แชร์

Bab 17: Pilihan

ผู้เขียน: KAEL
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-08 23:51:23
Dada kami bersentuhan. Napas kami bercampur di ruangan yang tiba-tiba terasa sempit, terlalu sempit untuk CEO dan sekretarisnya yang baru saja kembali dari perjalanan bisnis yang lebih pribadi daripada profesional.

"Kamu pilih masuk," bisiknya suaranya berat dan serak di leherku. Napasnya panas, menyapu kulitku dengan kehangatan yang membuat lututku lemas. "Kamu tahu apa artinya?"

Aku tahu. Tuhan, aku tahu. Dia tidak bertanya tentang pekerjaan. Dia bertanya tentang kita. Tentang apa yang terjadi
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Yui
Reyy klo mau deketin Aurel jgn waktu dinas kerja dong langsung ketahuan nih xixixi
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 30: Yang Terbakar

    "Kamu benar-benar melakukan itu," suaraku parau dan pecah di tengah keheningan balkon yang dingin. "Kamu masuk ke kamarku, menyentuhku, memohon pernikahan saat aku tidak sadar."Rey masih berlutut di antara abu foto-foto yang baru saja kami bakar. "Aku serius, Aurel. Setiap kata yang aku ucapkan di video itu. Bahkan saat kamu tidak sadar, terutama saat kamu tidak sadar, karena aku akhirnya bisa mengatakannya tanpa takut melihat kamu menatapku dengan benci atau melihat kamu pergi.""Dan kamu pikir itu lebih baik?" suaraku naik sedikit. "Kamu pikir melihatku tidur dalam keadaan lemah, tidak sadar, lalu memohon pernikahan seperti itu lebih baik daripada mengatakan saat aku sadar?"Rey menggeleng, "Aku tidak memohon, Aurel. Aku menjanjikan. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa suatu hari, meski kamu tidak pernah tahu apa yang terjadi malam itu, aku akan membuatmu menjadi milikku secara sah. Bukan dengan menguntit, bukan dengan foto-foto tersembunyi, tapi dengan ci

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 29: Yang Terdalam

    Jam 03:47 pagi. Surat itu masih terasa berat di saku robe, seperti batu yang menekan tulang rusukku. Aku terbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang gelap, memikirkan kata-katanya yang terakhir selamanya dan apa artinya bagi seseorang yang hanya punya kontrak enam bulan.Ketukan pelan di pintu membuatku terduduk.Aku berjalan ke pintu, membukanya. Rey berdiri di sana, box coklat pudar di tangan kirinya, matanya merah, bukan karena menangis, tapi karena begadang."Kita bakar semua ini," kata Rey, suaranya serak, hampir tidak kedengaran di tengah sunyi koridor. "Malam ini."Aku tidak bertanya apa yang dimaksudnya. Aku tahu. Box itu. Foto-foto itu. Dua belas tahun pengamatan yang terekam dalam kertas-kertas yang sudah menguning.Aku mengangguk, mengambil jaket tipis dari gantungan, dan mengikutinya ke balkon. Udara Jakarta pagi masih lembap, bau polusi yang tidak pernah benar-benar hilang meski masih pagi buta. Rey meletakkan box di la

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 28: Surat Yang Disimpan

    Tangan ku terlipat di pangkuan, jari-jari saling mencengkeram sampai kuku menekan telapak. Di depan rak kayu sudut kamar yang selama ini kukira hanya untuk novel dan bisnis, Rey berdiri dengan box kecil di tangan. Coklat pudar. Stiker gold mengelupas di sudut."Ini yang terakhir," katanya, suaranya nyaris tidak kedengaran di bawah desiran AC.Box diletakkan di tempat tidur, di antara kami, di atas sprei yang masih berkerut dari tidurku semalam yang gelisah. Rey duduk, jaraknya dekat. Terlalu dekat. Bau parfum kayunya yang selama dua belas tahun kuhirup dari jauh sekarang menusuk hidungku dengan kekuatan yang membuat kepala berat."Buka," katanya.Engsel berkarat berdecit ketika tutup terangkat. Foto-foto. Mungkin dua puluh lembar. Semua dari belakangku. Aku di koridor Nexus, tangan memegang kopi. Aku di balkon apartemen lama, sebelum aku tahu ada yang memperhatikan. Tapi di bawah tumpukan itu ada kertas terlipat rapi yang sudah menguning. Tulisan tangan yang kukenali."Apa ini?" Tanga

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 27: Supermarket

    Aku tidak pernah berpikir akan menghabiskan Selasa pagi jam enam di supermarket.Tapi Rey mengemudikan mobilnya, sedan hitam yang tidak mencolok, bukan yang biasa dia pakai ke kantor. Parkiran depan supermarket 24 jam yang baru buka. Matahari masih malu-malu, sinarnya tipis di antara gedung-gedung pencakar langit."Kamu butuh sereal," kata Rey, matikan mesin. "Dan aku butuh... belajar apa yang kamu suka."Aku menatapnya. Dia menatap lurus ke depan, rahang sedikit mengencang, seolah baru saja mengakukan sesuatu yang memalukan."Belajar?"Dia mengangguk, tangan sudah di gagang pintu. "Aku tidak tahu apa yang kamu suka. Makanan. Sabun. Shampoo. Aku..." Dia berhenti, menggeleng. "Aku ingin tahu."Aku turun dari mobil, bingung tapi ikut. Rey berjalan di sampingku, jaraknya dekat tapi tidak menyentuh. Pintu supermarket otomatis membuka dengan bunyi halus. Udara ber-AC menyambut kami, bau lantai yang baru saja dilap dan aroma roti dari bakery di su

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 26: Tutorial Youtube

    Aku terbangun karena bau.Bukan bau parfum Rey atau aroma kopi yang biasa mengisi apartemen ini. Ini bau... gosong. Seperti kertas terbakar campur sesuatu yang berminyak dan salah.Aku duduk di tempat tidur. Kamarku masih gelap, tapi celah tirai menunjukkan matahari baru saja muncul. Pagi buta. Jam di nakas menunjukkan 06:28.Dia sudah bangun?Aku berdiri, mengambil kaos besar dari koper yang belum kubuka. Piyama oversize milik Rey yang kutemukan digantung di lemari semalam. Aku memakainya, lengan panjang melorot ke jari-jariku, bau deterjen dan sesuatu yang distinctly Rey menyelimuti kain.Bau gosong semakin kuat saat aku membuka pintu.Aku berjalan ke dapur, langkah kaki telanjangku nyaris tak bersuara di lantai marmer dingin. Suara seseorang terdengar pelan. Bukan suara bicara. Tapi suara... video?Aku berhenti di ambang dapur.Rey berdiri di depan kompor. Kaos putih yang sama dari semalam, celana jeans yang sama. Rambutnya

  • Kontrak Cinta Dengan Mantan Musuh   Bab 25: Kontrak Baru

    Rey berdiri di sana. Kemeja putih longgar dengan tiga kancing terbuka, celana training abu-abu yang sedikit melorot di pinggang, rambut berantakan seperti baru saja diacak-acak berkali-kali. Dia memegang spatula seperti benda asing yang baru pertama kali dilihat."Kamu masak?"Spatula berhenti bergerak. Dia berbalik, punggungnya menegang seolah kaget. Mata bagian bawahnya memiliki kantung hitam yang tampak dalam."Telur," katanya, suaranya serak. "Aku... mencoba. Aku tidak tahu kamu suka apa sebenarnya."Dia berhenti tiba-tiba, rahangnya mengencang."Telur oke," kataku cepat, berusaha mengisi keheningan yang canggung.Dia mengangguk cepat. Aku duduk di stool bar, permukaan kayu meja yang dingin menyentuh sikuku."Kita perlu bicara," kataku, suaraku lebih keras dari yang kuinginkan.Spatula berhenti lagi. Bahunya menegang seperti busur yang direntangkan."Tentang kontrak," kataku, memaksa diriku terdengar tenang. "A

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status