di dasbor. Dia mengusap air mata yang membasahi wajahnya. Wanita itu menoleh saat Ammar mengelus bahunya sambil menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kali sepanjang lima tahun pernikahan mereka, dia tidak mempercayai ucapan lelaki yang selama ini selalu mengusahakan yang terbaik untuk keluarga kecil mereka.

“Ah, sebentar, mainan masak-masakan Rika ketinggalan!” Rika yang sudah membuka pintu mobil berbalik arah, membuat pengasuhnya terpaksa mengikuti karena dia yang memegang kunci. “Harus dibawa, soalnya Rika mau main masak-masakan nanti sama Kakek dan Nenek.” Samar-samar, masih terdengar suara Rika menanggapi ucapan pengasuhnya.

“Nanti tidak usah bicara apa-apa pada Bapak dan Ibu, Mas.” Zahra bicara tanpa menoleh ke arah suaminya. Dia memperhatikan kehebohan Rika dari balik kaca jendela. Gadis kecilnya itu keluar rumah menenteng koper plastik berisi set peralatan masak lengkap.

“Aku tidak mau mereka jadi banyak pikiran. Nanti, kalau keputusan kita sudah bulat, aku yang akan bicara ke mereka. Jangan menambahi beban pikiran orang tuaku atas kegamangan pilihanmu.”

Hening.

Jeda tercipta cukup lama di antara mereka.

Ammar menghela napas panjang entah untuk yang keberapa kalinya.

Lelaki itu meremas kemudi menyadari Zahra bisa membaca arah pikirannya. Tadinya, dia sempat berniat menceritakan masalahnya pada mertuanya. Ammar berharap, mungkin saja kedua orang tua Zahra bisa melembutkan hati wanita itu mengingat hubungan mereka yang sangat baik selama ini.

“Papa kok nggak bawa baju? Kata Mama kita mau menginap lama di rumah Kakek dan Nenek.” Rika memajukan tubuhnya ke depan, di antara kursi Papa dan mamanya. “Tadi malam waktu Mama masukin baju ke koper, Rika nggak lihat baju Papa. Barusan pas Rika menaruh koper mainan masakan di bagasi, tidak ada juga tas baju Papa disana.”

“Papa mau ada kerjaan keluar kota, Sayang, makanya Mama ajak Rika dan Riko menginap di rumah Kakek dan Nenek.” Sekar menoleh sambil tersenyum lebar. Dia menoel pipi tembem anaknya. Gadis kecil itu terlihat manis dengan rambut dikepang dua.

“Lama dong nggak ketemu?” Rika mengerucutkan bibirnya sambil melirik ke arah Ammar yang mulai menjalankan mobil. “Nanti kalau pulang Papa bawain oleh-oleh yang banyak buat Rika dan Riko ya?”

“Siap!” Ammar mengacungkan jempol. Dia tertawa mendengar teriakan girang anaknya. Lelaki itu melirik ke arah Zahra yang memilih menatap keluar jendela setelah Rika duduk anteng bersama adik dan pengasuhnya.

Ammar menghela napas panjang, kepalanya terasa berat sekali. Jalan kedepan bercabang dua dan dia masih bimbang akan memilih yang mana. Satu arah mengorbankan rumah tangganya, arah yang lain mengorbankan pendidikan kedua adiknya.

Sementara disini, Zahra diam-diam menghapus ujung matanya yang basah. Tidak dia pungkiri, hatinya sakit saat berbohong pada Rika tadi.

Selama ini, Ammar adalah sosok Ayah yang sangat baik untuk anak-anak mereka. Lelaki itu bukan hanya memenuhi nafkah, tapi dia juga hadir sebagai sosok Ayah yang begitu dengan Rika dan Riko di usia keemasan mereka. Ammar menjadi figur Ayah yang mendampingi Zahra memenuhi kebutuhan kasih sayang dan memastikan tumbuh kembang kedua anak mereka mendapatkan yang terbaik dari yang bisa diusahakan.

Zahra menggigit bibirnya kencang-kencang untuk mengalihkan rasa nyeri di hati. Kalau sekarang saja dia sudah merasa sakit saat membohongi anak mereka masalah menginap ini, lalu, bagaimana nanti caranya dia menjelaskan pada Rika dan Riko tentang perpisahan seandainya dia dan Ammar tidak berjodoh lagi?

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kita yang Terluka   BAB 135

    “Aku makan di rumah Ibu saja. Kangen masakan Ibu. Sudah lama kita tidak menginap disana.” Indra mengajak Zahra langsung pulang saja. Dia tidak nafsu makan. Perutnya tidak lapar sama sekali. Kalau tadi dia tidak nafsu makan karena deg-degan menunggu hasil apa Zahra benar hamil atau tidak, kali ini dia tidak merasa lapar karena hatinya buncah oleh perasaan bahagia.“Mas senang?” Zahra memegang lengan Indra saat mereka sudah di mobil. Dia tersenyum saat melihat Indra mengangguk dan menatap matanya dalam-dalam.“Senang … senang sekali, Sayang.” Indra meraih dagu Zahra dan mencium bibir istrinya lama. Rasa harusnya tak terhingga hingga air matanya jatuh di sela-sela bibir mereka. Lelaki itu tersenyum saat kedekatan mereka terlepas. Indra bingung dengan perasaannya, campur aduk memenuhi dada. Dia masih belum percaya kalau akhirnya Tuhan mempercayainya untuk menitipkan amanah keturunan yang sekian lama dia inginkan.Kedua orang tua Zahra terkejut saat mendengar kabar dari Zahra. Lebih terkej

  • Kita yang Terluka   BAB 134

    Dada Indra bergemuruh hebat. Lelaki itu merasakan telinganya berdenging kencang hingga tidak mendengar suara tangis Zahra lagi. Sekian menit berlalu, dia akhirnya bisa menguasai diri. Perlahan, Indra melepaskan pelukan Zahra dan membawa istrinya duduk di kasur. Kakinya terasa lemas antara yakin dan tidak dengan keajaiban yang datang ke hidupnya. Dia membingkai wajah Zahra tanpa kata, menunggu istrinya bicara.“Besok kita cek ke dokter, Mas.” Air mata Zahra mengalir. Akhirnya, dia bisa memberikan kebahagiaan yang selama ini Indra berikan padanya dan kedua anaknya. Tidak lama lagi, dia bisa melihat lelaki yang sangat menyukai anak-anak itu menggendong dan menimang da rah dagingnya sendiri. “Mas senang?” Zahra memegang tangan Indra yang membingkai wajahnya. Dia tersenyum melihat mata suaminya berkaca-kaca.“Senang.” Indra bicara dengan suara serak. Satu kata itu susah payah dia keluarkan. Entah kapan terakhir kali dia merasakan perasaan seperti ini. Antara yakin dan tidak kalau akhirnya

  • Kita yang Terluka   BAB 133

    “Bilang terima kasih nggak?”“Bilang dong ….” Rika meraih bantal dan tiduran di dekat Zahra. Dia memperhatikan wajah mamanya dan menautkan alis. “Tumben Mama dandan di rumah? Biasanya cuma lipstik saja sama pakai bedak tipis. Kok ini pakai alis dan merah-merah pipi segala?” Rika menyentuh pipi mamanya.“Cantik nggak Mama?” Zahra terkekeh saat Rika spontan mengangguk. Dia mencium kening anaknya dan mengelus rambut Rika yang dikepang dua. “Siapa yang merapikan rambut Rika? Tante Anisa?” Zahra balik bertanya, tidak menanggapi pertanyaan anaknya tadi. Entahlah, dia mendadak ingin dandan saja pagi tadi. Setelah salat pun dia touch up, seperti sedang di kantor. Biasanya, kalau di rumah, malas dia dandan-dandan begitu.“Nenek laaaah, apaan Tante Anisa.” Rika mencebik. Kedua tantenya itu boro-boro merapikan rambutnya, yang ada mereka hanya akan protes rambut Rika kusutlah, susah diaturlah, Rika gerak-gerak terus lah dan masih banyak lagi hingga akhirnya tetap tida

  • Kita yang Terluka   BAB 132

    “Rika, ajak adik-adiknya kesini! Ayo, makan dulu.” Mela memanggil cucunya. Wanita itu menggeser pesanan makanan yang sudah sampai saat pramusaji membawakan kue ulang tahun dengan dekorasi Bis Tayo kesukaan Reki. “Rika, ayo ajak adik-adiknya kesini!” Mela berdecak pelan melihat cucu pertamanya itu masih asyik bermain perosotan bersama kedua adiknya. Rika itu seperti pimpinan bagi Rika dan Reki. Keduanya lebih menuruti apa kata Rika dibandingkan yang lainnya, termasuk Ammar dan Adelia sekalipun.“Ayo kita makan dulu, Gengs! Nanti diomelin Tante Anisa.” Rika tertawa-tawa melihat tantenya melirik dengan mata menyipit ke arah mereka. Dia memang sengaja mengeraskan suaranya saat bicara. Anak kelas empat SD itu sudah pandai berdebat dengan kedua tantenya kalau dilarang ini itu dan dicereweti oleh mereka. “Kalau Tante Azizah mode kalem. Aman. Ada pawangnya soalnya.”Meja mereka langsung ramai oleh suara tawa berderai. Rika terkikik bersama Riko melihat Anisa dan Azizah men

  • Kita yang Terluka   BAB 131

    Gadis itu datang bersama tunangannya, rekan di tempatnya bekerja. Mereka sudah melangsungkan lamaran minggu lalu dan rencana akan menikah setelah lebaran, tiga bulanan lagi. “Mau apa? Biar kuambilkan.” Ammar yang duduk di samping Adelia menatap mantan istrinya sambil tersenyum. Dari gerak-gerik Adelia, dia tahu kalau wanita itu membutuhkan sesuatu. Sejak tadi, Adelia minta tolong mamanya yang sedang ke kamar mandi kalau membutuhkan sesuatu karena gerakannya yang terbatas. “Mau gurame tepung? Atau mie tumis?” Ammar sigap mengambilkan saat melihat Adelia mengangguk. Tiga tahun ke belakang, hubungan mereka jauh membaik. Keduanya menjadi teman yang saling mengisi untuk membersamai pertumbuhan Reki. Ammar sudah naik jabatan lagi di kantor, sehingga tidak pusing membagi nafkah untuk ketiga anaknya. Apalagi, Anisa dan Azizah juga sudah bekerja, dia hanya perlu menanggung ibunya saja. Sementara Adelia juga nyaman bekerja di rumah. Apalagi, sekar

  • Kita yang Terluka   BAB 130

    Seperti biasa, Fatma memeluknya erat dan kali ini, Zahra membalas pelukan, tidak seperti dulu hanya membiarkan. “Mas Indra, masalah pembicaraan kita kemarin, dari kami sudah ada lagi stok resleting yang sempat tertunda. Apa masih butuh barangnya? Saya mau nelpon Mas Indra kelupaan terus karena repot kemarin-kemarin ini.” Gunawan menepuk bahu Ammar saat lelaki itu menyalaminya. “Kalau masih perlu, nanti saya kirim orang ke kantor Mas Indra buat ngasih sampel apa sesuai atau tidak dengan keinginan.” Zahra menyalami Ammar tanpa kata saat Indra masih ngobrol dengan Gunawan. Wanita itu memutuskan menunggu diluar saja karena tidak nyaman berada di dalam sana. Sejak tadi, Ammar sering menatap ke arahnya dan Zahra merasa Indra juga menyadarinya hingga suaminya itu tidak sedetikpun melepaskan genggaman tangan mereka. Lepas dzuhur, Ammar dan keluarga berpamitan. Dia mencium pipi anaknya hati-hati. Setelah ini, dia akan sibuk membagi waktu. Beruntun

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status