Beranda / Romansa / Kontrak 2M Sang Mantan / 7. Bertemu Kawan Lama

Share

7. Bertemu Kawan Lama

Penulis: Sha Quenna
last update Tanggal publikasi: 2024-10-23 22:02:18

Zira merasakan desiran aneh di dada saat Aidan memegang pergelangan tangannya. Jantung berdegup tidak karuan, meskipun ia tahu Aidan melakukan itu karena untuk menghindari permasalahan di kantor polisi lagi. Tatapan mereka bertaut lama, membuat waktu seolah berhenti hingga suara Genji menyela mereka, "ya elah malah tatap-tatapan kayak lagi syuting drama aja."

Aidan buru-buru melepas tangannya, membuat suasana mendadak canggung. Terlihat jelas mereka berdua menjadi salah tingkah. Bahkan, Zira b
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kontrak 2M Sang Mantan   36. Ada apa dengan Lala?

    Lala menatap layar ponsel untuk ketiga kalinya dalam lima menit. Ia mengembuskan napas kesal, lalu meletakkan ponsel di atas meja rias. Seharusnya malam ini ia bisa menikmati pesta tanpa memikirkan pekerjaan, tetapi bayangan percakapannya dengan Genji di tepi pantai terus mengganggu pikirannya.Pria itu benar-benar menyebalkan. Tidak punya sopan santun. Tidak tahu cara berbicara kepada perempuan. Dan yang paling menyebalkan, selalu punya jawaban untuk setiap perkataannya. Namun, ada satu hal yang lebih mengganggu Lala. Genji tidak pernah terlihat terkesan oleh statusnya sebagai aktris. Di depan orang lain, Lala terbiasa menerima pujian. Cantik, anggun, lembut, seperti peri yang turun dari langit. Bahkan beberapa penggemarnya menjulukinya peri tak bersayap. Genji justru menyebutnya peri yang kehilangan akal sehat.Menyebalkan!Lala meraih bantal kecil di sofa dan memeluknya erat.“Semoga kamu tersedak bakso!” gerutunya.“Siapa yang mau kamu racuni dengan bakso?”Lala nyaris menjatuhkan

  • Kontrak 2M Sang Mantan   Masih Di sini

    Zira berdiri di atas balkon, agak jauh dari keramaian.Suara musik dari pesta terdengar samar dari dalam ruangan. Sesekali terdengar tawa para tamu yang bercampur dengan suara gelas beradu. Namun, perhatiannya tertuju pada sosok pria yang sedang bercengkerama bersama Joseph, Paus, dan Ipul. "Aidan memang mempesona. Kalau aku wanita, akupun akan menyukainya."Zira menoleh dengan ekspresi takpercaya. "Pantas saja kamu selalu membelanya."Remi tertawa mendengar kelakar adik sepupunya itu. Namun, tidak lama wajahnya tampak serius.“Zizi, aku sebenarnya mau ngomong sesuatu dari tadi.”“Tumben serius. Biasanya kalau kamu mau ngomong, pasti ada korban yang kamu jadikan bahan lelucon.”“Sayangnya, kali ini korbannya aku sendiri.”Zira mengernyit. “Maksudnya?”Remi menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Sepuluh tahun lalu, aku sengaja mengajakmu datang ke rumah Aidan.”Senyum Zira perlahan menghilang.“Kamu sengaja?”Remi mengangguk.“Waktu itu aku tahu Aidan menyukaimu. Aku pikir k

  • Kontrak 2M Sang Mantan   34. Rekonsiliasi

    Taman belakang hotel jauh lebih tenang dibandingkan area utama. Suara musik dari pesta hanya terdengar samar. Lampu-lampu kecil yang menggantung di antara pepohonan membuat suasana malam terasa hangat.Aidan berdiri di dekat pagar kayu sambil memandang kolam. Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar.“Dan.”Aidan menoleh.Remi berjalan mendekat.“Sendirian?”“Iya.”Remi berdiri di sampingnya. “Dari dulu kalau lagi banyak pikiran, kamu memang suka menghilang.”Aidan tersenyum tipis. “Masih ingat?”“Gimana mau lupa?” Remi tertawa kecil.Namun tawa itu perlahan menghilang. Mereka sama-sama tahu ada sesuatu yang belum selesai.“Gila,” ujar Remi akhirnya. “Sepuluh tahun.”Aidan mengangguk. “Lama.”“Banget.”Remi memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Aku dulu sering mikir... aku salah apa?”Aidan menoleh.“Waktu kamu tiba-tiba menjauh, aku pikir mungkin aku pernah melakukan sesuatu.”Remi tertawa hambar.“Aku bahkan sempat mengingat-ingat semua kesalahan yang pernah kulaku

  • Kontrak 2M Sang Mantan   33. Reuni

    Mobil memasuki kawasan Four Seasons Ubud ketika langit mulai gelap. Dari kejauhan, hotel itu terlihat seperti istana yang tersembunyi di antara pepohonan hijau. Lampu-lampu keemasan menyala di sepanjang jalan masuk, memantulkan cahaya lembut di permukaan kolam dan taman.Malam ini seharusnya menjadi malam yang menyenangkan. Pembukaan hotel Paus. Tempat berkumpulnya teman-teman lama. Kesempatan untuk tertawa setelah perjalanan panjang.Namun sejak tadi Aidan justru lebih banyak diam. Tangannya masih berada di setir, sementara pikirannya kembali pada percakapan mereka di perjalanan.Tentang Eden. Tentang masa lalu. Tentang kesalahannya sendiri.Ia masih ingat bagaimana rasanya sepuluh tahun lalu.Hanya satu pelukan antara Zira dan Remi cukup untuk menyalakan kecemburuan yang tidak bisa ia kendalikan. Ia melihat kedekatan mereka. Ia melihat cara Remi memperlakukan Zira. Dan bukannya bertanya, Aidan memilih menyimpulkan sendiri.Ia meragukan sahabat dan wanita yang dicintainya. Bahkan ket

  • Kontrak 2M Sang Mantan   32. Antara Remi dan Aidan

    Genji terkejut dengan pengakuan Lala, tapi dia memilih diam tidak berkomentar apapun lagi. Bahkan tiba-tiba dia merasa menyesal telah ikut campur urusan gadis itu. Mereka menyusuri jalan menuju pantai dalam kesunyian meskipun jalanan masih ramai dengan wisatawan. *** Cahaya mentari menerobos lembut dari celah jendela kamar Zira. Entah sudah berapa kali bunyi alarm, perempuan itu enggan untuk mematikan. Bersyukur kamar hotel kedap suara, tidak akan ada yang mengirim surat keluhan atas tindakannya. "Eden, Mama merindukanmu." Setetes air mata perlahan turun ke pipinya. Suara alarm seolah menjadi musik atas kesedihan yang kembali menyeruak. Zira membuka liontin yang selalu menghiasi leher cantiknya. Ia pandangi wajah bayi mungil yang masih berwarna merah. Di antara air mata, senyum masih sempat terukir kala wajah Eden tampak indah karena kilauan cahaya matahari. Ia benar-benar menikmati waktu berdua dengan sang anak, meski hanya dalam sebentuk gambar. Perempuan itu bahkan tidak sada

  • Kontrak 2M Sang Mantan   31. Bagaimana jika mereka bertemu?

    Zira menghela napas panjang, merebahkan tubuhnya di atas ranjang queen size. Sambil memandang langit kamar, ia pun berpikir akan pertanyaan Remi.Ia sadar betul kalau pria itu akan senang mengetahui jika hubungannya dengan Aidan sudah mulai membaik. Namun, bagaimana jika kedua pria itu bertemu? Akankah tetap baik-baik saja?Letih yang menyergap perlahan mengalihkan beban pikiran wanita itu. Matanya semakin redup dan mimpi pun datang menyambut.Dalam tidurnya, ia melihat seorang anak kecil tersenyum padanya. Ia pun menghampiri anak tersebut, tapi ketika tangannya hendak meraih pundak si anak kecil, tiba-tiba senyum itu menghilang bersamaan dengan fakta ia hanya sendirian di taman bunga itu.Tanpa sadar, air mata menetes dari sudut matanya. Ia merasakan luka dan perih yang teramat sangat. Saat itulah, matanya kembali terbuka. Zira menangis sendirian dalam kamar. Terakhir kali ia memimpikan anak kecil itu 2 tahun lalu, dan sekarang mimpi itu kembali hadir."Eden," gumamnya penuh kesedih

  • Kontrak 2M Sang Mantan   14. Saingan yang berat

    Zira memasang earphone di telinga, memutar musik lewat ponselnya. Ia Menoleh sekilas ke arah Aidan. Sambil mengangkat alis, ia berkata, "ngomong apa?"Aidan menghela napas, merasa sia-sia telah menyatakan keinginannya. Ia hanya bisa menggeleng lalu berkata, "ah, bukan apa-apa."Zira mengangkat bahu, l

  • Kontrak 2M Sang Mantan   3. Benarkah jantungku berdetak lebih kencang karenamu?

    Setelah rapat, Zira berpamitan dengan Braga dan yang lainnya. Ia berjalan ke lobby sambil memesan taksi online. "Jam padat seperti ini susah untuk memesan taksi, bareng denganku saja."Zira menoleh ke sumber suara yang sangat ia hafal. "Tidak, terima kasih," ucapnya ketus lalu kembali mencoba meme

  • Kontrak 2M Sang Mantan   2. Kamu tetaplah sama

    "Jika pihak kedua memutuskan kontrak secara sepihak maka harus mengganti denda sebesar 2M." Zira terbelalak dengan mata membola sempurna setelah membaca sanksi pembatalan kontrak. "Konyol. Ini namanya pemerasan," gumamnya kesal sekaligus tidak percaya.Aidan kembali ke meja makan dengan membawa du

  • Kontrak 2M Sang Mantan   1. Haruskah aku senang bertemu denganmu?

    Dengan tas punggung kecil berwarna krem, Zira berjalan dalam pesawat sambil melihat nomor bangku. Ia tersenyum tipis saat berhasil menemukan tempat duduknya, tapi tidak lama kemudian senyumnya pudar berganti dengan wajah masam. Meski sudah bertahun-tahun tidak bertemu, tapi ia sangat mengenali pri

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status