Home / Romansa / Kontrak 2M Sang Mantan / 7. Bertemu Kawan Lama

Share

7. Bertemu Kawan Lama

Author: Sha Quenna
last update Petsa ng paglalathala: 2024-10-23 22:02:18

Zira merasakan desiran aneh di dada saat Aidan memegang pergelangan tangannya. Jantung berdegup tidak karuan, meskipun ia tahu Aidan melakukan itu karena untuk menghindari permasalahan di kantor polisi lagi. Tatapan mereka bertaut lama, membuat waktu seolah berhenti hingga suara Genji menyela mereka, "ya elah malah tatap-tatapan kayak lagi syuting drama aja."

Aidan buru-buru melepas tangannya, membuat suasana mendadak canggung. Terlihat jelas mereka berdua menjadi salah tingkah. Bahkan, Zira b
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kontrak 2M Sang Mantan   39. Konferensi Pers

    Dua minggu kemudian, poster resmi film Dua Wajah akhirnya dirilis.Wajah Zira terpampang bersama Lala di poster utama. Di bawah judul film, terdapat nama para pemain dan tanggal penayangan perdana. Foto promosi itu menampilkan Zira dengan tatapan tegas, sementara Lala berdiri di belakangnya, memandangnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.Respons publik jauh melampaui perkiraan tim produksi. Nama Zira kembali ramai diperbincangkan. Sebagian orang memuji penampilannya sebagai pendatang baru yang ternyata memiliki kemampuan akting dan aksi yang meyakinkan. Video di balik layar ketika ia melakukan adegan aksi juga mulai beredar di berbagai platform.David, tentu saja, tidak melewatkan kesempatan itu. Ia mengunggah foto dirinya bersama Zira dengan keterangan panjang tentang betapa sulitnya bekerja dengan perempuan yang selalu tampak tenang meskipun sedang menghadapi adegan berbahaya.Genji membalas unggahan itu dengan komentar singkat.Yang sulit itu menjaga Kak Zira supaya tidak beker

  • Kontrak 2M Sang Mantan   38. Syuting Berakhir

    Hari Terakhir di Balik Kamera“Cut!”Suara Aidan menggema di seluruh lokasi syuting.Hening selama sepersekian detik, lalu—“SELESAIIII!”David melompat sambil mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi. Ia bahkan berputar sekali di tempat, seolah baru saja memenangkan piala penghargaan paling bergengsi di dunia.“AKHIRNYA! AKHIRNYA AKU BEBAS!”Tepuk tangan langsung pecah. Sorakan para kru bersahutan, disusul peluit nyaring dari salah satu staf pencahayaan. Beberapa orang berpelukan, sementara yang lain mengangkat ponsel untuk mengabadikan momen yang sudah mereka tunggu-tunggu selama berminggu-minggu.Seseorang bahkan memutar musik dari pengeras suara portabel yang biasa digunakan untuk memeriksa audio. Dalam hitungan detik, suasana lokasi yang biasanya dipenuhi instruksi teknis berubah menjadi pesta kecil.“Siapa yang pesan makanan?!” seru seorang kru dari belakang.“AKU!” sahut beberapa orang bersamaan.“Bagus! Hari ini makan sampai kenyang! Besok kita tidak perlu bangun pagi-pagi gara-g

  • Kontrak 2M Sang Mantan   37. Soraya

    Soraya melempar naskah ke atas meja rias begitu adegan terakhirnya selesai direkam.Ia sudah berusaha bersikap profesional sejak pagi. Menghafal dialog, mengikuti arahan sutradara, bahkan tersenyum setiap kali kamera berhenti merekam. Namun, semakin hari, semakin sulit baginya mengabaikan satu hal: hampir semua orang di lokasi syuting seolah memiliki alasan untuk membicarakan Zira.Aidan selalu memperhatikan perempuan itu. Braga terang-terangan menunjukkan ketertarikannya. Bahkan kru yang biasanya sibuk dengan urusan masing-masing kini sering memuji kemampuan Zira.Dan Soraya?Ia hanya diminta bersabar, menyesuaikan diri, serta menerima perubahan adegan yang terkadang membuat perannya terasa semakin kecil.“Lucu sekali,” gumamnya sambil menatap pantulan wajahnya di cermin. “Perempuan itu datang belakangan, tapi semua orang bertingkah seolah dia pusat dunia.”Ponselnya bergetar.Sebuah pesan masuk dari nomor yang sudah ia hubungi beberapa hari lalu—kontak yang membantunya mencari infor

  • Kontrak 2M Sang Mantan   36. Ada apa dengan Lala?

    Lala menatap layar ponsel untuk ketiga kalinya dalam lima menit. Ia mengembuskan napas kesal, lalu meletakkan ponsel di atas meja rias. Seharusnya malam ini ia bisa menikmati pesta tanpa memikirkan pekerjaan, tetapi bayangan percakapannya dengan Genji di tepi pantai terus mengganggu pikirannya.Pria itu benar-benar menyebalkan. Tidak punya sopan santun. Tidak tahu cara berbicara kepada perempuan. Dan yang paling menyebalkan, selalu punya jawaban untuk setiap perkataannya. Namun, ada satu hal yang lebih mengganggu Lala. Genji tidak pernah terlihat terkesan oleh statusnya sebagai aktris. Di depan orang lain, Lala terbiasa menerima pujian. Cantik, anggun, lembut, seperti peri yang turun dari langit. Bahkan beberapa penggemarnya menjulukinya peri tak bersayap. Genji justru menyebutnya peri yang kehilangan akal sehat.Menyebalkan!Lala meraih bantal kecil di sofa dan memeluknya erat.“Semoga kamu tersedak bakso!” gerutunya.“Siapa yang mau kamu racuni dengan bakso?”Lala nyaris menjatuhkan

  • Kontrak 2M Sang Mantan   35. Masih Di sini

    Zira berdiri di atas balkon, agak jauh dari keramaian.Suara musik dari pesta terdengar samar dari dalam ruangan. Sesekali terdengar tawa para tamu yang bercampur dengan suara gelas beradu. Namun, perhatiannya tertuju pada sosok pria yang sedang bercengkerama bersama Joseph, Paus, dan Ipul. "Aidan memang mempesona. Kalau aku wanita, akupun akan menyukainya."Zira menoleh dengan ekspresi takpercaya. "Pantas saja kamu selalu membelanya."Remi tertawa mendengar kelakar adik sepupunya itu. Namun, tidak lama wajahnya tampak serius.“Zizi, aku sebenarnya mau ngomong sesuatu dari tadi.”“Tumben serius. Biasanya kalau kamu mau ngomong, pasti ada korban yang kamu jadikan bahan lelucon.”“Sayangnya, kali ini korbannya aku sendiri.”Zira mengernyit. “Maksudnya?”Remi menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, “Sepuluh tahun lalu, aku sengaja mengajakmu datang ke rumah Aidan.”Senyum Zira perlahan menghilang.“Kamu sengaja?”Remi mengangguk.“Waktu itu aku tahu Aidan menyukaimu. Aku pikir ka

  • Kontrak 2M Sang Mantan   34. Rekonsiliasi

    Taman belakang hotel jauh lebih tenang dibandingkan area utama. Suara musik dari pesta hanya terdengar samar. Lampu-lampu kecil yang menggantung di antara pepohonan membuat suasana malam terasa hangat.Aidan berdiri di dekat pagar kayu sambil memandang kolam. Beberapa saat kemudian, suara langkah kaki terdengar.“Dan.”Aidan menoleh.Remi berjalan mendekat.“Sendirian?”“Iya.”Remi berdiri di sampingnya. “Dari dulu kalau lagi banyak pikiran, kamu memang suka menghilang.”Aidan tersenyum tipis. “Masih ingat?”“Gimana mau lupa?” Remi tertawa kecil.Namun tawa itu perlahan menghilang. Mereka sama-sama tahu ada sesuatu yang belum selesai.“Gila,” ujar Remi akhirnya. “Sepuluh tahun.”Aidan mengangguk. “Lama.”“Banget.”Remi memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Aku dulu sering mikir... aku salah apa?”Aidan menoleh.“Waktu kamu tiba-tiba menjauh, aku pikir mungkin aku pernah melakukan sesuatu.”Remi tertawa hambar.“Aku bahkan sempat mengingat-ingat semua kesalahan yang pernah kulaku

  • Kontrak 2M Sang Mantan   2. Kamu tetaplah sama

    "Jika pihak kedua memutuskan kontrak secara sepihak maka harus mengganti denda sebesar 2M." Zira terbelalak dengan mata membola sempurna setelah membaca sanksi pembatalan kontrak. "Konyol. Ini namanya pemerasan," gumamnya kesal sekaligus tidak percaya.Aidan kembali ke meja makan dengan membawa du

  • Kontrak 2M Sang Mantan   6. Selalu Ada Alasan Bersamamu

    Zira tersenyum lebar ketika tiba di taman parkour. "Wow!" Matanya berbinar-binar melihat beberapa orang melompat dan berlari dari satu rintangan ke rintangan lainnya, tubuh mereka seolah melayang di udara."Look!" David menunjuk satu rintangan di mana ada sebuah bangunan yang lebih tinggi dibanding

  • Kontrak 2M Sang Mantan   5. Kembali ke Titik Awal

    Hari pembacaan naskah tiba. Zira berjalan penuh percaya diri dalam balutan jeans dan kemeja santai menuju Best Entertainment, perusahaan media milik Braga. Ketika sampai di lobby, ia bertemu dengan Jerry yang baru keluar dari lift."Zizi, pagi sekali datangnya," sapa Jerry sopan.Zira mengangkat al

  • Kontrak 2M Sang Mantan   1. Haruskah aku senang bertemu denganmu?

    Dengan tas punggung kecil berwarna krem, Zira berjalan dalam pesawat sambil melihat nomor bangku. Ia tersenyum tipis saat berhasil menemukan tempat duduknya, tapi tidak lama kemudian senyumnya pudar berganti dengan wajah masam. Meski sudah bertahun-tahun tidak bertemu, tapi ia sangat mengenali pri

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status